
Semua orang menoleh ke sumber suara di sana Ratu Ming Xia sedang berjalan beriringan dengan Pangeran Zhang Fei. Raja Xiao Ren terkejut melihat kedatangan sahabat lamanya.
"Ming Xia, kamu di sini?"
"Iya, aku di sini menemani putrimu. Sekarang bagaimana keadaanmu, Xiao Ren?" Ratu Ming Xia mendekati ranjangnya.
Pangeran Xiao Jinshi yang mengerti pun menyingkir dari sana dan berdiri di samping Pangeran Zhang Fei.
"Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah menjaga putri ku dengan baik."
Ratu Ming Xia memperhatikan dengan benar raut wajah Raja Xiao Ren saat ini, lalu menatap Putri Xiao Lin Mei yang berada disamping pria itu. Keduanya sama-sama dalam keadaan tidak baik-baik saja. Lalu beralih ke putranya serta Pangeran Xiao Jinshi yang juga sama-sama berwajah sembab. Ratu Ming Xia semakin penasaran.
"Ada apa dengan kalian, kenapa sembab?"
"Ayah," bisik Putri Xiao Lin Mei.
"Sttt tenang saja biar ayah menjelaskan semuanya kepada calon ibu mertuamu."
"Ming Xia, ada sesuatu yang ingin aku katakan mengenai putriku. Aku tidak ingin ada yang ditutup-tutupi dan tidak ingin ada yang merasa dibohongi dengan hal ini." Raja Xiao Ren menatap putrinya. Dia berusaha meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apapun.
Raja Xiao Ren memutuskan untuk memberitahu mereka semua mengenai kebenaran itu karena mereka bukan orang lain lagi baginya begitupun dengan Pangeran Zhang Fei yang sudah dia anggap sebagai putranya sendiri berhak mengetahuinya.
"Dibohongi? Memangnya ada apa, Xiao Ren?" Ratu Ming Xia dibuat semakin bingung.
Raja Xiao Ren menghela nafasnya lalu berkata, "Ming Xia dengarkan aku baik-baik setelah itu kamu bebas mengambil keputusanmu mengenai putriku."
Raja Xiao Ren pun menceritakan mimpinya yang sama persis dialami oleh Pangeran Xiao Jinshi kepada Ratu Ming Xia tanpa ada satupun yang terlewat, mengenai fakta yang baru saja dia ketahui melalui istri serta putrinya secara langsung.
Raja Zhang Jiang Wu serta Pangeran Zhang Fei yang tidak mengetahui apa-apa juga ikut mendengarkan dengan seksama penjelasan Raja Xiao Ren mengenai kebenaran itu.
Raja Xiao Ren menjelaskan secara rinci siapa sebenarnya Aliya dan alasannya kenapa bisa menjadi Putri Xiao Lin Mei tak lupa juga dia menceritakan kisah hidup gadis itu sebelum menjadi putrinya.
Tidak jauh dengan Raja Xiao Ren tadi, mereka pun juga sama terkejutnya, mereka merasa sedih sekaligus marah mengetahui kebenaran ini.
"Seperti itulah kejadian yang sebenarnya. Aku mendapatkan cerita itu langsung dari istri dan anakku. Setelah sekian lama akhirnya istriku kembali muncul di mimpiku dan memberitahu kenyataan itu."
"Ayah, jangan bersedih. Aku bersedia menjadi putrimu seutuhnya jika ayah mengizinkan."
"Tanpa diminta pun kamu sudah menjadi putri ayah."
"Terimakasih," ujarnya tersenyum.
__ADS_1
"Nak."
Semua mata menoleh ke arah Ratu Ming Xia yang berjalan mendekati Putri Xiao Lin Mei. Semua orang bertanya-tanya tentang keputusan yang akan diambil oleh sang ratu.
Putri Xiao Lin Mei semakin menundukkan kepalanya saat Ratu Ming Xia memanggilnya, dia sudah pasrah dengan keputusan yang akan diambilnya. Jika, disuruh pergi dari kehidupan putranya Putri Xiao Lin Mei sudah siap meskipun ada rasa tidak rela.
"Ibu ...."
"Stttt diam."
Raja Zhang Jiang Wu tidak berani membantah sang ibu. Dia juga merasakan ketakutan yang sama, dia tidak mau berpisah dengan Putri Xiao Lin Mei meskipun dia bukan jiwanya Raja Zhang Jiang Wu memiliki ketertarikan pada gadis itu.
Semua pasang mata melotot melihat apa yang dilakukan oleh Ratu Ming Xia, jauh dari perkiraan. Bahkan Putri Xiao Lin Mei sendiri masih mematung mendapat pelukan tiba-tiba ini.
"Ratu...."
"Stttt panggil aku bibi atau ibu. Karena sebentar lagi kamu akan menjadi anak ibu juga," terang Ratu Ming Xia.
"Maksudnya?"
"Ibu menerima semua masalalu kamu, Nak Aliya. Ibu tidak perduli siapapun kamu, selama putra ibu bahagia bersamamu tidak ada alasan bagiku untuk memisahkan kalian," tuturnya mengusap lembut surai panjang.
"Aku juga setuju dengan bibi."
"Aku akan mendukung hubungan kalian. Karena berkat kamu sahabatku yang tembok berjalan itu berubah menjadi seperti mentari pagi yang menghangatkan."
"Apa maksudmu?" Raja Zhang Jiang Wu menatap tajam.
"Al, bayi besar mu mengamuk. Tolong aku."
Pangeran Zhang Fei merajuk seperti anak kecil yang tidak diberikan mainan oleh ibunya. Semua orang tertawa melihat tingkah laku Pangeran Zhang Fei.
"Okey okey, hentikan tingkah konyolmu."
" Wahai my king Zhang Jiang Wu cintaku, belahan jiwaku, diam dulu di sana. Jangan buat ulah okey baby."
Ajaib Raja Zhang Jiang Wu yang sebelumnya seperti herder itu menurut dengan perkataan gadisnya. Lihatlah bahkan saat ini pria itu mendusel manja kepada gadisnya layaknya kelinci. Putri Xiao Lin Mei memutar matanya malas pria ini benar-benar tidak tahu tempat.
"Ekhem, Bibi. Apakah berdosa jika aku memukul wajah tampan putramu itu, lihatlah dia menjadi tidak tahu malu dengan tingkahnya sendiri."
"Apapun untuk putri ibu. Bahkan jika kamu bersedia bibi akan menyeret pulang," jawab Ratu Ming Xia enteng.
__ADS_1
Raja Zhang Jiang Wu yang akan menjadi bulan-bulanan ibu serta calon istrinya itu sontak melepaskan diri dari Putri Xiao Lin Mei.
Setelah kelakuan konyol Raja Zhang Jiang Wu usai semuanya menjadi serius akan topik utama yang akan dibahas kali ini.
"Ayah, siapa orang yang mengacau kemarin?" Tanya Putri Xiao Lin Mei penasaran.
"Paman jauh mu, Xiao Han Shi."
"Jadi, dia berulah lagi, Xiao Ren?" Ratu Ming Xia terkejut.
"Benar, Ming Xia. Kamu tahu sendiri bagaimana temperamennya anak itu," ujar Raja Xiao Ren.
"Sekarang dimana dia? Masih hidup atau sudah mati?" Tanya Putri Xiao Lin Mei beruntun.
"Dia sudah mati, Zhang Fei yang membunuhnya," sahut Raja Zhang Jiang Wu.
"Ah sial. Padahal aku juga ingin bermain dengan bajingan itu," sesal Putri Xiao Lin Mei.
Semua orang tersenyum mendengar keluhan Putri Xiao Lin Mei. Bahkan Raja Xiao Ren masih ingat bagaimana putrinya itu menggertak tahanan serta selirnya dengan cara yang tidak biasa.
"Jangan khawatir, bukankah masih ada Mei Ran dan putrinya?"
"Ah iya, aku melupakan ular kadut itu."
"Kenapa kamu mempunyai kebiasaan seperti ini sih, Nak?" Raja Xiao Ren memijit kepalanya pusing dengan kebiasaan putrinya itu.
"Sepertinya dia memang putri mu, Xiao Ren. Sama-sama sadis dengan musuh," celetuk Ratu Ming Xia.
****
Hari demi hari keadaan Raja Xiao Ren semakin membaik dan mulai mengambil alih pemerintahan yang dipegang sementara oleh putranya.
Penyelidikan pun tetap berjalan selama Raja Xiao Ren memulihkan diri, hubungan Putri Xiao Lin Mei dengan keluarganya pun semakin erat mereka tidak peduli dengan identitas orang lain dalam tubuh sang putri dan tetap menganggapnya sebagai bagian dari keluarga kerajaan.
Raja Xiao Ren kembali menanyakan tentang pernikahan mereka berdua dan jawaban Putri Xiao Lin Mei masih sama yakni menunggu semuanya usai terlebih dahulu dan penobatan kakaknya dilaksanakan barulah mereka melaksanakan pernikahan. Raja Xiao Ren pun hanya pasrah dengan jawaban putrinya dan tidak ingin memaksa keduanya.
*
*
*
__ADS_1
*
Bersambung ....