
Sesaat setelah sampai di kamar mereka, Raja Zhang Jiang Wu meletakkan tubuh istrinya secara pelan-pelan. Laki-laki itu menatap wajah pucat istrinya lalu mengusapnya secara perlahan.
"Al, bangun lah. Jangan seperti ini," gumamnya.
"Bertahanlah sebentar lagi tabib datang," sambungnya.
Tak lama kemudian datanglah tabib istana, dengan tergopoh-gopoh langsung memeriksa kondisi sang permaisuri yang terbaring tak berdaya di peraduan.
Raja Zhang Jiang Wu berjalan kesana-kemari menunggu pemeriksaan tabib yang menurutnya sangat lama. Dia memandangi tubuh istrinya yang belum menunjukkan tanda-tanda akan sadarkan diri.
"Tabib, bagaimana keadaan istri saya? Apakah dia baik-baik saja, apakah ada yang serius dengannya?" Tanya Raja Zhang Jiang Wu beruntun.
"Bahkan sangat baik, Yang Mulia." Tabib itu menjawab dengan senyuman yang sumringah.
"Sangat baik bagaimana? Istriku tidak sadarkan diri sekarang," ujar Raja Zhang Jiang Wu.
Putri Xiao Lin Mei membuka matanya perlahan, samar-samar dia mendengar perdebatan suaminya dengan seseorang.
"Jiang Wu," lirihnya.
Mendengar suara istrinya sontak Raja Zhang Jiang Wu mendekat ke arah Putri Xiao Lin Mei. Wajah cantiknya saat ini terlihat pucat pasi.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Raja Zhang Jiang Wu pelan.
"Kepalaku sedikit pusing bahkan perutku rasanya tidak nyaman," sahutnya.
"Yang Mulia tidak perlu khawatir Itu hal yang wajar bagi orang hamil," celetuk tabib istana tiba-tiba.
Ke-dua orang itu mematung mendengar celetukan tabib istana. Pikiran mereka terasa kosong bahkan suara tabib yang sedari tadi memanggil mereka pun tidak terdengar.
"Yang Mulia," panggil tabib istana.
Dengan penuh keberanian Liu Yaoshan menyentuh pundak rajanya dan itu sukses membuat Raja Zhang Jiang Wu tersentak kaget.
"Maaf, Yang Mulia. Tabib istana memanggil," ujarnya.
"Ah, iya. Jadi, bagaimana keadaan istriku tabib?" Tanya Raja Zhang Jiang Wu.
__ADS_1
"Selamat Yang Mulia saat ini Permaisuri Xiao Lin Mei tengah mengandung dan usia kandungannya menginjak dua Minggu," ucapnya.
Baik Raja Zhang Jiang Wu dan Putri Xiao Lin Mei sama-sama terkejut mendengar kabar ini, tangisan bahagia sang permaisuri terdengar jelas bahkan seperti tidak percaya.
Raja Zhang Jiang Wu menghampiri sang istri lalu menghujaninya dengan kecupan di seluruh wajahnya, dia mengusap air mata istrinya dengan lembut.
"Terimakasih sudah bersabar. Akhirnya Tuhan mengabulkan doa kita, Sayang."
"Jiang Wu apakah aku sedang bermimpi," ucapnya lirih.
"Tidak, Sayang. Kamu tidak bermimpi di sini, di rahim mu anak kita sudah tumbuh," ujarnya.
Untuk pertama kalinya pria itu tidak bisa mengontrol emosinya, air matanya luruh bersamaan dengan tangannya mengusap perut rata istrinya yang sekarang sudah ada isinya.
Putri Xiao Lin Mei pun turut mengelus perutnya yang masih rata senyumnya terkembang diwajahnya yang sembab.
"Anak bunda, sehat-sehat di dalam sana yah. Kita berjuang bersama-sama sampai nanti bertemu," lirih Putri Xiao Lin Mei.
"Terimakasih sudah hadir di kehidupan ayah dan bunda, nak. Ayah janji akan menjaga kalian," ucap Raja Zhang Jiang Wu.
Liu Yaoshan yang tidak ingin mengganggu suasana haru junjungannya berinisiatif menarik tabib keluar kamar dan memberikan ke dua pasangan itu waktu untuk meluapkan kebahagiaannya.
******
Di dalam sana ke dua orang itu tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada sang pencipta karena sudah diberikan kepercayaan untuk memiliki anak.
Raja Zhang Jiang Wu saat ini ikut berbaring di samping Putri Xiao Lin Mei dengan menjadikan lengannya sebagai bantalan untuk istrinya lalu tangan yang satunya mengelus rambutnya.
"Sayang, apa kamu bahagia?" tanya Putri Xiao Lin Mei. Mendongak menatap tepat di mata laki-laki itu.
"Sangat bahagia. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Pria itu mengerutkan keningnya.
"Tidak apa-apa, aku pikir setelah semuanya yang terjadi Tuhan tidak ingin membuat ku berbahagia. Aku sempat memikirkan jika ini adalah harga yang harus aku bayar karena telah membuat 'mereka' menderita," tutur Putri Xiao Lin Mei.
Ya, beberapa waktu belakangan ini Putri Xiao Lin Mei selalu merasa gelisah dan berpikiran jika penyebab dia belum juga dikaruniai anak adalah karena telah menjadi penyebab utama kematian ibu tiri serta saudaranya dan menyangka jika ini adalah karma yang harus dia bayar.
Raja Zhang Jiang Wu menggeleng lemah, dia tidak setuju pemikiran istrinya. Istrinya tidak bersalah sama sekali dalam hal ini, justru karenanya kerajaan Awan terbebas dari kejahatan mereka.
__ADS_1
Pria itu mengelus rambut istrinya mencoba memberi pengertian.
"Sayang, kamu tidak bersalah dalam hal ini. Itu sudah menjadi balasan mereka yang sudah berbuat jahat kepada keluargamu. Jadi, jangan merasa bersalah seperti ini."
"Sekarang tugas kita adalah menjaga serta mendidik anak kita nanti menjadi kuat supaya tidak mengalami nasib buruk dan mudah diremehkan orang lain," tuturnya.
"Iya, kamu benar. Tugas kita belum selesai dan aku ingin anak kita menjadi anak yang kuat, tangguh serta tegas seperti ayahnya," ujar Putri Xiao Lin Mei.
Putri Xiao Lin Mei membelai lembut wajah tampan suaminya. Lalu tersenyum menatap wajahnya dan dibalas dengan senyuman tak kalah manis dari pria itu.
"Jiang Wu, kamu tahu aku merasa bersyukur bisa nyasar di dunia ini," ucapnya.
"Kenapa seperti itu?"
"Aku bisa merasakan hidupku lebih berwarna ketika di sini. Aku bisa tertawa, menangis, kecewa، dan bahagia semua hal baru aku dapatkan di sini.
Awalnya aku mengira setelah kecelakaan itu langsung mati tanpa ada harapan untuk kembali, tapi siapa sangka jika Tuhan belum mengijinkan ku mati hingga mengirim ku ke sini dan bertemu dengan kalian. Mungkin Tuhan ingin aku merasakan kebahagiaan sebelum kematian yang sebenarnya," tuturnya panjang lebar.
"Huft aku merasa seperti tidak tahu diri sekarang. Baru tadi aku meragukan kekuasaannya tapi sekarang berbeda. Dasar, manusia plin plan," decaknya.
Raja Zhang Jiang Wu tersenyum mendengar ucapan istrinya.
"Alya, hal seperti itu manusiawi sekali. Perasaan manusia bisa berubah-ubah tergantung keadaan yang dia rasakan dan bagaimana dia menyikapi ujian yang diterima. Perlahan-lahan ujian itulah yang akan mendewasakan kita, yang paling penting jangan lupa bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini," tuturnya lembut.
"Kamu tahu, hal yang paling aku syukuri adalah bertemu denganmu terlepas dari segala lika liku yang kita alami, karena kamu adalah belahan jiwa ku, kesayanganku serta ratu di hatiku."
"Sekarang istirahatlah, jangan memikirkan hal yang berat," ujar Raja Zhang Jiang Wu.
Putri Xiao Lin Mei pun menurut, dia mencari posisi yang nyaman di dada bidang sang suami lalu memejamkan matanya.
Raja Zhang Jiang Wu mengecup pucuk kepala istrinya dengan rasa syukur lalu tanpa sadar ikut terlelap.
Kebahagiaan yang di alami oleh pasangan ini dirasakan juga oleh seluruh rakyat kerajaan yang turut bahagia mendengar kabar kehamilan permaisuri mereka, mereka berharap semoga kedepannya kerajaan akan lebih baik dari sebelumnya dan selalu dilimpahkan kebahagiaan.
Akhirnya penantian panjang sepasang suami istri itu telah terbayar lunas dengan kabar akan hadirnya malaikat kecil sebagai pelengkap rumah tangga mereka sekaligus calon penerus tahta selanjutnya.
Satu tahun belakangan ini merupakan saat-saat terberat bagi Putri Xiao Lin Mei dan Raja Zhang Jiang Wu dimana mereka menghadapi badai cobaan dari sekelilingnya yang menuntut mereka untuk menyerah dengan keadaan. Tapi, dengan keteguhan hati serta perasaan cinta yang begitu kuat dan tulus membuat mereka mampu melewatinya bahkan setelah itu mereka diberikan anugerah yang selama ini mereka nanti nantikan.
__ADS_1
Cobaan hidup yang selalu menerpa perlahan-lahan akan menempa dan menjadikan manusia dewasa dalam menghadapi hidup. Teruslah berusaha serta jangan menyerah dalam menghadapi cobaan, bersabarlah niscaya Tuhan akan memberikan balasan yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya.
...🥀Selesai🥀...