
Putri Xiao Lin Mei mengerjap melihat suasana sekitarnya yang terasa asing, sejenak dia kembali kepikiran dengan keadaan sang ayah. Di saat ingin beranjak dari ranjang dia merasakan sebuah genggaman erat. Lalu bertanya melirik ke sampingnya, terdapat sang ayah yang terbaring lemah di sisinya. Dengan perlahan dia melepaskan tangannya dari genggaman Raja Zhang Jiang Wu lalu beralih mengusap lembut wajah sang ayah yang memucat.
"Ayah," lirih Putri Xiao Lin Mei.
Raja Zhang Jiang Wu yang baru saja terlelap pun terbangun saat mendengar isakan lirih. Dia bisa melihat wajah putus asa gadis tersebut.
"Lin Mei."
Sebuah suara lirih membuatnya menoleh ke samping, dia melihat kekasihnya.
"Jiang Wu, ayah."
"Sttt tenanglah paman pasti baik-baik saja."
Raja Zhang Jiang Wu menghapus jejak air mata Putri Xiao Lin Mei, "Istirahat lah biar aku yang menjaga ayah mu."
Putri Xiao Lin Mei mengangguk. Awalnya Raja Zhang Jiang Wu ingin mengantarkan Putri Xiao Lin Mei ke kediamannya namun ditolak dengan alasan ingin lebih dekat dengan ayahnya. Alhasil sekarang Putri Xiao Lin Mei berbaring kembali di samping sang ayah.
...****************...
Di alam bawah sada Raja Xiao Ren.
Raja Xiao Ren seperti berada di tempat yang lain. Tempat yang dia pijak saat ini benar-benar sangat indah membuat Raja Xiao Ren enggan beranjak dari tempat itu.
Sebuah taman yang indah, pohon-pohon menjulang tinggi serta bunga-bunga bermekaran dengan indah. Raja Xiao Ren begitu terpesona dengan tempat ini, sesaat kemudian dia merasakan sebuah tepukan dipundaknya. Spontan pria itu menoleh mencari tahu siapa pelakunya.
"Mei'er," gumam Raja Xiao Ren terperangah.
Saat ini didepannya berdiri perempuan yang selama ini dia rindukan, dia mengenakan hanfu putih serta dengan tampilannya yang masih sama. Pria itu memeluknya dengan erat tidak ingin melepaskannya.
"Bagaimana keadaanmu, Raja ku?" Tanya perempuan itu dengan lembut menahan Isak tangisnya.
"Masih sama seperti dulu. Aku akan selalu merindukanmu, Shi An Mei."
"Apakah ayah tidak merindukan ku juga," ujar seorang perempuan lagi mengejutkan Raja Xiao Ren.
"Ba bagaimana bisa kamu ada di sini."
"Ceritanya sangat panjang, Raja ku. Sekarang duduklah biar putri kita menjelaskan semuanya," ujar Permaisuri Shi An Mei tersenyum.
Ya, tempat ini adalah tempat yang sama ketika Putri Xiao Lin Mei ah ralat Aliya baru saja terbangun di dimensi ini. Tempat inilah dia bertemu dengan pemilik asli tubuhnya serta mendiang permaisuri Shi An Mei.
Jiwa Putri Xiao Lin Mei pun menjelaskan semuanya dengan lengkap seluruh peristiwa masa lalu yang terlewatkan oleh Raja Xiao Ren serta Gege nya Pangeran Xiao Jinshi. Termasuk juga bagaimana dia bisa menarik jiwa Aliya yang sudah mati di masa depan ke tempat ini serta menjelaskan kehidupan gadis itu sebelumnya.
Penjelasan panjang putrinya membuat Raja Xiao Ren tertegun tentang kebenaran ini.
"Raja ku, janganlah marah kepada anak itu. Dia sudah bekerja keras selama ini," tutur Permaisuri Shi An Mei.
"Jadi, yang dikatakannya itu benar adanya dan bahkan putri kita meninggal saat itu?" tanya Raja Xiao Ren kepada jiwa Putri Xiao Lin Mei.
__ADS_1
"Benar, Ayah. Bahkan aku sendiri yang menarik dan meminta pertolongannya karena aku tidak mau mereka menguasai kerajaan kita," tutur Putri Xiao Lin Mei.
Raja Xiao Ren pun lantas memeluk jiwa Putri Xiao Lin Mei, terdengar isakan tangis Putri Xiao Lin Mei yang asli. Gadis itu sangat merindukan ayahnya.
"Raja ku, tolong sayangi dia seperti kamu menyayangi putri kita. Kehidupan gadis itu tidak jauh lebih baik dari putri kita, orangtuanya yang sibuk membuat gadis itu kesepian selama hidupnya aku juga bisa melihat ketulusan di mata Aliya dia gadis baik."
Permaisuri Shi An Mei menasihati suaminya dengan lembut dia tidak mau pria yang dicintainya itu membenci jiwa Aliya yang telah membohonginya.
Kebenarannya membuat Raja Xiao Ren tertegun tapi benar kata istrinya dia tidak boleh membenci Aliya karena gadis itu tidak bersalah semuanya murni karena keinginan putrinya yang menarik jiwanya samai menempati tubuh putrinya.
"Lihatlah ke arah sana," pinta Permaisuri Shi An Mei.
Raja Xiao Ren menoleh di sana terdapat gambaran layaknya seperti potongan film yang memperlihatkan bagaimana Aliya yang terpukul dengan keadaannya sekarang bahkan sampai membuatnya tidak sadarkan diri.
"Anak itu bahkan ingin ikut turun ke medan perang," gumam Raja Xiao Ren.
"Sekarang pergilah, anak itu membutuhkanmu. Jika sudah waktunya nanti kita akan berkumpul lagi. Jangan terus menyalahkan dirimu atas semua ini kamu tidak bersalah takdir sudah membuat kita terpisah."
Raja Xiao Ren memeluk istri dan anaknya erat tidak ingin berpisah, namun takdir mereka sudah usai sejak lama dan hari ini adalah perta dan terakhir mereka berjumpa. Di tengah-tengah pelukan hangat mereka ada sebuah cahaya muncul lalu menarik jiwa mereka ke tempat yang seharusnya, dikarenakan jiwanya sudah tenang maka sudah saatnya mereka pergi karena sudah tidak ada urusan lagi di dunia ini.
Setelah cahaya itu redup muncul lagi cahaya lain yang menarik jiwa Raja Xiao Ren kembali ke tubuhnya.
Kembali ke dunia luar.
Raja Xiao Ren terlihat mengerjap kan matanya, namun tidak ada yang menyadarinya dikarenakan Putri Xiao Lin Mei masih tidak sadarkan diri dan Raja Zhang Jiang Wu yang tertidur di samping ranjangnya.
"Maaf, membuatmu bersedih. Setelah ini hanya kebahagiaan yang akan menimpamu, Nak."
Raja Xiao Ren bergumam lalu berusaha meraih gadis itu ke pelukannya, namun rasa sakit akibat lukanya kembali terasa membuatnya mendesis menahan sakit.
Seperti alarm desisan itu membuat Putri Xiao Lin Mei mengerjap, dia melihat ruangan yang asing baginya setelah itu teringat dengan ayahnya. Dia ingin bangkit, namun dia menatap Raja Xiao Ren yang berusaha bangun.
Melihat ayahnya tersadar tanpa sadar Putri Xiao Lin Mei memeluk tubuh sang ayah erat dan menangis dalam pelukan ayahnya.
"Ayah kenapa berbohong padaku. Ayah jahat," Isak Putri Xiao Lin Mei.
"Ayah berjanji tidak akan membuatmu bersedih lagi, sekalipun kamu bukan putri ayah."
Ucapan Raja Xiao Ren itu sontak membuat Putri Xiao Lin Mei menegang, tidak mungkin ayahnya mengetahui hal itu bukan. Terus apakah ayah akan membencinya karena telah berbohong.
"Ayah tidak akan membencimu, Nak. Justru ayah berterimakasih karena berkat kamu kerajaan Awan selamat dari kehancuran."
"Nak, mulai saat ini anggaplah kami keluargamu yang selalu kamu dambakan ketika di dunia itu." Pinta Raja Xiao Ren melepaskan pelukannya dan menatap mata putrinya.
"Terimakasih terimakasih sudah menerimaku. Maafkan aku telah berbohong kepada kalian."
Putri Xiao Lin Mei berkata suara sesenggukan.
...****************...
__ADS_1
Tidak jauh dengan ayahnya Pangeran Xiao Jinshi juga mendapatkan mimpi yang sama yakni tentang kebenaran adiknya mimpi yang singkat sekaligus menyesakkan bagi Pangeran Xiao Jinshi. Dengan cepat dia berlari menuju kediaman sang ayah berniat menemui adiknya.
Tiba di sana dia mendengar ucapan ayahnya serta sang adik. Dengan nafas memburu dia menerobos masuk.
"Apakah tidak ingin memberitahu kepada Gege juga."
Putri Xiao Lin Mei beringsut mundur, sepertinya inilah akhirnya mungkin ayah bisa menerima kehadirannya. Tapi, apakah gegenya bisa menerimanya apalagi setelah tahu jika adiknya sudah meninggal dan saat ini dia hanya jiwa yang numpang ditubuh adiknya.
Raja Xiao Ren mengerti ketakutan putrinya dengan segera memeluknya erat lalu menatap sang putra yang saat ini sedang memperhatikan mereka dengan tatapan yang tidak biasa.
"Jinshi, kamu menakutinya," tegur Raja Xiao Ren lemah.
"Maafkan aku, Yah."
Pangeran Xiao Jinshi berjalan menghampiri mereka dia menatap sahabatnya yang masih tertidur seakan-akan tidak terganggu dengan keributan disekitarnya.
"Lin Mei ah mungkin aku harus memanggilmu Aliya. Aku tidak perduli siapapun kamu, yang ku tahu saat ini kamu adalah adikku, adik tersayangku. Terlepas apapun identitasmu," tutur Pangeran Xiao Jinshi.
"Dan aku akan tetap mencintaimu siapapun kamu," ujar Raja Zhang Jiang Wu tiba-tiba.
Sebenarnya Raja Zhang Jiang Wu sudah terbangun sejak tadi semenjak mendengar ringisan seseorang dia ingin membantu Raja Xiao Ren, namun didahului oleh Putri Xiao Lin Mei yang juga menyadarinya hingga terjadilah percakapan itu membuat Raja Zhang Jiang Wu mengurungkan niatnya dan berpura-pura tertidur.
Semua pandangan sontak terarah ke Raja Zhang Jiang Wu yang berjalan mendekati ranjang.
"Jiang Wu, ka kamu ...."
Belum selesai dengan perkataannya Raja Zhang Jiang Wu sudah mendekapnya erat membuat sang empunya terkejut sekaligus bahagia, namun sekali lagi dia harus menyadarkan diri jika dia bukanlah Putri Xiao Lin Mei melainkan Aliya yang hanya menumpang tubuh ini.
"Aku tidak perduli siapapun identitasmu yang kutahu kamu adalah cintaku, calon istriku yang akan menghuni istana cintaku," tutur Raja Zhang Jiang Wu.
"Meskipun aku bukan putri Xiao Lin Mei mu?"
"Iya, meskipun kamu bukan putri Xiao Lin Mei aku akan tetap mencintaimu."
Putri Xiao Lin Mei atau Aliya bahagia dia memeluk pria itu erat lalu dibalas tidak kalah erat juga.
"Terimakasih sudah menerimaku aku mencintaimu," ujar Putri Xiao Lin Mei.
"Ada apa ini," ujar seseorang tiba-tiba membuat suasana menjadi tegang.
*
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1