Reinkarnasi Pendekar Phoenix

Reinkarnasi Pendekar Phoenix
Bertemu Kembali


__ADS_3

'Lalu apa yang bisa ku bantu?'


'Andai semua ini sudah berakhir, aku ingin kau mendirikan sekte dengan nama Pedang Naga Langit'


'Kenapa harus nama Pedang Naga Langit?' tanya Aaron penasaran.


Mendengar pertanyaan tersebut, Banyu Geni hanya tersenyum sebelum kemudian menjelaskan makna dari nama tersebut.


Pedang yang melambangkan kekuatan, Naga yang berarti keadilan dan Langit yang berarti Pelindungan, Istrinya ingin membuat tempat yang nyaman dan aman bagi siapapun tanpa memandang siapa mereka dan berasal dari mana ia.


Aaron yang mendengar hal itu mulutnya terbuka lebar, ia sangat kagum dengan pemikiran Istri dari Banyu Geni, tidak hanya cantik tetapi juga memiliki hati yang mulai.


'Aku berjanji senior, aku akan mengabulkan keinginan dari Istri senior'


'Terimakasih Aaron, sebaiknya kau harus istirahat, karena esok akan menjadi hari yang jauh lebih melelahkan'


Aaron menganggukan kepalanya, sebelum kemudian berjalan kearah salah satu pohon dan menyandarkan tubuhnya, kini perhatiannya tertuju kepada Sekar Wangi yang sudah tertidur lelap. Dan menit berikutnya Aaron sudah tertidur pulas.


Keesokan harinya, saat matahari sudah mulai memancarkan sinarnya yang sesekali menerpa wajah tampan Aaron, hingga membuatnya terbangun dari tidurnya.


Perlahan matanya mulai mengerjap-ngerjap untuk mendapatkan kembali kesadarannya, "Kau sudah bangun? Cepat bersihkan dirimu, tidak jauh dari sini terdapat sungai yang mengalir" kata Sekar Wangi.


Aaron hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti, sebelum kemudian ia bangkit dan berjalan menuju sungai yang di maksud.


Sekitar 30 menit kemudian barulah Aaron kembali dengan wajah yang jauh lebih segar dari sebelumnya, "Apa kita akan melanjutkan perjalanan?" tanya Aaron.


"Tentu, aku ingin cepat-cepat menyelesaikan semua ini.."

__ADS_1


Kemudian keduanya segera bergegas meninggalkan tempat tersebut, seperti biasa sepanjang perjalanan Aaron dan Sekar Wangi terus berhadapan dengan puluhan siluman yang menghadang jalan.


Namun dengan kerja sama keduanya para siluman itu dapat di kalahkan, tanpa terasa hari sudah menjelang malam, sang suryapun perlahan mulai terbenam dan di gantikan oleh sang rembulan.


'Aaron, di balik semak-semak belukar itu terdapat pintu goa yang di dalamnya ada sebuah gerbang dimensi yang akan mengarahkanmu menuju tempat tinggalku' kata Banyu Geni memberi tahu.


'Baik senior, terimakasih'


Selama beberapa saat akhirnya Aaron dan Sekar Wangi berhasil memasuki goa yang di maksud oleh Banyu Geni, dan benar saja disana terdapat sebuah gerbang dimensi, namun ada sesuatu yang membuat Banyu Geni menggerutkan dahinya.


'Bukankah seharusnya di sekitar gerbang dimensi tersebut terdapat sebuah perisai yang ku buat' tanyanya pada diri sendiri.


"Apa kau yakin disini tempatnya?" tanya Sekar Wangi yang langsung mendapat anggukan dari Aaron.


Aaron terlebih dahulu memasuki gerbang dimensi tersebut sebelum kemudian di susul oleh Sekar Wangi, setelah berjalan beberapa saat akhirnya keduanya keluar dari lorong dimensi itu.


Di tengah-tengan padang rumput tersebut terdapat sebuah bukit kecil yang diatasnya berdiri satu buah rumah dengan atap dan dinding berwarna emas.


" Indah..." ucap kedunya secara bersamaan.


Namun fokus utama Sekar Wangi tertuju kesebuah kebun yang di penuhi dengan ratusan tamanan herbal, salah satunya adalah tanaman yang ia cari, yaitu Bunga Edelweis 9 Warna.


"Aku akan melihat kesana terlebih dahulu.." kata Sekar Wangi sambil menunjuk ke kebun tanaman herbal tersebut.


"Baiklah, jika kau mencariku aku ada di dalam rumah diatas"


Sekar Wangi hanya mengangguk, Aaron kemudian melanjutkan langkahnya, sesampainya disana tanpa permisi lagi Aaron segera memasuki rumah tersebut.

__ADS_1


"Siapa kau...." kata sebuah suara yang mengagetkan Aaron, dengan cepat Aaron membalikan badannya, dan alangkah terkejutnya saat ia melihat seorang gadis cantik dengan gaun berwarna biru sedang menatap kearahnya dalam diam.


"Banyu...." ucap gadis tersebut dengan lirih, bahkan saking lirihnya tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, namun Aaron yang melihat gerak bibir dari gadis cantik yang memanggil nama Banyu terdiam seribu bahasa.


Tanpa meminta izin, Banyu Geni yang berada di alam bawah sadar Aaron segera mengambil alih tubuh Aaron.


"Delima...." katanya pelan.


Satu tetes air mata berhasil meluncur dari pipi Delima, air mata yang ribuan tahun tertahan akhirnya kembali terjatuh. Delima sangat merindukan sosok pemuda yang berada di hadapannya itu, sosok pemuda yang pernah mengisi hatinya selama ribuan tahun, bahkan sampai detik ini hanya ada pemuda itu yang berada di dalam hatinya.


Selama beberapa saat keduanya berpandangan dalam diam, sebelum kemudian Delima bergegas berlari dan memeluk erat tubuh Aaron.


"Hiksss, Banyu....maafkan aku...maafkan aku yang sudah melanggar janji kita untuk bersama selamanya..." ucap lirih Delima yang sesekali di iringi tangisan.


"Sudahalah, ini bukan salahmu, semua itu sudah menjadi takdir.."


"Tidak...hiks...seharusnya aku menolak permintaan Ara untuk mengambil alih tubuhku jika aku tahu semua akan berakhir seperti ini hiksss..."


Delima semakin erak memeluk tubuh Aaron, seakan ia tidak ingin kehilangan pemuda tampan itu untuk kedua kalinya.


Andai saja dulu Delima menolak keinginan Ara, sudah di pastika ia akan hidup bahagia dengan Banyu Geni, pemuda yang sangat ia cintai.


Delima yang larut dalam kesedihan akibat tak mendapat kabar dari Banyu Geni membuat Ara bisa leluasan mengambil alih tubuhnya, dan puncaknya saat Ara meminta mengambil alih tuhun Delima selama Banyu Geni belum kembali.


Dan dengan bodohnya Delima mengiyakan hal tersebut tanpa pikir panjang, entah sudah berpa lama Ara mengambil alih tubuhnya, yang ia ingat, saat pertama kali Delima mendapatkan kembali tubuh dan kesadarannya, dirinya tengah mengandung anak dari Arirang.


Jelas hal tersebut membuat Delima frustasi, bahkan ia sampai ingin mengakhiri hidupnya, namun hal itu dapat di cegah oleh Arirang dan Ayahnya.

__ADS_1


"Maafkan aku hikss...maaf" kata Delima lirih.


__ADS_2