Reinkarnasi Putri Bar Bar

Reinkarnasi Putri Bar Bar
Part. 35


__ADS_3

Semua orang tertegun melihat kejadian itu. Tepat sebelum pedang itu mengh*n*s Pangeran Xiao Jinshi Raja Xiao Ren terlebih dahulu menarik tubuh pangeran dan menukar dengan tubuhnya. Alhasil jadi lah seperti ini, Raja Xiao Ren yang terkena pedang Xiao Han Shi.


Raja Xiao Ren memeluk putranya erat, hingga Pangeran Xiao Jinshi menyadari sesuatu saat tubuh sang ayah ambruk tidak sadarkan diri.


"Ayah. Bangunlah, ayah!"


Pangeran Xiao Jinshi mengguncang tubuh ayahnya. Pikirannya menjadi kalut tatkala darah merembes keluar.


...****************...


Bagaikan memiliki ikatan yang kuat dari tempat lain Putri Xiao Lin Mei yang sedang belajar menyulam kepada Ratu Ming Xia mendadak tertusuk jarum.


"Awww," ringis Putri Xiao Lin Mei.


"Hati hati, Nak."


Ratu Ming Xia panik dan segera memeriksa jari Putri Xiao Lin Mei yang sedikit mengeluarkan darah. Melihat hal itu dengan sigap Ratu Ming Xia mengambil kain lalu mengusapnya perlahan agar darah berhenti. Beruntungnya itu hanya luka kecil, tidak berarti apa-apa.


"Bibi, kenapa perasaanku tidak nyaman. Apakah terjadi sesuatu pada mereka," ujar Putri Xiao Lin Mei.


"Bibi tahu perasaan mu tidak tenang sedari tadi, tenang saja bibi sudah meminta Jiang Wu untuk mengirimkan pasukan tambahan ke perbatasan. Semoga dengan ini bisa membuatmu lebih tenang," tutur Ratu Ming Xia lembut.


"Terimakasih, Bibi."


Ratu Ming Xia memeluk tubuh Putri Xiao Lin Mei menyalurkan perasaan damai. Meskipun tidak bisa membantu banyak ini sudah cukup mengurangi kecemasan Putri Xiao Lin Mei.


Memang benar semalam dia sudah berbicara dengan putranya agar mengirimkan pasukan ke perbatasan, namun Ratu Ming Xia juga tidak menyangka Putranya juga akan ikut ke sana, dia tidak bisa mencegah keinginan kuat sang putra dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.


...****************...


Kembali ke Medan perang melihat tubuh saudaranya yang lemah Xiao Han Shi tidak merasa bersalah sedikitpun sudah membuat sang adik terluka seperti ini. Bahkan dengan bangganya dia mengacungkan pedangnya tepat dihadapan Pangeran Xiao Jinshi.


"Hahaha lihatlah sebentar lagi kerajaan Awan milik mu akan menjadi milikku. Sekarang apa yang bisa dilakukan oleh Pangeran Mahkota mereka yang pecundang ini." Tawa mengejek keluar dari mulut Xiao Han Shi saat melihat wajah Pangeran Xiao Jinshi memerah padam.


Lihatlah saat ini orang yang sialnya adalah kerabatnya itu tengah tertawa puas melihat ayahnya menderita seperti ini. Ini tidak bisa dibiarkan Pangeran Xiao Jinshi harus memikirkan sesuatu, jika tidak mereka bisa mati konyol ditempat ini.


Dia menyingkirkan tubuh sang ayah, meminta salah satu orang membawanya ke tempat aman. Setelah orang itu pergi sekarang dia mengambil alih komando.


Pertarungan yang sempat terhenti karena sang raja terkena serangan pun dilanjutkan kali ini dengan semangat yang lebih menggelora.


Pertarungan kali ini lebih sengit apalagi kondisi Pangeran Xiao Jinshi yang murka membuatnya lebih brutal dalam melawan musuh hingga beberapa nyawa sudah melayang di tangannya.


Xiao Han Shi hanya tersenyum puas melihat kemarahan dalam diri Pangeran Xiao Jinshi karena dia akan lebih mudah menggiringnya ke dalam kehancuran.


Pangeran Xiao Jinshi sudah dibutakan amarahnya, dia melakukan gerakan tidak beraturan terlebih lagi Xiao Han Shi terus memprovokasinya hal itu semakin memperburuk keadaan.

__ADS_1


...****************...


Pagi hari.


Mentari pagi sudah bersinar cukup terang, namun sepertinya belum ada tanda-tanda akan adanya penyelesaian dari perang yang berkecamuk diantara rival lama. Bahkan disaat sang rival sudah berhasil ditumbangkan tidak membuat Xiao Han Shi puas diri.


Peperangan diantara Kerajaan Awan melawan para pemberontak itu masih belum usai, bahkan saat ini dia berniat membumi hanguskan kerajaan Awan dan membangun kerajaan baru dibawah pemerintahannya. Begitulah jika nafsu serakah sudah mendarah daging dia tidak akan pernah merasa cukup dengan melihat musuhnya sengsara, dia akan bersedia membuat kematian rivalnya dengan menyedihkan.


Pasukan Pangeran Xiao Jinshi terdesak apalagi banyak yang gugur sedangkan jumlah mereka sejak awal memang tidaklah seimbang. Sepertinya penyerangan kali ini sudah direncanakan dengan begitu baik, terlihat dari pasukan musuh yang seperti tidak ada habisnya. Meskipun pihak kerajaan Awan sudah melakukan persiapan sebelumnya namun masih kalah jika dibandingkan dengan kesiapan pihak musuh.


Banyak korban jiwa dari pertempuran ini, meskipun Pangeran Xiao Jinshi bersedih namun dia tidak pernah memperlihatkannya dia sangat tahu betul jika inilah konsekuensi besar yang harus diterimanya yakni kehilangan orang yang rela berkorban untuk kerajaan.


"Lihatlah! Orang-orang mu sudah banyak yang mati di sini. Masih mau egois? Cepat serahkan mahkota itu dan aku akan mengampuni kalian."


Pangeran berdecih, "Cuih, sampai matipun tidak akan aku serahkan kerajaan Awan pada orang serakah seperti kamu."


"Baiklah jika seperti itu maumu. Jangan salahkan aku jika mengambil paksa nyawamu. Aku yakin ayahmu yang sekarat itu tidak akan lama lagi mampu menahan tusukan pedang itu."


Xiao Han Shi bergerak maju, menghunuskan pedangnya tepat di jantung Pangeran Xiao Jinshi, namun berhasil dihindari. Tidak mau mati sia-sia pangeran pun membalasnya dengan bertubi-tubi hingga membuat laki-laki tua itu kewalahan. Tak ingin menyerah Xiao Han Shi pun juga melakukan yang sama dia memutar pedangnya persis seperti tarian pedang lalu bersiap untuk menyerang Pangeran Xiao Jinshi membuatnya terdesak.


"Matilah kamu pangeran sialan! Ciatttt..."


Xiao Han Shi berlari dengan membawa pedangnya ke arah Pangeran Xiao Jinshi yang kelelahan. Dia sudah pasrah jika harus berakhir di sini, setidaknya dia bisa mempertahankan kerajaannya. Pangeran menutup matanya dengan pasrah.


Di saat hampir menusuk Pangeran Xiao Jinshi. Terdengar suara riuh dari kejauhan membuat Xiao Han Shi terbelalak, bagaimana mungkin saat ini datang rombongan pasukan dalam jumlah besar sedang membantai habis pasukannya yang tersisa.


"Maafkan kami sedikit terlambat," ujar orang tersebut.


Laki-laki memakai hanfu merah menyala serta hitam dengan zirah yang dikenakannya tampak membuatnya semakin gagah. Jika Putri Xiao Lin Mei ada di sini pasti akan semakin terpesona dengan penampilannya saat ini, yah pria itu adalah Raja Zhang Jiang Wu dia datang atas permintaan sang ibunda agar membuat gadisnya lebih tenang jika menyelesaikan perang ini lebih cepat.


Disamping Raja Zhang Jiang Wu ada Pangeran Zhang Fei yang datang turut membantu sahabatnya. Wajah konyol yang selama ini ditunjukkan dihadapan Putri Xiao Lin Mei sudah sirna digantikan dengan tatapan tajam dan dingin bagaikan tak tersentuh apapun. Laki-laki konyol itu seakan terlihat menjadi manusiawi dibandingkan dengan hari biasanya.


"Kenapa kalian di sini. Siapa yang menjaganya?"


Pangeran Xiao Jinshi terkejut melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba ini. Bagaimana dengan adiknya siapa yang menjaganya jika mereka disini.


"Tenang saja dia berada ditempat aman. Ayahmu sudah diurus orang-orang ku," jawab Raja Zhang Jiang Wu dengan menatap dingin sekelilingnya.


"Baiklah sekarang tugas kita membersihkan hama dan sampah masyarakat ini sebelum menyebarkan virus menukar kepada yang lain," timpal Pangeran Zhang Fei.


Kedatangan pasukan bantuan yang begitu tiba-tiba ini membuat semangat pasukan kerajaan Awan kembali bergelora, dengan teriakan semangat mereka menerobos pertahanan musuh tanpa merasa takut. Begitupula dengan ketika pria kita kali ini, bahkan mereka bahu membahu melawan Xiao Han Shi yang seperti tidak pernah merasakan lelah setelah menggempur habis-habisan pertahanan pasukan kerajaan Awan.


Bukan masalah besar bagi mereka bertiga jika sudah bersatu bahkan Pangeran Xiao Jinshi yang merasa hampir putus asa kembali semangat lagi.


Saat ini posisi mereka terbalik jika tadi Pangeran Xiao Jinshi yang terdesak saat ini giliran Xiao Han Shi lah yang terdesak. Dia tidak pernah memperhitungkan ini sebelumnya disaat semua impiannya sudah didepan mata sekarang hancur gara-gara kedatangan cecunguk itu. Tapi, dia salah besar orang-orang yang dia katakan cecunguk itu bahkan bisa membalikkan keadaan.

__ADS_1


Xia Han Shi saat ini sedang berada diantara mereka bertiga dengan posisi ditengah. Dia menatap benci mereka terutama dengan Pangeran Xiao Jinshi.


"Kalian berniat mengeroyokku seperti ini? Cih memalukan."


"Cuih memalukan." Raja Zhang Jiang Wu menatap remeh orang dihadapannya.


"Lebih memalukan mana dengan kamu yang memanfaatkan kebencian orang lain untuk keseraahanmu itu."


"Xiao Han Shi, apakah kamu belum menyadarinya. Keserakahan dan keangkuhan yang kamu tunjukkan saat ini menimbulkan kekacauan besar." Peringat Pangeran Xiao Jinshi.


"Aku tidak perduli. Persetan dengan semua orang, lebih baik serahkan mahkota itu sekarang juga!"


Xiao Han Shi menatap tajam mereka satu persatu, terlihat dengan jelas kebencian di matanya. Pangeran Zhang Fei yang sedari tadi terdiam mengambil tindakan, diambilnya pedang lalu melayangkan tepat dikepala Xiao Han Shi. Dan ...


Crashhh


Jatuhlah kepala pria serakah itu, bahkan Pangeran Xiao Jinshi dibuat terkejut dengan tindakan sahabatnya.


"Terlalu lama menunggu omongan sampahnya. Lebih baik seperti ini agar cepat selesai."


Pangeran Zhang Fei berbicara dengan santai tanpa memperdulikan pandangan menusuk ke dua orang sahabatnya. Dia menatap mereka dengan bingung apakah ada yang salah? Begitulah pikirnya.


"Zhang Fei sialan! Kenapa kamu mengambil bagianku, hah." Teriak mereka bersamaan.


"Sudah, cepat umumkan kemenangan ini dengan segera agar adikmu bisa tenang dan bawa tubuhnya," perintah Pangeran Zhang Fei.


"Ck sebenarnya disini siapa yang pangeran mahkota. Kenapa dia jadi begitu memerintah."


Pangeran Xiao Jinshi berdecak sebal dengan tingkah pria itu, namun tetap melaksanakan perintahnya.


"Semuanya perang dihentikan! Kerajaan Awan sudah menang."


Pangeran Xiao Jinshi berteriak lantang dan disambut dengan sorakan bahagia pasukan kerajaan Awan. Pangeran memerintahkan pasukannya yang tersisa untuk meringkus pasukan musuh serta mengangkat tubuh Xiao Han Shi kembali ke istana.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik." Raja Zhang Jiang Wu menepuk pundak diikuti oleh Pangeran Zhang Fei.


Setelah berkata seperti itu dia meninggalkan Pangeran Xiao Jinshi yang tersenyum lega.


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2