
"Jiang Wu menurutmu apakah aku bisa mengalahkan mereka?"
"Percayalah kamu pasti bisa mengalahkan mereka dan melindungi kerajaanmu," ujarnya menenangkan.
Putri Xiao Lin Mei mengangguk dan menguatkan hatinya jika dia mampu membalaskan dendam pemilik tubuhnya dan memberikan keadilan untuknya.
"Oh iya tentang Zhao Yunlei kamu tenang saja. Aku pastikan dia tidak akan pernah muncul lagi di sini dan mengganggumu."
Putri Xiao Lin Mei mengangguk.
Putri Xiao Lin Mei menguap matanya terasa berat hingga tanpa sadar dia tertidur hampir saja tubuhnya terjatuh jika Raja Zhang Jiang Wu tidak menangkapnya. Diangkatnya tubuh Putri Xiao Lin Mei ke kediaman yang ditempatinya selama dia berada di sini.
Raja Zhang Jiang Wu memerintahkan penjaga pintu membuka pintu kamarnya lalu membaringkannya di tempat tidur. Setelah memastikan Putri Xiao Lin Mei nyaman dia pun lantas kembali ke kediamannya.
Pagi hari.
Saat ini Putri Xiao Lin Mei bersiap menghadap ke Ratu Ming Xia dan juga Raja Zhang Jiang Wu untuk berpamitan dengan mereka. Putri Xiao Lin Mei keluar dengan hanfu berwarna biru muda rambutnya ditata dengan sederhana serta menambahkan aksesoris bunga kecil membuatnya tampak lebih cantik. Tak lupa dia membawa jubah Zhang Jiang Wu kemarin untuk dikembalikan kepada sang empunya.
Putri Xiao Lin Mei bergegas pergi ke tempat biasanya calon ibu mertuanya itu berada. Tidak butuh waktu yang lama Putri Xiao Lin Mei sampai di tempat tersebut.
Saat Kasim melihat kedatangannya langsung mengumumkan kedatangan Putri Xiao Lin Mei. Setelah mendengar sahutan dari dalam dia pun lantas masuk kebetulan juga di sana ada Zhang Jiang Wu.
"Selamat pagi, Mei' er."
"Pagi, Bibi."
"Di sini bukan hanya ibu saja. Tapi, kenapa hanya ibu yang kamu sapa," celetuk Raja Zhang Jiang Wu.
Mendengar aduan putranya Ratu Ming Xia hanya terkekeh geli dan mengabaikan putranya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Putri Xiao Lin Mei dia mengabaikan sejenak celetukan pria itu.
"Kenapa pagi-pagi sekali sudah menemui bibi. Apakah ada masalah?"
"Tidak ada, Bibi. Lin Mei mau pamit kembali ke kerajaan untuk mengurus masalah kemarin."
"Bukankah masih ada ayah dan kakak mu? Biarkanlah mereka yang mengurus kamu di sini saja temani bibi," ujarnya tidak rela.
Raja Zhang Jiang Wu yang terdiam pun angkat suara.
"Masalahnya tidak sesederhana itu, Ibu. Orang itu suruhan Selir Mei Ran yang mengincar nyawa Lin Mei. Jika, Lin Mei tidak kembali maka itu sama saja membiarkan mereka bersenang-senang dan terlepas dari jeratan hukum."
"Ular itu ternyata masih sama saja seperti dahulu tidak pernah berubah," geram Ratu Ming Xia.
"Bibi tahu sesuatu?"
"Tidak banyak, hanya saja ibumu pernah bercerita jika ular itu menjebak ayah mu dengan cara kotor untuk menikahinya. Entah rencana apa yang selir itu miliki untuk ayahmu bibi tidak tahu."
__ADS_1
Putri Xiao Lin Mei terkejut mendengar hal ini. Tidak disangka ternyata selir pisang itu telah berbuat sekotor itu. Begitupun dengan Raja Zhang Jiang Wu juga terkejut sekaligus bersyukur. Terkejut karena perbuatannya dan bersyukur karena ayahnya tidak pernah terlibat dengan urusan perempuan. Sejenak dia berterimakasih dengan peraturan leluhur kerajaan yang melarang mengangkat selir.
"Ada apa denganmu?" tanya Ratu Ming Xia kepada putranya.
"Beruntung sekali leluhur kita tidak mengijinkan pemimpinnya mengangkat selir. Dengan begitu akan membebaskan istana dari perang dingin penghuni Harem," ujarnya.
Ratu Ming Xia mengangguk membenarkan perkataan putranya.
"Benar, ibu harap nanti kamu juga seperti itu. Pesan ibu sebesar apapun masalah yang menimpa rumah tangga kalian nanti jangan pernah berpikiran untuk mencari perempuan lain di luar. Karena seikhlas apapun seorang istri ketika dimintai izin menikah lagi pasti akan ada rasa sakit hati," nasihat Ratu Ming Xia.
Raja Zhang Jiang Wu mengangguk mantap. Dalam hati dia tidak akan mengkhianati kepercayaan dan cinta Putri Xiao Lin Mei dengan membawa perempuan lain diantara mereka. Begitupun dengan Putri Xiao Lin Mei berjanji tidak akan mengkhianati Zhang Jiang Wu.
"Saya janji akan mematuhi peraturan tersebut, Ibu."
Ratu Ming Xia tersenyum melihat kesungguhan putranya.
"Lin Mei, dengar sendiri 'kan? Jika putra bibi melanggarnya hukum saja dia bibi akan mendukungmu."
"Siap, Bibi." Sambil tersenyum menatap ke arah Zhang Jiang Wu.
Glekk
Entah kenapa Zhang Jiang Wu merinding melihat senyuman Putri Xiao Lin Mei. Sepertinya pembicaraan mereka tadi berubah menjadi acara menyudutkannya.
"Tadi Lin Mei ingin pulang bukan? Pulanglah ayah mu pasti khawatir dengan mu," ujarnya.
"Laksanakan, Ibunda."
"Tidak usah repot-repot ada pengawal yang akan mengawal ku. Lagipula Jiang Wu masih pemulihan," tolaknya halus.
"Tidak apa-apa bibi akan merasa tenang jika Jiang Wu ada ikut menjagamu."
"Baiklah."
Setelah itu mereka sarapan lalu terlebih dahulu lalu Putri Xiao Lin Mei diantar ke depan gerbang istana. Di depan sana sudah ada kereta kuda yang akan dia naiki bersama dengan Raja Zhang Jiang Wu yang akan mengantarnya.
Putri Xiao Lin Mei pun masuk terlebih dahulu lalu disusul oleh Zhang Jiang Wu. Putri Xiao Lin Mei melambaikan tangannya tanda perpisahan kepada Ratu Ming Xia yang ikut mengantarnya.
...****************...
Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu akhirnya Putri Xiao Lin Mei sampai di gerbang ibukota dan hari sudah siang merekapun memutuskan untuk singgah sejenak di sebuah kedai untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.
Mereka memasuki kedai yang cukup ramai, kehadiran mereka sontak menjadi perhatian pengunjung terlebih lagi pakaian mereka tampak mencolok. Terdengar bisik bisik yang menanyakan siapa mereka dan hal itu membuat Putri Xiao Lin Mei risih.
"Emm Jiang Wu. Kamu yakin kita akan makan di sini?" bisik Putri Xiao Lin Mei.
__ADS_1
"Tenanglah di sini ada bilik khusus kita bisa memesannya."
"Baiklah."
Zhang Jiang Wu memesan bilik khusus untuk mereka dan meminta pelayan itu mengantarkannya ke bilik tersebut setelah sebelumnya memesan pesanannya.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pesanan mereka datang. Dengan perlahan-lahan pelayan tersebut meletakkan makanannya di atas meja.
"Selamat menikmati hidangan kami, Nona, Tuan."
"Terimakasih, Bibi."
"Sama sama, Nona. Saya pamit undur diri."
Setelah kepergian pelayan itu mereka menyantap makanan yang disajikan tanpa ada pembicaraan diantara mereka.
Setelah selesai makan merekapun keluar dari bilik itu dan kembali ke bawah untuk membayar pesanannya. Disaat akan keluar dari kedai terdengar suara yang tidak asing ditelinga Xiao Lin Mei.
"Wah wah aku tidak menyangka akan bertemu Jie Jie di sini. Apakah sudah puas nge jal*ng nya? Ataukah kamu sudah dibuang karena tidak berguna?" sarkas Xiao Yue Shi adik tirinya.
Perkataan sarkas itu sontak membuat semua orang menoleh ke arah mereka terutama Putri Xiao Lin Mei yang saat ini sedang berdiri di samping Zhang Jiang Wu.
Zhang Jiang Wu menatap tajam gadis itu berani sekali menghina gadisnya ingin menggali kuburnya sendiri. Pria itu bergerak maju namun sebuah tangan mencekalnya dia menatap Putri Xiao Lin Mei dengan tidak terima.
"Jangan buru-buru. Kita lihat saja lebih dahulu sampai sejauh mana dia akan berbicara," bisiknya.
Raja Zhang Jiang Wu hanya mengangguk namun matanya tidak lepas dari gadis itu.
"Lihatlah, Semuanya. Putri Xiao Lin Mei yang terhormat itu sudah menjual dirinya kepada orang lain demi keinginannya tercapai," teriak Xiao Yue Shi lantang.
"Wah lihat itu. Benarkah itu Putri Xiao Lin Mei? Aku tidak menyangka jika berbuat kotor seperti itu."
"Benar sekali, aku tidak menyangka jika putri kebanggaan kita seperti itu."
Terdengar bisik bisik kembali menghujat Putri Xiao Lin Mei membuat gadis itu beringsut mundur. Raja Zhang Jiang Wu mendekap calon istrinya memberikan ketenangan.
Xiao Yue Shi mendekat kearah mereka dan membisikkan sesuatu yang membuat Zhang Jiang Wu meradang.
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ….