
Aaron dan Sekar Wangi melanjutkan perjalanan menuju Hutan Kabut Kematian, saat ingin melintasi perbatasan antara wilayan Sunda Empire dan Bromo Empire sekelompok perampok tiba-tiba menghadang keduanya.
"Serahkan semua harta kalian, atau kalian akan mati disini..." ucap salah satu dari mereka.
"Siapa mereka..." bisik Aaron kepada Sekar Wangi.
" Mereka adalah Perampok Sebelas Komodo , salah satu perampok terhebat yang ada di Benua Sundaland " jawab Sekar Wangi.
"Apa itu artinya kita sedang di rampok" tanya Aaron lagi yang seketika membuat Sekar Wangi ingin muntah darah.
Ia kemudian melirik sekilas kearah Aaron yang masih dengan wajah bingung dan penuh tanyanya, Sekar Wangi heran bagai mana bisa pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut pemuda tampan tersebut.
"Kau bodoh! " kata Sekar Wangi.
"Nona, apa kau barusan mengataiku bodoh..."
"Kau memang bodoh, jelas kita sedang di rampok tapi kau malah masih menanyakan hal tersebut, jika bukan bodoh lalu apa namanya..."
"Aku cuma bertanya, kau tidak perlu mengataiku bodoh, kau sendiri juga gadis ceroboh"
Para perampok yang melihat pertengkaran kecil tersebut menaikan alisnya, sebelum kemudian saling berpandangan satu sama lain. 'Bukankan mereka sedang dalam bahaya' mungkin itu yang ada di dalam pikiran mereka saat ini.
"Hey, kenapa kalian berdua malah bertengkar, bukankah kalian adalah sepasang kekas-"
BUGHHHH..
Belum sempat perampok itu menyelesaikan perkataanya tiba-tiba sebuah pukulan mendarat tepat di perutnya hingga membuatnya terpental jauh kebelakang.
Para perampok yang melihat kejadian tersebut membulatkan matanya dengan sempurna, sebelum kemudian mereka secara bersamaan berada di posisi menyerang.
"Jangan mengatakan sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi" kata Sekar Wangi dingin.
Kini kedua matanya menatap para pembunuh itu dengan sangat tajam, seolah ada api yang meluap-luap di kedua bola mata gadis cantik tersebut.
__ADS_1
Aaron yang melihat hal tersebut menelan ludahnya dengan kasar, tidak... dia tidak takut sama sekali dengan gadis cantik itu, hanya saja dia merasa bukankah itu terlalu berlebihan.
"Bukankah kau terlalu berlebihan melakukan hal itu?"
"Jangan bodoh, aku tidak ingin ada orang lain yang mengatakan jika aku adalah kekasihmu, percayalah, aku sudah memiliki tunangan yang jauh lebih tampan darimu"
Aaron terbatuk pelan, ia tidak mengetahui apa yang harus ia jawab, pemuda tampan itu benar-benar kehabisan kata-kata saat melihat reaksi Sekar Wangi yang menurutnya terlalu berlebihan.
Tapi entah kenapa hal tersebut membuat Aaron merasaka kecewa dan sedikit kesal, 'Ada apa dengan perasaanku?' Tanya Aaron dalam hati.
Namun belum sempat ia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tiba-tiba sebuah anak panah melesat kearahnya dengan kecepatan tinggi, Aaron yang memiliki insting dan indra pendengaran yang tajam mampu menangkap panah tersebut dengan sebelah tangan.
Jelas hal tersebut membuat mereka yang melihatnya membulatkan mata dengan sempurna, karena memang mereka sama sekali tidak bisa melihat pergerakan dari anak panah tersebut.
"Tidak ku sangka ada yang mampu menangkap anak panahku dalam situasi seperti itu" kata sebuah suara dari arah belakang para perampok itu.
Seketika dari ruangan hampa muncul seorang pria sepuh dengan jubah hitam serta sebagian wajahnya di tutupi oleh topeng giok.
"Mengurus dua bocah kecil saja kalian tidak bisa" umpat Tetua Ed.
Sekar Wangi yang mendengar nama Tetua Ed menyipitkan matanya seoalah ia sedang mengingat sesuatu, dan seketika sebuah ingatan terlintas di kepalanya, dengan cepat ia mundur beberapa langkah.
"Tetua Ed, Sang Komodo Hitam" seru Sekar Wangi dengan mata yang melebar.
"Kau mengenalku! Tidak ku sangka ada yang masih mengenali namaku, ku pikir orang-orang mulai melupakannya.."
"Siapa lagi kakek tua itu?" tanya Aaron.
Sekar Wangi kemudian menjelaskan sedikit tentang Tetua Ed, dia adalah salah satu pemimpin dari Perampok Sebelas Komodo, yang di juluki sebagai Komodo Hitam, di yakini kelompok Perampok Sebelas Komodo berada di bawah komandonya.
Walaupun dia tidak menjabat sebagai Patriach, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang berani menyinggung Sang Komodo Hitam.
"Tingkat kekuatannya sendiri berada di Pendekar Langit gerbang 5"
__ADS_1
Aaron yang mendengar penjelasan tersebut hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Apa kalian sudah selesai berdiskusi" tanya Tetua Ed sambil tersenyum sinis.
Tetua Ed sedikit waspada terhadap pemuda tampan dengan rambut pendek bermata emas biru itu, apa lagi saat Aaron berhasil menangkap anak panahnya dengan mudah, Tetua Ed yakin jika Aaron bukan orang sembarangan.
"Kami tidak memiliki barang apapun, jika kalian mau, ini ambilah!! Dan biarkan kami lewat" kata Aaron sambil melemparkan Debit Card berwarna gold.
Dengan cepat salah satu diantara mereka menangkap Debit Card tersebut,
"Apa ini..."
"Itu namanya Debit Card, kalian bisa membeli apapun dengan Debit Card tersebut" jelas Aaron.
"Jangan bercanda, apa kau berniat membohongi kami" teriak salah satu dari mereka.
"Aaron, benda apa yang kau lemparkan itu?"
"Sudah ku katakan namanya Debit Card, it-"
Saat Aaron ingin melanjutkan perkataanya tiba-tiba ia teringat akan satu hal, 'Tunggu, bukankah aku sedang berada di Benua Sundaland' ucapnya dalam hati.
Seketika itu juga Aaron menepuk jidatnya sendiri, 'Dasar bodoh!' umpatnya pada diri sendiri, kenapa sejak Aaron berada di Benua Sundaland ia semakin pelupa.
Belum sempat ia selesai mengutuk kebodohannya lagi-lagi sebuah anak panah melesat kearahnya dengan kecepatan tinggi, namun belum sempat anak panah itu berhasil mengenainya Aaron dapat dengan mudah menangkap anak panah tersebut.
"Sepertinya kau tidak bisa sabar kakek tua, baikalah aku akan melayanimu" ucap Aaron dengan dingin, sebelum kemudian ia menghilang dari pandangan semua orang dan muncul tepat di hadapan Tetua Ed.
"Cih!! trik murahan" kata Tetua Ed sambil menahan pukulan yang mengarah kepadanya.
#**Note
Maaf melupakan novel ini, mulai hari ini saya usahakan up setiap hari**....
__ADS_1