
Setelah sampai di pasar Putri Xiao Lin Mei masuk terlebih dahulu meninggalkan Pangeran Xiao Jinshi dibelakang. Tidak ingin kehilangan jejak Pangeran mempercepat jalannya menyusul sang adik yang sudah berlarian kesana kemari seperti anak kecil.
"Meimei tunggu, jangan berlarian seperti ini dilihat banyak orang."
Pangeran Xiao Jinshi menarik tangan adiknya menghentikan agar tidak berlari lagi. Putri Xiao Lin Mei menatap sekelilingnya yang menatap mereka aneh.
"Hehe baiklah-baiklah, Maaf." Merekapun akhirnya berjalan bersama.
"Mei Mei ingin beli apa?"
"Aku bingung semuanya terlihat enak." Putri Xiao Lin Mei menatap sekelilingnya yang banyak pedagang.
"Kita coba lihat ke sana." Tunjuknya.
Pangeran Xiao Jinshi pun menurut. Dia mengekor di belakang Putri Xiao Lin Mei.
Di sepanjang jalan yang mereka lewati sudah beberapa kali Putri Xiao Lin Mei berhenti dan meminta Pangeran Xiao Jinshi membelikannya sesuatu.
Setelah lama berburu belanjaan Putri Xiao Lin Mei yang mulai kelelahan berkeliling memutuskan untuk mengajak gegenya kembali, selain itu juga dia merasa kasihan dengan kantong Pangeran Xiao Jinshi yang sudah dia kuras.
"Gege ayo kita kembali," ajak nya.
Pangeran Xiao Jinshi bernafas lega akhirnya penderitaannya segera usai.
Merekapun akhirnya keluar pasar dengan Pangeran Xiao Jinshi yang membawa semua barang belanjaan Putri Xiao Lin Mei.
"Mei Mei sepertinya kamu ahli dalam merampok," ujar Pangeran Xiao Jinshi ketika sampai di kereta.
Putri Xiao Lin Mei hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya, dia kalau sudah belanja bisa sampai lupa waktu.
Semua barang belanjaan itu dia taruh di depan mereka, karena kereta kuda itu kebetulan cukup luas hingga muat oleh barang-barang tersebut.
Kereta kuda berjalan dengan pelan menuju istana. Demi menghindari kejadian seperti dulu, Pangeran Xiao Jinshi menempatkan pengawal di bayang-bayang karena tidak mungkin dia meminta pengawalan seperti biasanya yang ada akan mengakibatkan adiknya tidak nyaman.
Putri Xiao Lin Mei menguap merasakan kantuk yang mulai menyerangnya.
"Tidurlah, nanti aku bangunkan."
Putri Xiao Lin mengangguk dan berbaring di paha Pangeran Xiao Jinshi lalu memejamkan matanya.
Pangeran Xiao Jinshi mengelus rambut sang adik dengan sayang.
"Tidur yang nyenyak," gumamnya.
Beberapa saat kemudian kereta yang membawa Pangeran Xiao Jinshi serta Putri Xiao Lin Mei sampai di istana awan. Pangeran Xiao Jinshi memerintahkan kusir untuk langsung membawa ke paviliun anggrek agar lebih mudah menurunkan barang belanjaan itu.
Setelah selesai dengan barang belanjaan yang lumayan banyak Pangeran Xiao Jinshi mengguncang pelan tubuh adiknya.
"Mei Mei bangunlah, kita sudah sampai."
__ADS_1
Terdengar suara lembut dengan guncangan pelan membuat Putri Xiao Lin Mei mengerjap.
"Ah, di mana kita?"
"Kita sudah sampai di paviliun mu. Turunlah, pelan-pelan."
Pangeran Xiao Jinshi menuntun adiknya pelan-pelan agar tidak terbentur sesuatu. Setelah sampai dia menyuruh Pelayan di paviliun itu untuk membantunya menuntun ke kamarnya.
Sebelum tertidur kembali Putri Xiao Lin Mei mengucapkan terimakasih kepada Pangeran Xiao Jinshi.
Setelah selesai membantu adiknya Pangeran Xiao Jinshi pun kembali ke kediamannya mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
...****************...
Pagi hari.
Pagi hari yang cerah, akhirnya setelah sekian lama berada di dunia ini Aliya atau Putri Xiao Lin Mei bisa bernafas lega. Setelah selalu menghadapi berbagai permasalahan rumit yang selalu mengancam nyawa orang-orang disekitarnya.
Saat ini Putri Xiao Lin Mei sedang bersantai-santai di depan paviliunnya yang asri. Tidak lupa ditemani dengan secangkir teh serta camilan ringan.
Disela-sela permasalahan yang ada memang bersantai adalah cara yang tepat. Urusan mencari saksi biar diurus oleh Gege serta ayahnya, dia akan bersantai-santai hari ini.
"Seperti ini ternyata rasanya menikmati waktu luang," ucap Putri Xiao Lin Mei.
Pelayan Zhang Yue tersenyum menanggapi ucapan majikannya. Dia merasa bahagia akhirnya bisa melihat garis senyum dari sang putri setelah sekian lama lenyap dari wajahnya.
"Tidak ada masalah yang berarti, Nona. Semua baik baik saja," jawab pelayan Zhang Yue sopan.
"Apakah kamu merasa jika belakangan ini aku mulai mengabaikan mu? Kalau iya maafkan aku."
"Tidak apa-apa, Nona. Hamba paham kesibukan nona di luar. Terimakasih perhatiannya kepada yang rendah ini," ujar Zhang Yue.
"Kalau ada yang mengganggumu jangan sungkan meminta padaku aku akan mengabulkannya."
Putri Xiao Lin Mei bersungguh-sungguh. Kesibukannya membasmi hama yang menyita waktu sehingga mengabaikan pelayan setianya. Dia tidak ingin membuat gadis itu merasa terbuang karena bagaimanapun juga gadis itu yang sudah menemaninya selama di sini.
Zhang Yue merasa tersentuh mendengar permintaan maaf dari Putri Xiao Lin Mei. Meskipun banyak yang berubah sifatnya namun satu hal yang masih sama yaitu perhatian majikannya.
Putri Xiao Lin Mei dan Zhang Yue seperti tidak terpisahkan, bahkan pelayan itu merelakan tubuhnya dicambuk demi meringankan hukuman yang diterima oleh Putri Xiao Lin Mei.
"Hamba tidak membutuhkan apapun. Selama nona sehat dan bahagia hamba akan ikut senang," ujarnya tulus.
Saat ini suasana paviliun nya sudah sepi karena Raja Zhang Jiang Wu serta Pangeran Zhang Fei sudah kembali ke kerajaannya masing-masing karena tidak mungkin mereka meninggalkan kerajaan dalam waktu yang lama terlebih lagi mereka bukan orang sembarangan di kerajaannya.
Putri Xiao Lin Mei cukup kesepian semenjak kepergian mereka terutama Raja Zhang Jiang Wu, laki-laki itu berhasil membuat hatinya luluh lantak oleh pesona tak tersentuh yang dimiliki oleh Raja Zhang Jiang Wu. Tidak semua orang bisa bersama dengannya dilihat dari temperamennya yang tega mendorong saudari lak nat nya Putri Xiao Yue Shi bisa ditebak jika dia sangat sulit didekati. Tapi, jika sedang bersamanya laki-laki itu dengan tidak tahu malunya mencuri kesempatan dalam kesempitan.
"Huftt."
"Ada apa, Nona?"
__ADS_1
"Aku bosan, Zhang Yue. Apakah kamu ada cara menghilangkan bosan."
"Mungkin berkeliling istana?" Saran Zhang Yue.
"Emm boleh juga mumpung cuacanya cerah. Baiklah, Zhang Yue kamu ikut juga," perintah Putri Xiao Lin Mei.
"Iya, Nona."
Mereka pun keluar paviliun anggrek bersama-bersama. Tujuan pertama kali ini adalah taman bunga yang ditengah-tengahnya ada pohon persik.
Putri Xiao Lin Mei menghirup udara segar yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Emm, Nona. Apakah hamba boleh bertanya?" tanya Pelayan Zhang Yue ragu.
"Tanyakan saja, ada apa?"
"Itu, bagaimana kasus mereka yang menyiksa nona. Apakah Yang Mulia sudah mengambil keputusan?"
"Kamu tenang saja, sebentar lagi semuanya akan terungkap. Jadi, kamu tidak perlu merasa takut lagi dengan mereka."
Putri Xiao Lin Mei berkata dengan tenang, sambil menikmati pemandangan bunga disekitarnya.
Pelayan bernama Zhang Yue itu bernafas lega akhirnya kebenaran akan terungkap dan junjungan nya itu akan terbebas dari siksaan mereka.
Putri Xiao Lin Mei masih memandangi langit cerah di taman tersebut. Namun, tiba-tiba dia mengingat sesuatu.
"Oh iya, Zhang Yue. Kamu melihat belanjaan ku kemarin tidak?"
"Belanjaan itu sudah saya taruh di kamar nona. Apa nona tidak melihatnya?" tanya Pelayan itu heran.
Putri Xiao Lin Mei mencoba mengingat-ingat kembali. Beberapa saat kemudian dia menjentikkan jarinya mengingat barang itu.
"Astaga, aku baru ingat. Zhang Yue aku pergi dulu ada hal penting, selamat tinggal."
Putri Xiao Lin Mei berlari meninggalkan Zhang Yue yang terbengong dengan kelakuan tuan putri nya.
"Nona!"
Pelayan bernama Zhang Yue itu hanya bisa berteriak memanggil nona nya yang sudah menjauh meninggalkan dirinya.
*
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1