
Setelah beberapa saat Eluna berbicara dengan Ayahnya, akhirnya ia kembali ke Sekte Angsa Emas dengan perasaan campur aduk, ia takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Aldy, pemuda tampan yang sejak pertama bertemu telah berhasil menghantui hati dan fikirannya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya Eluna berhasil sampai di depan gerbang Sekte Angsa Emas.
Bangunan yang semula berdiri kokoh itu kini dalam satu malam telah berubah menjadi puing-puingĀ bangunan yang sudah tidak berbentuk lagi, ratusan mayat terlihat bergelimangan dimana-mana. Bau anyir darah langsung menusuk indra penciuman Eluna, namun hal tersebut seakan tidak mengganggu dirinya, "Hm, tidak terlalu buruk" gumamnya pelan.
Eluna kembali melanjutkan langkahnya, selang beberapa saat kemudian, akhirnya ia menemukan beberapa tetua dan murid yang berhasil selamat dari tragedi peperangan tersebut. Starla yang melihat kedatangan Eluna langsung berlari kearahnya, "Apa kau baik-baik saja" tanya Starla khawatir.
Melihat hal itu Eluna langsung merubah raut wajahnya menjadi sedih, "Maafkan aku..." ucapnya dengan nada yang terdengar merasa bersalah.
"Ini bukan salahmu...."
Keduanya berpelukan cukup lama, Aldy dan Angel yang melihat pemandangan tersebut berjalan kearah kedua gadis cantik itu, merekapun akhirnya berpelukan bersama-sama, isakan tangis langsung memenuhi indra pendengaran semuanya.
Setelah cukup lama dalam keadaan berduka, para tetua dan beberapa murid mulai mengumpulkan semua jasad dari kedua belah pihak dan menguburkannya secara layak.
Perlahan matahari mulai muncul di ufuk barat memancarkan sinarnya, namun dalam beberapa menit kemudian entah kenapa awan hitam mulai menutupi sang surya, dan detik berikutnya hujan turun dengan lebatnya.
Setelah selesai menguburkan para korban Aldy,Starla,Eluna dan Angel berkumpul disatu titik untuk membahas kelangsungan Sekte Angsa Emas kedepannya, "Bagaimana menurutmu Eluna, sebagai putri dari Patriach Kuncoro, kau berhak mengambil alih kepemimpinannya"
"Hm, aku tidak mengetahui apa yang harus aku perbuat, sejujurnya aku tidak ingin mengambil posisi sebagai ketua sekte menggantikan Ayah"
Jasad Patriach Kuncoro tidak bisa di temukan karena ada ratusan mayat yang sudah tidak berbentuk lagi, mereka semua mengira jika Patriach Kuncoro telah gugur dalam peperangan tersebut.
Sebagai langkah awal mereka semua sepakat untuk mengangkat Dewi Eluna sekaligus putri dari Patriach Kuncoro menjadi pemimpin sekte yang baru, namun hal itu ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan. Eluna yang merasa tidak pantas menempati posisi tersebut menolaknya tanpa berfikir panjang.
"Lalu siapa yang akan menggantikanmu Nona Eluna, kami pikir tidak ada yang lebih pantas selain dirimu" celetuk salah satu tetua yang langsung mendapat anggukan dari yang lainnya.
Kemudian Eluna melirik sekilas kearah Aldy yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan mereka, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu fikiran pemuda berambut putih itu.
__ADS_1
"Aldy, apa kau bersedia menggantikanku, setidaknya sampai aku siap menerima posisi kehormatan itu"
Sontak saja hal itu mengejutkan mereka semua, tidak terkecuali Aldy yang kini tersadar dari lamunannya, "Maaf apa kau mengatakan sesuatu" tanya Aldy, ia merasa jika dirinya salah mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Eluna.
"Apa kau bersedia menjadi pemimpin Sekte Angsa Emas menggantikan aku..."
"Eh, kenapa aku?"
Aldy terlihat bingung, bukankah banyak tetua yang jauh lebih pantas dari pada dirinya, terlebih lagi posisi tersebut sangat penting bagi kelangsungan sebuah sekte.
"Aku hanya mempercayaimu, kumohon..." kata Eluna dengan mata yang berbinar.
Sekilas Aldy melirik kearah Starla dan Angel yang sedang tersenyum sambil menganggukan kepalanya, di ikuti para tetua yang juga menyetujui keputusan dari Eluna.
Dengan berat hati Aldy menghela nafas panjang sebelum kemudia ia mengiyakan untuk menjadi pemimpin yang baru.
Sebagai langkah awal, Aldy menyarankan agar mereka semua yang tersisa untuk segera berpindah tempat dan membangun markas baru, karena bagaimanapun kabar tentang penyerangan yang terjadi kepada Sekte Angsa Emas pasti sudah tersebar luas.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk meninggalkan tempat tersebut, dan benar saja selang beberapa saat setelah itu terlihat puluhan orang mendatangi tanah kosong yang dulu pernah berdiri salah satu sekte aliran netral.
"Sial, sepertinya mereka sudah menyadari rencana kita"
Salah satu dari mereka mengumpat dalam hati saat tidak mendapati apapun di tempat tersebut.
****
Aaron,Delima dan Sekar Wangi memutuskan untuk tinggal di Penginapan Menara Jingga selama beberapa hari untuk mendapatkan informasi seputar dunia persilatan.
__ADS_1
Kabar yang beberapa hari belakangan menjadi buah bibir banyak orang adalah tentang Turnamen Pendeka Tanpa Tanding yang sudah resmi di umumkan oleh ke 13 Sekte Terkuat Benua Sundaland.
Namum siapa sangka keesokan harinya ketiganya malah di kejutkan dengan penyerangan yang terjadi kepada Sekte Angsa Emas, hingga membuat sekte tersebut rata dengan tanah hanya dalam kurun waktu semalam, tidak ada yang mengetahui pasti apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa yang menyerang Sekte Angsa Emas dengan berutal.
Aaron yang mendengar hal itu sontak bergegas menuju Sekte Angsa Emas, dengan kecepatan yang di miliki Delima, ketiganya berhasil sampai di tempat yang di maksud hanya dalam kurun waktu setengah hari.
Delima menahan nafasnya saat melihat keadaan Aaron dan Sekar Wangi yang terlihat sangat berantakan.
"Maafkan aku" ucap Delima pela.
Baik Aaron ataupun Sekar Wangi merasa sangat pusing, karena untuk pertama kalinya keduanya di bawa sekencang itu.
Namun pemandangan yang berada di depan ketiganya seketika membuat mereka terdiam seribu bahasa, puing-puing bangunan yang bertebaran dimana-mana serta bau anyir darah yang mengisi udara.
"Tidak...tidak....tidak mungkin...."
Tubuh Aaron bergetar hebat, nafasnya mulai terengah-enagah, dengan kencang ia meneriaki nama keempat sahabatnya, air matanya mulai membasahi pipinya.
Sekar Wangi yang melihat itu segera berlari kearah Aaron dan memeluk tubuhnya dengan erat, "Tenanglah...jangan berfikiran sesuatu yang belum pasti kebenarannya"
Entah kenapa ada sesuatu yang menyebabkan rasa khawatir itu terlalu berlebihan, seakan ia pernah melihat sesuatu yang jauh lebih buruk dari pada ini.
Delima yang melihat tingkah aneh Aaron hanya bisa tersenyum kecut, ia menyadari jika kepingan-kepingan ingatan Banyu Geni mulai kembali terlintas di kepala Aaron saat melihat hancurnya Sekte Angsa Emas.
Karena sebelumnya Banyu Geni pernah kehilangan beberapa teman-temannya saat dirinya sedang melakukan latihan tertutup, sekte tempat teman-temannya berada harus musnah akibat dari serangan Bangsa Iblis yang saat itu masih mendominasi Benua Sundaland.
Rasa bersalah yang amat tinggi membuat Banyu Geni memiliki trauma yang mendalam jika melihat sesuatu yang menjadi pemicu rasa bersalah tersebut.
__ADS_1
Dan hal itu terjadi kembali kepada Aaron yang saat ini masih menangis histeris karena tidak bisa menemukan keberadaan teman-temannya.
"Maafkan aku...." ucap Delima pelan.