Reinkarnasi Pendekar Phoenix

Reinkarnasi Pendekar Phoenix
Hutan Kabut Kematian 3


__ADS_3

Tanpa terasa sudah seharian penuh Aaron dan Sekar Wangi berada di Hutan Kabut Kematian, tidak sedikit siluman yang keduanya habisi, kekuatan Sekar Wangi meningkat dengan pesat akibat terus-terusan menyerap kristal beast tingkat tinggi.


Dengan ingatan Banyu Geni yang berada di kepala Aaron, dia dengan mudah menguasai ilmu pedang yang di lihatnya pertama kali.


Bahkan saat Sekar Wangi menunjukan ilmu pedang tingkat tinggi yang berasal dari sektenya, Aaron dapat melakukannya jauh lebih sempurna dari yang Sekar Wangi tunjukan.


"Kau benar-benar jenius yang sesungguhnya Aaron, ilmu pedang yang baru saja aku tunjukan adalah ilmu pedang terkuat yang sekteku miliki, hanya para murid suci yang bisa belajar ilmu pedang tersebut"


"Nona terlalu memuji"


"Tidak, aku berbicara yang sebenarnya, apa kau tau aku memerlukan waktu 5 tahun untuk bisa menguasai ilmu pedang tersebut..."


"Sedangkan kau, hanya dalam sekali lihat kau mampu melakukannya, bahkan jauh lebih baik dari pada aku"


Sekar Wangi tak habis fikir, bagaimana bisa pemuda tampan itu memiliki bakat yang sangat mengerikan, walaupun tidak memiliki tenaga dalam, tetapi nyatanya Aaron mampu mengalahkan lawan-lawannya yang memiliki kekuatan jauh diatasnya dengan mudah.


"Nona Sekar, apa kau bisa mengajariku cara mengumpulkan tenaga dalam, ku pikir itu bisa berguna disaat energiku mulai menipis"


"Eh! Tentu, kau hanya perlu membuka sesuatu yang di sebut dengan Dantian"


"Dantian?" tanya Aaron sambil menaikan salah satu alisnya.


"Iyah, organ terpenting dalam tubuh manusia yang bisa mengumpulkan tenaga dalam"


Kemudian Sekar Wangi menceritakan garis besar tentang Dantian dan cara membukanya, setelah beberapa saat akhirnya Aaron menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Ulurkan tanganmu" pinta Sekar Wangi.


Tanpa pikir panjang Aaron mengulurkan tangannya tepat di hadapan gadis cantik tersebut, dengan cepat Sekar Wangi meraih tangan milik Aaron dan segera mengalirkan tenaga dalam miliknya.


Tanpa Sekar Wangi sadari jantung milik Aaron berdetak 3x lebih cepat dari biasanya, wajahnya mulai memerah karena merasakan sesuatu yang aneh untuk pertama kalinya. Kini kedua bola mata indahnya tertuju kearah Sekar Wangi yang fokus dengan apa yang ia lakukan, sebelum kemudian pandangannya tutun kebawah, menelusuri pemandangan indah yang membuat jantungnya semakin berdebar.


"Kenapa tanganmu berkeringat" tanya Sekar Wangi.


Aaron yang menyadari akan hal itu segera menarik tangannya dan mengalihkan pandangannyan, "Ti....tidak, ak...aku...aku hanya merasa gerah..iya gerah" ucap Aaron dengan terbatah-batah.


Sedangkan Banyu Geni yang melihat kejadian tersebut hanya terkekeh geli saat mengetahui apa yang ada di dalam pikiran reinkarnasinya itu.


'Ternyata kau bisa berfikiran mesum juga' ujar Banyu Geni yang sesekali di iringi tawanya.

__ADS_1


'Senior, aku akan membenuhmu setelah ini, berhentilah membaca pikiranku'


'Aku sedang tidak membaca pikiranmu bocah, itu semua sudah tercetak jelas di kedua bola matamu' elak Banyu Geni.


"Kenapa kau gugup" tanya Sekar Wangi lagi yang semakin curiga dengan tingkah Aaron.


"Apa kau sudah selesai memeriksanya, kenapa lama sekali"


Kali ini Aaron berusaha mengalihkan pembicaraan agar Sekar Wangi berhenti mengintimidasinya.


"Aku lupa, maaf...boleh ku suntuh tanganmu lagi"


"Baiklah"


Aaron kembali mengulurkan telapak tangannya, dan Sekar Wangi kembali mengalirkan tenaga dalam. Beberapa saat kemudian terdapat kerutan di dahi miliknya.


"Tidak mungkin" ucap Sekar Wangi tak percaya.


"Ada apa? Apa aku tidak memiliki Dantian"


"Kau...apa kau siluman, karena hanya siluman lah yang memiliki Dantian yang sudah terbuka tanpa belajar manual praktik"


"Jangan mendekat, jawab pertanyaanku, apa kau siluman?"


"Nona Sekar, jangan bercanda, apa kau pernah melihat aku berubah menjadi siluman?"


"Tidak, ta...tapi tetap saja hal itu terasa aneh"


"Mungkin saja itu adalah anugerah yang tuhan berikan kepadaku"


Sekar Wangi terdiam, ia tak bisa berkata apa-apa, seolah setiap perkataan yang ingin ia keluarkan tersangkut di tenggorokannya.


'Lagi pula jika benar pemuda tanpa itu adalah siluman, itu tidak ada hubungannya dengaku, selagi dia baik dan tampan, ku pikir itu baik-baik saja' pikir Sekar Wangi.


"Maafkan atas reaksiku yang terlalu berlebihan"


"Tak apa, aku bisa memakluminya"


Selama beberapa saat suasanya menjadi hening, tidak ada satupun diantara keduanya yang ingin memulai pembicaraan terlebih dahulu, sebelum kemudian Sekar Wangi mengeluarkan kristal beast yang ia miliki dan memberikannya kepada Aaron.

__ADS_1


"Kau hanya perlu memfokuskan fikiranmu ke pada kristal beast ini, dan biarkan kristal beast ini yang melakukan pekerjaannya"


Aaron menganggukan kepalanya tanda mengerti, ia mulai memejamkan kedua matanya, dan benar saja dirinya bisa merasakan sesuatu masuk kedalam tubuhnya yang terasa hangat.


Sekar Wangi yang perlahan bisa merasakan kekuatan Aaron mulai meningkat tersenyum lebar.


Sekitar 20 menit kemudian barulah Aaron membuka matanya, ia menghela nafas panjang, "Aku bisa merasakan kekuatan fisikku meningkat dengan pesat, seakan tubuh ini bukan milikku"


"Selamat Aaron, sekarang kamu sudah resmi menjadi seorang pendekar"


"Terimakasih"


Sekar Wangi tersenyum tipis, "Apa tempatnya masih jauh" tanyanya karena keduanya sudah seharian penuh menelusuri Hutan Kabut Kematian, tetapi belum sampai ke tempat yang di tuju.


"Tidak lama lagi, mungkin esok malem baru sampai...sebaiknya kita bermalam disini"


"Baikalah"


Sekar Wangi mengeluarkan perbelakan yang sebelumnya ia beli di salah satu desa yang keduanya lewati.


Sedangkan Aaron mencari kayu bakar untuk membuat api unggun, setelah selesai Aaron dan Sekar Wangi menyantap hidangan dengan lahap.


'Aaron, boleh aku meminta sesuatu' pinta Banyu Geni.


'Hah? Minta sesuatu? Seperti apa?"


'Semasa aku masih hidup, istriku pernah meminta untuk di bangunkan sebuah sekte, namun sampai akhir hidupku aku masih tidak bisa mewujudkan keinginannya'


'Sekte? Permintaan yang aneh'


'Iyah awalnya ku pikir juga begitu, namun saat aku mengetahui alasan di balik keinginannya itu membuat aku merasa bangga'


'Alasan?'


'Iyah dia ingin menciptakan sebuah tempat untuk menampung orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, karena dia sendiri sejak kecil hanya tinggal bersama kakeknya'


#**NOTE


BANTU NOVEL INI DENGAN CARA LIKE DAN VOTE AGAR AUTHOR BISA UP LEBIH SERING**...

__ADS_1


__ADS_2