Ranum

Ranum
BUNTU


__ADS_3

“Selamat datang tuan, mau pesan apa?” Seorang pelayan menghampiri Ranum.


“Berikan aku beer.” Ranum menjawab datar.


“Apa anda ingin sekalian memesan makanan tuan?” Pelayan itu kembali bertanya.


Ranum mengangguk. “Sajikan saja menu terbaik tempat ini.”


Earpods Ranum aktif. “Panggilan dari Ranum Anatoly.” Earpods itu memberitahu Ranum.


Ranum mengetuk earpodsnya. “Siapa ini?” Ranum menyelidik


“Hallo Ranum, apa jaringan ini aman?” Suara Himari terdengar di ujung earpods.


“Bagaimana kamu bisa memiliki earpodsku?” Ranum bertanya bingung.


“Aku menemukan earpods dan kacamatamu hancur di dekat laboratiriumku di pulau Antipodes jadi aku memperbaikinya.” Himari menjelaskan.


“Sial, aku lupa mengambilnya.” Ranum menggerutu.


“Masalah earpods ini tidak terlalu penting, ada masalah yang lebih penting. Ini tentang microchip milik keluargamu.”


“Bagaimana kamu tahu tentang microchip itu?” Ranum kembali bertanya.


“Aku mendengar pembicaraan ayahku, dia menghubungi seseorang. Aku tidak tahu siapa yang di hubunginya, yang pasti orang yang saat ini memiliki microchipmu sedang menuju bandara Melbourne.” Himari menjelaskan dengan cepat.


Ranum yang mendengar kabar tersebut langsung meninggalkan beberapa lembar uang di meja dan segera berlari ke mobilnya. “Terima kasih Himari.” Ranum masuk ke dalam mobilnya.


“Ingat aku masih marah padamu, aku dengan terpaksa menghubungimu saat ini.” Himari berkata.


“Sekali lagi terima kasih.” Ranum mematikan earpodsnya, memacu mobilnya dengan sangat cepat menuju bandara Melbourne.


Di perjalanan Ranum menghubungi Gabriel. “Gabe tolong periksa seluruh rekaman cctv di jalan Cooke, Bittern saat ini juga. Aku butuh petunjuk apa saja tentang pencuri microchip ini.” Ranum berbicara.


“Microchip itu dicuri Tuan Muda?” Gabriel bertanya.


“Aku tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan. Segera temukan sesuatu.” Ranum berbicara tegas, mematikan sambungannya.


Mc laren 720s spider yang dikendarai Ranum gesit menyalip kendaraan lain di jalanan kota Melbourne.


“Tuan Muda kami berhasil menemukan sebuah Alfa Romeo Stelvio Quadrifoglio berwarna merah keluar dari area perumahan tersebut. Mobil itu terakhir tertangkap cctv berada di Monash freeway dengan kecepatan 125km/jam.” Gabriel menjelaskan.


Ranum mengangguk. “Aku di jalan tol eastlink, sebentar lagi akan masuk ke Monash. Terima kasih atas bantuanmu Gabe.” Ranum mengetuk earpodsnya, memacu mobilnya lebih cepat lagi hingga 160km/jam.


Ranum melihat mobil dengan ciri yang disebutkan Gabriel di West Gate Freeway Port Melbourne. Ranum segera menyejajarkan mobilnya dengan mobil berwarna merah tersebut. Ranum menembakkan beberapa peluru ke arah pengemudi mobil tersebut, hingga peluru keempat berhasil mengenai pengemudi mobil tersebut tepat di kepala, membuat mobil berwarna merah itu kehilangan kendali dan menabrak beton pembatas jalan di sisi kanan.

__ADS_1


Ranum segera turun dari mobilnya dan menembakkan peluru untuk perlindungan ke arah mobil tersebut. Ranum membuka pintu kiri belakang mobil tersebut sambil membidikkan pistolnya. Saat melihat musuhnya yang duduk di kursi belakang, Ranum segera menarik pelatuknya. Tiga orang tewas di dalam mobil Alfa Romeo Stelvio Quadrifoglio.


Satu orang lagi yang duduk di kursi penumpang bagian depan berhasil keluar dan menghajar kepala bagian belakang Ranum. Ranum terjatuh, lutut kirinya menyentuh jalan. Orang itu tidak memberi jeda sedikitpun, langsung melayangkan tinju ke kepala kanan Ranum, membuat Ranum terlempar ke sisi kiri beberapa meter.


Orang itu berlari ke arah Ranum, kakinya terangkat, menendang perut Ranum berkali – kali. Setelah puas menendang Ranum berkali – kali, orang itu kembali meninju wajah Ranum berkali – kali. Pria itu menyeringai, lalu menarik kerah kemeja Ranum, mengangkat Ranum tinggi di udara, pria itu kembali menyeringai menatap Ranum.


Ranum yang melihat celah langsung menghantamkan kepalanya ke kepala orang tersebut, membuat cengkraman pria itu terlepas dari kerah kemeja Ranum. Ranum langsung lompat, menginjak perut pria yang masih tergeletak di jalan tersebut. Ranum melayangkan pukulan beberapa kali ke wajah pria tersebut.


Ranum mengambil pistolnya yang tergeletak di jalan. “Dimana microchip itu?” Ranum bertanya, menyeka darah yang mengalir di wajahnya.


Pria itu hanya menyeringai sambil menahan rasa sakit.


Ranum menembak tempurung kaki kiri pria tersebut. “Sial!” Pria itu berseru, mengerang kesakitan.


“Dimana kalian menyimpan microchip tersebut?” Ranum kembali bertanya.


Pria itu kembali berusaha menyeringai, tetap menahan rasa sakit.


Ranum tersenyum, menembak siku tangan kiri pria tersebut, membuat pria itu kembali mengerang kesakitan.


“Dimana kal-“


“Pria yang berada di kursi belakang sebelah kiri!” Pria itu berseru.


“Pria yang berada di kursi belakang sebelah kiri! Dia yang memegang microchip tersebut!” Pria itu kembali berseru.


Ranum memeriksa orang yang disebutkan pria tersebut. Ranum menemukan sebuah kotak berukuran 5x5cm yang berisi microchip tersebut. Ranum kembali menemui pria tersebut sambil membawa isolasi yang dia temukan di mobil berwarna merah tersebut.


“Urusan kita belum selesai.” Ranum mengisolasi tangan, kaki dan mulut pria tersebut.


Ranum membawa pria tersebut masuk ke dalam mobilnya, memacu mobil tersebut ke markas satelit keluarga Loshad, pacuan kuda.


“Apa kamu melihat apa yang barusan aku lihat?” Seorang pengendara mobil yang berhenti menyaksikan Ranum, berbicara.


Teman pengendara yang duduk di kursi penumpang mobil itu mengangguk. “Seperti menonton film laga.”


“Aku tidak percaya yang seperti itu ada di dunia nyata.” Pengendara itu kembali berbicara.


Temannya yang duduk di kursi penumpang kembali mengangguk. “Aku juga.”


“Aksi pria tadi keren sekali.” Pengendara mobil itu kembali bersuara.


Temannya yang duduk di kursi penumpang kembali mengangguk. “Mobilnya juga keren sekali.”


“Sebaiknya kita pergi dari sini karena pertunjukannya sudah selesai.” Pengendara itu kembali berbicara.

__ADS_1


Temannya yang duduk di kursi penumpang kembali mengangguk. “Aku setuju.”


***


Pria yang mencuri microchip itu di gantung dengan posisi terbalik di ruangan interogasi pacuan kuda. Ranum sedang memilih stick golf. “Honma Beres 4-Star Iron. Aku rasa kamu mendapat suatu kehormatan karena aku memakai stick ini.” Ranum tersenyum, berbicara ke pria yang sedang tergantung. “Gabe.” Ranum memberikan kode ke Gabriel.


Gabriel meletakkan bola golf Titleist Pro V1 di tees.


“Siapa yang menyuruh kalian untuk mencuri microchip itu?” Ranum bertanya.


Pria itu tetap bungkam, tidak mau berbicara.


Ranum memukul bola golf itu ke arah wajah pria tersebut dari jarak tujuh meter. “Sialan!” Pria itu menggeliat kesakitan, bola golf telak mengenai wajahnya.


“Gabe” Ranum kembali memberikan perintah.


Gabriel kembali meletakkan bola golf Titleist Pro V1 itu di tees.


“Masih tidak ingin membuka mulut?” Ranum bertanya, kembali memukul bola golf dan berhasil mengenai mulut pria tersebut. “Aku rasa gigimu hancur.” Ranum menyeringai.


Pria itu berteriak kesakitan, giginya patah tiga.


Ranum terus menghajar pria tersebut berulang kali menggunakan bola golf. “Kamu cukup tangguh. Kita lihat apa kamu bisa menahan bola ke dua puluh tujuh ini.” Ranum kembali memukulkan bola ke-27, bola itu berhasil merenggut nyawa pria tersebut.


“Sial!” Ranum menggerutu.


“Apa anda sudah selesai Tuan Muda?” Gabriel bertanya jeri.


Ranum meninggalkan ruangan tersebut, kesal. Ranum pergi ke ruang makan, menuang whiskey ke gelasnya. Gabriel menyusul Ranum. “Apa langkah anda selanjutnya Tuan Muda?” Gabriel bertanya.


Ranum menggeleng, menenggak whiskeynya. “Baru kali ini aku gagal menginterogasi seseorang.” Ranum meremas gelasnya hingga pecah.


“Aku akan mencari tahu siapa yang menyuruh mereka Tuan Muda.” Gabriel berkata.


Ranum menggeleng. “Tidak perlu. Ini ada kaitannya dengan keluarga Jin.” Ranum kembali menuang whiskey ke gelas baru.


“Bagaimana anda tahu Tuan Muda?” Gabriel bertanya.


Ranum menggeleng. “Sebaiknya kita tidak usah memperpanjang masalah ini sebelum ada instruksi dari keluargaku.”


“Baik Tuan Muda.” Gabriel mengangguk takzim.


“Aku akan pulang, terima kasih atas bantuanmu.” Ranum menepuk pundak Gabriel.


“Dengan senang hati Tuan Muda.” Gabriel tersenyum, sedikit membungkukkan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2