Reinkarnasi Pendekar Phoenix

Reinkarnasi Pendekar Phoenix
Pertarungan Academy Perisai


__ADS_3

Tak terasa sudah beberapa hari setelah kejadian dimana Aaron bertemu dengan seseorang dari masa lalunya itu yang mengaku jika ia adalah dirinya dan dirinya adalah dia.


Dan selama itu pula Aaron terus berlatih dibawah bimbingan kedua orang tuanya.


Level kekuatan Aaron meningkat dengan sangat pesat, saat ini dirinya sudah berada di level 40, namun kekuatan yang dimilikinya setara dengan seseorang yang berada di level 140.


Hal itu membuat decak kagum terhadap pencapaiannya sendiri.


Seperti biasa Aaron bergegas menuju Academy dengan mobil kesayangannya, sesampainya disana suasana Academy benar-benar sangat berbeda dari biasanya.


Saat ini Academy Perisai sedang mengadakan pertarungan antar murid yang nantinya 100 murid terbaik akan mewakili sekolah di ajang Turnamen Antar Academy.


Starla yang menyadari kekuatan Aaron meningkat dengan derastis membuat dirinya menelan ludahnya sendiri, terlebih lagi karisma yang dimiliki Aaron jauh lebih kuat dari sebelumnya.


' Dia..dia semakin tampan ' ucap Starla dalam hati sambil terus menatap wajah lugu pemuda di sampingnya itu.


Sedangkan Aldy yang berada disisi Strala mengerutkan dahinya saat melihat tatapan Starla yang menurutnya benar-benar berlebihan.


Mungkin anak generasi tahun 2020an menyebutnya sebagai bucin akut.


" Starla kenapa kau kenatapku seperti itu " tanya Aaron yang melihat tatapan gadis cantik tersebut yang membuatnya sedikit risih.


Seakan tersadar dari lamunannya, Starla segera mengalihkan pandangannya kearah lain karena wajahnya yang memerah akibat tertangkap basah.


" Ti..tidak aku baik-baik saja " katanya dengan sedikit gugup.


Aldy yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya, ' Dasar manusia tidak peka ' ucapnya dalam hati sambil terkekeh geli.


Saat ini mereka sedang berada di lobby Academy untuk menunggu siapa yang akan menjadi lawan mereka saat pertandingan antar murid berlangsung.


Tak lama kemudian, di sebuah layar monitor yang berukuran besar tersusun ratusan nama siswa siswi beserta dengan lawannya.

__ADS_1


Saat melihat nomor urut pertandingannya, Aldy mendapat nomor satu dengan melawan seorang senior dari kelas Warrior, sedangkan Starla mendapat nomor urut ke 50 dengan melawan junior dari kelas King atau Queen dan Aaron mendapat nomor urut 70 dengan melawan juniornya dari kelas Knight.


Bagi Starla yang masuk dalam jajaran rank 10 besar murid terbaik akan dengan mudah memenangkan pertandingan tersebut, namun tidak bagi Aldy dan Aaron.


" Kau sungguh beruntung bisa berhadapan dengan senior sampah itu "


" Aku sungguh iri "


" Kalian tidak boleh berbicara seperti itu, bagaimana pun senior Aaron adalah senior kita, kita harus menghormatinya "


Sekelompok pria yang berada tak jauh dari Aaron sedang membicarakan dirinya, atau mungkin sedang menghinanya.


Aaron tersenyum tipis saat mendengar jika pria berambut merah dengan bola mata berwarna biru tersebut yang akan menjadi lawannya sedang membela dirinya disaat teman-temannya sedang mengatainya.


" Aaron ayo ke stadion pertandingan, sebentar lagi Aldy akan bertanding " ajak Starla yang langsung dianggukin oleh Aaron.


Keduanya pun berjalan beriringan menuju stadion besar yang berada di sisi paling timur Academy Perisai.


Sesampainya disana sudah ada ratusan siswa siswi yang memenuhi isi stadion tersebut, Strala mengajak Aaron kesalah satu kursi yang berada di paling atas stadion.


Aldy sudah berdiri di tengah-tengah stadion dengan lawannya yang berada di seberangnya. Aldy kemudian membuat sebuah pedang dari element es miliknya, sedangkan lawannya pun melakukan hal yang sama.


Saat wasit mulai memberikan aba-aba, keduanya melesat secara bersamaan dan kedua senjata itu pun saling beradu yang menimbulkan kejut cukup besar.


Baik Aldy ataupun lawanya sama-sama mundur kebelakang beberapa meter.


Namun dengan cepat Aldy melesat kembali dan menyerang lawanya secara bertubi-tubi, akibat dari serangan tersebut membuat lawannya harus berada di posisi bertahan.


Selama beberapa saat, Aldy berada di posisi yang menguntungkan, sedangkan lawanya terlihat sangat kerepotan. Saat melihat celah dari serangan Aldy, lawannya tidak menyia-yiakan hal tersebut dan membalas serangannya.


Kini selama beberapa saat keduanya bertarung dengan imbang.

__ADS_1


Banyak penonton yang berdecak kagum saat melihat pertarungan keduanya, tidak sediki siswi - siswi perempuan yang meneriaki nama Aldy.


" Bukankah senior Aldy sangat tampan "


" Iyah kau benar, aku bahkan rela menjadi istrinya yang ke 100 "


" Senior Aldy...semangat..."


Sedangkan diarena pertarungan, Aldy masih terus berusaha menangkis setiap serangan yang dilancarkan oleh lawannya, namun karena serangannya memiliki pola yang sedikit rumit membuat Aldy tidak bisa menangkis semuanya.


Seluruh tubuhnya sudah di penuhi dengan luka tebasan, darah segar mengalir di sudut bibirnya.


" Menyerah saja.." ucap lawannya dengan senyum dingin.


" Dalam mimpiku "


" Es Penghancur Semesta "


Gerakan pedang Aldy meningkat dengan sangat pesat yang membuat lawannya membulatkan matanya.


Belum sempat ia menghindari serangan yang di lancarkan oleh Aldy, tiba-tiba sebuah dinding es muncul di belakang dirinya dan membuatnya tak bisa melakukan apapun.


Saat serangan Aldy mengenai dirinya, darah segar langsung keluar dari mulutnya dan ia pun ambuk kebawah tak sadarkan diri.


Sorak dan tepuk tangan penonton memenuhi seisi stadion, dan tidak ketinggalan pula puluhan gadis yang meneriaki namanya.


Wasit kemudian mengumumkan jika Aldy adalah pemenangnya, namun belum sempat Aldy bereaksi tubuhnya mulai kehabisan tenaga dan ia pun jatuh tertunduk.


Melihat hal itu Aaron dan Starla segera menghampirinya dan membawa tubuh Aldy ke ruang kesehatan.


Pertandingan demi pertandingan terus berlanjut, namun baik Aaron ataupun Starla tidak berniat menonton kembali karena fokus utama keduanya kini adalah keselamatan Aldy.

__ADS_1


Saat hari menjelang sore, barulah Aldy terbangun dari pingsannya.


Melihat hal itu Aaron dan Starla menghela nafas panjang.


__ADS_2