Reinkarnasi Putri Bar Bar

Reinkarnasi Putri Bar Bar
Part. 45


__ADS_3

Keesokan harinya.


Alya terbangun dari tidurnya dengan perasaan tidak menentu, kenapa dia masih bangun? Dia ingin mati saja. Toh tugasnya sudah selesai, kebanyakan di novel yang dia baca setiap tokoh yang selesai misi akan kembali ke dunia asalnya.


Kepalanya berdenyut sakit, mungkin karena kelelahan atau banyak pikiran. Dia menyingkap selimutnya dan mencoba berdiri, dia ingin pergi ke kamar mandi. Belum sempat melangkahkan kaki kepalanya semakin sakit dan tubuhnya limbung. Di saat hampir terjatuh beruntung ada sebuah tangan menangkapnya.


"Jiang Wu, ka kamu..." Belum selesai dengan perkataannya tubuhnya kembali tumbang.


"Shttt jangan banyak bergerak. Berbaringlah." Pria itu menuntun Alya berbaring kembali.


Alya menurut, Kepala terasa berputar-putar. Sesekali dia memukul kepalanya agar reda. Raja Zhang Jiang Wu menangkap tangan gadis itu mencegah melakukan hal itu.


"Jangan lakukan itu. Itu hanya akan menyakitimu," tegur nya.


"Sakit," lirihnya.


"Tunggulah di sini aku akan memanggilkan tabib untukmu."


"Jangan." Mencekal lengan Raja Zhang Jiang Wu.


Laki-laki itu menoleh, dan menatap wajah Alya yang pucat. Dia merasa kasihan, pasti gadis itu kesakitan.


"Sebentar saja," ujarnya pelan.


Gadis itu menggeleng lemah, dia tidak mau diperiksa apalagi disuruh minum obat. Raja Zhang Jiang Wu menyerah, akhirnya dia hanya menyuruh gadis itu istirahat sementara dia memijat pelan pelipisnya.


Alya kembali memejamkan matanya, pijatan pria itu mampu membuat sakitnya sedikit mereda dan kantuknya kembali datang.


Raja Zhang Jiang Wu menatap wajah cantik Alya, dia merasa bersalah gadis itu sakit pasti karena dirinya.


"Jiang Wu, kenapa belum datang. Kalian sudah ditunggu," ujar Pangeran Xiao Jinshi tiba-tiba.


"Shtttt pelankan suaramu."


"Dia sakit, kalian lanjutkan saja eksekusinya dia biar aku yang menjaga."


Pangeran Xiao Jinshi terkejut mendengar adiknya sakit, seingatnya kemarin masih baik-baik saja. Dengan tergesa-gesa dia menghampiri ranjang sang adik yang terbaring lemas.


"Terus bagaimana? Apakah sudah diperiksa?" Tanya Pangeran Xiao Jinshi pelan.


"Belum, adikmu tidak mau diperiksa. Pergilah, biarkan dia istirahat."


"Huftt baiklah, aku titip adik ku."


Pangeran Xiao Jinshi pun pergi meninggalkan mereka berdua dia kembali ke halaman istana karena hari ini adalah eksekusi para tersangka. Sebenarnya tadi Raja Zhang Jiang Wu berniat untuk menjemput Alya tak disangka gadis itu sedang sakit, mau tidak mau dia mengurungkan niatnya mengajak gadis itu menyaksikannya.


"Cepat sembuh, Bidadari ku."


Cup


Pria itu mengecup keningnya perlahan, lalu pergi sebentar pasti gadisnya belum sarapan diapun berinisiatif pergi ke dapur istana dan membuatkan bubur agar bisa dimakan olehnya. Tak lupa juga dia memerintahkan pelayan di sana untuk menyiapkan air hangat untuk mengompres Alya yang demam.


Setelah semua selesai Raja Zhang Jiang Wu membawa bubur tersebut ke kamar Alya diikuti oleh pelayan yang dia perintahkan untuk membawa air untuk mengompres.


"Letakkan di sana lalu pergilah." Perintahnya kepada pelayan itu.


Setelah selesai dengan tugasnya pelayan itu pamit undur diri dan hanya dijawab anggukan pria itu.

__ADS_1


Raja Zhang Jiang Wu meletakkan nampan yang dibawanya di meja tepat di samping ranjang. Dia tidak terburu-buru untuk membangunkan gadisnya, dia mengambil air yang sudah dibawa pelayan tadi. Dia memasukkan kain yang sudah disediakan lalu memerasnya, setelah dirasa sudah cukup dia menempelkannya di dahi gadis itu secara perlahan-lahan.


Alya menggeliat merasakan hawa dingin menempel di dahinya. Dia mengerjap melihat Raja Zhang Jiang Wu yang sibuk mengompresnya hingga tidak sadar jika sedang ia perhatikan.


"Jiang Wu," panggilnya lirih.


"Kamu bangun. Maaf, mengganggu istirahatmu, tubuhmu demam."


"Tidak apa-apa."


Alya pun berusaha bangun dibantu oleh Raja Zhang Jiang Wu.


"Terimakasih," ujarnya.


"Sama-sama. Sekarang kamu sarapan dulu, ini aku sudah buatkan bubur." Raja Zhang Jiang Wu meraih bubur yang tidak jauh darinya lalu menyodorkannya ke Alya.


"Makanlah pelan-pelan masih panas," ujarnya.


Alya terdiam menatap Raja Zhang Jiang Wu tanpa berniat mengambil mangkok tersebut. Melihat gadis itu diam saja dia pun berinisiatif menyuapinya secara langsung. Pria itu meniup terlebih dahulu setelah dirasa sudah tidak terlalu panas mengarahkan sendoknya di depan mulut Alya.


"Buka mulutmu, Al."


Alya masih terdiam, air matanya mengalir tanpa permisi membuat Raja Zhang Jiang Wu panik. Dia meletakkan mangkok itu ke nakas lalu berdiri akan keluar mencari tabib, Alya kembali mencegahnya.


"Jangan."


"Kenapa? Biar aku panggilkan tabib untuk memeriksamu."


Alya menggeleng keras bahkan gadis itu memeluk tubuh Raja Zhang Jiang Wu erat tidak membiarkannya pergi.


Raja Zhang Jiang Wu pun menghela nafas, dia mengurungkan niatnya untuk memanggil tabib.


"Baiklah, aku tidak akan memanggil tabib. Tapi, kamu harus makan. Jika tidak jangan salahkan aku akan memanggilkan tabib sekarang," putus Raja Zhang Jiang Wu tidak mau diganggu gugat.


Mau tidak mau Alya pun menurut dia menerima suapan bubur tersebut meskipun lidahnya terasa pahit, lebih baik lidahnya terasa pahit daripada harus meminum ramuan obat yang pahit.


Akhirnya Raja Zhang Jiang Wu merasa lega gadisnya mau makan. Dengan telaten dia menyuapi Alya yang mengeluh lidahnya mati rasa. Sedikit demi sedikit akhirnya bubur itu habis. Raja Zhang Jiang Wu mengambil air minum yang tadi dia bawa lalu menyerahkan ke Alya.


"Pelan-pelan saja minumnya," ujar Raja Zhang Jiang Wu.


Setelah selesai Alya pun menyerahkan gelas kosong tersebut ke pria itu dan diterima dengan baik olehnya.


"Oh iya aku baru ingat. Bukankah kamu seorang raja? Tapi, kenapa bisa begitu bebas? Apakah seorang raja menjadi pengangguran saat ini."


"Sembarangan, aku sudah menyuruh orang-orang ku untuk mengurus kerajaan. Jadi, aku bisa bersantai di sini. Lagipula tidak ada salahnya libur sejenak dan melimpahkan semuanya kepada Jiazen, biar anak itu tidak menganggur," jawabnya enteng.


"Cih, dasar."


Alya tersenyum mendengar jawaban santai Raja Zhang Jiang Wu.


Pria itu mengacak surai panjang gadis itu dan dihadiahi pelototan tajam Alya.


"Jiang Wu, jangan rusak rambutku."


"Hahaha... Baiklah baiklah. Sekarang istirahatlah aku akan ke aula sebentar."


Mendengar kata aula sontak Alya mengerjap dia baru ingat jika hari ini akan ada eksekusi Selir Mei Ran dan juga komplotannya. Alya sontak terbangun dan akan berlari menuju kamar mandi, namun belum sempat berdiri sebuah tangan mencekalnya.

__ADS_1


"Mau kemana?"


"Ke kamar mandi. Bukankah hari ini mereka akan di eksekusi, aku harus datang melihatnya."


"Tidak boleh, kamu masih sakit."


"Oh, ayolah aku sudah sehat. Izinkan aku melihatnya sebentar saja."


"Huftt baiklah. Cepatlah bersiap, aku akan menunggumu di luar."


"Yey, terimakasih. Kau yang terbaik."


Cup


Setelah mencuri ciuman di pipi Zhang Jiang Wu gadis itu langsung berlari ke kamar mandi seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


"Cih, gadis ini," gumamnya tersenyum.


"Jiang Wu aku mencintaimu!" Teriak Alya dari dalam kamar mandi.


"Ya ya ya aku juga mencintaimu. Cepatlah bersiap atau aku akan meninggalkanmu," balasnya tak kalah nyaring.


Setelah itu Raja Zhang Jiang Wu keluar kamar dan membereskan mangkok serta air kompresan tadi ke dapur.


Di dalam sana Alya merutuki kelakuannya barusan. Tak lama wajahnya memerah saat mendengar sahutan pria itu. Jantungnya berdetak kencang wajahnya semakin memanas, ini bukan karena suhu badannya yang demam melainkan reaksi alami tubuhnya.


Dengan cepat dia menyelesaikan mandinya karena tidak mau ditinggal pria itu. Tanpa menunggu waktu lama gadis itu sudah keluar dari kamar mandi, lalu mengambil hanfunya di lemari.


Sesaat gadis itu tertegun melihat hanfu merah muda, dia ingat ini adalah hanfu yang dibelikan oleh pria itu saat kencan pertama mereka. Kencan pertama setelah dia bangun di dunia ini. Dia pun mengambil hanfu tersebut lalu mengenakannya.


Alya masih berkutat dengan alat riasnya, dia menyapu wajahnya dengan make-up tipis, memoles perona pipi serta bibir setipis mungkin agar terlihat natural dan bisa menutupi wajahnya yang pucat.


"Cantik," ujar seorang tiba-tiba.


Alya pun terkejut lantas menoleh ke arah pintu, di sana pria itu sedang berdiri mematung memperhatikannya. Gadis itu menjadi salah tingkah karena pujian pria itu.


"Ku kira kamu sudah pergi."


"Belum, tadi aku baru saja dari dapur," jawabnya.


Laki-laki itu pergi menuju lemari seperti mencari sesuatu, dia mengambil sebuah jubah berbulu lalu mengenakannya di tubuh Alya yang sedang menata rambutnya.


"Pakai ini, biar hangat. Diluar dingin, nanti kamu semakin sakit."


"Baiklah, terimakasih."


Setelah selesai dengan urusan riasan merias mereka pun pergi menuju aula untuk menyaksikan eksekusi mereka.


*


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2