Ranum

Ranum
Bagian 19


__ADS_3

"Jika ada gadis lain yang membuat kamu nyaman dan dia serius, Insya Allah aku ikhlas melihatmu bahagia dengan gadis itu, Mas."


"Ya Allah, Ra. Kenapa kamu mikir seperti itu? Aku nggak ada niat untuk dekat dengan gadis lain, saat ini yang selalu ada dalam do'aku cuma kamu."


"Aku nggak mau nyakitin Mas Zav dengan sikapku ini, tapi jujur aku masih belum ada keberanian untuk melangkah lebih jauh."


Zaviyar menghela napas pelan. Hembusan napasnya terdengar berat meski ia coba menahannya. Tangannya mengusap tengkuk yang kini juga terasa berat.


Tak ingin membuat gadis yang disayangi semakin bingung dan sedih. Meski dirinya sendiri merasakan hal serupa, tapi ia sadar bahwa dialah laki-laki yang kelak menjadi imam dan harus bisa lebih tenang bagaimanapun kondisinya.


"Ra, aku memang berharap kita bisa menikah secepatnya. Tapi, bukan berarti aku akan memaksamu. Insya Allah aku akan tetap menunggumu, aku yakin tidak lama lagi waktu itu akan tiba. Jadi, tolong jangan bicara yang aneh-aneh."


Tak ada jawaban dari seberang telepon. Keduanya terdiam dengan hati dan pikiran masing-masing. Sesekali terdengar suara tangis Ranum. Meski gadis itu sekuat tenaga menahan, tapi air matanya luruh juga. Zaviyar pun masih mencoba menenangkan meski hanya melalui sambungan telepon.


"Ra, udah. Tolong jangan nangis lagi. Serahkan semuanya pada Allah, minta padanya untuk menjaga hati kita. Karena aku yakin, hatimu masih untukku."


Deg!


Tentu saja kata-kata Zaviyar seperti sebuah tamparan bagi Ranum. Gadis itu kembali sadar bahwa benar yang dikatakan, hatinya sudah terlanjur terikat pada sosok yang kini sedang berbicara dengannya di seberang telepon. Namun, bayangan masa lalu kenapa seperti terus menghantui, hingga membuatnya takut untuk menerima lelaki yang sudah begitu sabar menunggunya.


"Maaf, Mas. Mungkin aku sudah banyak menyakiti hati Mas Zav."


"Enggak, Ra. Selama kita sama-sama berusaha menjaga satu sama lain. Insya Allah nggak akan ada yang tersakiti."


"Tapi, Mas ..."


"Tolong percaya padaku dan jangan ragukan aku, Ra."


Tak ada hal yang lebih membahagiakan selain mendapatkan ketulusan dari orang yang kita sayang. Mungkin begitulah bagi sebagian orang. Tapi, bagi Ranum saat ini justru sangat menyesakkan.


Perasaan bersalahnya pada sosok lelaki yang tulus menyayanginya semakin besar. Ia tahu bahwa hatinya pun begitu menyayangi lelaki itu, tapi ketakutan masih saja menghalangi untuk mengungkapkan yang sebenarnya.


Hanya air mata yang mampu menggambarkan perasaan Ranum saat ini.


Mendengar kata-kata Zaviyar membuat Ranum makin sadar seberapa tulus perasaan lelaki itu untuk dirinya. Ada rasa haru dalam hati gadis manis itu, tapi lagi-lagi belum bisa memberi kabar bahagia pada lelaki yang ia sayang tersebut. Dan karena hal itu, ia tak ingin membuat lelaki berwajah teduh itu menunggunya lebih lama.


"Mas, apa boleh dalam waktu dekat ini aku pergi ke Malang?" tanya Ranum.


"Boleh, sama siapa?"


"Sendiri. Tapi, mungkin nanti di sana ketemu Arvin."


"Iya, hati-hati. Semoga setelah itu kamu bisa lebih tenang," ucap Zaviyar penuh harap.


Zaviyar yang sudah sering berbagi cerita dengan Ranum tak lagi menaruh curiga jika gadis itu bertemu dengan Arvin. Karena Ranum pun tak jarang bercerita tentang temannya dari kota dingin itu.


"Iya, Mas. Sekali lagi maafin aku."


"Udah, Ra."


Zaviyar pun mencoba menghibur Ranum, mengalihkan pembicaraan. Ia menceritakan tentang Radit dan juga istrinya yang kini sedang hamil muda. Terkadang Ranum yang ganti bercerita tentang tingkah pola anak didiknya. Dan suasana pun kembali mencair. Hingga tak terasa malam semakin larut dan keduanya memutuskan untuk beristirahat dan mengakhiri sambungan telepon.


***


Hari pun terus berganti. Pagi itu, sang Surya menyembul dari ufuk timur dengan pesonanya yang khas di awal hari. Ranum yang sedari beberapa hari yang lalu mempunyai rencana pergi ke Malang, terlebih dulu menyiapkan beberapa barang yang akan dibawanya agar nanti saat pulang sekolah sudah siap dan tinggal berangkat. Bu Ratih telah menyiapkan sarapan dan mengajak putrinya sarapan sebelum sama-sama berangkat.


Kegiatan sekolah pun berjalan seperti biasa. Jika tak banyak data dan laporan yang dikerjakan, Ranum akan membantu mengisi kegiatan di dalam kelas bersama dengan pengajar lainnya.


Ranum sudah bersiap berangkat ke Malang. Motornya sudah berada di samping rumah. Kali ini Ranum memadukan celana jeans navy, baju putih dengan bunga-bunga kecil berwarna pink, serta kerudung senada dengan bunga di bajunya. Bu Ratih menunggu hingga putrinya berangkat sebelum ia sendiri istirahat siang.


Kota dingin sudah di depan mata. Udara sejuk menyapa lembut wajah Ranum yang tidak tertutup kaca helm. Motor Ranum memasuki area parkir yang berada diantara Alun-alun dan Masjid Jami' Malang. Ya, memang dua tempat itu menjadi tujuan pertama bagi gadis berparas manis itu saat tiba di Malang.


Ranum duduk di atas rumput area Alun-alun. Menikmati suasana kota Malang dan memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Tak seberapa lama Ranum berada di sana, suara adzan telah berkumandang. Ia pun bergegas menuju masjid. Dan sebelum memasuki masjid, sebuah pesan dikilirim pada Arvin.


"Habis ini aku ke tempat kamu. Tolong kirim alamatnya."


Tak perlu bertanya atau menjelaskan lebih banyak, karena memang sebelumnya Ranum sudah memberi kabar pada Arvin.


Ranum yang sudah selesai menunaikan kewajibannya, kini berada di area parkir berjalan mendekati motornya. Ia menaiki motor dan membawanya menyusuri jalanan kota Malang mencari alamat yang telah dikirimkan Arvin dalam pesannya.


Sekitar lima belas menit mengendarai motor, Ranum telah sampai di depan sebuah kafe yang disebutkan Arvin. Ia memarkir motornya dan memasuki kafe yang nampak seperti rumah itu.


Ranum masuk ke dalam kafe yang memang sepertinya di design menyerupai rumah agar yang datang ke tempat itu merasa nyaman seperti di rumah sendiri.

__ADS_1


Jumlah meja pun tak terlalu banyak, lebih kurang lima belas meja. Tiap meja memiliki daya tampung yang berbeda. Ada yang di tata untuk empat sampai lima orang dan ada pula yang memang disiapkan untuk dua orang.


Ranum melihat sekeliling, mencari keberadaan Arvin tapi tak ia temukan. Matanya memperhatikan masing-masing meja dan mencari tempat yang nyaman.


Satu meja dengan dua kursi yang berada di pojok paling selatan menjadi pilihannya. Meja yang berada tepat di samping jendela dan menghadap jalan. Ia keluarkan ponsel dari dalam tasnya berniat mengabari Zaviyar. Tapi, Ranum baru sadar ternyata ponselnya telah kehabisan baterai.


"Hai." Suara Arvin mengagetkan Ranum yang tengah bingung karena ponselnya mati.


"Oh ... Hai."


"Udah dari tadi? Maaf baru sholat."


"Enggak, baru aja kok."


Arvin yang melihat Ranum tak tenang dan tetap fokus pada ponselnya, menanyakan ada masalah apa hingga membuatnya sedikit diabaikan.


"Ehm ... maaf, Vin. Ini ponselku mati dan aku lupa nggak bawa powerbank."


"Isi aja dulu baterainya di sini, pakek punyaku."


"Masalahnya aku mau kabari Mas Zav, tapi ...?"


"Ini, kamu bisa kabari dia pakek ini. Hafal kan nomornya?" Arvin memberikan ponselnya dan satu tangannya mengambil ponsel Ranum untuk mengisi baterainya.


Ranum yang merasa tidak enak hati, tak langsung menerima ponsel Arvin. Tapi, Arvin terus memaksa hingga Ranum tak bisa mengelak lagi.


"Makasih, ya. Maaf ngerepotin kamu."


"Nggak masalah, pakek aja."


Ranum dengan cepat mengetik nomor Zaviyar yang sudah dihafalnya. Bunyi sambungan telepon beberapa kali terdengar sebelum akhirnya sang pemilik mengangkatnya.


"Ra? Ini kamu?" ucap Zaviyar setelah mendengar salam dari Ranum.


"Iya, Mas."


"Apa yang terjadi? Kok, kamu hubungi aku dengan nomor baru?"


"Nggak ada yang terjadi, Mas. Aku baik-baik aja, cuma ponselku kehabisan baterai dan ini lagi diisi di tempat Arvin."


Setelah dirasa cukup memberi kabar pada Zaviyar. Ranum mengakhiri panggilan karena merasa tidak enak jika harus berlama-lama menelepon.


Arvin sudah kembali dari salah satu ruangan di kafe untuk mengisi baterai ponsel Ranum. Gadis manis itu pun segera mengembalikan ponsel yang sudah ia pinjam.


Arvin meyodorkan buku menu pada Ranum. Satu cappucino dan seporsi French fries ia pesan. Lelaki berbadan atletis itu membawa kembali buku menu dan menyerahkannya pada seorang gadis yang sepertinya juga bekerja di sana.


Ranum menunggu pesanan di tempat duduknya. Tak lama Arvin membawa makanan dan minuman yang dipesan Ranum ke mejanya. Mereka pun mengobrol dengan santai dengan suasana cafe yang mendukung.


"Gimana ceritanya?" ucap Arvin sambil membetulkan tempat duduknya.


"Yah, begitulah."


Akhirnya Ranum pun menceritakan persoalannya pada Arvin. Lelaki itu setia mendengarkan cerita gadis manis dihadapannya dengan tatapan yang tetap fokus pada mata sang gadis.


“Benerkan apa yang kupikirkan tentang Aldi?” ucap Arvin.


Ranum hanya menunduk lemah menjawab kata-kata Arvin. Kegelisahan hati Ranum membuatnya tak sadar jika lelaki di depannya terus menatapnya.


"Yakinkan hati kamu sendiri. Lelaki dari Surabaya itu, siapa? Zaviyar?"


Anggukan kecil sebagai jawaban dari Ranum.


"Dia serius sama kamu. Sebenarnya, apa yang membuatmu masih ragu? Apa hanya karena Aldi?” Arvin bertanya penuh selidik.


"Semakin aku sayang, aku semakin takut kehilangan dia."


"Lalu, dengan seperti ini apa kamu pikir kamu akan terus bisa dekat dengannya?"


Sejenak, Ranum menutup wajahnya dengan kedua tangan. Memikirkan kata-kata Arvin. Ia mengembuskan napasnya, “Aku berniat mengatakan semuanya pada Mas Zav dalam minggu ini.”


“Semuanya? Maksud kamu?”


Kembali Ranum diam, kemudian ia kembali membuka suara dan menceritakan tentang masa lalunya. Kejadian masa lampau yang membuatnya khawatir akan terulang.

__ADS_1


"Yang sudah terjadi ikhlaskan. Boleh kamu mengingatnya untuk lebih hati-hati, tapi bukan berarti membuatmu terkurung dalam masa lalu."


Arvin mengambil napas dan mengembuskannya perlahan.


"Kembali ke masa sekarang dan tata masa depan kamu."


"Bukan hanya perempuan yang butuh kejelasan. Laki-laki pun jika sudah serius, juga butuh kejelasan dari wanitanya," jelas Arvin.


Belum sempat Ranum menjawab, seorang lelaki dengan kaos hitam bertuliskan nama kafe di bagian dada memanggil Arvin.


"Mas Arvin, katanya mau main. Sekarang apa gimana?"


"Oh, okey. Sekarang."


Ranum mengernyitkan dahi menatap Arvin.


"Mau lagu apa?" tanya Arvin pada Ranum.


"Maksudnya main ...?" Ranum berpikir.


"Kamu main musik dan nyanyi?"


Arvin mengangguk. "Mau lagu apa?" Diulangnya pertanyaan yang belum Ranum jawab.


"Cinta karena cinta," jawab Ranum.


"Ehm ... Cocok." Senyum Arvin terukir di sudut bibirnya seraya berjalan meninggalkan meja Ranum.


Ranum menyipitkan mata melihat reaksi Arvin yang tak ia mengerti. Arvin segera bersiap mengambil gitarnya dan duduk di sebuah kursi yang menghadap ke meja pengunjung.


Gitar sudah siap dimainkan. Perlahan jemari Arvin memetik senar gitarnya, mengalunkan nada-nada yang membuat pendengarnya terbuai masuk ke dalam lagu yang dimainkan. Ditambah suara merdu Arvin yang menyanyikan bait demi bait lagu dengan sepenuh hati.


Ranum terus memperhatikan. Menikmati lagu yang dibawakan lelaki yang memiliki hidung mancung itu. Tapi, meski matanya mengarah pada Arvin, pikirannya justru tertuju pada sosok lelaki di kota lain. Bayangan Zaviyar terus berkelebat selama lagu dimainkan. Tanpa terasa setetes bening meluncur jatuh dari sudut matanya. Ranum menunduk, mengusap matanya dengan tissue.


Arvin. Dari tempatnya bermain, pandangannya juga tak lepas dari gadis yang matanya mulai memerah itu. Arvin terus menikmati tiap nada yang dimainkan. Penuh penghayatan. Hingga pada petikan nada terakhirnya, ia menyelesaikannya dengan indah.


Arvin yang sudah meletakkan kembali gitarnya, segera menuju meja Ranum. Gadis itu berusaha menghapus jejak air mata yang sempat keluar. Tapi, tetap saja Arvin terlanjur melihatnya sedari ia bernyanyi.


"Kenapa? Ngena ya?" Arvin tersenyum simpul.


"Hmmm," gumam Ranum.


"Jangan sampai kamu menyesal, Num."


Ranum menatap Arvin beberapa saat. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan seperti berusaha menghilangkan beban di dada.


"Kelamaan mikir. Aku nikahin juga kamu." Arvin berlalu sambil terkekeh.


Ranum hanya berdecak menanggapi candaan Arvin.


Hari semakin petang. Ranum berniat untuk pulang. Arvin yang berjalan dari ruangan tempatnya mengisi baterai ponsel Ranum, menyipitkan mata melihat gadis manis itu sudah bersiap.


"Mau balik sekarang?"


"Iya, mumpung belum Maghrib."


"Nggak sekalian nunggu habis Maghrib?"


Ranum menggelengkan kepala dan berdiri dari tempat duduknya serta mengambil ponsel dari tangan Arvin.


"Makasih."


"Hmmm. Hati-hati."


Mereka berjalan menuju tempat di mana motor Ranum terparkir. Helm dipakai dan kunci motor sudah siap di tempatnya. Ranum pun telah duduk di atas motor hendak menyalakan mesinnya.


“Sepertinya ... aku sudah yakin dengan keputusanku."


“Bagus."


Saat Arvin sudah kembali masuk ke kafe. Ranum menyempatkan menyalakan ponsel dan mengirim pesan WhatsApp pada Zaviyar sebelum ia benar-benar meninggalkan kota Malang petang itu.


"Mas, nggak ada rencana main ke Pasuruan?"

__ADS_1


"Ada yang mau aku omongin."


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2