Reinkarnasi Pendekar Phoenix

Reinkarnasi Pendekar Phoenix
Kota Lavender


__ADS_3

Eluna terus menceritakan tentang 9 Pendekar Tanpa Tanding dan 7 Dewe Dewi, Aaron dan yang lainnya terlihat sangat antusias dengan apa yang di sampaikan oleh gadis cantik tersebut.


Namun langkah kaki Eluna terhenti saat mereka sudah berada tidak jauh dari gerbang kota.


" Ada apa.. " tanya Aaron sambil menaikan salah satu alisnya.


" Kita harus berganti pakaian terlebih dahulu.." jawab Eluna.


" Memang kenapa...apa ada yang salah dengan penampilan kami "


" Tidak, hanya saja, pakaian yang kita kenakan sangat tidak sesuai dengan penduduk Benua Sundaland pada umumnya "


Mendengar perkataan tersebut Aaron menepuk jidatnya pelan, ia sampai melupakan jika mereka saat ini sedang berada di Benua Sundaland yang pastinya memiliki banyak perbedaan dengan tempat dirinya tinggal.


Kemudian Eluna mengeluarkan pakaian yang tersimpan di dalam cincin semesta miliknya dan membagikan kepada mereka.


Starla dan Angel saling memandang satu sama lain saat melihat gaun kuno namun terlihat sangat indah tersebut.


" Lalu dimana kita akan berganti pakaian " tanya Starla.


" Disini..."


" Eh! Apa... disini...apa kau sudah gila..."


Mendengar protes dari Starla dan Angel, Eluna hanya menghela nafas panjang sebelum kemudian ia langsung mengenakan gaun tersebut tanpa melepaskan dress miliknya.


Melihat hal itu, Aaron,Aldy dan Hiro langsung mengalihkan pandangannya kearah lain dengan wajah yang merah merona.


" Simple kan..." ucap Eluna sambil memperbaiki gaun miliknya agar lebih nyaman.


Starla dan Angel menggarukan kepalanya yang tak gatal, sebelum kemudian keduanya mengikutinya.


Setelah selesai berpakaian mereka melanjutkan perjalanan menuju gerbang kota, dan sesampainya disana mereka langsung mengantri untuk bisa memasuki kota tersebut.


" Rasanya aneh, seakan aku sedang berada dimasa lalu dengan pakain serta suasana yang seperti ini " kata Angel yang langsung mendapat anggukan dari Starla.


" Aku merasa tidak nyaman dengan pakaian ini..." keluh Aldy.." Terlihat norak dan kuno.. "

__ADS_1


" Cepat atau lambat kalian akan terbiasa dengan semua itu " ucap Aaron sambil mengalihkan pandang kearah lain.


Aaron mengerutkan dahinya saat melihat kereta kuda dengan beberapa prajurit berkuda yang baru sampai di gerbang kota tersebut langsung di perbolehkan memasuki kota tanpa ikut mengantri seperti yang lainnya, dan hal itupun terus terulang sampai beberapa kali.


" Kenapa mereka tidak ikut mengantri seperti kita " tanya Aaron kepada Eluna.


Eluna hanya tersenyum tipis saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh pemuda tampan itu, sebelum kemudia ia menjelaskan jika orang-orang yang menggunakan kerata kuda tersebut adalah orang yang memiliki latar belakang yang bagus, seperti seorang bangsawan ataupun pedagang kaya.


Mereka dengan gelar seorang bangsawan atau para pedagang kaya tidak ingin membuang waktu berharga mereka untuk ikut mengantri saat memasuki sebuah kota kecil.


" Bukankah berarti mereka memberikan sesuatu kepada para penjaga gerbang itu.. "


" Tentu, setidaknya mereka harus membayar 5 sampai 10 keping emas untuk menyuap para penjaga itu " kata Eluna.


Mendengar perkataan tersebut Aaron dan yang lainnya terbatuk pelan, mereka tidak menyangka jika ingin memasuki sebuah kota dengan cepat memerlukan biaya sebesar itu.


Selang beberapa saat kemudian akhirnya tiba giliran mereka untuk memasuki gerbang kota.


" Selamat sore tuan dan nona, bisa kalian tunjukan kartu identitas kalian " pinta sang penjaga tersebut.


" Kartu identitas? Apakan itu sama dengan kartu pelajar yang ada di Benua Element " bisik Aldy.


" Tapi kami tidak membawanya "


" Kalian tenang saja, biar aku yang mengurusnya..."


" Tuan, bisa anda memberi kami sedikit muka, agar tidak mempersulit kami " kata Eluna sambil memberikan 2 keping emas.


" Eh! Tentu, jika tuan dan nona menginginkannya... " ucap sang penjaga dengan senyum rahamnya.


Kemudian penjaga tersebut segera membawa mereka masuk ke dalam kota.


Suasana meriah langsung menyambut pandangan serta indra pendengaran mereka.


" Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat datang dikota Lavender... " ucap sang penjaga itu sebelum kemudian ia kembali kedepan gerbang kota.


Aaron dan yang lainnya merasa takjub dengan pemandangan yang ada di hadapan mereka, walaupun bangun-bangunan itu terlihat sangat sederhana, tetapi suasananya terlihat sangat hidup.

__ADS_1


" Tidak buruk, aku cukup suka dengan suasana seperti ini " kata Starla pelan.


" Kita akan mencari penginapan di kota ini " ucap Eluna yang langsung mendapat anggukan dari semuanya.


Kemudian mereka berjalan menelusuri jalanan kota yang di penuhi oleh penduduk yang berlalu lalang itu.


Namun tiba-tiba sebuah kerumunan orang langsung menghentikan langkan Aaron dan yang lainnya.


" Apa yang terjadi " tanya Hiro sambil melirik kearah Eluna.


" Entahlah....mari kita lihat "


Mereka pun segera bergegas menuju kerumunan tersebut.


" Apa benar dia seorang penyihir..."


" Dia tidak terlihat seperti itu, hanya saja telinganya yang runcing membuatku merasa takut "


" Bukankah dia terlalu cantik untuk ukuran seorang penyihir jahat "


Bisik-bisik penduduk langsung memenuhi indra pendengaran mereka.


" Tuan, apa yang sebenarnya terjadi " tanya Hiro penasaran dengan apa yang terjadi.


Salah satu penduduk itu mengatakan jika sedang ada hukuman gantung yang di jatuhi oleh bangsawa Adipati kepada seorang gadis cantik dengan telinga runcing yang di duga seorang penyihir jahat.


Mendengar perkataan tersebut Hiro langsung menerobos kerumunan para penduduk itu, tanpa menunggu lebih lama akhirnya ia sampai di barisan paling depan.


Disana disebuah panggung kecil, seorang gadis cantik dengan rambut perak sedang menangis dalam diam, dan di sebelahnya seorang pemuda berpakaian bangsawan sedang membisikan sesuatu kepada gadis cantik tersebut.


" Saudara-saudara, hari ini saya akan menghukum gadis penyihir ini di depan kalian , agar Kota Lavender yang kita cintai ini, terbebas dari ancaman mara bahaya..."


Pemuda bangsawan itu terus mengatakan sesuatu yang membuat sebagian penduduk menjadi murka.


" Penggal kepala gadis penyihir itu..."


" Mati kau penyihir jahat..."

__ADS_1


Melihat kemarahan serta umpatan kotor yang dilontarkan oleh para penduduk itu, sebuah senyum jahat terukir di wajah bangsawan muda tersebut.


" Inilah akibatnya jika berani menolak keinginan ku..."


__ADS_2