Ranum

Ranum
SAMA SEPERTI ANDA


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


“Aaahh, ya Tuhan!” Chen berteriak kesakitan sambil ngeden.


“Hei, hei lihat aku.” Ranum mengelus kepala Chen.


“Astaga Ranum!” Chen berteriak. “Ini sakit sekali!” Chen teriak sambil tetap ngeden.


“Ayo dorong lagi, anda sedang kontraksi.” Dokter berkata.


“Kamu akan baik – baik saja. Sebentar lagi bayinya akan keluar.” Ranum tersenyum, berusaha meyakinkan Chen.


“Oh sial Ranum! aku tidak tahan, ini sangat menyakitkan!” Chen berteriak.


“Kepalanya sudah keluar, ayo dorong lagi.” Dokter kembali berbicara.


Ranum menatap Chen. “Kamu pasti bisa.” Ranum tersenyum.


Chen berteriak kesakitan tetap berusaha ngeden semampunya.


“Bagus! Bayinya sudah keluar.” Dokter tersenyum, menggendong bayi tersebut. “Selamat untuk kalian berdua.”


Dua perawat juga mengucapkan selamat kepada Ranum dan Chen.


“Kamu berhasil melakukannya.” Ranum tersenyum, mengelus kepala Chen.


Setelah dokter membersihkan air ketuban dan pernapasan pada bayi tersebut, dokter memberikan bayi itu ke Chen. “Astaga, bayi ini laki – laki.” Chen tersenyum bahagia, memeluk bayinya.


Ranum tersenyum, mengelus kepala Chen. “Apa kamu sudah memiliki nama untuknya?” Lanjut Ranum bertanya.


Chen mengangguk. “Ranum Tan.” Lanjut Chen tersenyum.


Ranum tertawa kecil.


Dokter kembali mengambil bayi tersebut untuk melakukan pemotongan tali pusat dan lain sebagainya.


“Terima kasih.” Chen mencium tangan Ranum.


Ranum tersenyum. “Sama – sama.” Ranum tetap mengelus kepala Chen. “Anakmu sangat tampan.” Ranum tersenyum.


Chen mengangguk. “Seandainya ada ayahnya disini.” Chen tersenyum getir.


“Hei.” Ranum menatap Chen. “Itu bukan masalah yang harus kamu pikirkan untuk saat ini, yang harus kita pikirkan adalah kamar dan perlengkapan untuk anak itu.” Lanjut Ranum.


Chen mengangguk, tersenyum. “Terima kasih Ranum.”


Ranum mengacak rambut Chen. “Sebaiknya kamu istirahat, aku akan keluar sebentar.”


Chen mengangguk, kembali mencium tangan Ranum.


Ranum pergi ke ruang tunggu. “Bagaimana keadaan Chen, Ranum?” Olivia bertanya, khawatir.


“Dia baik – baik saja.” Ranum tersenyum.

__ADS_1


“Astaga, tanganmu berdarah Ranum.” Olivia terkejut melihat bekas cakar dan gigitan di tangan Ranum.


Ranum tertawa kecil. “Aku baru menyadarinya.”


Olivia ikut tertawa. “Sebaiknya kita segera mengobati lukamu.” Lanjut Olivia.


Ranum menggeleng. “Temani Chen, ini hanya luka kecil.”


“Baiklah, kamu bosnya.” Olivia tersenyum.


“Terima kasih.” Ranum tersenyum, segera menuju mobilnya.


Sesampainya di mobil Ranum segera masuk lalu membakar rokok dan minum minuman bersoda. Ranum mengeluarkan ponselnya, menghubungi Jarrett. “Yoo Jarrett. Bayinya laki - laki.” Ranum berbicara lewat ponselnya.


“Wow, selamat kawan.” Jarrett berseru bahagia. “Siapa namanya?” Lanjut Jarrett bertanya.


“Ranum Tan. Aku tidak tahu Chen bercanda atau tidak soal nama itu, yang pasti dia bilang seperti itu. Sebaiknya kamu segera kerumahku dan segera siapkan kamar bayi untuk laki – laki sesuai rencana kita.”


“Kamar lantai dua di bagian kanan dari tangga, kamar paling ujung.” Jarrett memastikan.


Ranum mengangguk. “Tepat sekali. Apa kamu sudah menyiapkan orang – orangnya?” Lanjut Ranum bertanya.


“Sudah kawan, ada empat orang bersamaku. Satu desainer interior dan sisanya yang akan merenovasi kamar Ranum Tan.”


“Terima kasih banyak.” Ranum tersenyum.


“Santai kawan. Kalau ada yang perlu di tambahkan segera kabari aku.” Jarrett berkata.


Ranum mengangguk, mematikan ponselnya. Ranum merebahkan tubuhnya di jok mobil, menghisap rokoknya. “Apa yang harus aku lakukan? Akan ada bayi yang tinggal dirumahku.” Ranum berpikir. “Bagaimana jika kejadian yang menimpa Miranda akan menimpa Chen dan anaknya?” “Apa yang harus aku lakukan?” “Apa karena mereka tinggal seatap denganku, aku harus berperan sebagai suami dan ayah?” “Apa yang seorang ayah normal ajarkan kepada anaknya?” “Bagaimana cara mendidik seorang anak?” Ranum memukul wajahnya, berusaha menghilangkan pertanyaan - pertanyaan aneh yang memenuhi kepalanya. “Hanya perlu dijalani Ranum, hanya perlu dijalani.” Ranum berbicara pelan berusaha menenangkan diri, mengatur napasnya.


Ranum tersenyum, mengangguk.


“Aku kira kamu masih di penjara.” Anthony berbicara pelan.


“Aku pikir juga begitu.” Ranum tersenyum, membakar rokoknya.


“Dimana Alexa?” Anthony kembali bertanya.


“Dia berada di Indonesia.” Ranum menghisap rokoknya.


“Pantas saja dia tidak pernah berkunjung kesini lagi.” Anthony tersenyum. “Bourbon seperti biasa?” Lanjut Anthony bertanya.


Ranum tersenyum, mengangguk.


Anthony segera membawakan sebotol whiskey beserta gelasnya. Ranum menuang bourbon itu ke dalam gelasnya, menenggak minuman tersebut. “Bagaimana kamu bisa cepat keluar dari penjara?” Anthony bertanya pelan.


“Sama seperti anda. Bedanya, aku tidak di jemput oleh James.” Ranum tertawa kecil.


“Bukankah kamu di tempatkan di penjara Goulburn yang memiliki keamanan tingkat tinggi?” Anthony bertanya.


Ranum mengangguk.


“Tapi kenapa tidak ada di berita kalau penjara itu diserang?” Anthony bertanya bingung.

__ADS_1


“Aku tidak menyerang penjara itu untuk bebas.” Ranum tertawa kecil.


“Katamu sama seperti saat aku dibebaskan.”


Ranum mengangguk. “Sama – sama di jemput, caranya yang berbeda.” Ranum tersenyum.


Terdengar bunyi tamparan, mata Anthony cepat melihat ke sumber suara. Ranum tetap santai menghisap rokoknya.


“Aku sudah bilang aku tidak akan melakukannya!” Seorang wanita berseru.


“Jika tidak ingin melakukannya, jangan pernah paksa aku untuk bertanggung jawab dan ingat aku sudah memilik istri! Itu juga belum tentu benih milikku! Bisa saja itu milik pria lain yang tidur denganmu!” Seorang pria kembali berseru.


“Masalah seperti ini yang paling aku benci.” Anthony tertawa kecil, berbisik.


Ranum tersenyum, menenggak whiskeynya.


Pria itu mencekik wanitanya ke tembok. “Aku tidak ingin bertanggung jawab atas hal apapun. Urus sendiri kandunganmu itu dan ingat jangan pernah menemuiku lagi.”


“Tuan, tolong lepaskan kekasihmu.” Anthony mencoba berbicara.


“Diam kau orang tua! Ini bukan urusanmu!” Pria itu berseru ke Anthony.


Ranum tetap tenang, menghisap rokoknya.


“Wajah kekasihmu itu mulai membiru tuan. Dia mulai kehabisan napas.” Anthony mulai kesal.


“Aku bilang diam baji-“


Ranum mencekik pria tersebut, membuat kalimat pria tersebut terputus. Pria itu melepaskan genggamannya dari leher kekasihnya, berusaha melepas cengkraman Ranum. Tidak bisa, pria itu tidak mampu melepaskan cengkraman kuat milik Ranum. Sekuat apapun pria itu berusaha untuk berbicara, suaranya tetap tidak terdengar jelas.


Ranum melepaskan cengkramannya, pria tersebut jatuh ke lantai. “Maafkan aku tuan.” Pria itu berusaha menghirup oksigen sebanyak – banyaknya.


“Aku tidak peduli dengan masalahmu. Tapi jika kamu kembali berseru ketika berbicara pada orang tua itu, aku akan membunuhmu.” Ranum berbicara datar, menunjuk Anthony.


Gabriel masuk ke bar Irlandia tersebut secara tiba – tiba, Ranum menoleh ke arah pintu masuk. “Astaga.” Gabriel tertawa kecil melihat seorang pria tergeletak di hadapan Ranum. “Kami berusaha menghubungi anda, tapi tidak ada jawaban.” Lanjut Gabriel menjelaskan.


Ranum memeriksa sakunya. “Sepertinya ponselku tertinggal di mobil.” Ranum berbicara ke Gabriel. “Sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku benci melihatmu.” Lanjut Ranum berbicara ke pria tersebut.


Pria tersebut lari terbirit – birit keluar dari bar.


Gabriel tertawa. “Aku pikir anda tidak bisa dihubungi karena dalam masalah besar.”


Ranum menggeleng. “Bagaimana kamu tahu aku disini?” Lanjut Ranum bertanya.


“Maafkan saya Tuan Muda, saya melacak ponsel anda.” Gabriel menjelaskan.


“Tidak masalah.” Ranum kembali meminum whiskeynya. “Tuan Anthony tolong berikan sedikit camilan untuk temanku ini.” Ranum berbicara ke Anthony.”


“Kami disini bukan untuk bersantai Tuan Muda.” Gabriel berbicara singkat. “Anda memiliki sesuatu untuk dikerjakan, ini earpods dan kacamata baru anda.” Gabriel memberikan earpods dan kacamata.


Ranum menggeleng. “Aku tidak akan menggunakan alat – alat itu lagi.”


“Earpods dan kacamata ini memakai teknologi lama, jadi moon tidak akan bisa mengganggu anda.” Gabriel tersenyum.

__ADS_1


Ranum menghela napas, mengambil barang – barang tersebut.


__ADS_2