
Ketiga beruang besar dengan tubuh setinggi 200 meter itu menatap kearah Aaron dan Sekar Wangi dengan tatapan lapar, seolah mereka sedang menemukan sebuah mangsa yang pas untung disantap.
"Tatapan mereka seperti tidak bersahabat" kata Aaron yang membuat Sekar Wangi menoleh kearahnya.
Ingin rasanya Sekar Wangi memukul kepala pemuda tampan itu agar otaknya sedikit lebih berguna, tidak hanya mesum tetapi juga dia sangat bodoh, bagaimana bisa Aaron masih bisa berkata seperti itu yang sudah jelas jika ketiga beruang besar tersebut berniat ingin menjadikan keduanya santapan makan siang.
Namun belum sempat ia ingin mengeluarkan kata-kata kasar, salah satu beruang besar tersebut sudah berlari kearahnya dengan mengarahkan cakar-cakar miliknya yang terlihat sangat tajam.
Saat jarak antara keduanya tinggal beberapa langkah tiba-tiba sebuah pukulan sudah melayang kearah beruang tersebut hingga membuatnya terpental jauh kebelakang, "Ingin melukainya, kau butuh waktu 100 tahun untuk bisa melakukannya" kata Aaron dengan dingin.
Sekar Wangi yang melihat itu membulatkan matanya, "Kau...kau bagaimana bisa" tanya Sekar Wangi dengan nada yang sedikit gugup.
"Kenapa kau terkejut seperti itu hanya karena aku bisa membuat beruang jelek itu terpental jauh"
Aaron merasa heran dengan keterkejutan gadis bercadar itu yang menurutnya terlalu berlebihan, bukankah sebelumnya ia sudah melihat bagaimana dirinya mengalahkan jagoan terkuat Perampok Sebelas Komodo, walaupun sebenarnya itu bukan dirinya.
Dengan cepat Sekar Wangi menggelengkan kepalanya, sebenarnya bukan hal itu yang membuat Sekar Wangi terkejut, tetapi ia terkejut saat melihat ada sebuah kilatan api dan air di kedua mata Aaron saat menatap kearahnya tadi, 'Apa mungkin itu hanya perasaanku saja' kata Sekar Wangi dalam hati.
"Jangan melamun di saat suasana sedang genting seperti ini" ucap Aaron sebelum kemudian ia melesat kearah dua beruang lainnya yang kini sudah berlari kearah keduanya.
Dengan cepat Aaron dan dua beruang besar itu saling bertukar serangan, salah satu beruang mengayunkan tangannya kearah Aaron, namun dengan mudah Aaron dapat menghindarinya.
Baru saja ia menghela nafas panjang, beruang yang satunya sudah berada di belakang Aaron, dengan cepat beruang itu menendang punggung Aaron, hingga membuat pemuda tampan tersebut terhayung kedepan.
"Cih, sial"
Sekilas Aaron melirik kearah Sekar Wangi yang masih terdiam membisu dengan menatap kearahnya, "Apa kau akan menunggu kematianku" teriak Aaron sedikit kesal.
__ADS_1
Sekar Wangi yang segera tersadar dari lamunannya kemudian melesat kearah Aaron.
"Ma....maafkan aku" ujarnya sambil menundukan kepalanya.
"Sudahlah, kita fokuskan dulu dengan ancaman yang berada di hadapan kita"
Dengan cepat Sekar Wangi menganggukan kepalanya, kemudian ia mulai menarik pedang yang berada di punggungnya.
"Mati kau beruang jelek"
Sekar Wangi mengayunkan pedang miliknya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat beruang tersebut mundur secara perlahan, dalam sekejap beberapa tebasan berhasil melukai beruang itu yang mengakibatkannya meraung kesakitan.
"Arrrrghhhhhhhhh"
"Tarian Pemusnah Samudra" teriak Sekar Wangi yang seketika pedang miliknya membelah tubuh beruang besar itu menjadi dua bagian.
Dan hal itu pun sukses membuat Aaron membulatkan matanya dengan sempurna, "Menyeramkan" gumam Aaron pelan.
Beruang yang satunya terdiam dengan tatapan ketakutan saat melihat temannya terbelah menjadi dua bagian, Sekar Wangi kemudian menengok kearah Beruang yang masih mematung tersebut dengan sorot mata tajam dan sebuah senyuman yang sangat mengerikan.
Seolah mengetahui nyawanya sedang terancam, beruang tersebut segera berlari terbirit-birit, saat Sekar Wangi berniat mengejarnya tiba-tiba sebuah tangan menahan pergelangan tangannya.
"Jangan di kejar" kata Aaron.
"Kenapa?"
"Sudahlah, apa kau tidak menyadari jika penampilanmu saat ingin sangat mengerikan, lihat wajah cantikmu, kini di penuhi dengan noda darah dan keringat"
__ADS_1
Kemudia Aaron melepaskan cadar merah yang menutupi wajah cantik Sekar Wangi, dan mulai mengusap lembut pipi halus yang kini di hiasi oleh noda darah itu.
Tatapan mata keduanya saling bertemu, Sekar Wangi menatap keadalam mata berbeda warna milik Aaron yang menurutnya sangat menakjubkan, entah kenapa jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya.
Namun sebuah kilatan api dan air tiba-tiba tergambar di kedua mata Aaron yang membuat Sekar Wangi mundur beberapa langkah.
"Maafkan aku" ucap Aaron yang menjadi salah tingkah.
"Hm, terimakasih...sebaiknya kita mencari sungai, hari juga sudah mulai sore" kata Sekar Wangi sambil berjalan mendahului Aaron.
Keduanya mulai melanjutkan perjalan bersama dengan Sekar Wangi yang berada beberapa meter di depan Aaron.
Sejak kejadian beberapa saat yang lalu suasana menjadi sedikit canggung, bahkan sampai mereka menemui sungai keduanya tidak saling berbicara.
'Aaron, apa kau tau? Gadis bernama Sekar Wangi itu memiliki sifat yang sama dengan Delima' celetuk Banyu Geni yang berada di dalam kepala Aaron.
'Hm, maksud senior Putri Delima'
'Iyah, keduanya memiliki kecantikan yang sangat luar biasa, aku bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana bentuk wajahnya'
'Lalu, kenapa senior tidak menikah dengan Putri Delima? Melainkan dengan gadis lain? Apa yang terjadi'
Banyu Geni yang mendengar pertanyaan itu hanya menghela nafas panjang sebelum kemudian mulai menceritan jika sebenarnya ia dengan Delima sudah bertunangan dan akan segera melaksanakan pernikahan.
Namun karena suatu misi yang sangat penting Banyu Geni menunda pernikahan itu selama beberapa tahun, tapi siapa sangka saat dirinya kembali Delima sudah menikah dengan orang lain yang tidak lain adalah juniornya sendiri yaitu Arirang.
Aaron yang mendengar hal itu tak bisa berkata apa-apa, 'Bukankah Putri Delima sangat mencintai senior, lalu kenapa dia menikah dengan orang lain?'
__ADS_1
'Sebenarnya Delima itu memiliki kepribadian ganda yang bernama Ara, dia selalu muncul di saat Delima sedang dalam keadaan tertekan, mungkin karena aku terlalu lama pergi...'
'Secara tidak langsung yang menikah dengan Arirang adalah Ara, kepribadian lain dari Delima'