
Saat Aaron mendapatkan kembali kesadarannya, ia terbangun tepat diatas makam istri dari Banyu Geni, langit yang semula terlihat berwarna biru cerah, kini tergantikan oleh hitamnya malam yang sudah di hiasi dengan jutaan bintang.
Ketika Aaron mencoba berkomunikasi dengan Banyu Geni, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, namun selama beberapa saat hanya keheningan yang menemaninya.
Merasa ada sesuatu yang telah terjadi, Aaron dengan segera berjalan kembali kerumah milik Banyu Geni, dia ingin menanyakan hal ini kepada Delima yang sudah pasti mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Sesampainya disana, Aaron mendapati Delima tengah duduk melamun sambil menatap kearang sang rembulan.
"Delima, apa kau baik-baik saja?" Tanya Aaron memastikan.
Delima yang mendengar suara berat Aaron hanya menganggukan kepalanya, "Biarkan aku sendiri" ucapnya dengan pelan namun terdengar seperti memerintah.
Tanpa pikir panjang, Aaron meninggalkan Delima sendirian, saat ia memasuki kamar yang dulu di tempati oleh Banyu Geni dan istrinya, ia melihat Sekar Wangi yang tengah tertidur pulas.
Karena ia tidak ingin membangunkan Sekar Wangi, Aaron kembali berjalan keluar rumah, menatap langit yang benar-benar gelap gulita. Entah kenapa, perasaannya malam itu terasa berbeda, seperti ada sesuatu yang salah, dirinya mencoba untuk tidak memikirkan hal itu lebih jauh, namun seakan sebuah kaset yang terus berputar, Aaron tidak bisa melupakan rasa itu walaupun hanya sekejap.
Sampai pagi menjeng, Aaron terus memperhatikan langit yang mulai terang kembali.
"Persiapkan dirimu, kita akan meninggalkan tempat ini dengan segera" kata sebuah suara yang sedikit mengejutkan dirinya.
Saat Delima ingin kembali masuk kedalam, sebuah suara tiba-tiba menghentikan langkahnya, "Bisa kau temani aku? Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tetapi entah kenapa disini rasanya sakit sekali, seolah dadaku di tusuk dengan ribuan jarum beracun" kata Aaron dengan tatapan sendu sambil menunjuk dadanya.
Seakan terhipnotis dengan perkataan Aaron, Delima berjalan kembali kearah pemuda tampan tersebut, sebelum kemudian ia menyenderkan kepalanya tepat di bahu Aaron.
__ADS_1
"Biarkan seperti ini selama beberapa saat...sesekali aku ingin bersifat egois" kata Delima pelan sambil menutup kedua matanya.
Tanpa Aaron dan Delima sadari seseorang tengah menatap kearah keduanya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan, "Lagi-lagi perasaan menyakitkan ini..." gumamnya pelan.
Sejak Sekar Wangi mengenal Aaron, entah kenapa ada sesuatu yang membuat perasaannya bercampur aduk, terkadang ia merasa nyaman dan bahagia bila berada di dekat pemuda tampan yang baru dikenalnya belum genap 1 tahun tersebut.
Tetapi sesekali Sekar Wangi juga merasakan rasa sakit yang entah apa sebabnya saat melihat Aaron bersama gadis lain, ada perasaan tidak rela yang menyelimuti hati dan pikirannya.
Karena tidak ingin terus-terusan melihat pemandangan yang menyakitkan itu, Sekar Wangi segera beranjak dari tempatnya dan kembali menuju kamar yang selama ini dirinya tempati.
*****
Saat hari menjelang siang, Ketiganya mulai bergegas meninggalkan kediaman milik Banyu Geni, namun sebelum itu Delima menggunakan teknik ilusinya untuk menyembunyikan keberadaan tempat tersebut.
Dengan aura pembunuh milik Delima yang sangat mengerikan para siluman dan hewan buas tidak ada yang berani mendekat, hal itupun membuat perjalanan mereka tidak terhambat oleh apapun.
"Bagaimana jika kita beristirahat dikota ini?" Usul Delima yang langsung mendapat anggukan dari Sekar Wangi.
"Ia aku setuju...aku juga ingin berendam di air hangat, selama hampir 1 tahun aku mandi dengan air dingin, membuat kecantikaku sedikit berkurang" keluh Sekar Wangi yang membuat Delima terkekeh geli.
Kemudian ketiganya pun mengantri untuk memasuki kota yang bernama Kota Kabut Hijau tersebut. Setelah menunggu hampir 30 menit akhirnya giliran merekapun tiba.
"Biaya masuknya 3 keping emas perorang" kata si penjaga itu dengan wajah garang.
__ADS_1
"Apa 3 keping emas? Apa kau gila...itu namanya perampokan"
Sekar Wangi yang tidak terima dengan perkataan penjaga tersebut, mulai menuaikan protesnya, yang membuat beberapa pasang mata tertuju kepadanya.
"Nona, jaga nada bicaramu...aku hanya mengikuti peraturan dari walikota, jangan membuat pekerjaanku semakin bertambah hanya karena dirimu" ucapnya dengan nada yang mengancam.
Sekar Wangi yang mudah terpancing emosinya mengepalkan tangannya, berniat memberika pelajaran kepada penjaga tersebut, namun sebelum tangannya berhasil meraih pedangnya tiba-tiba sebuah tangan lain menghentikan gerakannya.
"Kami akan membayarnya, maaf telah membuat keributan" kata Aaron sambil memberikan kantong kecil yang berisi 10 koin emas.
Setelah selesai menghitung koin emasnya penjaga itupun mempersilakan ketiganya memasuki gerbang kota. Dan seketika suasana meriah langsung menyambut indra pendengaran mereka.
"Arghh entah kenapa aku merindukan suasana seperti ini" kata Aaron yang langsung mendapat anggukan dari kedua gadis cantik yang berada di sampingnya.
Kemudian Delima menghampiri seseorang yang menyewakan kereta kudanya, dan memintanya untuk mengantarkan ketiganya menuju salah satu penginapan yang berada di kota tersebut.
"Ah, kebetulan sekali, belum lama ini ada sebuah penginapan yang baru berdiri, namanya Penginapan Menara Jingga"
Delima yang mendengar nama tersebut langsung menaikan kedua alisnya, ia menyipitkan kedua matanya seolah sedang mengingat sesuatu, Penginapan Menara Jingga terdengar sangat tidak asing baginya.
Setelah lama berfikir, barulah Delima mengingatnya jika ia penah mendengar nama penginapan tersebut, 'Bukankah itu penginapan di Benua Greenland tempat Half-Elf tinggal' kata Delima dalam hati.
'Bagaimana bisa mereka mencapai Benua Sundaland'
__ADS_1
Delima tak habis fikir, setelah ia tak berkelana selama ratusan tahun dan mengurung diri di Sekte Es Abadi banyak perubahan yang terjadi di Benua Sundaland tanpa ia sadari.
Delima merasakan jika sesuatu yang jauh lebih besar akan terjadi kepada Benua Sundaland.