
Setelah selesai membahas rencana untuk membuat kekuatan Kelompok Sebelas Komodo kembali pulih, Aaron dan Sekar Wangi pergi meninggalkan markas Sebelas Komodo, dan melanjutkan perjalanan.
Namun Sekar Wangi seakan menyadari sesuatu ada yang berbeda dari Aaron, ia segera menghentikan langkah kaki pemuda tampan tersebut.
"Ada apa?" tanya Aaron pelan.
"Siapa kau sebenarnya" tanya Sekar Wangi penuh selidik, semenjak keduanya meninggalkan markas Sebelas Komodo, Aaron terlihat seperti seseorang yang sangat berbeda, wibawa serta nada bicaranya jelas berbeda dari sebelumnya.
"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti" ucap Aaron sambil menaikan salah satu alisnya.
"Kau terlihat sangat berbeda dari yang sebelumnya, bahkan aku tidak bisa merasakan sedikitpun tenaga dalam yang berada di tubuhmu, sama seperti saat pertama kita bertemu"
Sekar Wangi yakin, jika ia merasakan tenaga dalam di tubuh Aaron saat keduanya masih berada di markas Sebelas Komodo.
"Hm, mari kita luruskan, apa kau bisa menjaga rahasia nona"
Mendengar perkataan yang di lontarkan oleh pemuda tampan itu membuat Sekar Wangi semakin penasaran, bahkan ada sedikit kerutan di dahinya yang menunjukan bahwa dirinya ingin tau lebih banyak.
"Tentu, kau bisa mempercayaiku"
'Senior, apa kau yakin, aku boleh menceritakan ini kepada gadis yang baru saja kita kenal?' tanya Aaron untuk kesekian kalinya.
'Aku lebih percaya kepada gadis cantik itu, dari pada ketiga gadis yang selalu bersamamu, kau tau, terkadang seseorang yang sangat dekat dengan kita bisa menjadi musuh terbesar kita'
Aaron terdiam, entah kenapa ada rasa tidak senang di dalam dirinya saat mendengar perkataan Banyu Geni tentang Starla,Eluna dan Angel.
'Aku mengerti jika kau masih meragukan perkataanku, tapi percayalah, di hianati oleh orang terdekat lebih sakit dari pada di bunuh oleh musuh kita sendiri'
Banyu Geni yang sudah hidup selama ratusan tahun, dan sudah mengetahui manis,asam pahitnya kehidupan, sangat mengetahui betul bagaimana rasanya di khianati oleh orang terdekat.
__ADS_1
"Aaron, apa kau baik-baik saja" tanya Sekar Wangi yang melihat raut wajah Aaron berubah.
Seakan tersadar dari lamunannya Aaron hanya menganggukan kepalanya pelan, "Maafkan aku" ucap Aaron.
"Jika kau tidak ingin memberitahuku, tidak apa-apa, aku tidak akan memaksanya"
Aaron kembali menganggukan kepalanya,'Mungkin belum saatnya dia mengetahui segalanya' kata Aaron dalam hati.
*****
Sedangkan di tempat lain, Aldy,Starla,Eluna dan Angel sudah sampai di sekte Angsa Emas, kedatangan mereka di sambat baik oleh anggota sekte, terlebih lagi Eluna yang sudah lama tidak berjumpa.
Namun saat malam pertama keempatnya berada di sana, tiba-tiba Starla merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya.
Wajahnya terlihat pucat, dan seluruh tubuhnya mengeluarkan hawa yang sangat dingin, perlahan ia mulai kelihangan keseimbangannya sebelum kemudian jatuh dengan mata yang sepenuhnya tertutup.
Sedangkan Aldy yang mendengar kabar tersebut langsung berlari dengan wajah yang pucat pasi, di wajahnya seolah menunjukan rasa kekhawatiran yang mendalam.
Dengan element ice yang ia miliki, dirinya sedikit lebih leluasan untuk berada di dekat Starla, namun hal itu tak berlangsung lama, entah kenapa semakin lama ia berada di samping gadis cantik tersebut, tubuhnya mulai merasa kedinginan, sampai akhirnya ia menyeran dan segera menjauh dari tubuh Starla yang kini semakin mengeluarkan hawa yang sangat dingin.
Bahkan saking dinginnya suhu ruangan tiba-tiba turun dengan derastis, dan di kulit Starla perlahan muncul lapisan-lapisan es kecil yang menutupi seluruh tubuhnya.
Saat bulan purnama berada di puncaknya, tiba-tiba tubuh Starla bergetar hebat dan berteriak kesakitan, tulang-tulangnya seolah di patahkan secara bersamaan yang membuat gadis malang itu menangis dengan pilu.
Karena rasa sakit yang tidak bisa terbendungkan, Starla lepas kendali hingga membuat hampir seisi ruangan membeku akibat dari serangan berutal Starla.
"Apa yang terjadi" tanya Eluna dengan panik.
"Ak....aku akan menjelaskannya, namun sebelum itu kita harus segera bergegas dari sini, sebelum-"
__ADS_1
"AWASSS" teriak Angel yang melihat serpihan es yang mengarah kepada Aldy.
Dengan cepat Angel mengeluarkan bola-bola api untuk mencairkan serpihan es tersebut, namun di luar dugaan, saat bola api milik Angel bersentuhan dengan serpihan es milik Starla, serpihan es itu tidak sedikitpun mencair, bahkan kecepatan lajunya semakin tinggi yang mengakibatkan serpihan es tersebut berhasil melukai Aldy yang belum sempat menghindar.
DUARRRRR....
Sebuah ledakan besar terjadi yang mengakibatkan Aldy dan Eluna terpental jauh kebelakang, hingga menabrak dinding.
Darah segar langsung di muntahkan oleh keduanya, sebelum kemudian Aldy tak sadarkan diri, selang beberapa saat kemudian di susul dengan Eluna yang ikut tak sadarkan diri.
Angel yang terkena dameg dari serangan tersebut segera membawa keduanya keluar dari ruangan Starla.
"Apa yang terjadi" tanya pria sepuh yang baru saja sampai di depan ruangan Starla dengan beberapa tetua lainnya.
"Aku tidak mengetahuinya Patriach, namun sebaiknya kita membiarkan pintu ini terkunci rapat sebelum sesuatu yang buruk kembali terjadi" kata Angel sambil menghela nafas panjang.
Pria sepuh yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres hanya menganggukan kepalanya pelan, sebelum kemudian menyuruh beberapa tetua untuk membawa tubuh Eluna dan Aldy untuk segera di obati.
Keesokan harinya, Starla terbangun dari tidurnya dan melihat seisi ruangan sudah hancur berantakan dengan lapisan-lapisan es yang menghiasi setiap sudut ruangan.
"Apa yang terjadi? Apa ada yang menyerang Sekte Angsa Emas" tanya Starla panik sebelum kemudian ia segera bergegas turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar.
Namun saat ia akan membuka pintu tiba-tiba seseorang sudah terlebih dahulu membuka pintu tersebut.
"Patriach Kuncoro" kata Starla dengan sedikit terkejut.
"Gadis manis, apa kau baik-baik saja" tanyanya ramah.
Starla yang merasa aneh dengan pertanyaan tersebut hanya menganggukan kepalanya pelan, "Aku baik-baik saja"
__ADS_1