
Hari demi hari berlalu semua persiapan sudah dilakukan dengan matang, Putri Xiao Lin Mei juga sudah meninggalkan istana jauh jauh hari bersama dengan Zhang Yue dan itu tanpa sepengetahuan semua orang.
Saat ini Raja Xiao Ren sedang memeriksa kesiapan prajurit kerajaan awan yang dia miliki, mereka selalu setia ada dalam setiap pertempuran yang dilakoni oleh Raja Xiao Ren. Melihat keteguhan serta kegigihan mereka dalam berlatih membuat Raja Xiao Ren tersenyum puas.
Sesuai dengan perhitungan Pangeran Xiao Jinshi kerajaan akan diserang dalam waktu dekat dan itu benar-benar terjadi Pangeran Xiao Jinshi sudah memberitahunya jika pihak musuh juga sudah mulai beraksi.
Saat ini Raja Xiao Ren sedang berdiri dihadapan prajurit terbaik milik kerajaan Awan. Mereka menatap satu persatu wajah semangat dari pasukannya.
"Sebelumnya saya di sini ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada kalian semua karena sudah bersedia berjuang mati-matian membela kerajaan tercinta kita ini. Mungkin ini adalah pertarungan terakhir bersama ku."
Pangeran Xiao Jinshi terkejut mendengar ucapan ayahnya dia ingin memprotesnya namun sang ayah mengangkat tangannya tidak menerima bantahan. Begitu pula dengan prajurit di sana terdengar grasak-grusuk.
"Dengarkan aku!" Raja Xiao Ren berteriak lantang membuat semua orang terdiam.
"Mungkin ini adalah perang terakhir. Tapi, akan saya pastikan kemenangan ditangan kita. Lakukanlah tugas kalian dengan benar, ini adalah saat yang terbaik untuk menunjukkan bahwa kalian benar-benar layak menjadi prajurit kebanggaan kerajaan Awan. Kita tunjukkan kerajaan awan kita bukanlah kerajaan yang bisa dikalahkan dengan mudah."
"Hidup kerajaan Awan!" Pangeran Xiao Jinshi berteriak lantang.
"Hidup!"
"Hancurkan mereka. Kalahkan mereka. Kita bisa, kita menang!!"
Teriakan demi teriakan menggema keras disetrap sudut lapangan tempat mereka berpijak. Teriakan itu seolah-olah bisa membakar semangat mereka, darah mereka bergelora dengan semangat mereka bergerak menjemput musuh sebenarnya.
Di saat-saat seperti ini Raja Xiao Ren benar benar menunjukkan wibawanya sebagai seorang raja yang akan melindungi rakyatnya dengan sepenuh hati, pemimpin yang tegas namun sangat mencintai rakyatnya.
Raja Xiao Ren berharap ini menjadi peperangan yang terakhir baginya. Setelah usai nanti dia akan menyerahkan tahtanya kepada sang putra dan akan menikmati hari tuanya bersama anak dan cucu, meskipun belum ada seorang cucu diantara mereka. Dia berharap nanti putranya bisa bersikap adil kepada seluruh rakyatnya tanpa memandang golongan.
...****************...
Di sisi lain.
Putri Xiao Lin Mei saat ini sedang berada di kerajaan Kegelapan atas permintaan ayahnya. Sebenarnya dia ingin menolak permintaan saat ini dia sedang merenungi nasib keluarganya yang dia dengar dari Pangeran Xiao Jinshi, hari ini mereka akan bergerak ke Medan perang.
Sedari tadi pandangannya kosong semenjak mengetahui kehancuran kerajaannya di depan mata dia tidak pernah menyentuh makanannya sama sekali. Apa yang harus dia lakukan mencegah kekacauan ini.
"Lin Mei," panggil seseorang.
Putri Xiao Lin Mei tersentak mendengar panggilan tiba-tiba itu. Dia menoleh dan mendapati Raja Zhang Jiang Wu membawa nampan lalu duduk di hadapan Putri Xiao Lin Mei.
__ADS_1
"Makanlah dulu, jangan khawatir. Mereka pasti berhasil memenangkan perang ini," ujarnya lembut.
"Tapi bagaimana jika mereka kalah dan kerajaan jatuh ke tangan mereka. Aku tidak mau kehilangan mereka."
"Sttt tenanglah percaya padaku mereka pasti berhasil. Ini bukan yang pertama bagi mereka terutama ayahmu. Ayahmu sudah banyak melewati peperangan selama puluhan tahun, pasti tidak mudah mengalahkan ayah mu."
Raja Zhang Jiang Wu menenangkan sang calon istri, sebenarnya dia ingin turun membantu tapi tidak mungkin meninggalkan Putri Xiao Lin Mei sendirian ditengah situasi yang kacau seperti ini.
"Sekarang makanlah." Menyodorkan makanan ke hadapan Putri Xiao Lin Mei.
Karena sudah lapar Putri Xiao Lin Mei pun tidak menolak dan menerima makanan tersebut.
Raja Zhang Jiang Wu bersyukur akhirnya Putri Xiao Lin Mei mau menyentuh makanannya, jika masih menolak dia khawatir akan jatuh sakit. Bagaimana dia akan menjelaskan kepada keluarganya jika mereka kembali.
...****************...
Kembali ke Medan perang.
Tidak memerlukan waktu yang lama saat ini kedua kubu sudah berhadapan. Raja Xiao Ren berdiri dengan gagah dengan zirah perang yang dia kenakan, disampingnya ada sang putra yang kelak akan menggantinya, Pangeran Xiao Jinshi.
"Hoho aku tidak menyangka akan bertemu musuh lama di sini."
"Xiao Han Shi! Beraninya kamu," geram Raja Xiao Ren.
Xiao Han Shi, orang yang menjadi dalang dari semua ini. Dia memanfaatkan kebencian Selir Mei Ran untuk mencapai ambisinya merebut posisi raja.
Raja Xiao Ren menatap sengit musuh 'lama' kerajaan. Ya, ternyata setelah ditelusuri lebih jauh dalang dari semua ini tidak jauh berbeda dengan otak pemberontakan masa lalu. Bisa dikatakan jika perang ini merupakan puncak dari permusuhan lama yang sudah dipupuk.
Xiao Han Shi merupakan kakak sepupu Raja Xiao Ren. Dia merasa paling berhak menduduki istana setelah Raja Xiao Qing gugur di Medan perang. Sekarang dia menantang adiknya berperang untuk mewujudkan ambisinya.
"Kenapa aku tidak berani? Kerajaan Awan seharusnya adalah milikku, kalian tidak mempunyai hak berada di sana."
Raja Xiao Ren begitu geram dengan lantang dia menyuruh pasukannya bersiap siap.
"Pasukan, serang!"
Xiao Han Shi tidak tinggal diam, laki-laki itu juga berteriak ke arah pasukannya dan memerintahkan untuk menyerang.
Kedua pasukan saling beradu pedang, dentingan demi dentingan pedang terdengar memenuhi tanah tempat mereka berpijak. Mereka berteriak dengan semangat membantai habis pasukan musuh.
__ADS_1
Mereka saling bertempur menghabisi lawan tidak perduli dengan bahaya kematian yang mungkin akan menimpa mereka. Mereka bangga bisa menumpahkan darah mereka untuk ketentraman bumi tercinta mereka, demi rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa.
Di tanah lapang inilah akan menjadi saksi pengorbanan serta kesetiaan seorang prajurit kerajaan dalam mempertahankan keutuhan serta mewujudkan kedamaian kerajaan tercinta. di tempat ini juga bagaimana dengan gagahnya seorang pemimpin menumpas kejahatan serta mencegah bencana yang akan menimpa rakyatnya.
Saat ini Raja Xiao Ren berhadapan langsung dengan kakaknya Xiao Han Shi. Mereka bertarung dengan sengit ayunan pedang mereka.
Tebasan demi tebasan dilayangkan secara brutal kearah Raja Xiao Ren, namun dengan apik dihindarinya.
"Jangan hanya bisa menghindar. Cepat lawan aku, buktikanlah jika kamu mampu," ejek Xiao Han Shi.
Laki-laki itu ingin memanfaatkan emosi lawannya dengan memancing amarah sang lawan sehingga melakukan tidak teratur dan akan mudah untuk dilumpuhkan. Namun, sepertinya dia salah mengira bahkan Raja Xiao Ren saat ini masih terlihat tenang tidak terpengaruh oleh omongan kakaknya.
Xiao Han Shi geram melihat adiknya tidak terpengaruh sama sekali dengan perkataannya.
"Cih, menyusahkan. Terima ini!"
Xiao Han Shi berlari ke arah Raja Xiao Ren pedang ditangannya dia acungkan tepat di jantung raja itu dan siap menembusnya. Tapi, Raja Xiao Ren berhasil menghindarinya meskipun harus tergores tepat di lengannya terlihat darah mulai merembes dibalik hanfu nya. Seakan tidak merasakan apapun Raja Xiao Ren membalasnya dengan menendang perut Xiao Han hingga membuatnya terpukul mundur dan berteriak kesakitan.
Pangeran Xiao Jinshi yang sedang berhadapan dengan pasukan biasa pun segera menyelesaikan pertarungannya dengan menebas kepala pasukan itu lalu berlari menghampiri sang ayah.
"Ayah, apakah tidak apa-apa?"
"Tenanglah jangan khawatirkan ayah. Ayah, tidak apa-apa."
Xiao Han Shi tersenyum licik melihat pemandangan itu. Dia berjalan dengan pedang ditangannya yang sudah berlumur darah Raja Xiao Ren. Pangeran Xiao Jinshi yang membelakangi Xiao Han tidak menyadari jika dirinya sedang menjadi incaran.
"Xiao Jinshi awas!"
Raja Xiao Ren menyadari pergerakan Xiao Han Shi pun reflek menarik tubuh anaknya.
Jlebb
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ….