Reinkarnasi Pendekar Phoenix

Reinkarnasi Pendekar Phoenix
Markas Sebelas Komodo


__ADS_3

Saat Aaron berniat untuk menghabisi Tetua Ed, pria sepuh itu segera bersujud di hadapan Aaron,"Tuan muda jangan bunuh saya, saya akan lakukan apapun untuk menyelamatkan nyawa saya"


"Hm, apa kau yakin?"


Mendengar penuturan dari Aaron, Tetua Ed langsung menganggukan kepalanya.


"Bagaimana jika aku meminta untuk mengambil alih kepemimpinan Perampok Sebelas Komodo, apa yang bisa mengabulkannya?" pinta Aaron yang seketika membuat Tetua Ed terdiam membisu.


Beberapa saat yang lalu Banyu Geni meminta Aaron untuk membuat sebuah penawaran untuk Tetua Ed, menurutnya Perampok Sebelas Komodo memiliki masa depan yang cerah, suatu saat nanti mereka pasti akan menjadi salah satu kelompok terkuat di Benua Sundaland seperti Organisasi Gerhana Matahari.


Dari cerita yang ia dengar dari Sekar Wangi, Banyu Geni yakin mereka akan bisa di manfaatkan suatu saat nanti.


Seperti dirinya dulu yang mengambil alih kepemimpinan Organisasi Gerhana Matahari setelah ia memenangkan Turnamen Pendekar Matahari, sedikit demi sedikit Banyu Geni berhasil menguasai keseluruhan aset yang di miliki organisasi tersebut.


Bahkan ia mampu menundukan bangsa demon berada di bawah pimpinannya, namun karena tugasnya yang saat itu belum selesai untuk mengumpulkan pecahan jiwa 7 Hewan Suci, Banyu Geni menyerahkan semua itu kepada juniornya Arirang sebagai kado pernikahannya dengan gadis pujaan hatinya.


"Tuan Muda ini...."


Tetua Ed tidak bisa berkata apa-apa saat melihat keseriusan di wajah pemuda tampan berambut pendek itu, namun jika Tetua Ed menolak ia yakin jika dirinya akan mati di tangannya, membayangkan semua itu membuatnya merinding.


"Aku tidak memiliki waktu untukmu berfikir" kata Aaron sambil mengayunkan pedang miliknya.


"Baiklah...baa..baik, saya akan turuti semua keinginan tuan muda"


Aaron yang mendengar hal tersebut tersenyum tipi sebelum kemudian membantu pria sepuh itu untuk berdiri, "Sekarang bawa aku ke markas kalian"


Awalnya Aaron sedikit tidak setuju dengan ide gila yang di lontarkan Banyu Geni, karena bisa saja sesampainya disana ia dan Sekar Wangi akan di serang, namun Banyu Geni yang mendengar ke khawatiran Aaron hanya tersenyum dan mengatakan tidak ada yang bisa menyentuh keduanya jika ia sudah bertindak.

__ADS_1


Sekar Wangi yang baru selesai menghajar para perampok itu kembali melangkahkan kakinya kearah Aaron, "Mari lewat sini tuan" ucap Tetua Ed.


Aaron hanya menganggukan kepalanya sebelum kemudian berjalan mengikuti langkah Tetua Ed, Sekar Wangi yang tidak mengetahui apa-apa menaikan kedua alisnya, "Kita mau kemanah?"


"Markas Perampok Sebelas Komodo" jawab Aaron dengan santai.


"APA! apa kau gila? Apa kau ingin bunuh diri"


Sekar Wangi tak habis fikir dengan pemuda tampan yang ia temui di Hutan Bencana, bagaimana bisa ia memiliki pemikiran untuk masuk ke kandang harimau, bukankah itu sama saja dengan bunuh diri.


"Tenanglah, kau akan segera mengetahuinya nanti"


Sekitar 1 jam kemudian, barulah ketiganya sampai di sebuah bukit kecil yang di beri nama Bukit Komodo, tempat dimana markas Perampok Sebelas Komodo berada.


Di sekitar tempat tersebut terdapat ratusan hewan komodo yang seolah sedang berjaga dan mengawasi tempat tersebut, saat ketiganya sampai di depan gerbang seketika puluhan komodo langsung mengepung Aaron dan Sekar Wangi.


Dan hal yang paling mengejutkan pun terjadi, para hewan reptil itu berubah menjadi manusia dengan lidah dan ekor seperti komodo.


"Jangan kalian berani menyentuh keduanya, jika tidak ingin menjadi santapanku malam ini" kata Tetua Ed dengan dingin.


Seketika itu juga para prajurit komodo itu langsung menghentikan tawa mereka, lalu mereka saling berpandangan dalam diam karena tidak mengetahui situasi yang sudah di alami oleh jagoan terbaik yang dimiliki Perampok Sebelas Komodo.


"Dimana Patriach"


"Patriach sedang berada di aula bersama para tetua lainnya"


Tanpa berkata apapun Tetua Ed langsung berjalan kearah aula, sedangkan Aaron dan Sekar Wangi mengikuti dari belakang tanpa berkata apapun.

__ADS_1


Sesampainya di aula, Aaron di buat takjub dengan interior markas tersebut, "Aku seakan berada di dalam sebuah istana kerjaan zaman mesir kuno" gumam Aaron pelan.


Hampir setiap sudut ruanganya terbuat dari emas dan berlian, serta di hiasi oleh beberapa batu rubi yang berbaris rapis.


"Aku yakin jika kedua orang tuaku pun tidak akan mampu membangun ruangan semewah ini" gumamnya lagi.


Tanpa sadar Aaron sudah berada di tengah aula, 'Nah Aaron, sampai disini biarkan aku mengambil alih semuanya' kata Banyu Geni, sebelum kemudian Banyu Geni mengambil alih tubuh Aaron.


Banyu Geni meregangkan semua otot-ototnya seolah ia baru saja terbangun dari tidur yang panjang, "Ah! Sudah berapa lama aku tidak merasakan sensasi ini" kata Banyu Geni yang membuat Sekar Wangi yang berada di sampingnya menunjukan raut bingung.


"Hay Nona, kau terlihat sangat cantik" ucap Banyu Geni sambil meraih tangan Sekar Wangi dan menciumnya dengan lembut.


Sontak saja hal tersebut membuat Aaron mengumpat, 'Senior, apa yang kau lakukan? Apa kau ingin menjatuhkan martabatku sebagai seorang pria sejati'


'Ayolah Aaron, kau terlalu dingin dengan semua gadis yang berada di sekitarmu' kata Banyu Geni dengan masih memegang tangan Sekar Wangi.


Sedangkan Sekar Wangi terdiam seribu bahasa saat melihat tingkah laku Aaron yang berubah drastis, dan entah kenapa Aaron terlihat jauh lebih tampan saat ia bersikap semanis ini kepadanya.


Perlahan wajahnya mulai memerah, "Apa yang kau lakukan?" kata Sekar Wangi malu-malu.


"Tidak, hanya saja aku baru menyadari jika kau adalah gadis yang sangat cantik"


Aaron yang mendengar setiap pujian yang keluar dari mulutnya sendiri menepuk jidatnya pelan, 'Aku bersumpah tidak akan lagi membiarkan senior mengambil alih tubuhku' umpat Aaron.


"Salam Tetua Ed, apa yang membawa anda datang kemari" ucap salah satu dari mereka sambil menundukan kepalanya.


"Salam Patriach, maaf telah mengganggu kesenangan anda"

__ADS_1


"Tetua Ed jangan sungkan, bagaimana pun kau adalah bagian dari kami"


Banyu Geni yang mendengar percakapan tersebut langsung mengalihkan pandangannya, entah kenapa perasaannya mulai buruk saat melihat senyum dari pria sepuh tersebut.


__ADS_2