
Saat hari menjelang siang rombongan kereta kuda mewah terlihat memasuki kediaman milik Tuan Muda Raden.
Aaron,Angel dan Sekar Wangi yang melihat itu saling berpandangan satu sama lain.
"Sepertinya kita kedatangan tamu" ucap Tuan Muda Raden sambil tersenyum kecut, ia terlihat tidak senang dengan kedatangan rombongan tersebut.
Kemudian ia mengajak Aaron dan yang lainnya untuk menyambut kedatangan tamu yang tidak di harapkan itu.
Sesampainya di depan pintu masuk, dengan senyum ramah yang di buat-buat mereka menyambut para tamu yang baru saja turun dari kereta kuda.
"Salam Ayahanda,Ibunda dan para saudara sekalian" kata Tuan Muda Raden sambil menundukan kepalanya.
"Hm, apa hanya ini sambutanmu saat keluarga besarmu berkunjung" ucap seorang pria sepuh itu yang terdengar sangat angkuh.
"Maafkan atas ketidak tahuan saya Ayahanda"
"Sudahlah, aku sedang tidak ingin berbedat, kau tentu mengetahui bukan maksud kedatangan kami kesini untuk apa?"
Tuan Muda Raden menganggukan kepalanya, tepat 2 hari lagi Pertandingan Antar Keluarga akan segera di laksanakan, hal itu sudah menjadi adat bagi Keluarga Besar Bangsawan Arjuno untuk menentukan siapa yang terbaik.
Setiap tahuhnya akan di adakan di tempat yang berbeda, dan kebetulah tahun ini adalah gilirannya yang menjadi tuan rumah.
Setelah berbincang sedikit, Tuan Muda Raden mempersilakan seluruh keluarga besarnya untuk memasuki kediamannya.
"Apa kau tidak merindukan Ibunda" tanya wanita paru baya itu saat sudah berada di ruang tamu.
"Mana mungkin saya tidak merindukan Ibunda!" balas Tuan Muda Raden.
"Cih, sejak kapan putra kesayangan Ibunda ini berbohong, jika kau benar-benar merindukanku tentu kau akan sering berkunjung untuk menemuiku"
"Maafkan saya Ibunda, akhir-akhir ini saya sangat di sibukan dengan pekerjaan"
Sedangkan Aaron,Angel dan Sekar Wangi masih setia mendengar interaksi antara keluarga bangsawan itu.
Pria sepuh yang sejak tadi memasang wajah angkuh menatap kearah ketiganya, "Siapa mereka? Apa mereka adalah pengawal barumu" tanyanya.
"Ah, maafkan saya yang tidak memberitahukan hal ini kepada Ayahanda sebelumnya, perkenalkan Aaron,Angel dan Sekar Wangi, mereka adalah tamu saya"
"Hm, tidak heran kau selalu menjadi pecundang, teman-teman mu saja kebanyakan dari golongan kelas bawah" ucap seorang pemuda yang mengenakan jubah berwarna emas.
Aaron yang mendengar hal itu seketika batuk pelan, memang sejak pertama Aaron menginjakan kaki di Benua Sundaland ia tidak pernah sekalipun mengganti pakaiannya, tidak heran jika pakaian yang ia kenakan sudah sangat lusuh.
__ADS_1
Tak terkecuali Angel dan Sekar Wangi, gaun yang mereka kenakanpun sama menyedihkannya dengan Aaron.
"Saudara Bima, jaga bicaramu" kata Tuan Muda Raden dingin.
"Cih, untuk apa aku menuruti perintahmu"
Mendengar hal itu Tuan Muda Raden berdiri dari duduknya dan bersiap menarik pedangnya, namun sebelum ia berhasil meraih gagang pedang, sebuah aura kuat tiba-tiba menghentikan gerakannya.
Bahkan hampir semua orang yang berada di ruangan tersebut tak bisa bernafas, "Jangan melakukan tindakan bodoh" ucap pria sepuh itu dengan dingin.
Pria sepuh itu menatap kearah kedua putranya, sebelum kemudian menatap ke sekeliling, ia sedikit terkejut saat mendapati Aaron,Angel dan Sekar Wangi tidak terpengaruh dengan aura miliknya.
"Bima, jaga sikapmu kepada adikmu" lanjutnya lagi.
Jelas ia langsung mengetahui jika Aaron dan yang lainnya bukan orang sembarangan, terlebih lagi saat ketiganya tidak terpengaruh sedikitpun dengan aura yang ia keluarkan.
Pemuda tampan yang bernama Bima itu langsung menundukan kepalanya saat mendapat tatapan datar dari sang Ayah.
"Maafkan atas sikap saya yang kurang sopan sebelumnya, perkenalkan nama saya Arjuno Cipta, kalian bisa memanggilku sesuka kalian"
Sikap pria sepuh yang semula terlihat angkuh itu kini berubah 180 derajat, bahkan Aaron dan yang lainnya pun merasa heran akan lah tersebut.
"Ah! Tuan Besar Arjuno tak perlu sungkan, kami hanya sekedar pengembara yang kebetulan lewat" jawab Aaron pelan.
Hal itu membuat ketiganya merasa tidak nyaman, nama mereka juga merasa tidak enak jika harus mengabaikan pria sepuh tersebut.
Tanpa terasa hari sudah menjeng malam, seluruh Keluarga Bangsawan Arjuno telah memasuki kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
Sekitar 1 jam kemudian barulah mereka kembali berkumpul untuk sekedar makan malam bersama. Setelah selesai Tuan Besar Arjuno mengajak Aaron dan Bima untuk menemaninya berlatih tanding.
Awalnya Aaron ingin menolak ajakan tersebut, namun karena terus di desak oleh Tuan Besar Ajuno, dengan berat hati akhirnya ia menerima ajakan itu.
Sesampainya di lapangan, Tuan Besar Arjuno meminta Bima menjadi lawan pertamanya.
Karena jarak kekuatan antara keduanya terpaut cukup jauh membuat Bima kalah telak hanya dalam beberapa serangan.
"Apa cuma ini kemampuan yang kau miliki, ingat Bima, saya sudah memberikan sumber daya yang melimpah kepadamu, tapi lihat kau malah membuatku kecewa" ucap Tuan Besar Arjuno sambil menatap sinis kearah putra kesayangannya itu.
"Maafkan saya Ayahanda" katanya sambil menundukan kepalanya.
Tuan Besar Arjuno menghela nafas panjang, sebelum kemudian ia memberi isyarat agar Bima menghindar dari arena pertarungan.
__ADS_1
Setelah itu ia melirik kearah Aaron yang sejak tadi masih setia melihat pertarungan antara sang Ayah dan anak tersebut.
"Ah! Maafkan saya karena Saudara Aaron harus melihat kejadian itu"
"Tuan Besar Arjuno tak perlu sungkan, saya mengerti jika semua itu demi kebaikan Tuan Muda Bima"
"Yah kau benar Saudara Aaron" katanya sambil tertawa kecil.
Kemudian keduanya pun mulai bersiap, "Kerahkan semua kemampuan terbaikmu" ucap Tuan Besar Arjuno sambil menarik kedua pedang miliknya.
"Tuan Besar Arjuno jangan terlalu berharap, saya tidak sehebat yang anda kira"
Aaron pun juga menarik pedang miliknya, setelah mendapat aba-aba dari Bima, keduanya melesat secara bersamaan dan langsung bertukar serangan.
Pedang milik Tuan Besar Arjuno bergerak dengan sangat lincah hingga membuat Aaron sedikit kewalahan.
"Apa cuma ini kemampuan yang kau miliki saudara Aaron? Jika benar sungguh saya merasa kecewa"
"Jika Tuan Besar Arjuno memaksa, baiklah...ku fikir 30 persen sudah cukup"
Setelah mengatakan itu Aaron menambah kecepatan serangannya, tak butuh waktu lama baginya untuk membalikan keadaan.
Tuan Besar Arjuno yang semula meremehkan Aaron kini menatap tak percaya, terlihat ia hampir mengerahkan semua kemampuan yang ia miliki.
Namun hal tersebut masih belum cukup untuk menyudutkan Aaron kembali.
Suara logam yang terus beradu membuat beberapa prajurit berkumpul untuk melihat siapa yang sedang bertarung.
Dan betapa terkejutnya mereka saat mendapati Tuan Besar Arjuno terlihat kewalahan saat menghadapi seorang pemuda yang di perkirakan seusia dengan Tuan Muda Raden.
"Apa mataku telah membohongiku, bagaimana mungkin...?"
"Ini....ini sulit di percaya"
"Jika aku tidak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, mungkin aku tidak akan mempercayainya"
Semua orang yang melihat pertarungan yang berat sebelah itu jelas mengetahui jika Tuan Besar Arjuno memiliki kemampuan yang amat tinggi.
Bahkan rumor mengatakan jika Tuan Besar Arjuno telah berhasil menembus tingkat Pendekar Langit.
#**Note
__ADS_1
Sesekali Pengen ngerasain masuk 20 Besar, mohon bantuannya..🙏🙏