
Sebuah motor matic berwarna hitam dan mobil berwarna silver berbelok masuk gang yang sama. Ranum membawa motornya naik ke halaman rumahnya, sedangkan Zaviyar terus melaju menuju rumah Pak Tomo.
Ranum dan Zaviyar yang sama-sama belum menunaikan kewajibannya di sore itu, bergegas untuk bersujud pada Sang Khalik di tempat masing-masing. Bersyukur atas nikmat kebahagiaan yang kini tengah mereka rasakan. Do'a dipanjatkan, kali ini bukan hanya untuk kedua orang tua. Tapi, ada satu nama lain yang mereka sebut dalam do'a agar kelak mereka bisa dipersatukan.
Ranum masuk kamarnya dan mengambil ponsel. Terlihat ada beberapa chat WhatsApp yang masuk.
"Assalamu'alaikum. Gimana kabarnya?"
[Terakhir chatku nggak di bales, udah nggak mau temenan apa gimana ya?] Dua pesan dari Arvin dengan satu emotikon senyum berada di samping kalimat kedua.
[Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah baik. Kamu sendiri baik juga? Maaf, waktu itu ketiduran dan ... lupa mau bales. Hehe] balas Ranum.
[Waduh, aku dilupakan. Baru seneng kenal cewek manis, eh udah dilupain]
[Hahaha. Maaf, maaf. Tapi cogan mah gak bakal susah kalau dilupain satu cewek, apalagi cewek desay
Ranum sadar, ada satu lagi chat dari nomor tak dikenal yang tadi masuk. Ia menutup chatnya dengan Arvin dan membuka chat lainnya.
[Assalamu'alaikum. Simpan ya. Nomor baruku, Aldi]
[Wa'alaikumussalam. Siap, Pak]
Petang pun tiba, panggilan dari pemilik hidup telah dilaksanakan. Sama-smaa tidak ada kegiatan. Keduanya menyempatkan untuk membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Bu Ratih mengaji di musholla sambil menunggu adzan Isya, dan Ranum di kamarnya. Setelah menutup kitab suci Al-Qur'an dan meletakkan kembali pada tempatnya. Getar ponsel Ranum terdengar.
[Maaf, tadi sambil kerja. Pas rame gak bisa bales lagi] Pesan dari Arvin.
[Gak apa-apa]
[Sekarang ngapain, Num?]
[Nyantai di kamar]
[Oh]
[Aku tinggal bersihin badan dulu ya. Baru pulang soalnya]
Tak lagi dibalas oleh Ranum. Ia meletakkan ponsel di kasur. Namun, tak berselang lama ponselnya lagi-lagi bergetar.
[Num, boleh main-main ke rumah kamu lagi nggak?] Kali ini Aldi yang mengirim pesan di WhatsApp.
[Boleh boleh, kapan?]
[Entar aku kabari lagi. Kangen masakan Ibu kamu. Hehehe]
[Tetep aja ya kamu, masakan Ibu aja yang dikangenin]
[Masakan Ibu kamu emang nggak ada duanya, sayang nggak nurun sama anaknya]
[Yeee ... ngatain]
[Ya udah, salam sama Ibu. Bilang kalau mau aku ke sana dan makan di sana]
Hanya gambar jempol yang Ranum kirim sebagai balasan pesan terakhir dari Aldi.
Tak lama setelah chatnya dengan Aldi berakhir, terlihat layar ponsel kembali menyala dengan getar yang lebih lama. Tak perlu menunggu lama, baru beberapa detik bergetar langsung ditekannya tombol hijau pada layar ponselnya dengan hati berbunga.
"Assalamu'alaikum," ucap Ranum.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam. Lagi ngapain, Ra?"
"Di kamar aja, Mas."
"Ada tugas lagi?"
"Nggak, santai aja di kamar."
"Eh, Mas. Kok telepon sih?"
"Kenapa? Kamu nggak suka aku telepon?"
"Bukannya gitu, nanti kalau ada mahasiswa, Pak Tomo atau orang lain dengar gimana?"
"Ya, biarin aja."
Ranum yang mendengar jawaban santai Zaviyar mendengkus kesal. Ia masih belum siap jika orang-orang mempertanyakan hubungannya dengan dosen muda itu dan menanggapi perbincangan tetangganya akan dirinya. Bukan karena apa, Ranum memikirkan perasaan Ibunya jika harus menjadi bahan perbincangan banyak orang untuk yang kesekian kali.
Obrolan via telepon itu pun berlanjut hingga keduanya tak sadar jika adzan Isya telah berkumandang. Suara Bu Ratih terdengar memanggil nama Ranum, mengajaknya sholat isya. Akhirnya mereka memutuskan sambungan teleponnya dan Ranum segera menuju musholla.
Ranum dan Ibunya yang sudah menunaikan kewajiban, bersiap makan malam bersama di meja makan sederhana mereka. Makan malam itu sesekali diselingi obrolan ringan atau candaan antara Ibu dan anak itu, dan Ranum teringat akan pertemuannya dengan Aldi tadi sore.
"Oh ya, Bu. Tadi aku ketemu Aldi. Ibu masih ingatkan sama Aldi?"
Wajah Bu Ratih tampak berpikir, ia mengernyitkan dahi.
"Aldi teman SMA kamu itu?"
"Iya. Dia makin oke aja, Bu. Kelihatan lebih keren dan lebih jaga diri kayaknya dibanding dulu"
"Jadi orang tuh kalau bisa begitu, makin tambah usia makin mateng dalam segala hal, termasuk agamanya."
"Kamu ketemu di mana sama dia?" tanya Bu Ratih.
"Di pujasera, pas keluar tadi, Bu."
"Oh ya, Bu. Salam dari Aldi, katanya kapan-kapan mau kesini, kangen masakan Ibu."
Bu Ratih mengangguk dan menjawab salam dari Aldi yang disampaikan Ranum.
"Keluar sama siapa tadi?" Kembali Bu Ratih bertanya.
"Sendiri."
"Di sana? Nggak janjian sama siapa-siapa?"
"Boleh nggak Ranum habisin dulu makannya? Ibu juga, setelah itu Ranum mau cerita sama Ibu."
Bu Ratih yang sudah cukup mengenal putrinya, mengiyakan permintaan sang putri. Ia tahu, jika sudah seperti itu pasti ada hal penting yang ingin disampaikan Ranum padanya.
Selesai makan dan membersihkan meja makan dan mencuci alat makan. Mereka masuk ke ruang tengah. Baru saja akan duduk, terdengar Ponsel Ranum kembali bergetar.
"Bentar, Bu."
Ranum memasuki kamar dan meraih ponsel yang berada di atas kasur.
"Ada apa, Al?" tanya Ranum.
__ADS_1
"Dih ... sekarang gini ya, mau telepon aja harus ada alasannya dulu."
"Ya, bukan gitu. Aneh aja kamu tiba-tiba telepon lagi setelah sekian lama menghilang."
"Udah disampaikan salamku sama Ibu?"
"Udah. Nih aku lagi ngobrol sama Ibu. Eh ... kamu telepon, ganggu deh." Ranum tertawa.
"Waduuuh ... ya, maaf. Okelah, kalau gitu lanjut dulu ngobrolnya sama Ibu. Jangan lupa salamnya."
"Salam mulu, bosen Ibu."
Terdengar tawa Aldi dari seberang telepon. Tak lama mereka pun memutuskan sambungan telepon itu, dan Ranum kembali pada Ibunya. Lalu mengajak Sang Ibu masuk ke kamarnya.
Di dalam kamar, setelah keduanya duduk di tepi ranjang. Ranum berusaha mencari kata yang tepat untuk memulai ceritanya. Bu Ratih melihat wajah putrinya nampak gugup, tapi rona bahagia pun tak bisa tertutupi sejak kepulangannya tadi. Menyadari akan hal itu, Beliau menatap putri semata wayangnya itu dan bertanya.
"Ada apa, Nduk? Siapa lelaki yang sudah membuatmu sebahagia ini?"
Mendengar pertanyaan sang Ibu, Ranum hanya menggigit bibir bawahnya. Ia sadar jika tak akan bisa menyembunyikan perasaannya saat ini yang terlampau bahagia.
"Zaviyar, Bu. Namanya Mas Zaviyar."
Ranum menceritakan semua pada Ibunya. Siapa Zaviyar, bagaimana pertama kali ia bertemu dengan lelaki tampan berkulit bersih itu, bagaimana mereka bertukar kabar selama ini meski hanya melalui WhatsApp dan kadang telepon. Hingga pertemuan tadi sore yang memang sudah direncanakan keduanya.
Ranum pun tak lupa menceritakan bagaimana Zaviyar mengungkapkan isi hatinya. Bu Ratih mendengarkan tanpa menyela sedikitpun cerita putrinya itu, dan senyum di wajah wanita paruh baya itu pun terkembang.
"Ibu kok cuma senyum sih?" Ranum cemberut.
"Loh, masa Ibu nggak boleh seneng lihat putri Ibu menemukan lelaki tambatan hatinya."
"Kasih saran dong, Bu."
"Tanya hati kamu, Nak. Dan tentu minta petunjuk sama Allah, apa dia memang lelaki baik yang Allah kirimkan menjadi imammu atau bukan."
Bu Ratih menghela napas, tangannya memegang tangan Ranum yang duduk di sampingnya.
"Ibu tidak masalah kamu dengan siapapun selama laki-laki itu seiman dan tentu sholat lima waktunya tidak pernah ditinggal. Jika sholat dijaga, Insya Allah ia pun akan menjagamu, Nak."
Ranum masih diam, matanya menerawang ke berbagai sudut kamar tapi pikirannya entah ke mana.
"Ibu ngerti kamu ragu karena perkenalan kalian yang terbilang singkat, tapi jika ia memang jodohmu. Insya Allah akan dimudahkan."
"Iya, Bu," lirih suara Ranum.
"Lalu, tadi kamu jawab apa?"
"Ranum bilang nggak janji karena hati ini bukan sepenuhnya milik kita. Aku takut jika berjanji tapi nggak bisa nepati, Allah bisa membolak-balikan hati ini kapanpun kan, Bu."
Bu Ratih pun kembali bertanya tentang reaksi Zaviyar dengan jawaban putrinya itu. Ranum mengatakan bagaimana reaksi Zaviyar tadi sore. Kembali senyum terlihat di bibir Bu Ratih mendengar penjelasan tersebut.
"Insya Allah dia laki-laki baik, Nak. Mintalah yang terbaik sama Allah untuk hati kamu, dan juga ... hatinya. Jika memang Allah mengizinkan, maka hati kalian akan disatukan dengan ridho-Nya."
Bu Ratih melepaskan genggaman tangannya, beranjak dari duduknya. Ia membuka pintu kamar Ranum. Namun, sebelum keluar terdengar anak gadisnya itu memanggil.
"Bu."
Bu Ratih membalikkan badan, menatap putrinya yang masih duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Sepertinya Ranum jatuh cinta."
🌷🌷🌷🌷🌷