Ranum

Ranum
SERUM


__ADS_3

Ranum mengambil segelas susu dan kotak P3K serta sebuah cermin, kemudian berjalan menuju ke halaman belakang. Ranum menjahit luka di wajahnya, sesekali menghisap rokoknya. Chen datang menghampiri Ranum di halaman belakang.


“Semalam kamu pergi kemana?” Chen duduk di sebelah Ranum.


“Klub petarung. Semacam itulah.” Ranum mematikan rokoknya.


“Kenapa kamu selalu pulang penuh luka?” Chen kembali bertanya.


“Sudah aku bilang, jangan pernah tanyakan apapun tentang kegiatanku.” Ranum menjawab datar, tangannya gesit menjahit luka – luka sobekan di wajahnya.


Chen mengangguk. “Aku ingat. Tapi aku penasaran, kamu tidak boleh merahasiakan sesuatu dari adikmu.” Chen tersenyum lebar menatap punggung Ranum.


Tangan Ranum terhenti mendengar kalimat Chen. “Adik?” Ranum bertanya, bingung.


Chen mengangguk. “Kamu sendiri yang tadi bilang sewaktu di kamar mandi.” Chen kembali tersenyum lebar.


Ranum menatap Chen. “Itu agar kamu tidak memaksaku lagi.” Ranum kembali menghadap cermin, menjahit luka – lukanya.


Chen tertawa. “Wajahmu lucu sekali. Benjolan sebanyak itu membuatmu terlihat seperti badut ulang tahun.” Chen tertawa geli.


Ranum tak acuh, dia tetap fokus menjahit luka – lukanya. Chen yang sudah puas tertawa masuk ke dalam rumah, mengambil es batu, menaruh semua es itu ke dalam sebuah kantong plastik. Chen kembali ke halaman belakang. “Menghadaplah kesini. Aku akan mengompres benjolan di wajahmu.” Chen berbicara.


“Masih ada beberapa luka yang harus aku jahit. Tunggu sebentar.” Jawab Ranum datar.


Lima menit kemudian Ranum mengambil kantong es yang ada di tangan Chen, mengompres wajahnya yang terdapat benjolan.


“Kenapa sifatmu sangat menyebalkan?” Chen bertanya ke Ranum.


Ranum mengangkat bahunya. “Sudah sewajarnya adik dan kakak tidak bisa akur kan?”


“Kalau begitu jangan anggap aku adikmu agar kamu tidak menyebalkan!” Chen berseru ketus, melipat tangannya di dada.


Ranum mengangguk. “Aku akan menganggapmu sebagai cucuku.” Ranum tersenyum.


Chen memukul punggung Ranum. “Menyebalkan!” Chen masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut.


Ranum tertawa kecil, kembali membakar rokoknya.


Sepuluh menit kemudian Chen kembali ke halaman belakang membawakan roti lapis ekstra keju dan tomat kesukaan Ranum. Chen menyodorkan piring berisi roti lapis tersebut. “Maafkan aku.” Chen berbicara.


Ranum mendongak, bingung. “Untuk apa?” Lanjut Ranum bertanya.


“Karena bersifat menyebalkan.” Chen duduk di sebalah Ranum.


Ranum menerima piring tersebut, menaruh piring itu di pangkuannya. “Tadi kamu bilang kalau aku yang menyebalkan.” Ranum tertawa kecil, memakan roti lapis tersebut. “Kamu lupa menaruh saus sambal.” Lanjut Ranum.


“Oh iya, aku lupa.” Chen berdiri ingin mengambilkan saus sambal untuk Ranum, tapi gerakannya terhenti, Ranum memegang tangannya. “Tidak perlu. Duduklah.” Ranum tersenyum. Chen kembali duduk.


“Maafkan aku karena sering memaksamu untuk bercinta denganku.” Chen menatap Ranum.

__ADS_1


Ranum menggeleng. “Aku tahu. Itu sangat manusiawi. Aku juga sering berkeinginan untuk berhubungan. Aku juga manusia.” Ranum tersenyum.


“Lalu kenapa kamu selalu menolak ajakanku?” Chen bertanya.


Ranum menghela nafasnya. “Pertama, Aku benar – benar menganggapmu seperti adikku sendiri. Kedua, aku tidak suka berhubungan intim tanpa berlandaskan cinta. Menurutku sekedar berhubungan intim dan bercinta adalah dua hal yang berbeda. Dan aku hanya melakukannya untuk membangun cinta, bukan hanya untuk memenuhi hasratku saja.”


“Kenapa kamu tidak mencari pengganti istrimu?” Chen kembali bertanya.


Ranum tersenyum. “Entahlah, aku hanya tidak ingin masuk ke kehidupan seseorang, jika aku belum bisa lepas dari masa laluku. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan ini benar atau salah. Setidaknya apa yang aku pikirkan saat ini adalah pilihan yang baik menurutku.” Ranum kembali memakan roti lapisnya.


“Lalu bagaimana jika wanita yang berada di dekatmu mencintaimu?”


Ranum menggeleng. “Tidak mungkin. Jatuh cinta itu sulit, sesulit menjaga cinta itu sendiri.”


“Bagaimana jika aku mencintaimu?” Chen kembali bertanya.


Ranum tersedak, segera mengambil gelas susu, meminumnya.


Chen tertawa. “Aku hanya bercanda. Kalaupun tidak bercanda, aku akan tetap mengatakannya padamu.” Chen tersenyum menatap Ranum.


Ranum mengangguk. “Aku akan pergi keluar sebentar.” Ranum bangkit dari kursinya, tangannya gesit membersihkan mulut menggunakan serbet.


Tiba – tiba ponsel Ranum berdering, Ranum segera menjawab panggilan tersebut.


“Selamat siang Tuan Muda Ranum, ada tugas yang harus anda selesaikan.” Suara Alexa terdengar dari ujung ponsel.


“Iya, maafkan saya Tuan Muda, tapi Bos Besar ingin anda menyelesaikan tugas ini.”


“Baiklah. Apa tugasku?”


“Mengambil sampel serum di Antipodes island.”


“Antipodes Island?”


“Iya, salah satu pulau kecil yang berada di Selandia Baru. Target anda gunung Galloway Tuan Muda.” Alexa menjelaskan.


“Keluarga Loshad membuka lahan baru disana?” Ranum bertanya bingung.


“Tidak Tuan Muda.”


“Berarti lebih tepatnya aku kesana untuk mencuri sampel serum?” Ranum mulai mengerti tugasnya.


“Iya benar Tuan Muda.”


“Seharusnya ini tugas Dayana, kenapa harus aku yang melakukannya?”


“Nona Muda Dayana masih sibuk dengan penelitiannya di Tiongkok dan menurut Bos Besar, tugas ini lebih cocok dengan anda, selain posisi anda yang paling dekat dari Antipodes Island.”


“Oke – oke aku akan melakukannya.”

__ADS_1


“Muhammad dan anggota lainnya sudah berada di pacuan kuda.” Lanjut Alexa.


“Kalau saat aku tiba disana masih ada kru untuk membantuku. Aku tidak akan melakukan tugas ini.” Ranum mematikan ponselnya. “Aku rasa aku akan pergi beberapa hari. Tidak hanya sebentar.” Lanjut Ranum berbicara ke Chen.


Chen mengangguk, tersenyum. “Hati – hati.”


Ranum mengangguk, melangkah keluar dari rumahnya.


Kurang dari 25 menit, Ranum sudah tiba di pacuan kuda. Muhammad dan Gabriel sudah menunggu di pintu pesawat, menyambut kedatangan Ranum. “Semua kru sudah di tinggalkan sesuai perintah anda Tuan Muda, anda hanya akan di temani oleh awak pesawat.” Gabriel tersenyum.


Ranum mengangguk, melangkah naik ke pesawat. Pilatus PC-24 mulai lepas landas dari pacuan kuda. “Moon tolong berikan rincian tugasku saat ini.” Ranum memerintah artificial intelligencenya.


Sinar berwarna biru muncul dari meja di hadapan Ranum, menampilkan seluruh detail misinya serta peta pulau Antipodes, kemudian memperbesar di area gunung Galloway. “Tugas anda kali ini adalah mengambil sampel serum regenerasi dan serum untuk mengatur sistem limbik di dalam otak.”


“Serum seperti itu benar – benar ada?” Ranum bertanya terkejut.


“Ada Tuan Muda, keluarga Jin sudah mengembangkan penemuan ini sejak tiga tahun yang lalu dan mereka hampir berhasil menyempurnakan serum – serum tersebut.”


“Jadi mulai sekarang kita mencari masalah dengan keluarga Jin eh.” Ranum tersenyum. “Memang benar, tidak ada teman yang sejati di dunia ini.”


“Di kaki gunung Galloway terdapat pintu untuk masuk ke dalam sebuah laboratorium yang berada di dalam gunung tersebut, pintu tersebut satu – satunya akses untuk masuk ke dalam lab.” Moon kembali memberikan informasi.


Ranum mengangguk. “Semakin menarik.” Ranum tersenyum. “Bagaimana dengan sistem pertahanan dan keamanan lab tersebut?” Lanjut Ranum bertanya.


“Aku tidak dapat mengakses ke dalam lab tersebut Tuan Muda. Aku hanya bisa menjangkau luar gunung tersebut. Pintu utama lab tersebut hanya di jaga dua orang dan di beberapa bagian gunung tersebut di buat lubang untuk menaruh beberapa senjata otomatis yang dilengkapi sensor gerak. Jadi jika anda mengenai sensor tersebut, senjata akan otomatis menghujani anda dengan peluru.” Moon menjelaskan.


Ranum mengangguk. “Lalu bagaimana dengan serum pengatur sistem limbik itu. Sebenarnya itu bukan suatu serum yang berbahaya bukan?” Lanjut Ranum bertanya.


“Memang tidak terlalu berbahaya untuk manusia biasa Tuan Muda. Tapi bisa menjadi sangat berbahaya jika serum itu sudah berada di tangan keluarga Nogilevich. Keluarga Jin mengembangkan serum itu untuk agen spesial yang sedang di kerjakan keluarga Nogilevich. Sebagai imbalannya keluarga Jin akan mendapatkan agen spesial dari keluarga Nogilevich secara cuma – Cuma.”


Ranum mengangguk – angguk, mulai paham dengan apa yang dijelaskan Moon.


***


Kembali ke mobil Aston Martin Vulcan yang dikendarai Ranum. Masa kini.


“Jadi Chen Xiuhuan...” Alexa berkata.


Ranum mengangguk.


“Kenapa kamu tidak pernah bilang kepadaku?” Alexa bertanya.


“Kamu tidak pernah bertanya.” Ranum menjawab datar.


“Kesalahanku.” Alexa tersenyum, hati dan pikirannya tenang setelah mengetahui kebenaran tentang hubungan Ranum dan Chen.


“Kenapa kamu tersenyum?” Ranum bertanya, menatap raut wajah Alexa yang terlihat bahagia.


“Tidak apa.” Alexa balik menatap Ranum tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2