Ranum

Ranum
Bagian 24


__ADS_3

Sebuah kalimat yang begitu manis meluncur indah dari mulut lelaki yang duduk di depannya. Zaviyar berhasil membuat jantung Ranum hampir saja berhenti berdetak saking bahagianya.


Ranum tak mampu lagi menyembunyikan rasa harunya atas apa yang baru saja didengar. Tetesan air mata mulai jatuh di pipinya, tapi binar bahagia pun terpancar dari wajahnya yang terlihat masih pucat.


"Mas Zav, aku nggak lagi mimpi, kan?" Ranum meyakinkan diri sendiri.


Zaviyar menggeleng pelan dan tetap dengan tatapannya pada Ranum lalu berkata, "Ini nyata, Ra. Apa kamu bersedia menikah denganku?" Zaviyar mengulang ucapannya.


Ranum tak lagi mengeluarkan suara, air matanya makin deras meluncur.


"Ra, jangan nangis. Kita belum halal, aku belum bisa peluk kamu," canda Zaviyar.


"Mas Zav apaan, sih. Lagi melow juga sempat-sempatnya bercanda." Ranum mulai menyeka air matanya yang terlanjur membasahi pipinya.


"Mau apa nggak, Ra?"


"Masih perlu aku jawab? Apa Mas Zav belum tahu juga isi hatiku?"


"Aku tahu, tapi aku ingin mendengarnya langsung darimu. Jadi, apa kamu mau menjadi istri dan ibu dari anak-anakku nanti?"


Kembali air mata Ranum luruh tak terbendung. Hening beberapa saat. Hanya bulir-bulir air mata dan beberapa kali anggukan menjadi jawaban Ranum pada Zaviyar tanpa mampu berkata-kata.


"Ngomong, Ra. Aku pingin dengar langsung dari mulut kamu."


"Aku mau, Mas. Tentu mau. Aku nggak mau lagi kesalahpahaman seperti kemarin terjadi lagi," ucap Ranum yang mulai terisak.


"Maaf, Ra. Maafkan aku yang egois. Aku janji setelah ini akan belajar lebih baik lagi, belajar untuk lebih mengenalmu. Maka dari itu, tolong katakan apapun yang terjadi sama kamu. Apa yang kamu pikir dan kamu rasa, katakan padaku, Ra. Katakan dan ceritakan semuanya."


"Iya, Mas. Tapi, mas Zav juga harus selalu jujur apapun yang terjadi."


"Tentu. Maaf, aku melamarmu di sini. Aku nggak mau kehilangan kesempatan lagi."


Dua insan berbeda jenis yang hatinya tengah menari-nari bahagia itu masih terus berbincang. Kemudian derit pintu membuat keduanya beralih pandang ke arah pintu yang sudah terbuka.


"Maaf, ganggu." Senyum Arvin terkembang tanpa rasa bersalah memasuki ruang perawatan Ranum.


"Udah dari tadi?" tanya Zaviyar.


"Lumayan."


"Kok nggak masuk?" kata Ranum.


"Adegan lagi romantis masa mau dipotong gitu aja, nanggung."


Ketiganya tertawa kecil. Tak berselang lama setelah Arvin tiba. Bu Ratih, Bu Dini, dan Pak Qosim juga datang sehabis mencari sarapan.


"Eh, Nak Arvin di sini juga?" sapa Bu Ratih.


"Iya, Bu. Baru beberapa menit yang lalu datang. Eh, nggak taunya pas ada adegan romantis."

__ADS_1


Bu Ratih, Bu Dini dan Pak Qosim saling lempar pandang dengan dahi berkerut dan ekspresi penuh tanya.


"Jangan mikir macam-macam, Bun, Yah. Arvin aja yang berlebihan." Zaviyar menegaskan sambil melirik ke arah Arvin yang sedang tersenyum.


"Lalu?" Bu Dini mencari jawaban.


"Ada yang habis melamar, Bu," celetuk Arvin.


"Dan ... hasilnya?" Pak Qosim ikut angkat bicara.


"Diterima," tutur Arvin yang membuat wajah pucat Ranum bersemu merah.


"Alhamdulillah," ucap ketiga orang tua yang berada di ruang tersebut.


Kegembiraan terpancar jelas di wajah orang-orang yang berada di ruang rawat rumah sakit itu. Obrolan tentang rencana pernikahan Ranum dan Zaviyar menjadi topik utama hari itu. Sambil menyantap makanan yang tadi dibelikan Bu Dini. Zaviyar terus berbincang dengan orang tuanya dan juga Arvin.


"Ra, kamu nggak keberatan 'kan kalau acara pernikahan kita sederhana saja?" tanya Zaviyar.


"Nggak, Mas. Malah Ranum maunya seperti itu, cukup keluarga dan kerabat dekat saja yang diundang." Senyum tersungging di bibir Zaviyar mendengar jawaban Ranum.


***


Beberapa hari hanya berbaring di rumah sakit membuat Ranum begitu senang saat dokter menyatakan bahwa ia bisa pulang. Zaviyar dan Arvin segera mengurus administrasinya agar gadis manis bermata tajam itu bisa segera keluar rumah sakit dan kembali ke rumah yang sudah ditinggal berhari-hari.


Bu Ratih, Bu Dini, dan Pak Qosim bersiap di ruang rawat Ranum, agar saat administrasi selesai mereka pun telah siap untuk meninggikan rumah sakit.


Ranum berjalan diapit Bu Ratih dan Bu Dini yang menggandeng dan memegangi gadis manis itu. Meski Ranum mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan bisa berjalan sendiri, tak ditanggapi dua wanita paruh baya di sampingnya yang tetap menggandengnya.


"Saya ikuti dengan motor," ucap Arvin.


Sebuah mobil dan motor melaju beriringan menyusuri jalan kota Malang menuju desa Ranum. Tiba di rumah, Ranum dibawa masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sedangkan ketiga lelaki duduk di ruang tamu.


Setelah Ranum merebahkan tubuhnya di kasur. Bu Ratih menyiapkan minum di dapur dan Bu Dini menemani Ranum di kamar.


"Istirahat dulu, Num," Bu Dini mengusap tangan Ranum penuh kelembutan.


"Ranum udah bosan, Bun tiduran terus."


"Luka di kepalamu belum benar-benar sembuh. Ingat pesan dokter tadi." Ranum membalas ucapan Bu Dini dengan senyum.


Kata maaf terucap dari bibir tipis Ranum karena sudah merepotkan banyak orang. Bu Dini yang sedari awal mengenal Ranum dan sudah menyayanginya seperti putri sendiri, mengusap kening gadis yang tengah berbaring di hadapannya penuh kasih.


"Mau apa, Nak?" tanya Bu Dini saat melihat Ranum bergerak.


Ranum tak menjawab dan berusaha duduk dengan satu tangan memegang kepala yang masih terasa nyeri.


"Bun, boleh Ranum peluk?" Tanpa menjawab pertanyaan Ranum, Bu Dini langsung memeluk calon menantunya itu dengan erat.


Ranum yang merasakan kasih sayang Bu Dini melalui pelukannya, menitikkan air mata bahagia dan haru. Hanya rasa syukur di hati Ranum, kini ia berada di tengah orang-orang yang begitu menyayanginya.

__ADS_1


Bu Ratih yang sudah mengantarkan minuman ke ruang tamu, kembali masuk ke kamar Ranum dan tersenyum melihat putrinya dan Bu Dini. Cerita pun bergulir antara tiga wanita di dalam kamar yang tidak begitu besar itu.


Bu Ratih menyampaikan bagaimana Ranum di rumah selama ini agar nanti jika sudah menjadi istri Zaviyar, Bu Dini tak lagi kaget. Beberapa kali Ranum tersipu malu saat Bu Ratih menceritakan sifat, sikap, dan kebiasaannya pada sang calon mertua.


"Ranum ini nggak bisa masak loh, Bu," kata Bu Ratih yang lagi-lagi membuat Ranum menunduk malu.


"Nggak apa-apa yang penting bisa jaga dan merawat Zaviyar luar dalam." Penekanan pada kata-kata terakhir membuat wajah Ranum makin memerah.


Tawa pun pecah seketika antara Bu Ratih dan Bu Dini, hingga suara Zaviyar menghentikannya.


"Ada apa ini? Kok sepertinya seneng banget."


"Urusan perempuan," cetus Bu Dini yang membuat Zaviyar berdecak.


"Arvin mau pamit, Bu, Bun" ujar Zaviyar.


"Loh, kok buru-buru. Di sini dulu, Ibu mau masak lalu kita makan sama-sama dulu ya," pinta Bu Ratih.


Terlihat Arvin berpikir beberapa saat, lalu berkata, "Baiklah, Bu. Mengecewakan orang tua 'kan nggak baik."


Bu Ratih dan Bu Dini keluar dan segera menuju dapur untuk memasak. Masakan sederhana karena bahan makanan pun hanya seadanya. Ranum pun yang merasa bosan di kamar, ikut berkumpul bersama lainnya di ruang tengah.


Tak butuh waktu lama. Duet antara Bu Ratih dan Bu Dini di dapur, membuat acara memasak pun lebih cepat selesai. Makanan telah siap tersaji di meja makan. Semua orang sudah duduk di kursi masing-masing menghadap meja.


Acara makan siang yang sebenarnya sudah lewat waktunya, terasa menyenangkan dengan suasana yang begitu hangat hingga usai. Bu Ratih segera membersihkan meja makan, sedangkan yang lain kembali ke ruang tengah dengan Bu Dini yang mengiringi langkah Ranum.


Saat sedang berbincang, terdengar deru motor memasuki halaman rumah Ranum yang membuat seisi ruangan mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Sosok yang tak lagi asing bagi Zaviyar tengah melepas helm dan turun dari motornya. Seketika raut wajah bahagia Zaviyar berubah.


"Assalamu'alaikum," sapa tamu tersebut saat mendapati rumah Ranum yang ramai tak seperti biasa. Tapi matanya tertuju pada sosok Zaviyar yang duduk tak jauh dari Ranum.


"Wa'alaikumussalam," jawab orang-orang di ruang tengah serentak.


Netra Ranum langsung mengarah pada Zaviyar. Ia khawatir emosi Zaviyar kembali tersulut. Dosen muda itu membalas tatapan Ranum dan tak lama sorot mata lelaki itu sedikit luluh setelah sebelumnya menyiratkan secuil amarah.


Pak Qosim, Arvin, dan Bu Dini yang tak tahu siapa tamu yang baru saja datang, hanya memandang heran pada Zaviyar dan Ranum. Mereka menangkap raut wajah yang berbeda dari keduanya.


"Loh, Aldi?" Bu Ratih yang baru keluar dari dapur cukup kaget melihat kedatangan Aldi.


Mendengar nama Aldi disebut, sontak merubah arah pandang tiga pasang mata beralih pada sosok lelaki yang masih berdiri di depan pintu.


"Ehm ... iya. Maaf, Bu kalau saya mengganggu. Saya cuma ingin tahu kabar Ranum," tutur Aldi dengan raut bingung dan gugup mendapat tatapan dari semua orang yang berada di rumah Ranum.


"Duduk dulu, Al." Bu Ratih mempersilahkan Aldi.


Dengan kikuk Aldi duduk di salah satu kursi yang masih kosong di antara Arvin dan Pak Qosim. Suasana yang sebelumnya begitu ceria dan hangat, kini berubah sangat canggung. Dan akhirnya Aldi pun memberanikan diri untuk bertanya, "Gimana kabarmu, Num?"


Bukan suara Ranum yang terdengar menjawab pertanyaan tersebut, melainkan suara laki-laki yang begitu tegas dan penuh penekanan.


"Ranum baik-baik saja dan kamu tidak perlu khawatir. Karena mulai saat ini, aku akan menjaganya. Kamu tunggu saja undangan pernikahan kami dan aku harap kamu bisa hadir."

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


Mohon vote dan komennya, Kak.😊🙏


__ADS_2