Reinkarnasi Putri Bar Bar

Reinkarnasi Putri Bar Bar
Part. 44


__ADS_3

Raja Zhang Jiang Wu terpaku menatap sosok itu, ya dialah yang selama ini dia rindukan dan nantikan kedatangannya. Dia lah yang bisa membuatnya merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


"Mei'er," panggilannya.


"Bagaimana kabarmu, Yang Mulia Raja?"


"Jangan panggil aku seperti itu," protesnya. Dia memang tidak pernah suka dipanggil seperti itu oleh orang terdekatnya.


Jiwa Putri Xiao Lin Mei tersenyum mendengar protes keras dari sahabatnya.


"Haha ... baiklah-baiklah, Sahabatku."


Merekapun melupakan keberadaan Alya dan asik berbincang melepas rindu.


Alya menatap interaksi mereka dengan pandangan yang susah dijelaskan, bolehkah dia cemburu dengan mereka. Meskipun Putri Xiao Lin Mei yang sekarang muncul dihadapannya ini hanyalah sebuah potongan jiwa tak bisa dipungkiri jika dia merasa sesak saat melihat mereka bercanda seperti itu.


"Ayolah, bahkan dia memanggil Xiao Lin Mei dengan akrab," batinnya.


"Lebih baik aku pergi dari sini."


Alya ingin pergi dari sana memberikan waktu untuk mereka melepas rindu, dan juga menguatkan hatinya. Belum sempat melangkahkan kakinya terdengar suara lembut memanggilnya.


"Alya."


"Ah iya. Hai, sudah lama tidak bertemu," ujarnya basa basi.


Putri Xiao Lin Mei tersenyum mendengar sapaannya. Dia mengetahui jika gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Ia menatap pria yang menjadi sahabatnya lalu beralih ke Alya.


"Alya, kemarilah."


"Baiklah."


Alya menghampiri jiwa Putri Xiao Lin Mei yang asli dengan perasaan yang tidak karuan. Gadis itu tersenyum dengan tulus kepadanya.


"Alya, aku mewakili ibunda berterimakasih kepadamu, kamu sudah bekerja dengan baik. Aku tahu kamu lelah dengan semua permasalahan yang ada, sekarang saatnya kamu berbahagia."


"Al, menikahlah dengannya. Jangan pikirkan aku," ujarnya.

__ADS_1


"Tapi ..." Alya menunduk ragu.


"Al, dengarkan. Aku tidak pernah mencintainya sama sekali, dia hanya aku anggap sebagai kakak sekaligus sahabatku. Ingat, yang berhasil membuatnya merasa takut kehilangan itu bukan aku, melainkan jiwa mu dia bahkan mengorbankan nyawanya itu karena mu."


"Cinta yang sebenarnya itu adalah jika kita bisa merasakan kebahagiaan sekaligus ketakutan dalam waktu bersamaan. Dia bahagia bisa selalu ada untukmu dan akan merasa ketakutan jika kamu berada jauh dari jangkauannya dan kehilangan orang yang dicintainya."


Alya tergugu dihadapannya, hubungan macam apa ini dia tahu dengan benar jika Xiao Lin Mei juga mencintai Zhang Jiang Wu dia ingat betul bagaimana gadis itu menyesali keputusannya saat mengusir pria itu dari kediaman nya dan sekarang dengan mudahnya merelakan prianya untuk dia yang hanya jiwa tersesat.


Ya, di saat dia mendapatkan ingatan itu dia juga melihat bagaimana gadis itu terpuruk menyesali keputusannya. Alya menggeleng keras tidak mau mempercayai perkataannya.


"Tidak, aku tahu kamu berbohong. Aku hanya akan menjadi tidak tahu diri jika mengambilnya darimu. Atau aku ikut menyusulmu saja biar tidak ada yang tersakiti toh tugasku sudah selesai di sini."


Alya mengambil belati yang dibawa sedari tadi, dia mencoba menggoreskan tangannya. Dengan cepat Raja Zhang Jiang Wu merebutnya dan melemparkannya ke sembarang arah.


"Alya, jangan bertindak bodoh!" Teriaknya marah.


"Ya, aku memang bodoh! Aku bodoh sudah mencintaimu, aku sudah bodoh karena dengan tidak tahu dirinya merebut semua milik penolongku," balasnya tak mau kalah.


"Bahkan aku merasa lebih jahat daripada mereka," lirihnya.


Raja Zhang Jiang Wu merengkuh pundak Alya lalu membawanya ke pelukannya. Gadis itu masih menangis dalam dekapan pria itu sambil terus menggumamkan maaf.


Putri Xiao Lin Mei menatap gadis itu dengan senyum yang tidak pernah luntur.


"Alya, ingatlah aku sudah mati. Tidak mungkin aku bisa bersatu dengannya."


"Xiao Lin Mei, maafkan aku. Maaf, aku merebut semuanya darimu, keluarga sahabat bahkan cintamu. Sekali lagi maafkan aku," sesalnya.


"Al, tidak ada yang perlu dimaafkan, kamu tidak bersalah sama sekali dalam hal ini. Waktuku memang sudah habis di sini dan inilah tujuanku sebenarnya menarikmu ke sini.


Di dunia itu mungkin kamu tidak pernah merasakan keluarga dan kamu merasa kesepian, namun di sinilah kebahagiaanmu sesungguhnya. Aku ingin kamu merasakan kebahagiaan itu, Al. Dan aku tidak pernah keberatan jika kamu menjadi dirimu serta mengambil semua orang-orang."


Putri Xiao Lin Mei menatap sahabatnya yang sedang menenangkan Alya. Dia menghampiri mereka lalu berusaha menyentuh pundaknya, namun tembus karena dia hanya sebongkah jiwa kali ini.


"Jiang Wu, waktuku tidak banyak. Aku hanya berpesan kepadamu, tolong jaga dia baik-baik jangan pernah menyakitinya. Lupakanlah aku, tujuanmu saat ini bukanlah aku melainkan Alya. Bahagiakan dia, buat dia benar-benar merasa tidak sendirian dan kesepian."


"Alya, aku pamit. Titip ayah dan Gege ku. Sayangilah mereka seperti kamu menyayangi keluargamu di sana."

__ADS_1


Alya pun berbalik dia melepaskan diri dari pelukan pria itu, dia menatap tubuh Putri Xiao Lin Mei yang mulai memudar.


"Xiao Lin Mei, aku berjanji akan menjaga mereka. Terimakasi sudah menarikku ke sini berkat kamu aku bisa merasakan yang namanya keluarga. Terimakasih Xiao Lin Mei."


Jiwa Putri Xiao Lin Mei pun tersenyum dibalik cahaya yang kembali datang, kilauan cahaya itu kembali bersinar terang membuat dua manusia itu menutup matanya menghalau cahaya itu masuk.


Perlahan-lahan cahaya itu memudar bersamaan dengan hilangnya jiwa Putri Xiao Lin Mei yang asli.


Alya terduduk di taman itu dan kembali menangis, dia merasa bimbang dengan hatinya. Dia tidak mau egois, meskipun Putri Xiao Lin Mei sudah pergi tidak dipungkiri hatinya sakit saat melihat mereka berdua.


Raja Zhang Jiang Wu hanya merengkuh tubuh gadis itu dia membiarkan Alya meluapkan emosinya. Karena kelelahan menangis Alya pun pingsan dalam pelukan pria itu.


"Al, Alya."


Raja Zhang Jiang Wu pun tersadar jika tubuh gadis itu melemas. Dia segera mengangkat tubuhnya menuju Paviliun anggrek.


Sesampainya di paviliun pria itu langsung membaringkannya di ranjang dan menyelimuti tubuhnya.


Pria itu tidak langsung pergi, namun memerhatikan wajah gadis itu dengan seksama. Dia menatap bekas air mata Alya, terbesit rasa bersalah karena sudah membuat gadis ini bersedih. Dengan perlahan-lahan dia mengusap jejak air mata tersebut lalu mengecup kening nya pelan.


"Maafkan aku sudah membuamu bersedih. Aku berjanji ini adalah yang pertama dan yang terakhir. Kuharap kamu mempercayainya, Al."


Pria itu melihat sekali lagi gadisnya sebelum benar-benar pergi dari tempat itu. Bukannya dia tidak mau menunggunya tersadar, namun dia takut jika kehadirannya akan membuat Alya semakin bersedih.


Alya mengerjap lalu melihat sekelilingnya seperti kamarnya. Matanya menelisik menanti seseorang, merasa percuma dia menghela nafas.


"Bahkan dia tidak menungguku tersadar," gumamnya.


"Lebih baik aku tidur saja dan berharap semoga besok tidak bangun lagi," ucap Alya.


Gadis itu memejamkan matanya kembali dalam keputusasaan. Dia meraih selimutnya untuk mengurangi hawa dingin ditubuhnya, entah kenapa tubuhnya menjadi kedinginan seperti ini.


*


*


*

__ADS_1


*


Bersambung ....


__ADS_2