Reinkarnasi Pendekar Phoenix

Reinkarnasi Pendekar Phoenix
Markas Sebelas Komodo 2


__ADS_3

Tubuh Aaron yang kini diambil alih oleh Banyu Geni merasakan ada sesuatu yang tidak beres, untungnya dia langsung berinisiatif untuk mengambil alih tubuh reinkarnasinya itu, jika tidak ia yakin akan ada sesuatu yang terjadi.


Sorot mata dari Tetua Ed menunjukan seolah ia sedang berada dalam masalah besar dan meminta bantuan, Patriach Komodo yang menyadari itu tersenyum tipis sebelum kemudian menyuruh para tetua untuk mengepung Aaron dan Sekar Wangi.


Melihat hal tersebut senyum licik muncul menghiasi wajah Tetua Ed, ia berbalik dan menatap kearah Aaron yang masih terlihat tenang, walaupun ada puluhan Pendekar tingkat tinggi yang sedang mengepungnya.


Sedangkan Sekar Wangi menelan ludahnya dengan kasar saat melihat kejadian tersebut, sejak awal ia benar-benar tidak menyetujui keputusan Aaron untuk ikut kemarkas Perampok Sebelas Komodo.


"Apa kau pikir aku akan menyerahkan kekuasaan Perambok Sebelas Komodo dengan mudah? Jangan terlalu percaya diri Anak Muda" ucap Tetua Ed sambil tersenyum sinis.


"Hm, apa kau pikir aku tidak mengetahui niat busukmu? Jika ini yang kau inginkan, jangan salahkan aku jika tempat ini bersimba darah"


Kemudian Aaron mulai memejamkan matanya, dan seketika dari ruangan hampa muncul sebuah pedang berwarna emas dengan kecepatan tinggi.


Salah satu tetua yang tidak menyadari akan kehadiran pedang tersebut tiba-tiba sudah jatuh dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.


Sontak saja hal tersebut membuat para tetua lainnya mundur beberapa langkah, kejadian tersebut begitu cepat sampai mereka tidak sempat untuk menghindar, hingga membuat darah tersebut mengenai jubah mereka.


"Kau....apa yang-" Tetua Ed tak bisa melanjutkan kata-katanya saat melihat kejadian tersebut, ia yakin jika pemuda berambut pendek itu sebelumnya tak memiliki kekuatan sebesar itu.


Tapi tiba-tiba saja dia memiliki kekuatan yang sangat mengerikan, bahkan aura yang di pancarkan jauh lebih besar dari sebelumnya.


Sedangkan Patriach Komodo hanya menahan nafasnya saat melihat aksi dari pemuda itu, tidak heran jika Tetua Ed kewalahan menghadapinya.


"Apa yang kalian tunggu, serang pemuda itu" teriak tetua Ed geram.

__ADS_1


Para tetua yang semula ragu untuk menyerang Aaron dengan cepat bereaksi saat mendengar perintah tetua Ed, walaupun merekan enggan tetapi mau tidak mau mereka harus melakukan apa yang pria sepuh itu suruh.


Aaron yang melihat hal itupun langsung mengalirkan banyak tegana dalamnya kearah pedangnya, kemudian mulai mengayunkannya hingga membuat energi pedang yang sangat dasyat.


Para tetua yang belum sempat menghindar terkena energi pedang itu, hingga membuat sebagian dari mereka terpental jauh kebelakang.


Kembali seisi ruangan di kejutkan dengan kejadian itu, keringat dingin mengucur deras di balik jubah Tetua Ed dan Patriach Komodo yang masih terdiam di tempat mereka.


"Ah! Sayang sekali tubuh ini masih belum cukup untuk menampung semua kekuatan yang kumiliki" gumam Aaron sambil menggelengkan kepalanya.


Aaron yang mendengar hal itu terbatuk pelan, 'Senior apa kau bercanda, jika apa yang di katakan oleh senior benar adanya, aku tidak bisa membayangkan sekuat apa senior semasa hidup'


'Hm! Saat aku masih hidup, aku sudah berada di tingkat Pendekar Dewa, sulit menemukan lawan yang sebanding denganku'


'Pendekar Dewa, lalu mengapa senior bisa mati? Bukankah senior mengatakan memiliki kekuatan yang sangat besar' tanya Aaron yang masih bingung dengan perkataan Banyu Geni.


Menurut pengalaman Banyu Geni yang sudah hidup hampir seribu tahan, kematian seseorang tidak bisa di jamin dari segi apapun, bahkan bayi yang baru lahir kedunia dan belum sempat merasakan indah serta kejamnya dunia bisa mati dengan mudah jika itu sudah menjadi takdirnya.


Aaron yang mendengar hal tersebut terdiam seketikan, apa yang di katakan oleh Banyu Geni memang benar adanya, kematian seseorang tidak bisa di ukur dari seberapa kuat orang tersebut.


Tetua Ed yang melihat Aaron sedang lengah tiba-tiba menghilang dari pandangan semua orang dan muncul tepat di samping Aaron.


Saat berniat memberikan serangan mendadak tiba-tiba saja sebuah pedang menancap tepat di jantungnya hingga membuatnya muntah darah, "Ingin memberikan serangan mendadak? Kau terlalu cepat 100 tahun untuk melakukan hal itu" kata Aaron dengan dingin.


"Huk...huk..kau..bagaimana bisa-" Tetua Ed menatap tak percaya kearah Aaron, nyatanya pemuda berambut pendek itu mampu membuh jagoan sekuat dirinya dengan mudah.

__ADS_1


Dalam beberapa tarikan nafa, tubuh sepuh Tetua Ed jatuh ketanah dengan mata yang masih terbuka lebar.


Patriach Komodo dan para tetua lainnya menahan nafas mereka saat melihat kejadian tersebut, Patriach Komodo yang tidak memiliki harapan langsung menjatuhkan pedang miliknya dan bersujud di depan Aaron, dan di ikuti para tetua lainnya.


"Senior, tolong ampuni kami, kami memiliki mata tapi tidak bisa melihat kebesaran senior" kata Patriach Komodo dengan tubuh yang sedikit bergetar.


Aaron yang melihat hal itu tersenyum tipis sebelum kemudian berjalan kearah Patriach Komodo, "Apa kau yakin ingin menyerah"


"Yakin Tuan Muda, saya akan melakukan apapun agar bisa hidup lebih lama"


"Lalu....apa yang akan kau lakukan dengan ini" kata Aaron sambil menarik sebuah pisau-pisau kecil beracun yang berada di balik jubah Patriach Komodo.


Sontak saja hal itu membuat Patriach Komodo membulatkan matanya dengan sempurna,"Kau...kau bukan manusia" katanya sambil mundur kebelakang.


"Hm, jika aku bukan manusia, lalu sebutan apa yang pantas untuk orang sepertiku"


"Kau Iblis, kau siluman, kau-" kata-kata Patriach Komodo seketika terhenti saat pisau-pisau kecil yang berada di tangan Aaron kini sudah menancap di lehernya.


"Orang-orang seperti kalian memang tidak pantas di beri kesempatan" ucap Aaron dengan dingin.


Para tetua yang melihat pemimpin mereka mati dengan mudah semakin bergetar hebat, bahkan ada beberapa yang berniat ingin melarikan diri, namun seakan ada sesuatu yang menahan mereka untuk tidak bergerak dari tempatnya.


Sekar Wangi yang melihat kejadian itu terdiam seribu bahasa, ia tidak menyangka jika pemuda tampa yang baru ia kenal memiliki sisi gelap yang sangat mengerikan.


#Note

__ADS_1


Maaf Lama Up, karena ada kendala di laptop saya, mungkin setelah ini 3 sampe 5 hari gak up dulu, tapi sebagai gantinya saya akan up 10 BAB saat laptop saya sudah bisa di gunakan lagi.😊


__ADS_2