
Merasa kalah Putri Xiao Yue Shi hanya bisa menggeram marah.
"Kurang ajar! Tunggulah pembalasanku," geram Putri Xiao Yue Shi.
"Ingin membalas ku? Sebelum berpikir untuk membalas dendam mu lebih baik pikirkan dirimu sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Lihatlah sekelilingmu."
Putri Xiao Yue Shi melihat sekelilingnya dan terkejut melihat banyak perempuan yang mengenakan pakaian minim serta ada beberapa pria gemuk yang tengah menggandeng beberapa wanita.
Pangeran Zhang Fei ternyata menyeret Putri Xiao Yue Shi ke rumah bordil. Dia ingin gadis itu melihat sendiri para jal*ng disana yang bekerja melayani pria hidung belang. Jadi, tidak perlu susah-susah menyebarkan berita bohong.
"Sekali lagi kamu membuat masalah dengan Xiao Lin Mei aku tidak akan segan lagi mengirim mu kemari dan tidak kan membiarkan seorang pun melepaskan mu dari sini," bisiknya.
Glekk
"Rumah bordil, oh tidak pria ini akan mengirim ku ke rumah ini. Tidak, aku tidak mau di sini. Aku harus cari cara agar bisa lari dari sini," batinnya.
Putri Xiao Yue Shi tercekat, wajahnya seputih kertas dan jangan lupakan keringat dingin di wajahnya.
Pangeran Zhang Fei sangat menikmati wajah ketakutannya, dia sudah salah memilih lawan dengan mengusik Putri Xiao Lin Mei itu sama saja dia mengibarkan bendera perang ke dua kerajaan lain bukan hanya berurusan dengan Raja Xiao Ren dan Pangeran Xiao Jinshi. Tapi, juga dengan kerajaannya dan juga kerajaan Kegelapan.
Kembali ke cerita Putri Xiao Lin Mei tersenyum puas mendengar cerita Pangeran Zhang Fei. Hah, andai saja dia ada di sana pasti akan melihat wajah pucat gadis itu pasti akan sangat menyenangkan.
"Bagaimana? Apakah tuan putri senang?" tanya Pangeran Zhang Fei.
"Lumayan menghibur lah. Terimakasih bantuannya," jawab Putri Xiao Lin Mei.
"Aku ingin melihat mereka," ucap Putri Xiao Lin Mei.
"Nanti dulu. Apa kamu tidak mau menemui ayah?"
"Ah iya aku melupakannya. Baiklah aku akan menemui ayah dulu." Lalu berlalu meninggalkan mereka.
"Selamat tinggal kakak kakak yang tampan putri ini pergi dulu," teriaknya sambil meninggalkan mereka yang tercengang dengan perilaku ajaib Putri Xiao Lin Mei.
"Ayah! Tunggulah anak mu yang cantik ini akan datang," teriaknya sambil berlari.
Mereka semua memandang kepergian Putri Xiao Lin Mei dengan heran. Terutama Pangeran Xiao Jinshi yang merasakan banyak perubahan dari adiknya setelah sadar dari komanya.
"Anak ini," gumam Pangeran Xiao Jinshi menggelengkan kepala.
...****************...
Di kediamannya Raja Xiao Ren seperti biasa sedang disibukkan dengan berkas-berkas yang selalu setia menanti di meja kerjanya untuk diperiksa dan diperhatikan. Sudah kewajibannya sebagai seorang raja untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Wajah lelahnya tidak pernah dia tunjukkan kepada siapapun baik itu putra putrinya.
__ADS_1
Dulu saat Permaisuri Shi An Mei masih ada setiap Raja Xiao Ren lembur seperti ini selalu menemaninya bekerja entah membantu memecahkan masalah atau hanya sekedar duduk memperhatikannya bekerja.
Raja Xiao Ren menghela nafas panjang, pekerjaannya yang tidak ada habisnya membuatnya lebih sering berada di tempat ini dan jarang memperhatikan putra putrinya. Sekarang putrinya ada di kerajaan tetangga entah bagaimana keadaannya.
"Ayah!"
Brakkk
Terdengar suara teriakan dan juga pintu dibuka paksa, Raja Xiao Ren mendelik lalu melihat sang pelaku yang saat ini tersenyum lebar tanpa merasa bersalah.
"Dasar anak nakal! Sini kamu." Raja Xiao Ren mengejar putrinya lalu menghadiahi jeweran maut yang pernah dirasakan oleh Pangeran Xiao Jinshi membuat sang anak meringis kesakitan.
"Aduh, lepaskan. Ayah mau membuat telingaku putus."
Raja Xiao Ren pun melepaskan jeweran nya dan menatap sang putri yang mengusap telinganya yang memerah.
Grepp
Raja Xiao Ren memeluk tubuh mungil putrinya rindu. Hampir saja Putri Xiao Lin Mei terjengkang, tidak siap dengan serangan tiba-tiba ayahnya.
"Ayah merindukanmu."
"Lin Mei juga rindu Ayah," jawabnya. Lantas membalas pelukan hangat pria yang menjadi ayahnya saat ini.
Pelukan hangat yang jarang dia dapatkan dari orangtuanya di zaman modern dan sekarang dia bisa merasakannya lagi meski hanya ayah tubuhnya saat ini. Tapi, hal ini mampu membuat jiwa Aliya kembali merindukan orangtuanya hingga tanpa sadar meneteskan air matanya.
Raja Xiao Ren tersadar jika putrinya menangis menjadi khawatir dia takut terjadi sesuatu terhadapnya.
"Tidak apa-apa, Lin Mei hanya rindu kalian," jawabnya menenangkan sang ayah.
Merekapun melepaskan kerinduan satu sama lain dengan berbincang-bincang. Raja Xiao Ren yang masih khawatir dengan keadaan putrinya kembali mencecar dengan banyak pertanyaan dan Putri Xiao Lin Mei menjawabnya dengan sabar dan menuturkan kalimat yang bisa menenangkan hati sang ayah.
Hingga saat ingin menyampaikan berita pertunangannya Raja Xiao Ren tercekat.
"Lin Mei ayah ingin berbicara serius."
"Ada apa, Yah?" Putri Xiao Lin Mei mendadak gelisah.
Ayahnya terlihat sangat serius sekali bahkan terdengar helaan nafasnya. Putri Xiao Lin Mei semakin tidak karuan.
"Ayah jangan membuat Lin Mei takut. Katakan, ada apa?" desaknya.
"Tenanglah, ayah hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan membiarkan mu memilih sendiri. Tapi ...."
"Tapi apa?" Putri Xiao Lin Mei dibuat semakin penasaran dengan arah pembicaraan ayahnya.
"Ada kerajaan tetangga yang meminta ayah menjodohkan mu dengan putranya," tukasnya.
__ADS_1
Deg
"Perjodohan?"
Raja Xiao Ren mengangguk.
Putri Xiao Lin Mei mematung dia akan dijodohkan? Oleh siapa? Kenapa begitu tiba-tiba. Otaknya mendadak kosong pandangannya menatap lurus ayahnya yang menunduk. Bagaimana dia menjelaskan ini kepada Zhang Jiang Wu, pasti dia akan kecewa dengannya.
Air matanya luruh dia tidak mau meninggalkan pria itu. Tapi, ayahnya akan kecewa dengannya jika tidak menerima perjodohan ini dan pasti akan berakibat fatal dengan kerajaannya.
"Ayah, aku tidak mau dijodohkan bagaimana mungkin aku mengkhianati nya. Ayah tolong aku."
Raja Xiao Ren menghampiri putrinya dan memeluknya erat. Dia juga tidak ingin menjodohkan putra putrinya tapi ini sahabatnya sendiri yang meminta Raja Xiao Ren tidak berdaya menolaknya meskipun dia belum memberikan jawabannya tetap saja dia merasa berat hati.
Putri Xiao Lin Mei menangis sesegukan di dekapan ayahnya dia tidak menginginkan perjodohan ini. Tiba-tiba terlintas ide gila yang menurutnya bisa membebaskan dirinya dari perjodohan ini.
"Ayah, kenapa tidak meminta xiao yue shi saja yang menggantikanku? Aku yakin dia menerima ini."
"Tidak, ayah tidak ingin mengecewakan sahabat ayah." Raja Xiao Ren menolak keinginan putrinya. Tidak mungkin dia menyuruh putrinya yang lain dalam perjodohan ini.
"Lin Mei, cobalah untuk mengenalnya. Ayah yakin kamu bisa lebih dekat dengannya," sambungnya.
Putri Xiao Lin Mei menunduk lesu, mengenalnya? Dia tidak begitu yakin bisa mengenal laki-laki lain disaat sudah ada pria yang dekat dengannya. Baru saja dia berbahagia namun sepertinya kebahagiannya akan terenggut lagi dengan perjodohan ini.
"Baiklah, Lin Mei akan mencobanya. Tapi, Lin Mei tidak janji bisa menerima perjodohan ini."
"Lin Mei, dengarkan ayah. Ayah tidak memaksamu untuk menerimanya. Tapi, harapan ayah adalah kamu bisa membuka diri dengannya," tuturnya.
"Iya ayah. Lin Mei akan mencobanya."
Meskipun berat dia tidak ingin membuat ayahnya kecewa dengan penolakan ini. Dengan menguatkan hati dia berkata seperti itu.
"Ayah Lin Mei pamit dulu. Tubuh ku lelah setelah perjalanan tadi."
"Baiklah, hati hati."
Putri Xiao Lin Mei pamit kembali ke kediamannya dengan lesu, pikirannya dipenuhi dengan perjodohan ini. Bagaimana dia menjelaskan hal ini kepada Raja Zhang Jiang Wu.
Raja Xiao Ren memandang kepergian putrinya dengan sendu, dia bisa melihat kekecewaan yang terpancar jelas di matanya.
"Maafkan ayah sudah membuatmu bersedih," guman Raja Xiao Ren.
*
*
*
__ADS_1
*
Bersambung ....