
18 pertandingan sudah di lewati Ranum. Beberapa berhasil dimenangkan lewat TKO dan sebagian lagi musuh – musuh Ranum memilih untuk tap out, menyerah. Dari 18 pertandingan, Ranum mendapatkan cukup banyak luka, terutama di wajahnya. Darah mengalir dari wajah hingga ke tubuh Ranum, tubuhnya sedikit memerah akibat bekas darah yang tersisa.
“Apa kamu sudah mencapai batasmu Mark.” Melvin bertanya.
Ranum menggeleng, nafasnya tersengal.
“Kamu boleh mundur jika kamu sudah tidak sanggup. Kita sudah memenangkan 400 ribu dollar.” Melvin sibuk menyeka darah dan keringat Ranum.
Ranum menggeleng. “Berapa pertandingan lagi yang harus aku lewati?” Lanjut Ranum bertanya.
“Satu. Kamu akan melawan petarung terbaik disini, Darcy Foster.”
Ranum mengangguk. “Aku akan melawannya.” Lanjut Ranum, meminum air mineralnya.
“Mark Kelly, Mark Kelly. Dia memecahkan rekor pertandingan dalam satu malam yang sebelumnya dipegang sang juara kita Darcy Foster! Mark memegang rekor dengan pertandingan 18 game dalam satu malam. Itu torehan istimewa di ajang MUFC ini! Jika dia bersedia melawan Darcy malam ini, maka dia akan menambah rekor pertandingannya menjadi 19 pertandingan dalam satu malam!” Komentator berseru riang hingga suaranya serak. “Mark! Mark! Mark!” Penonton terus bersorak – sorai.
Lima menit kemudian. “Inilah pertandingan penutup kita malam ini! Mark Kelly yang memiliki kemenangan beruntun sebanyak 18x dalam satu malam, sekaligus pemecah rekor pertandingan terbanyak dalam satu malam akan melawan petarung terbaik MUFC dengan rekor 98x menang belum pernah kalah dan belum pernah seri, semua lawannya dia bantai habis dengan TKO! Darcy Foster!” Komentator itu berseru heboh, menanti – nanti pertandingan ini.
Darcy Foster masuk ke dalam ring, berlari memutari ring kemudian kembali ke sudutnya, lompat – lompat di tempat, mengejek Ranum dengan menunjukkan beberapa pukulan dan tendangan dari bela diri campuran kemudian menyeringai menatap Ranum.
Ranum berdiri dari bangkunya, Melvin membawa bangku lipat itu cepat keluar dari ring. Ranum berjalan tertatih ke tengah ring. Wasit kembali menjelaskan peraturan, Ranum dan Darcy mengangguk, mereka mundur beberapa langkah. Lonceng pertandingan berbunyi, wasit menurunkan tangannya. Pertandingan terakhir dimulai.
Kali ini Ranum tidak banyak bergerak, dia hanya berjalan perlahan ke kanan dan ke kiri. Darcy Foster bergerak lincah ke kanan dan ke kiri, menyeringai menatap Ranum merendahkan. Melvin melihat sesuatu yang janggal dari Darcy. “Mark! Mark! Hati – hati dia menggunakan pemberat kaki dan tangan!” Melvin berseru. Darcy Foster menggunakan pemberat kaki dan tangan di pergelangannya yang terbuat dari logam.
Fokus Ranum terpecah karena teriakan Melvin, dia menoleh ke arah Melvin. Itu kesalahan yang sangat fatal, Darcy yang melihat celah tersebut langsung melayangkan tinju ke arah Ranum, membuat Ranum terpelanting ke ujung ring. Darcy segera berlari ke arah Ranum, menghajar Ranum membabi buta dengan tinjunya ke arah wajah Ranum. Darcy berdiri, melepas pemberat yang ada di pergelangan tangannya, kemudian melilitkan pemberat itu di tinjunya. “Apa yang akan dilakukan Darcy! Dia melakukan kecurangan! Dia memakai benda di pertandingan ini! Apakah dia takut rekornya dikalahkan oleh Mark? Tapi ingat kembali peraturan pertama!” Komentator itu berseru. “Pertarungan ini tidak memiliki peraturan!” Komentator dan para penonton berseru secara bersamaan. Penonton kembali bersorak – sorak kegirangan.
Darcy melayangkan tinjunya yang memakai pemberat ke arah Ranum. Tapi Ranum berhasil menahan tinju tersebut dengan tangan kanannya. Ranum segera melayangkan tinju kirinya ke wajah Darcy, membuat Darcy terlempar. Ranum berusaha berdiri, menyeka darah yang mengalir cukup deras di wajahnya. Ranum berlari mencengkram leher Darcy, mengangkat tubuh Darcy ke langit dengan tangan kirinya. Tangan kanan Ranum melesat kencang menghajar wajah Darcy berkali – kali, terus – menerus, tidak berhenti. Semua penonton terdiam, wasit membeku di tempatnya, komentator terbungkam karena kejadian yang disaksikannya.
Ranum menghajar Darcy hingga kepalanya hancur lebur, hanya menyisakan leher dan beberapa tulang yang masih sedikit terlihat. Ranum melangkah keluar dari ring, mengambil handuk dan air minum yang ada di tangan Melvin. Semua orang terdiam menatap Ranum jeri, tidak ada yang membuka suara, tempat itu lengang. Ranum berjalan keluar dari ruang bawah tanah tersebut.
__ADS_1
“Apa...apa yang baru saja kita saksikan?” Komentator berbicara pelan, suaranya gemetar seperti habis melihat hantu. “Apa yang baru saja kita lihat, Mark adalah monster, Mark adala-” Komentator itu pingsan. Sedari tadi memang beberapa penonton ada yang terjatuh pingsan akibat pertandingan Ranum. Melvin tidak memperdulikan yang terjadi di tempat tersebut, dia mengambil semua uang yang di menangkannya kemudian berlari mengejar Ranum.
“Hei Mark.” Melvin berseru. “Kamu gila sekali, itu pertandingan terakhir yang sangat mengerikan.” Lanjut Melvin.
Ranum tak acuh, tetap meminum air mineralnya.
“Ini bagianmu.” Melvin memberikan tumpukkan uang ke Ranum. “Aku hanya akan mengambil 100 ribu. Itu sudah lebih dari cukup untukku.” Melvin tersenyum.
Ranum menggeleng. “Aku tidak membutuhkannya.”
“Hah?” Melvin bingung. “Kamu sudah bertarung mati – matian. Tubuh dan wajahmu sudah tidak karuan seperti itu, setidaknya ambillah ini untuk mengobati luka – lukamu.” Melvin memaksa.
Ranum menggeleng, menyeka wajahnya dengan handuk. “Aku tidak minat dengan uangnya. Sampai jumpa lagi Melvin.” Ranum masuk ke mobilnya.
“Terima kasih Mark.” Melvin tersenyum dari luar jendela mobil Ranum.
Ranum mengangguk, memacu mobilnya.
***
“Ranum, Ranum.” Chen membangunkan Ranum yang tertidur di sofa.
Mata Ranum perlahan terbuka, mengerjap – ngerjap. “Ada apa?”
“Apa yang terjadi padamu?” Chen bertanya, wajahnya sangat khawatir.
Ranum kembali membaringkan kepalanya di sofa, memejamkan matanya.
“Hei! aku bertanya padamu. Dan sofa ini penuh dengan darah.” Chen berseru menggoyang – goyangkan tubuh Ranum.
__ADS_1
Ranum kembali membuka matanya. “Baiklah, baiklah aku akan pindah ke kamarku.”
Chen menggeleng. “Kamu harus mandi terlebih dahulu.” Lanjut Chen.
“Baiklah, baiklah.” Ranum berjalan dengan malas menuju kamar mandi yang berada di kamarnya.
Lima menit kemudian, Chen masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
“Apa yang kamu lakukan!” Ranum terkejut melihat Chen yang tiba – tiba masuk tanpa mengenakan selembar pakaian.
“Kita belum menyelesaikan yang tadi malam.” Chen tersenyum menatap Ranum.
“Tolonglah, aku ingin mandi dengan cepat. Aku juga sangat lapar ingin segera makan.” Ranum berbicara sambil menutup matanya.
“Tapi adikmu berkata lain, dia sudah tegak berdiri dengan lantang.” Chen berbicara dengan suara menggoda.
“Aku masih normal Chen! Makanya ini tetap terjadi!” Ranum memejamkan matanya, tangannya cepat meraih handuk kemudian melangkah ingin keluar dari kamar mandi.
Chen menahan Ranum. “Ayolah Ranum, kali ini saja. Aku sangat membutuhkannya.” Chen memasang raut wajah sedih, walaupun Ranum tidak bisa melihat ekspresinya.
Ranum menggeleng. “Maafkan aku Chen, tapi aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri, tidak lebih dari itu. Sekali lagi maafkan aku.” Tangan Ranum sibuk meraba - raba, mencari gagang pintu.
“Ahh.” Chen mendesah.
“Astaga apa itu!” Ranum berseru, tangannya memegang dada Chen, dengan cepat Ranum menarik kembali tangannya.
“Peganglah lagi Ranum, tidak masalah.” Chen kembali dengan sengaja mendekatkan tubuhnya ke tangan Ranum.
“Oh sial!” Ranum terkejut, Chen memegang adiknya yang tegap berdiri. “Singkirkan tanganmu Chen, aku serius.” Ranum berbicara tegas, membuka matanya. Mengangkat tubuh Chen, menjauhkan Chen dari pintu kamar mandi. Ranum segera keluar dari kamar mandi tersebut, pindah ke kamar mandi yang ada di lantai bawah, mengunci kamar mandi tersebut.
__ADS_1
Chen kecewa karena tetap tidak berhasil membujuk Ranum. Chen kembali ke kamar mandinya, segera mandi.