
Pangeran Xiao Jinshi sudah mendapatkan apa yang diminta oleh Putri Xiao Lin Mei. Dibantu oleh pelayan pangeran berjalan menuju kamar yang sudah mereka pesan sebelumnya.
Sebenarnya bisa saja Pangeran Xiao Jinshi menyuruh orang lain untuk mencari bahan yang diminta oleh adiknya tersebut, akan tetapi dia ingin memberikan ruang mereka berdua supaya bisa menyelesaikan permasalahan mereka.
Saat ini pangeran sudah sampai di depan pintu kamar tempat adiknya serta sahabatnya tersebut berada. Saat ingin mengetuk pintu dia mendengar suara isak tangis seseorang perempuan dan Pangeran Xiao Jinshi sangat hapal suara itu.
Dengan tanpa permisi Pangeran Xiao Jinshi menerobos masuk untuk memastikan bahwa adiknya baik-baik saja.
Pertama kali yang dia lihat adalah Putri Xiao Lin Mei berada dalam dekapan Raja Zhang Jiang Wu dengan isak tangis, Pangeran Xiao Jinshi ingin bertanya akan tetapi Raja Zhang Jiang Wu mengisyaratkannya untuk diam.
Akhirnya pangeran menurut dan memilih membiarkan adiknya tersebut untuk meluapkan emosi yang dia pendam selama ini.
*****
Di kerajaan kegelapan.
Di tengah kegundahan hatinya Ratu Ming Xia mencoba untuk mengalihkan perhatiannya kepada hal yang lain agar perasaannya tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan Raja Zhang Jiang Wu yang saat ini belum dia ketahui keadaannya.
Di ambilnya peralatan menyulam miliknya di dalam kamar lalu berjalan menuju tempat yang sesuai agar hatinya lebih tenang, tujuannya kali ini adalah sebuah taman yang berada tidak jauh dari kediaman miliknya. Setelah sampai ketempat tujuannya sang ratu tersebut lalu duduk di bangunan dan mulai menyulam, rencananya hasil sulaman itu akan dia hadiahkan kepada calon permaisuri pilihannya yang akan dia jodohkan dengan putranya.
Jarum yang sudah diberi benang tersebut di masukkan satu persatu hingga membentuk motif bunga teratai yang sangat cantik berwarna merah muda, tidak hanya itu Ratu Ming Xia juga memberikan sebuah simbol huruf J serta L di sulaman tersebut.
"Akhirnya sudah jadi, semoga saja calon istri Zhang Jiang Wu menyukai sulaman ini." Ujar Ratu Ming Xia tersenyum senang melihat hasilnya.
"Ahh ... rasanya aku tidak sabar menunggu pernikahan mereka di tetapkan."
Senyumannya tidak pernah luntur dari wanita yang sudah tidak muda lagi itu, tetapi meskipun begitu wajahnya tampak awet muda. Ratu Ming Xia sangat berharap sekali bahwa putranya berjodoh dengan seorang putri dari kerajaan tetangga tersebut, mengingat bahwa kerajaan kegelapan dan kerajaan yang akan dia jodohkan dengan putranya tersebut memiliki hubungan yang sangat baik.
Sedangkan disisi lain Putri Xiao Lin Mei masih sesenggukan dalam pelukan Raja Zhang Jiang Wu, seseorang yang menurut penglihatannya merupakan sahabat dari pemilik asli dari tubuh yang sekarang dipakai nya.
Untaian kata maaf tidak pernah terputus dari bibir sang putri karena rasa bersalah yang terus menghantuinya. Meskipun yang berada di tubuh Putri Xiao Lin Mei saat ini hanyalah seorang jiwa yang tersesat tetap saja membuatnya merasa bersalah, dia seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Raja Zhang Jiang Wu ketika niat baiknya di tolak mentah-mentah oleh Putri Xiao Lin Mei.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, Jiang Wu?" tanya Pangeran Xiao Jinshi.
Masih dengan air mata yang membanjiri wajah cantiknya sambil sesekali mengusap air matanya Putri Xiao Lin Mei melepaskan pelukannya dan berhambur ke arah Pangeran Xiao Jinshi.
Dengan sesenggukan dia berkata, "gege maaf," lirihnya.
Mengusap air mata di pipi adiknya, "kenapa meminta maaf? Mei mei tidak membuat kesalahan apapun."
__ADS_1
"Lin Mei sudah mengingat semuanya."
Pernyataan yang terlontar dari mulut Putri Xiao Lin Mei membuat Pangeran Xiao Jinshi melepas rengkuhannya dan menatap netra adiknya tersebut untuk mencari kebohongan dibaliknya. Namun, sorot mata yang sendu itu tidak memancarkan kebohongan sama sekali membuat Pangeran Xiao Jinshi senang dengan kesembuhannya.
Mulut Pangeran Xiao Jinshi tidak pernah berhenti mengucapkan kata syukur atas apa yang terjadi hari ini. Di balik penyerangan tiba-tiba yang hampir merenggut nyawa mereka, ternyata Tuhan masih berbaik hati untuk memberikan kesembuhan adiknya.
"Lin Mei minta maaf, tidak seharusnya Lin Mei menjauhi kalian semua setelah kepergian ibunda. Mei mei sadar jika perilaku mei mei selama ini salah, karena rasa kehilangan ibunda yang begitu besar membuat ku mengambil keputusan yang salah dengan pergi menjauh dari kalian semua."
" Seharusnya dengan kepergian ibunda membuat kita semakin dekat dan saling menguatkan, akan tetapi dengan bodohnya aku menjauhi kalian tanpa sebab."
Putri Xiao Lin Mei menunduk sedih mengingat bagaimana perilaku pemilik sebelumnya yang menyia-nyiakan keluarga dan sahabat yang tulus menyayanginya hanya demi menuruti kemauan orang lain yang ingin menghancurkannya.
"Stttt ... semua sudah berlalu, tidak usah dipikirkan lagi. Kami mengerti bagaimana perasaan mei mei waktu itu sedang berduka, jadi tidak bisa berpikir jernih. Yang terpenting sekarang mei mei sudah menyesali semuanya dan jangan pernah di ulangi lagi. Kita doakan ibunda, supaya tenang di sana."
"Dan mencari keadilan untuknya," gumam Putri Xiao Lin Mei.
Samar-samar Pangeran Xiao Jinshi mendengar Putri Xiao Lin Mei bergumam tentang keadilan. Ingin sekali bertanya apa yang dia gumam kan akan tetapi suara prajurit menginterupsinya.
"Ampun pangeran, hamba datang membawa seorang tabib sesuai perintah pangeran."
Perkataan prajurit tersebut sontak membuat mereka tersadar akan tujuan utama mereka datang kemari.
"Ya tuhan aku melupakan Jiang Wu," panik Putri Xiao Lin Mei.
Putri Xiao Lin Mei berjalan ke sana kemari untuk mencoba mengobatinya melupakan keberadaan tabib itu.
Melihat kepanikan adiknya Pangeran Xiao Jinshi mencoba menenangkannya, dia menuntun nya duduk di kursi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Mei mei tenang, biar tabib memeriksa keadaannya semoga tidak terjadi apa-apa dengan Jiang Wu."
"T–tapi bagaimana jika ...."
"Shuttt ... mei mei tenang saja. Tabib itu pasti bisa menyembuhkan Jiang Wu," sela Pangeran Xiao Jinshi.
"Gege percaya dengan tabib itu?"
"Gege percaya dengan tabib itu dan gege juga percaya kalau Jiang Wu adalah orang yang kuat," ujarnya meyakinkan.
"Tapi bagaimana jika tidak selamat, apakah bibi Ming Xia mau memaafkan aku? Aku takut jika bibi akan membenciku setelah apa yang terjadi saat ini, aku takut kembali merasakan sakitnya kehilangan."
__ADS_1
Pangeran Xiao Jinshi membawa Putri Xiao Lin Mei kedalam dekapannya tangannya mengusap pundak sang adik untuk memberikan kenyamanan. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk mengurangi kecemasannya, pangeran mengerti apa yang dirasakan oleh Putri Xiao Lin Mei saat ini rasa sakit atas kehilangan masih dapat dia rasakan dengan jelas dan dia tidak ingin hal itu terulang lagi.
"Mei mei tidak usah khawatir, percayakan semua pada tabib dan berdoa saja semoga Jiang Wu bisa sembuh."
Putri Xiao Lin Mei menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Pangeran Xiao Jinshi.
Setelah tenang Pangeran Xiao Jinshi memerintahkan tabib tersebut untuk memeriksa keadaan Raja Zhang Jiang Wu yang sangat memprihatinkan.
"Tabib tolong periksa keadaan Raja Zhang Jiang Wu," perintah Pangeran Xiao Jinshi.
"Baik pangeran."
Tabib tersebut menunduk hormat kearah mereka berdua sebelum melakukan pemeriksaan Raja Zhang Jiang Wu. Tabib pun lantas memeriksa secara menyeluruh.
Semua yang berada di tempat itu menunggu dengan cemas terlebih lagi Putri Xiao Lin Mei yang merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Raja Zhang Jiang Wu dirinya tidak pernah lepas dari dekapan Pangeran Xiao Jinshi.
Dalam hati Putri Xiao Lin Mei tidak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan sahabatnya itu.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Pangeran Xiao Jinshi, dia takut apa yang di ucapkan oleh Putri Xiao Lin Mei menjadi kenyataan. Bahkan dia melupakan untuk memberikan kabar Raja Zhang Jiang Wu kepada Ratu Ming Xia, dapat dipastikan saat ini ratu sedang gelisah menanti kabar dari Raja Zhang Jiang Wu.
Mengingat hal tersebut Pangeran Xiao Jinshi memerintahkan prajurit tadi pergi ke istana kegelapan untuk memberi tahu Ratu Ming Xia mengenai keadaan Raja Zhang Jiang Wu.
"Prajurit!"
"Hamba pangeran."
"Pergilah ke istana kegelapan, beri tahu bibi Ming Xia jika Raja Zhang Jiang Wu sedang bersama kami. Katakan bahwa kami akan datang ke sana bersama putranya," perintah Pangeran Xiao Jinshi.
"Siap laksanakan. Hamba mohon undur diri."
Tanpa banyak bertanya prajurit tersebut langsung bergegas pergi menuju istana kegelapan.
"Gege yakin ingin memberitahu bibi Ming Xia keadaan Jiang Wu? Bagaimana jika nanti...."
"Tidak usah khawatir, bibi pasti mengerti. Bibi berhak mengetahui keadaan Jiang Wu karena bagaimanapun juga pasti bibi tengah khawatir dengan keadaannya. Lagipula bibi itu ibunya Jiang Wu dan Jiang Wu seorang pemimpin yang sangat penting bagi rakyat kerajaan kegelapan."
"Baiklah, semoga saja bibi tidak marah dengan Lin Mei dan menyalahkan Lin Mei atas kejadian ini," ujarnya pasrah.
Bersambung....
__ADS_1
Akhirnya setelah sekian purnama bisa kembali update, terimakasih buat semuanya yang masih setia menunggu di tengah gelombang ketidakpastian dari author.
Seperti biasa jangan lupa tinggalkan jejak agar author semangat update nya. See u dada babay sampai jumpa di bab selanjutnya.