Reinkarnasi Pendekar Phoenix

Reinkarnasi Pendekar Phoenix
Restoran Cita Rasa


__ADS_3

Eluna dan yang lainnya sudah sampai di sebuah kota bertama Kota Wisteria, " Setelah melewati kota ini, kita akan sampai di Sekte Angsa Emas, tempat diriku tinggal dan dilahirkan " ucap Eluna.


Sekte Angsa Emas adalah sebuah sekte menengah aliran netral yang berdiri di Kekaisaran Sunda Empire.


Walaupun Sekte Angsa Emas hanya sekte menengah tetapi kekuatan yang sekte itu miliki masih sangat di perhitungkan.


Apalagi ada kabar angin yang mengatakan jika Sekte Angsa Emas berada di bawah naungan Organisasi Gerhana Matahari yang menjadi pilar utama kekuatan Benua Sundaland, itulah mengapa tidak ada sekte lain yang berani mengusik Sekte Angsa Emas.


Saat sudah berada di tengah kota, Eluna dan yang lainnya memutuskan untuk singgah di restoran yang memiliki 5 lantai dengan sebuah plang nama Restoran Cita Rasa.


" Sama seperti restoran seribu satu rasa di Benua Element, setiap lantai yang berada di restoran ini memiliki harga dan makanan yang berbeda..."


" Semakin tinggi lantainya maka akan semakin mahal harganya..." jelas Eluna.


Saat mereka memasuki lantai satu, suasana meriah langsung menyambut keempatnya, setiap tamu yang berada di sana berasal dari kalangan atas, itu terlihat dari pakaian yang mereka gunakan terbuat dari sutra berkualitas tinggi.


Sepertinya restoran tersebut memang di peruntukan untuk mereka yang memiliki kekayaan berlebihan.


Merasa lantai satu terlalu ramai, Eluna mengajak mereka menaiki lantai kedua, dan disana suasananya tidak seramai di lantai satu, namun tetap saja Eluna merasa tidak nyaman, terlebih lagi saat ada beberapa pasang mata yang menetap kearahnya dengan tatapan genit.


Kembali mereka menaiki lantai ketiga, dan disana ada sekitar 20 meja yang tertata rapih dengan 10 meja yang sudah terisi, berbagai hiasan seperti guci dan beberapa lukisan menghiasi setiap sudut ruangan tersebut.


Jarak meja satu dengan meja yang lainnya pun terpaut cukup jauh.


Starla yang sudah merasa lelah langsung berinisiatif untuk berjalan ke sudut ruangan dekat dengan jendela besar.


Melihat hal itu Eluna,Angel dan Aldy langsung berjalan kearah Starla. Dan tak lama kemudian salah satu pelayan menghampiri meja mereka dengan membawa sebuah gulungan kertas yang berisi daftar menu.


" Aku ingin makan Steak...." ucap Starla.


" Aku Ramen..." pinta Aldy.


" Aku Sushi.." kata Angel.

__ADS_1


Pelayan yang mendengar pesanaan dari ketiga muda mudi itu terliahat kebingungan, dia yakin ini pertama kalinya dia mendengar nama makanan tersebut.


" Khem, kami ingin memesan daging siluman dengan beberapa hidangan penutup " ucap Eluna yang baru menyadari kesalahan mereka.


" Eh...kenapa..." tanya Starla.


" Apa kau lupa kita sedang berada dimana " bisik Eluna pelan.


Starla yang baru menyadari maksud dari perkataan Eluna langsung menepuk jidatnya, sedangkan Aldy dan Angel menggarukkan kepalanya yang tak gatal.


Mereka semua menjadi sedikit salah tingkah saat melihat reaksi pelayan yang mencatat pesanan mereka yang masih terlihat bingung.


" Baik nona, mohon di tunggu pesanannya " ucap pelayan tersebut sebelum kemudian ia segera pergi menuju dapur untuk menyiapkan pesanan mereka.


Tak lama kemudian beberapa pelayan datang menghampiri meja mereka dengan membawa berbagai hidangan lezat, dan mereka pun menyantap hidangan tersebut dalam diam.


Selang beberapa saat kemudian dari arah pintu masuk, seorang pemuda dengan pakaian layaknya bangsawan besar berjalan menuju salah satu meja yang berada tepat di tengah-tengah ruangan.


Kemudian bangsawan muda itu mengedarkan pandangannya, seketika pandangannya terhenti saat melihat satu meja yang diisi oleh tiga gadis yang sangat cantik.


Tanpa menunggu lebih lama, dirinya segera menghampiri meja yang di tempati ketiga gadis berparas cantik tersebut.


" Salam nona-nona, perkenalkan namaku Raden Surakerta, putra sulung dari Keluarga Bangsawan Kertawijaya " katanya sambil tersenyum lembut.


Starla,Eluna dan Angel menatap pemuda tak tahu malu itu dengan tatapan datar, ketiganya bisa merasakan jika kekuatan pemuda tersebut masih berada di bawah mereka.


Surakerta yang tak mendapat respon dari ketiga gadis cantik tersebut hanya tersenyum kecut.


Karena memang Surakerta belum pernah di tolak oleh gadis manapun, terlebih lagi saat ia mengatakan jika dirinya putra sulung dari Keluarga Bangsawan Kertawijaya.


" Nona, boleh ku tau siapa namamu " tanyanya lagi, kini pandanganya tertuju kepada Starla yang memiliki paras lebih cantik.


" Starla... "

__ADS_1


" Hah? Siapa....! Ss....Strala...Sungguh nama yang indah " puji Surakerta sedikit terbatah-batah karena namanya yang terdengar sangat asing.


" Nona, jika berkenan bolehkan saya mengajak nona untuk mak...."


" Tidak, terimakasih atas tawarannya, aku tidak berminat menerima tawaranmu.. " potong Starla tiba-tiba.


Mendengar hal itu jelas Surakerta sangat kesal atas penolakan tersebut, kemudian dirinya mengepalkan kedua tanganya kuat-kuat berniat memberikan pelajaran kepada gadis sombong itu.


" Nona, aku sudah berusaha bersikap baik kepadamu, tetapi kau bahkan tidak memberiku muka sedikit pun " kata Surakerta bersamaan dengan aura pembunuhan yang ia keluarkan.


" Jangan melakukan sesuatu yang akan kau sesali... " kata sebuah suara dari samping Surakerta.


Surakerta yang mendengar perkataan tersebut segera membalikan tubuhnya untuk mengetahui pemilik suara tersebut.


Dan disana ia mendapati seorang pemuda dengan rambut berwarna putih sedang melihatnya dengan tatapan membunuh, " Lancang! Beraninya kau berkata seperti itu kepada tuan muda Surakerta " kata pria sepuh bertopeng yang berada tak jauh dari mereka.


Kemudian pria sepuh itu menarik pedang miliknya dan dalam sekejap dia sudah berpindah tempat di samping Aldy, namun belum sempat dirinya mengayunkan pedang tersebut tiba-tiba suru yang berada disekitarnya berubah menjadi sangat dingin, bahkan saking dinginnya nafas yang ia keluarkan pun menimbulkan uap berwarna putih.


" Senior, kau terlalu cepat 100 tahun untuk bisa membunuhku " kata Aldy dengan dingin.


Sebelum kemudia ia memberikan beberapa pukulan kearah pria sepuh bertopeng itu yang seketika membuatnya terpental jauh kebelakang hingga menabrak dinding.


Para pengunjung dan pelayan yang melihat kejadian itu berteriak histeris, bahkan sebagian sudah meninghalkan ruangan tersebut, karena tidak ingin terlibat.


Kemudian Aldy berjalan mendekat kearah Surakerta.


" Seujung kuku saja kau menyentuh Milikku, aku tidak akan segan-segan membuat seluruh tubuhmu menjadi bongkahan es..." ucap Aldy sambil menatap datar kearah Surakerta.


#**Note


Vote Like dan Comentnya dong...


Kabar gembira untuk kita semua, aku sudah meremik novel Legenda Pendekar Phoenix, tapi di upnya nanti setelah novel yang satu ini tamat, atau setidaknya mendapat 1 juta views**...

__ADS_1


__ADS_2