
Setelah memberikan Bunga Edelweis Sembilan Warna ke Alchemist yang bertanggung jawab untuk menyembuhkan Jelita, Sekar Wangi membawa Aaron dan Angel untuk berkeliling.
Banyak para murid gadis yang memperhatikan Aaron, yang memiliki wajah yang cukup tampan, sesekali ada beberapa gadis yang memberikan sapaan dan senyuman kepada Aaron.
Aaron pun membalasnya dengan senyum manisnya.
"Pemuda itu cukup tampan, bukankah dia sangat cocok jika di sandingkan denganku" bisik salah satu gadis.
"Ya kau benar, aku yakin jika pemuda itu memiliki latar belakang yang sangat hebat, sampai dia bisa berteman akrab dengan Senior Sekar Wangi"
"Khem, sepertinya kalian harus buang jauh-jauh fikiran tersebut, lihat kesana..." ucap salah satu gadis sambil meingisyaratkan ke arah Sekar Wangi dan Angel yang sedang menatap tajam kearah mereka.
Sontak saja hal tersebut membuat para gadis langsung lari saat menyadari tatapan membunuh dari kedua gadis cantik itu.
Sekar Wangi dan Angel kemudian berbalik menatap tajam kearah Aaron, "Bisakah kau tak membalas sapaan atau senyum dari para gadis itu" kata Angel dingin.
"Apa kau sengaja ingin tebar pesona kepada mereka" ucap Sekar Wangi menambahkan.
"Eh, ak...aku hanya...umm...lihat ada meteor jatuh menuju kearah lapangan"
"Heh, jika ingin membual, kau harus lebih pintar lagi Aaron"
Setelah mengatakan itu Sekar Wangi dan Angel langsung menarik kedua telinga Aaron, hingga membuat pemuda tampan itu meringis kesakitan.
Sedangkan Banyu Geni tak henti-hentinya menertawakan Aaron, menurutnya Aaron itu tidak hanya polos tetapi juga bodoh.
Bagaimana bisa ia membual tentang meteor jatuh, bahkan anak-anak pun akan mengetahui jika apa yang di katakan oleh pemuda tampan bermata indah itu hanyalah kebohongan belakang.
Sekar Wangi dan Angel membawa Aaron menuju belakang sekte, yang memang disana suasananya sangat sepi.
Sesampainya disana, ketiganya melihat seorang biksu muda yang tengah bermeditasi diatas batu besar.
"Ah, maafkan aku, aku tidak mengetahui jika ada seseorang disini" kata Sekar Wangi.
Biksu muda itupun membuka salah satu matanya, menatap sekilas kearah ketiganya, sebelum kemudian kembali memfokuskan dirinya untuk bermeditasi.
Melihat reaksi yang di tunjukan, Aaron,Angel dan Sekar Wangi saling berpandangan satu sama lain sambil tersenyum kecut.
"Tunggu..."
Namun saat ketiganya hendak berbalik, sebuah suara tiba-tiba menghentikan langkah kaki mereka.
"Maafkan aku, sungguh aku tak berniat mengacuhkan kalian.. perkenalkan namaku Karna, murid dari Sekte Kuli Sembilan Dewa"
"Ah, namaku Sekar Wangi dan ini temanku Banyu Geni dan Ariani" ujar Sekar Wangi.
"Maaf, jika kami sudah mengganggu waktu bermeditasimu"
__ADS_1
"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf, aku lupa bawa diriku masih berada di Sekte Empat Mata Angin"
"Kau memiliki teknik api yang sangat hebat..." puju Aaron.
Saat pertama kali Aaron melihat Karna, ia menyadari jika ada sesuatu yang istimewa di dalam tubuhnya, terlebih lagi saat dirinya tak sengaja melihat pertarungan biksu muda itu dengan murid dari Sekte Empat Mata Angin.
"Ah, saudara terlalu memuji..."
"Jika kau berkenan, bisakah kita melakukan tanding" pinta Aaron.
"Sepertinya itu tidak perlu, saya kesini bukan untuk menunjukan kemampuanku atau bertarung dengan murid sekte lain"
"Maksudku tidak seperti itu, aku hanya ingin bertukar wawasan denganmu, mungkin aku bisa belajar satu atau dua hal dari dirimu"
Karna terdiam, ia terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu, "Baiklah jika saudara memaksa, tapi jangan terlalu berharap, karna diriku juga hanya seorang murid biasa"
Mendengar hal itu Aaron tersenyum tipis, ia kemudian meminta Sekar Wangi dan Angel untuk menjauh, karena ia mengetahui jika biksu muda di hadapannya ini memiliki kekuatan yang sangat besar.
Keduanya mulai mengambil jarak, "Mohon bimbingannya" ucap Aaron.
Karna tersenyum tipis, ia kemudian mengarahkan tangannya keatas langit, dan seketika sebuah tongkat berwarna emas muncul di dalam genggaman tangannya.
Aaron yang melihat hal itu menatap tajam, ia dengan cepat menyadari jika tongkat pusaka itu memiliki kualitas yang sangat baik, belum lagi aura yang di pancarkan terlihat sangat mengintimidasi.
'Tongkat Seribu Malam, bagaimana bisa dia memilikinya' kata Banyu Geni terkejut.
'Senior, jangan katakan jika tongkat tersebut adalah milikmu juga?' Tuduh Aaron.
'Hm, seseorang?'
'Lupakan, tongkat itu memiliki element api dan petir secara bersamaan, kau harus berhati-hati'
Setelah mengatakan itu suara Banyu Geni menghilang, dengan cepat Aaron menarik pedang miliknya.
Setelah aba-aba dimulai, keduanya melesat secara bersamaan. Pedang milik Aaron bertemu dengan tongkat milik Karna, hingga menimbulkan gelombang energi yang sangat besar.
Namun dengan cepat keduanya kembali bertukar serangan.
Karna semakin cepat mengayunkan tongkat miliknya, hingga membuat jarak diantara keduanya semakin menipis.
"Apa hanya ini yang kau miliki?" Tanya Karna di sela-sela pertarungan mereka.
"Bukankah masih terlalu awal untuk menyimpulkan semuanya"
Senyum yang semula menghiasi wajah Karna kini mulai memudar, ia menyadari jika pemuda tampan bermata indah itu belum menggunakan semua kemampuannya.
Tanpa ia sadari, ayunan pedang milik Aaron semakin cepat, hingga membuatnya mundur sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Apa kau fikir hanya dirimu yang menyembunyikan kekuatan?"
Karna dengan cepat memutar tubuhnya keatas hingga membuat serangan Aaron menebas udara hampa.
Ia kemudian melempar tongkat miliknya kearah Aaron yang dengan cepat di tangkis menggunakan pedang miliknya.
Ketika kedua senjata itu kembali beradu, gelombang energi kembali tercipta, kali ini energi yang di hasilkan jauh lebih besar dari sebelumnya.
Hingga membuat Gunung Angin yang besar dan kokoh itu pun bergetar selama beberapa saat.
Aaron mengalirkan energi kedalam pedangnya dengan jumlah besar, yang kemudian ia mengangkat pedangnya kuat-kuat hingga membuat tongkat milik Karna terlepar jauh keudara.
"Tongkat macam apa itu, kekuatannya tidak main-main" kata Aaron sambil mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan.
Sedangkan Karna yang melihat tongkat miliknya terpental jauh segera melesat dan mengambilnya.
Setelah mendapatkan kembali tongkatnya, dengan cepat ia melesat kearah Aaron dan memberikan beberapa serangan.
"Siapa kau sebenarnya" tanya Karna pelan.
"Aku hanya seorang pengembara yang kebetulan singgah saudara"
"Yang kebetulah singgah, apa kau yakin?"
Aaron tersenyum sinis saat melihat raut wajah keterkejutan yang di perlihatkan oleh biksu muda tersebut.
"Tongkat Iblis Gila"
Teriak Karna yang seketika dari tongkat miliknya keluar gelombang energi yang sangat besar hingga membuat Aaron terpental jauh kebelakang.
Darah segar langsung mengalir di sudut bibir Aaron.
Sekar Wangi dan Angel yang melihat hal itu sangat terkejut, terlebih lagi Sekar Wangi yang dengan cepat menyadari jika ada sesuatu yang salah dengan biksu muda tersebut.
"Sudah ku duga" kata Aaron dingin, ia kemudian berdiri dengan di bantu pedang miliknya.
"Tebasan Penakluk Iblis-! Tebasan Bintang Kesesatan"
Aaron kembali mengayunkan pedang miliknya yang seketika tercipta sebuah gelombang energi pedang yang melesat kearah Karna.
"Bintang Kegelapan-! Malam Kesunyian-! Tengkorak Iblis Neraka"
Karna yang melihat itu tak tinggal diam, ia mulai memutar tongkatnya hingga tercipta sebuah energi hitam yang sangat mengerikan.
Saat kedua energi tersebut saling beradu, sebuah ledakan besar pun tercipta hingga membuat Gunung Angin kembali bergetar.
__ADS_1
***Jangan Lupa LikEnyaAAaa***....