Reinkarnasi Pendekar Phoenix

Reinkarnasi Pendekar Phoenix
Sekte Empat Mata Angin 3


__ADS_3

Di sebuah ruangan mewah, seorang pria paru baya yang mengenakan pakaian biksu tengah memperhatikan wanita sepuh di hadapannya. Ia tidak lain adalah Matriach dari Sekte Empat Mata Angin.


"Matriach Ayu, seperti kabar yang anda dengar bahwa Kuil Sembil Dewa tengah mengalami konflik internal."


Biksu tua itu menjelaskan lebih rinci, kabar tentang kondisi Mahaguru tertinggi Kuil Sembila Dewa yaitu Ki Prabulingga sudah menyebar ke seluruh Benua Sundaland.


8 Mahaguru lainnya saling berambisi untuk menjadi penerus dari Ki Prabulingga sebagai Mahaguru tertinggi. Hal itulah yang menyebabkan konflik internal di dalam Kuil Sembilan Dewa selama beberapa tahun terakhir.


"Biksu tua ini ingin meminta dukungan dari Sekte Empat Mata Angin agar bisa menjadi penerus dari Senior Prabulingga."


"Senior Batara, aku tidak keberatan jika harus mendukungmu untuk menjadi pemimpin Kuil Sembilan Dewa. Tetapi ada satu hal yang mengganjal dalam fikiranku."


"Untuk masalah konpensasi, kita bisa membicarakannya Matriach Ayu."


"Bukan itu, hanya saja aku masih tidak mengerti, bukankah Kuil Sembilan Dewa adalah tempat perkumpulan para biarawan yang mendalami ajaran kepercayaan kalian dan menyebarkannya keseluruh Benua Sundaland. Untuk apa kalian memikirkan masalah seperti ini?"


Mahaguru Batara terdiam selama beberapa saat, jika di fikir kembali apa yang di katakan oleh wanita paru baya di hadapannya itu memang benar adanya. Terkadang dirinya lupa atau tidak menyadari jika ia adalah seorang biksu yang seharusnya memfokuskan diri untuk mendalami ajaran Buddhisme, bukan malah memperebutkan posisi sebagai ketua Sekte.


"Matriach, apa yang anda katakan memang benar. Namun situasi di kuil tidak sesederhana itu, semakin lama para biksu senior mulai melupakan jati diri mereka, tak terkecuali Biksu tua ini. Itulah sebabnya, jika Biksu tua ini yang terpilih menjadi Mahaguru Tertinggi, saya akan memastikan akan memimpin kembali Kuil Sembilan Dewa menuju jalan yang benar."


Kali ini Matriach Ayu yang terdiam, jika seperti ini sulit bagi dirinya untuk menolak permintaan Biksu tua di hadapannya itu, apalagi Mahaguru Batara adalah biksu yang menduduki posisi ke 4 sebagai biksu terkuat di Kuil Sembilan Dewa.


"Senior Aku-!"


Matriach Ayu ingin mengatakan sesuatu tetapi terhenti ketika menyadari Gunung Angin tiba-tiba bergetar hebat.


Keduanya berdiri secara bersamaan sambil memperhatikan sekeliling. Tak lama kemudian seorang wanita cantik yang mengenakan gaun putih memasuki ruangan.


"Matriach, terjadi sesuatu di wilayan belakang sekte. Saya tidak yakin, tetapi kemungkinan besar ada yang mencoba menyerang Sekte Empat Mata Angin."


Mahaguru Batara dan Matriach Ayu bergegas keluar dan menuju belakang sekte, di ikuti para tetua dan murid sekte yang penasaran dengan gempa yang baru saja terjadi.


Sesampainya di sana, tebuh semua orang terdiam membisu, kedua bola mata mereka membulat dengan sempurna saat melihat dua pemuda tengah melakukan pertarungan yang sangat hebat.


"Karna..." Mahaguru Batara berteriak dengan lantang saat melihat murid jeniusnya tengah melakukan pertarungan dengan pemuda misterius.


Namun hal yang paling mengejutkannya adalah kekuatan yang di pancarkan oleh biksu muda itu membuat Mahaguru Batara menatap tak percaya.


"Senior Batara, saya tidak menduga anda memiliki murid yang sangat berbakat."


"Saudari ini...."


Mahaguru Batara ingin mengatakan sesuatu namaun ia mengurungkan niatnya, ia masih sulit percaya dengan kekuatan yang di tunjukan oleh muridnya tersebut.

__ADS_1


Di sisi lain, Aaron dan Karna terus bertukar serangan.


Nafas Karna sudah mulai tak beraturan, hampir seluruh tenaga dalamnya terkuras habis akibat terus mendapat serangan dari Aaron.


"Bagaimana kau mendapatkan tongkat terkutuk itu."


Aaron berkata dengan dingin, tatapan matanya tertuju kepada tongkat yang berada dalam genggaman bisku muda tersebut.


"Hm, tidak ku sangka kau mengetahui tentang tongkat ini juga."


"Tongkat Petaka Iblis-! Iblis Penguasa Malam-! Kegelapan Dunia."


Karna mengayunkan tongkatnya tanpa henti hingga mengeluarkan percikan api berwarna hitam.


Energi yang berasal dari tongkat Karna melesat kearah Aaron.


"Legenda Api Phoenix-! Teratai Api Samudra."


Aaron menebas setiap energi yang terarah kepadanya, perlahan tapi pasti tubuhnya mulai di selimuti kobaran api berwarna emas kemerahan.


Tidak ada satupun serangan Karna yang berhasil mengenai Aaron, hal itu membuat bisku muda tersebut merapatkan gigi-giginya.


Aaron mulai memperkecil jarak antara dirinya dengan Karna, ayunan pedang yang begitu lincah dan sulit di tebak mampu membuat Karna kesulitan, hingga membuatnya berada di posisi bertahan.


Aaron mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga hingga mengenaik biksu muda itu dengan telak.


Seketika tubuh Karna terpental jauh kebelakang beberapa meter sebelum kemudian kehilangan keseimbangan dan jatuh ke bawah.


Saat tubuh Karna hampir menghantam tanah tiba-tiba Mahaguru Batara melesat kearah Karna dan menangkap tubuhnya tepat waktu.


Mata biksu muda yang semula berwarna hitam pekat itu kini kembali seperti semula, "Guru, maafkan murid."


Suara Karna terdengar lirih dan lemah sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.


Aaron menghela nafas panjang saat pertarungannya dengan Karna berakhir. Ia lalu melangkah kearah Mahaguru Batara dan Karna.


"Senior maafkan aku, aku tidak bermaksud."


Aaron mulai menjelaskan situasi yang sebenarnya.


Mahaguru Batara yang semula terbakar emosi perlahan mulai mereda, tatapan matanya kini tertuju kepada tongkat yang masih berada di dalam genggaman muridnya.


Hanya dengan sekali lihat, Mahaguru Batara menyadari jika tongkat tersebut memancarkan aura jahat.

__ADS_1


"Saudara Muda, terimakasih karena sudah menyadarkan murid pria tua ini."


Mahaguru Batara menunduk hormat sebelum kemudian membawa tubuh Karna yang tak sadarkan diri menuju aula Sekte Empat Mata Angin.


Sedangkan Sekar Wangi dan Angel yang sejak awal menyaksikan keduanya bertarung masih terdiam membisu, walaupun mereka sudah berkali-kali melihat kemampuan Aaron, tetapi keduanya tetap saja merasa takjub.


"Kali ini kau tidak salah memilih pria Sekar."


Entah sejak kapan Matriach Ayu sudah berdiri diantara Angel dan Sekar Wangi, ia tersenyum menggoda hingga membuat wajah Sekar Wangi merah merona.


"Guru, aku dan Banyu Geni tidak memiliki hubungan yang spesial, kami hanya berteman."


"Hm! Apa kau yakin.."


"Guru..."


Sekar Wangi melangkah pergi karena tidak tahan terus mendapat godaan dari wanita paru baya tersebut.


"Fuhhh! Pertarungan yang melelahkan."


Aaron mengusap keringat yang menghiasi dahinya, ia berjalan menghampiri Matriach Ayu dan Angel yang kini terlibat obrolan kecil.


"Matraich..." Aaron memberi hormat.


"Banyu Geni, kau pemuda gagah dan pemberani. Memiliki ilmu silat yang sangat tinggi terlepas dari usiamu yang masih belasan tahun."


Matriach Ayu tersenyum manis kearah Aaron, wanita paru baya itu memuji kekuatan yang dimiliki oleh pemuda tampan bermata indah tersebut.


"Aku sama sekali tidak keberatan jika kau memiliki lebih dari satu istri, asalkan kau bisa berprilaku adil terhadap istri-istrimu. Tetapi terlepas dari semua itu..." Matriach Ayu menghentikan perkataannya sambil melirik kearah Angel. "Lupakan..."


Setelah mengatakan itu, Matriach Ayu berjalan meninggalkan Aaron dan Angel yang masih terdiam membisu.


**Note.


Setelah melewati diskusi yang panjang akhirnya novel ini tidak di anggap plagiat, karena memang perbedaan antara Novel RPP dan sebelah sangat jauh.


Oknum yang melaporkan Novel RPP sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya.


Mulai saat ini Novel Rainkarnasi Pendekar Phoenix kembali Up setiap hari...


Jangan Lupa Berikan Reting Bintang 5 ⭐⭐⭐⭐⭐, dan untuk kalian yang belum baca Novel Legenda Pedang Naga, Skuyyy di kepoin juga...


Salam Hangat Dari Author Tercinta...

__ADS_1


Muachh Muachh😁🥰😘😍**


__ADS_2