
Putri Xiao Lin Mei mencabut pedang salah satu dari mereka yang sudah terkapar dan menyerang mereka secara bersamaan.
Meski dirinya dibantu oleh pengawalnya akan tetapi mereka masih kalah jumlah. Dengan tubuh yang masih lemah fokus Putri Xiao Lin Mei terbagi dan karena itulah dirinya hampir saja terkena serangan salah satu dari mereka, saat Putri Xiao Lin Mei sudah pasrah dengan keadaan justru dia mendengar teriakan seseorang.
"Putri/Mei mei!!"
Srattt ... Argh...
****
Putri Xiao Lin Mei memejamkan matanya saat mengetahui salah satu dari mereka menyerang dirinya yang saat itu sedang lengah. Pada saat itu Putri Xiao Lin Mei sudah pasrah jika harus menghadapi kematian untuk yang kedua kalinya.
Disaat dia sudah merasa pasrah akan kemungkinan terburuk yang akan dia terima, Putri Xiao Lin Mei merasakan sebuah dekapan dari orang yang dia sendiri tidak tahu siapa orang tersebut yang pasti orang tersebut rela mengorbankan dirinya untuk keselamatannya.
Terdengar dengan jelas teriakan kesakitan ketika benda itu menggores punggungnya. Putri Xiao Lin Mei masih terkejut dengan kejadian yang begitu tiba-tiba begitu juga dengan Pangeran Xiao Jinshi yang tidak menyangka jika Raja Zhang Jiang Wu menghadang orang itu dan merelakan tubuhnya demi menyelamatkan adik perempuannya.
Kini giliran Pangeran Xiao Jinshi yang mengambil alih pertarungan meskipun tenaganya sudah terkuras, tapi pangeran tidak mau menyerah begitu saja. Dengan sisa tenaga yang masih dia miliki Pangeran Xiao Jinshi menyerang mereka satu persatu.
Dengan keadaan terluka Raja Zhang Jiang Wu tidak melepaskan dekapannya terhadap Putri Xiao Lin Mei, dia takut jika masih ada yang mencoba mencelakai Putri Xiao Lin Mei.
Putri Xiao Lin Mei mencoba mengangkat wajahnya menatap orang yang telah menolongnya. Dia melihat seorang pria tampan dengan alis yang tebal dan memiliki hidung yang mancung, untuk sesaat Putri Xiao Lin Mei seperti tersihir oleh ketampanan pria dihadapannya ini tapi dengan cepat tersadar karena mengetahui situasinya sedang tidak tepat.
"Kamu tidak apa-apa?"
Suara lembut yang sudah lama tidak didengar oleh Raja Zhang Jiang Wu akhirnya bisa dia dengar lagi dan dia cukup merindukan suara itu, karena sejak kematian permaisuri yang tidak lain adalah ibunda Putri Xiao Lin Mei sendiri, dirinya tidak pernah pernah sekalipun bertemu dengannya. Putri Xiao Lin Mei seakan membuat jarak dengannya dan sangat sulit untuk ditemui bahkan dengan keluarganya sendiripun dilarang bertemu oleh Putri Xiao Lin Mei.
"Aku tidak kenapa-kenapa, jangan pikirkan aku. Yang terpenting kamu selamat."
"Tapi—"
"Sttt jangan khawatirkan aku, luka ini tidak seberapa dibandingkan saat kamu pergi menjauh dariku tanpa alasan yang jelas. Izinkan aku untuk memelukmu sebentar saja, agar aku bisa menyalurkan perasaan rindu yang kupendam selama ini tanpa ada seorang pun yang mengetahui perasaan ini."
Walaupun masih bingung dengan ucapan pria dihadapannya ini Putri Xiao Lin Mei pun mengangguk mengizinkan pria asing itu memeluknya, dia merasa bahwa pria dihadapannya ini bukanlah orang yang jahat, terlihat dari sikapnya dia yang telah rela berkorban untuknya.
Putri Xiao Lin Mei tidak sengaja menyentuh luka Raja Zhang Jiang Wu hingga membuatnya mendesis manahan sakit. Putri Xiao Lin Mei terkejut mendengarnya dia merasakan telapak tangannya basah dan mencoba memastikannya. Dia melihat bercak darah yang lumayan banyak di telapak tangannya.
__ADS_1
"Astaga! Punggungmu terluka," paniknya.
"Tenanglah aku tidak apa-apa!" seru Raja Zhang Jiang Wu.
"Ck tidak apa-apa bagaimana? Itu lukanya pasti dalam sampai keluar banyak darah seperti itu," decak Putri Xiao Lin Mei.
Putri Xiao Lin Mei membantu Raja Zhang Jiang Wu berjalan dengan tubuh kecilnya, meskipun raut wajahnya tidak memperlihatkan ekspresi kesakitan atau cenderung datar, tapi dia tahu persis bagaimana rasanya ketika benda tajam itu menggores tubuhnya.
"Aku tahu dibalik wajah tembok mu itu, kamu pasti merasakan sakit yang luar biasa. Tapi, kamu pandai menutupinya dari orang lain."
" Kamu tahu darimana?"
"Dulu aku juga pernah merasakannya dan kejadiannya hampir mirip, hanya saja ... saat itu yang aku lindungi adalah anak kecil."
"Benarkah?"
"Aku tidak berbohong, dan akibat luka itu aku sampai tidak sadar selama beberapa hari."
Di kehidupan sebelumnya saat Alya sedang melewati jalur yang sepi dia melihat anak jalanan yang sedang dipalak oleh preman yang menjaga wilayah itu. Alya yang tidak bisa melihat kekerasan dihadapannya menolong anak jalanan itu hingga suatu saat preman itu mengeluarkan senjata tajam dari sakunya dan mengarahkannya kepada anak yang tidak bersalah itu.
"Jiang Wu ... kamu tidak apa-apa?"
Setelah selesai mengurus sisa pertarungan tadi, Pangeran Xiao Jinshi memastikan keadaan sahabatnya itu, terlihat bercak darah mengotori pakaian yang di pakainya. Pangeran Xiao Jinshi masih tidak habis pikir kenapa sahabatnya itu rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan adiknya.
"Gege ... punggungnya terluka! Kita harus segera mengobatinya sebelum bertambah parah."
Raja Zhang Jiang Wu tersenyum memandang gadis kecil yang selama ini selalu dia rindukan dan tunggu kehadiran nya. Tidak ada yang berubah satupun dari dirinya, gadis kecilnya itu selalu mengkhawatirkannya saat terluka.
Dulu sewaktu Raja Zhang Jiang Wu sedang berkunjung ke istana awan untuk suatu pekerjaan, dia tidak sengaja menabrak Putri Xiao Lin Mei yang saat itu sedang berjalan menunduk sambil membawa vas bunga yang terbuat dari beling karena tidak fokus akhirnya menabrak Raja Zhang Jiang Wu dan vas yang dibawanya jatuh dan pecah.
Saat Raja Zhang Jiang Wu membantu membersihkan pecahannya tanpa sengaja jarinya tergores pecahan beling. Mengetahui dirinya terluka Putri Xiao Lin Mei panik dan langsung membawanya ke tempat tabib istana.
Mengingat kejadian tersebut Raja Zhang Jiang Wu merasa bahagia, karena semenjak saat itu hubungan mereka menjadi lebih dekat dan tak terpisahkan, sampai akhirnya saat Permaisuri Shi An Mei meninggal Putri Xiao Lin Mei sendiri yang menyuruhnya menjauh dari kehidupannya.
Saat itu setelah menghadiri pemakaman permaisuri, Raja Zhang Jiang Wu pergi menemui Putri Xiao Lin Mei dengan niat menghibur dia yang tengah berduka atas kepergian ibundanya.
__ADS_1
Namun, niat baiknya itu tidak diterima, Putri Xiao Lin Mei menyuruhnya pergi dari tempat itu dan melarang dirinya bertemu dengannya. Entah apa salahnya hingga dia tidak ingin menemuinya lagi yang pasti saat itu perasaan sakit, hancur dan kecewa bercampur menjadi satu.
Beberapakali Raja Zhang Jiang Wu mencoba untuk melupakan gadis kecilnya itu, akan tetapi semakin dia berusaha melupakan maka semakin kuat pula kenangan yang pernah mereka lewati bersama.
*****
Pangeran Xiao Jinshi memastikan perkataan adik perempuan nya itu dan benar saja darahnya keluar cukup banyak. Dia khawatir jika tidak segera ditangani akan semakin parah luka yang ditimbulkannya.
"Lebih baik kita cepat-cepat ke penginapan supaya kita bisa mengobatinya," ujar Pangeran Xiao Jinshi.
Dengan memapah Raja Zhang Jiang Wu mereka berjalan menuju kereta kuda yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda dengan aman.
Sedangkan prajurit yang bersama rombongan Pangeran Xiao Jinshi tadi tidak mengikuti perjalanan karena diperintahkan untuk membawa kawanan perampok tersebut ke istana, menyusul ketua perampok yang sudah terlebih dahulu dibawa oleh orang kepercayaan Raja Zhang Jiang Wu.
Prajurit tersebut juga diminta untuk menceritakan apa yang mereka lihat tanpa ada satupun yang ditutupi.
*****
Di kerajaan kegelapan.
Saat ini Ratu Ming Xia sedang berjalan kesana kemari mencari keberadaan putranya, dia menelusuri setiap sudut istana tanpa ada yang terlewat satupun.
Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak dan terus memikirkan keadaan putranya itu, padahal tadi perasaannya masih baik baik saja saat putranya pamit ke kamar.
Ratu Ming Xia sudah bertanya kepada setiap orang yang dia jumpai akan tetapi tidak ada satu orang pun yang melihat kemana Raja Zhang Jiang Wu pergi. Kini ratu hanya bisa berdoa dalam hati semoga di manapun putranya berada dia selalu dalam lindungan sang maha kuasa.
*****
Sedangkan di istana kerajaan awan sendiri Raja Xiao Ren masih mengerjakan berkas seperti biasanya, meskipun tanpa dibantu oleh Pangeran Xiao Jinshi dia masih mampu menyelesaikannya sendiri meskipun memerlukan waktu yang cukup lama.
Tak berselang lama seorang prajurit datang memberitahu jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya, dan ingin berbicara sesuatu dengannya.
Raja Xiao Ren menerka-nerka apa maksud dan tujuan orang tersebut datang menemuinya. Semoga saja itu bukan hal buruk.
Bersambung....
__ADS_1
Terimakasih sudah berkenan mampir di karya author, semoga sehat selalu serta terhibur dengan karya author.