Reinkarnasi Pendekar Phoenix

Reinkarnasi Pendekar Phoenix
Sekte Empat Mata Angin


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya ketiganya sampai di depan gerbang sekte tempat tinggal Sekar Wangi.


"Kau tidak pernah bilang jika dirimu berasal dari Sekte Empat Mata Angin" kata Aaron sambil menatap datar kearah Sekar Wangi.


Kini di depan mereka sebuah gunung yang munjulang tinggi terlihat sangat jelas, di bawah kaki gunung terdapat gerbang berukuran besar dengan di lapisi emas dan permata.


Beberapa penjaga terlihat berdiri di sisi kanan dan kiri gerbang.


"Aku memiliki alasan tersendiri" jawab Sekar Wangi.


Kemudian ia berjalan terlebih dahulu menuju penjaga yang berada di depan gerbang, terlihat mereka semua terkejut atas kedatangan Sekar Wangi yang mendadak.


"Sekar Wangi? Kemana saja dirimu selama ini" tanya salah satu dari mereka.


"Salam para senior sekalian, maafkan Sekar jika membuat kalian khawatir dengan keadaanku"


Sekar Wangi terlihat tidak terkejut dengan reaksi mereka saat melihatnya, karena bagaimanapun ia sudah hampir 2 tahun tidak kembali ke sekte, karena ia belum menyelesaikan tugas yang di berikan.


"Lalu siapa pemuda tampan dan gadis cantik di belakangmu itu"


"Ah! Mereka adalah temanku, namanya Ar...maksdku Banyu Geni dan Ariani" jawab Sekar Wangi berbohong.


Sebelumnya memang keduanya sepakat untuk merahasiakan nama asli mereka, Aaron takut jika sesuatu yang buruk terjadi saat ada seseorang yang mengetahui identitas dirinya.


"Salam para senior sekalian" ucap Aaron dan Angel secara bersamaan.


"Senior, bisakah kalian memberitahukan kedatanganku dan kedua temanku kepada Matriach"


"Ah, tentu, kami akan memberitahukan kabar gembira ini..."


"Tapi mungkin ini akan memakan waktu lebih lama, karena sekte sedang kedatangan tamu penting"


"Tamu penting? Siapa mereka" tanya Sekar Wangi.


"Mereka adalah Mahaguru Batara dan muridnya, keduanya berasal dari Sekte Kuil Sembilan Dewa"


Sekar Wangi yang mendengar hal itu mengangguk pelan.


Kuil Sembilan Dewa adalah salah satu sekte terkuat di Benua Sundaland, dan Mahaguru Batara sendiri adalah pemimpin dari Kuil Api.


Beberapa tahun yang lalu Kuil Sembilan Dewa menuntup diri dari dunia luar karena kabar yang beredar sedang terjadi konflik internal yang terjadi di dalam Sekte Kuil Sembilan Dewa.


Sepertinya kedatangan Mahaguru Batara berkaitan dengan hal tersebut.

__ADS_1


Setelah cukup lama menunggu akhirnya salah tetua turun dengan penjaga yang tadi di utus untuk memberitahukan kabar kedatangan Sekar Wangi.


Kemudian tetua itu membawa Sekar Wangi dan yang lainnya menuju pucak tertinggi dari gunung yang di beri nama Gunung Angin.


"Tidak heran jika Sekte Empat Mata Angin susah untuk di tembus pertahanannya" gumam Aaron pelan saat menyadari seberapa tinggi gunung tersebut.


Bahkan puncaknya saja berada tepat diatas awan.


"Mungkin hanya mereka yang berada di tingkat Pendekar Bumi yang mampu mencapai puncak Gunung Angin" lanjutnya lagi.


"Sekar Wangi, apa kau sudah mendapatkan Bunga Edelweis Sembilan Warna" tanya wanita paru baya namun masih terlihat cantik itu.


"Tentu, aku sudah menemukannya, lalu bagaimana dengan keadaan Senior Jelita"


Alasan utama Sekar Wangi mencari keberadaan Bunga Edelweis Sembilan Warna adalah kakak seperguruannya yang terkena racun paling mematikan di Benua Sundlanad.


"Dia semakin melemah, mungkin waktunya hanya beberapa hari lagi..."


"Aku harap dia mati lebih cepat, namun sepertinya Matricah masih menyayanginya" lanjutnya lagi.


Sekar Wangi yang mendengar perkataan tersebut menundukan kepalanya, karena memang sebagian tetua tidak setuju untuk mempertahankan nyawa Jelita, bagi mereka itu hanyalah beban dan akan menghabiskan banyak sumber daya.


Namun sepertinya Matricah memiliki alasan tersendiri kenapa ia masih mau mempertahankan Jelita, walaupun ia mengetahui jika dirinya harus mengeluarkan sumber daya yang tidak sedikit untuk mempertahankan nyawa Jelita.


Setelah terbang hampir 1 jam, akhirnya mereka bisa melihat bangunan megas yang berada tepat diatas puncak Gunung Angin.


"Sangat menakjubkan"


Terlihat ratusan gadis muda tengah berlatih dengan giat di bawah teriknya matahari.


"Kenapa tidak ada satupun laki-laki" tanya Aaron sambil melirik kearah Sekar Wangi.


"Tentu saja tidak ada, karena Sekte Empat Mata Angin hanya menerima perempuan sebagai muridnya..." jawab wanita paru baya itu dingin.


"Jika bukan karena Sekar Wangi adalah murid suci, ku fikir Matriach tidak akan menerima sembarang tamu, apalagi dia hanya seorang pemuda lusuh" lanjutnya lagi yang sontak hal tersebut membuat Aaron terbatuk pelan.


Saat Aaron ingin membalas perkataan tersebut, Sekar Wangi sudah terlebih dahulu mengisyaratkan untuk diam dan tidak menjawab.


Setelah mendarat, keempatnya berjalan menuju aula, namun saat mereka sedang berjalan di samping lapangan tempat biasanya para murid sekte mengadakan pertarungan terlihat seorang pemuda berpakaian biksu tengah bertarung dengan seorang gadis yang usianya di perkirakan 17 tahun.


Di sisi lapangan yang lainnya, beberapa murid dan tetua terlihat sedang memperhatikan pertarungan sengit tersebut.


"Apa menurutmu Senior Anjani mampu mengalahkan biksu muda itu"

__ADS_1


"Entahlah, dari pertukaran serangan tersebut terlihat jelas jika biksu muda itu sedikit lebih unggul"


Samar-samar keempatnya mendengar pembicaraan beberapa gadis yang tengah asik menonton pertarungan tersebut.


"Sekar Wangi apa sektemu tengah mengadakan semacam Turnamen?" Tanya Angel pelan.


"Kufikir tidak, mereka hanya sekumpulan murid sekte yang ingin menunjukan kebolehan mereka saja"


"Ah begitukah"


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya keempatnya sampai di sebuah ruangan besar dengan intorior yang menyerupai bangunan eropa abad pertengahan.


Angel dan Aaron yang melihat hal itupun di buat terkagum-kagum.


Belum lagi hiasan patung dan guci yang semuanya terbuat dari emas murni.


"Salam Matriach dan Bibi Guru sekalian, Sekar Wangi telah berhasil menyelesaikan misi dan kembali dengan selamat" ucapnya sambil menunduk hormat, yang kemudian di ikuti oleh Aaron dan Angel.


Seorang wanita paru baya yang masih terlihat sangat cantik berjalan menghampiri Sekar Wangi, kemudian ia memeluk erak Sekar Wangi seolah mengucapkan selamat datang kembali.


"Beruntunglah kau baik-baik saja Sekar, kau tidak pernah tau bagaimana kami di semua mencemaskanmu" ucapnya pelan, namun suaranya terdengar sangat jelas di telinga mereka semua yang berada di ruangan tersebut.


"Aku baik-baik saja Matriach, terimakasih karena telah mengkhawatirkanku"


"Lalu, siapa pemuda tampan ini, apa kau datang kembali sekaligus ingin meminta restuku hm" tanyanya sambil mengedipkan salah satu matanya.


Seketika Sekar Wangi tersedak ludahnya sendiri saat mendengar perkataan yang di lontarkan oleh wanita paru baya di hadapannya itu.


"Namanya Ar..maksudku Banyu Geni, dia adalah temanku, dan yang ini Ariani"


Kembali Sekar Wangi memperkenalkan Aaron dan Angel kepada Matriach dan para tetua.


Namun reakai yang di tunjukan sangat mengejutkan, mereka seolah tidak perduli dengan kehadiran Aaron dan Angel.


Melihat hal tersebut keduanya saling berpandangan sebelum kemudian tersenyum kecut.


"Lalu, dimana Bunga Edelweis Sembilan Warnanya" tanya salah satu tetua.


Sekar Wangi kemudian mengambil satu tangkai Bunga Edelweis dari cincin semestanya.


Seketika itu juga, wangi semerbang harum langsung menyerebar keseluruh ruangan.


Bahkan ada sebagian tetua yang membulatkan matanya dengan sempurna, karena baru pertama kali mereka melihat Bunga legendaris tersebut.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKENYAAA...


__ADS_2