Reinkarnasi Pendekar Phoenix

Reinkarnasi Pendekar Phoenix
Keluarga Bangsawan Arjuno 2


__ADS_3

Tuan Besar Arjuno terus menghindar saat pedang milik Aaron bergerak dengan sangat lincah menuju kearahnya.


"Bagaimana bisa pemuda ini memiliki kekuatan sebesar ini" gumamnya pelan.


Walaupun Tuan Besar Arjuno tidak bisa melihat tingkat praktik Aaron, namun ia bisa merasakan jika kekuatannya sudah berada jauh diatas dirinya.


Bahkan ia yakin jika Aaron masih menyembunyikan kekuatan penuhnya.


Tuan Besar Arjuno terus menangkis sambil sesekali mencari celah dari serangan berutal pemuda di hadapannya itu, namun dirinya sedikitpun tidak bisa melihat celahnya.


Permainan pedang Aaron terlihat sangat sempurna, ia yakin jika seorang Pendekar Langit dengan gerbang ke 3 pun akan sulit mengalahkannya.


Saat Aaron ingin memberikan serangan akhir tiba-tiba sebuah pisau melayang dengan kecepatan tinggi kearahnya.


Aaron yang tidak sempat menghindar terkena goresa di pipinya yang membuat sayatan kecil, kedua matanya kini menatap tajam kearah seseorang yang tengah berdiri dengan beberapa pisau kecil di tangannya.


"Maaf mengganggu pertarungan kalian, tapi bukankah sangat tidak adil jika kau melawan seseorang yang jelas bukan tandinganmu" ucapnya sambil tersenyum tipis.


Aaron yang mendengar perkataan tersebut menaikan salah satu alisnya, sebelum kemudia melirik kearah Tuan Besar Arjuno seolah meminta penjelasan.


"Arya, apa yang kau lakukan disini" tanya Tuan Besar Arjuno sedikit terlejut.


"Tentu ingin membantumu, tidak kah kau lihat jika kau sangat kewalahan saat menghadapinya" kata pria sepuh berpakaian serba putih yang di ketahui bernama Arya tersebut.


"Jangan ikut campur masalahku, apa yang kau lihat tidak seperti apa yang kau fikirkan, kami hanya sedang melakukan latihan tanding"


Tuan Basar Arjuno menggelengkan kepalanya pelan saat menyadari kesalapahaman yang sedang terjadi.


"Eh! Apa benar begitu"


Pria sepuh itu menggarukan kepalanya yang tak gatal, sebelum kemudian ia berjalan mendekat kearah kedua orang yang memiliki perbedaan usia terpaut cukup jauh tersebut.


"Maafkan saya senior, perkenalkan namaku adalah Arya Cipta, adik dari si tua bangka ini" ucapnya sambil menunduk hormat.


Aaron yang baru pertama kali mendapatkan perlakuan seperti itu terbatuk pelan, "Tuan Besar Arya tak perlu memanggilku senior, usiaku masih sama dengan Tuan Muda Raden dan Tuan Muda Bima"


"Apa!"


Jelas hal tersebut membuat Tuan Besar Arya sangat terkejut, awalnya ia berfikir jika Aaron adalah salah satu senior yang bisa mempertahankan kemudaannya, namun siapa sangka jika Aaron memang masih semuda yang terlihat.


Tapi bagaimana mungkin seseorang yang usianya masih 17 tahun memiliki kekuatan yang begitu besar, terlebih lagi saat Aaron dapat dengan mudah menyudutkan Tuan Besar Arjuno yang berada di tingkat puncak Pendekar Bumi.


"Maaf atas sikap saya yang lancang ini" lanjutnya lagi sambil menundukan kepalanya berkali-kali.

__ADS_1


"Tuan Besar Arya tak perlu sungkan"


Aaron tersenyum canggung saat mendapat perlakukan seperti itu.


"Abaikan dia saudara Aaron, bagaimana jika kita melanjutkan pertarungan kita yang sempat tertunda" kata Tuan Besar Arjuno.


"Jika Tuan Besar Arjuno masih ingin melanjutkannya, saya tidak keberatan"


"Tunggu, bagaimana denganku, maksudku, biarkan aku bertarung melawan Saudara Aaron juga"


"Cih, jangan merusak suasana hatiku Arya, jika kau ingin bertarung dengan Saudara Aaron juga kau harus menunggu pertarunganku selesai terlebih dahalu"


"Tidak, jika seperti itu, maka Saudara Aaron tidak akan mengunakan segenap kemampuannya saat berhadapan dengaku"


Tuan Besar Arya menolak gagasan yang di berikan oleh pria sepuh yang tidak lain adalah kakak kandungnya sendiri.


Ia yakin, Aaron tidak akan memiliki cukup tenaga jika keduanya melanjutkan pertarungan kembali, maka hal itu akan membautnya menang dengan mudah.


Jelas dirinya tidak ingin hal itu terjadi, yang ia inginkan hanyalah mengetahui seberapa kuat pemuda tampan yang kini berdiri di hadapannya itu.


Apa memang Aaron sekuat yang ia lihat atau mungkin Kakaknya itu memang sengaja untuk mengalah.


"Sudahlah biarkan aku yang terlebih dahulu melawan saudara Aaron, bukankah kau baru saja bertarung dengannya"


Kedua pria paru baya itu terus berdebat, sedangkan Aaron hanya terdiam sambil sesekali menggelengkan kepalanya.


"Begini saja, bagaimana jika Tuan Besar Arjuno dan Tuan Besar Arya secara bersamaan melawanku" kata Aaron yang seketika menghentikan perdebatan diantara keduanya.


"Apa kau bercanda"


"Tentu saja tidak, bukankan itu lebih baik"


"Baikalah jika itu keputusanmu.."


Kedua pria sepuh itu saling berpandangan sebelum kemudian menganggukan kepalanya secaraan bersamaan.


"Kau terlalu meremehkan kami saudara muda" kata Tuan Besar Aryo sambil menarik kedua pedang miliknya.


Sedangkan di sekitar arena pertarungan, beberapa prajurit dan Keluarga Besar Arjuno melakukan taruhan saat menyadari jika kedua pemimpin Kelurga Bangsawan Arjuno akan bertanding melawan seorang pemuda.


"Aku memilih Ayahanda Arjuno dan Ayahanda Aryo" ucap mereka sambil menaro kantong yang berisi koin emas.


"Aku juga"

__ADS_1


Aku juga..."


Seluruh Keluarga Besar Arjuno memilih kedua pria paru baya itu, mereka sangat yakin jika keduanya akan memenangkan pertarungan tersebut.


Sedangkan Angel dan Sekar Wangi yang sejak tadi terdiam tiba-tiba mengeluarkan kantong besar yang berisi 1000 koin emas.


"Kami berdua memilih Aaron" kara Sekar Wangi yang langsung mendapat anggukan dari Angel.


Jelas hal tersebut membuat mereka menatap tak percaya kearah kedua gadis cantik itu, mereka tidak menyangkan jika di balik gaun yang mereka kenakan sangat lusuh tersimpan koin emas yang lumayan banyak.


Mungkin bagi Keluarga Bangsawan sekelas mereka menganggap 1000 koin adalah hal yang biasa, namun tentu berbeda jika yang mempunyai uang tersebut adalah orang dari golongan kelas bawah.


"Apa kalian yakin ingin bertaruh sebesar ini" tanya salah satu dari mereka.


"Tentu kenapa tidak" jawab Angel sambil tersenyum manis.


Di tengah lapangan Aaron sudah bersiap dengan pedang miliknya, saat aba-aba sudah di mulai ketiganya bergerak hampir bersamaan.


Suara logam yang saling beradu terdengar sangat nyaring, kedua pria paru baya itu terus memberikan serangan kepada Aaron, seolah mereka tidak ingin sedikitpun memberi kesempatannya untuk bernafas.


Tentu hal itu membuat Aaron harus berada di posisi bertahan, ia mengakui jika kombinasi permainan pedang dari keduanya memang tidak terlalu buruk.


Tuan Besar Arjuno tiba-tiba menghilang dari pandangan Aaron dan muncul tepat di belakangnya.


Saat ia mengayunkan pedangnya dengan sangat kuat Aaron sudah terlebih dahulu menunduk dan berguling kesamping, hingga membuat pedang Tuan Besar Arjuno beradu dengan pedang milik Tuan Besar Arya.


TRANG!!!!


"Ceh, aku terlalu meremehkanmu" kata Tuan Besar Arya.


Kemudian ia kembali melesat kearah Aaron dan memberikan beberapa serangan, namun dengan mudah Aaron dapat menghindarinya.


"Teknik Penghancur Bintang"


Pedang milik Aaron seketika mengeluarkan cahaya berwarna kekuningan, ia kemudian melesat kearah Tuan Besar Arya dan mengayunkan pedangnya secara fertikal.


Pria sepuh itu terlihat sangat kewalahan saat mendapat serangan terus menerus dari Aaron, hingga membuat jarak diantara keduanya tidak terlalu jauh.


"Pukulan Tinju Berapi"


Dengan sekuat tenaga Aaron mengarahkan pukulan tersebut tepat kearah perut Tuan Besar Aryo hingga membuat tubuhnya terpental jauh kebelakang.


Melihat hal itu semua orang yang melihatnya menatap tak percaya.

__ADS_1


Sedangkan Tuan Besar Arjuno tak menyia-nyiakan hal tersebut, ia kembali melesat kearah Aaron dan memberikan beberapa pukulan.


__ADS_2