
"Pangeran Zhang Fei yang terhormat bisakah anda mengetuk pintu terlebih dahulu."
Keterkejutannya tadi mendadak lenyap berganti dengan kekesalan yang tiada tara sedangkan sang pelaku hanya menyunggingkan senyum tanpa merasa bersalah. Dia hanya memandang orang tersebut datar.
"Ah ayolah Jiang Wu aku seperti ini karena mengkhawatirkan mu, terlebih lagi aku sempat mendengar berita tentangmu."
"Kenapa mendadak menjadi begitu manis seperti ini," goda Raja Zhang Jiang Wu.
Putri Xiao Lin Mei tersedak air liurnya sendiri apakah dia tidak salah dengar. Orang disampingnya ini menggoda orang lain dan juga apa tadi begitu manis Putri Xiao Lin Mei mendadak mual memikirkannya.
"Apakah kalian akan mempertontonkan adegan 'manis' itu kepadaku."
Putri Xiao Lin Mei berkata dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Oh ayolah dia tidak mau jika mereka seperti yang ada dipikirannya.
Mereka menoleh ke sumber suara. Untuk sesaat Pangeran Zhang Fei sempat terpana melihat kecantikan perempuan itu.
"Ekhem, Lin'er perkenalkan dia Pangeran Zhang Fei sahabatku. Nah, Pangeran Zhang Fei yang terhormat perkenalkan dia adalah Putri Xiao Lin Mei calon istriku," ujarnya dengan menekankan kalimat calon istri.
Dia tidak suka jika ada yang memandang miliknya terlebih lagi dengan pandangan penuh minat seperti yang dilakukan oleh Pangeran Zhang Fei.
Pangeran Zhang Fei melongo mendengar perkataan sahabatnya itu. Selama mereka berteman dia tidak pernah mendengar sahabatnya itu tertarik dengan seorang perempuan bahkan lebih terkesan tidak menyukai perempuan.
Pernah sekali waktu disaat mereka pergi ke suatu tempat ada seorang putri yang tidak tahu malu menggoda Raja Zhang Jiang Wu secara terang-terangan bahkan memegang tangannya, disitu Raja Zhang Jiang Wu langsung menghabisi perempuan tidak tahu malu tersebut tanpa belas kasih.
"Luar biasa seorang Zhang Jiang Wu yang terkenal dingin tak tersentuh bisa takluk oleh perempuan secantik ini," takjub Pangeran Zhang Jiang Wu.
"Ramuan apa yang putri berikan kepadanya?" Bisik Pangeran Zhang Fei.
"Tidak ada mungkin sudah takdirnya dia bisa seperti itu."
"Sudah selesai bisik-bisik nya?"
Aura Raja Zhang Jiang Wu semakin suram pada saat melihat Putri Xiao Lin Mei tertawa bersama pria lain. Kalau saja laki-laki itu adalah orang lain mungkin sudah sedari tadi dia menghabisinya bahkan sebelum menginjakkan kakinya di tempatnya.
Sekarang yang dia lakukan hanya bisa menarik nafas panjang dan memejamkan matanya untuk meredakan emosinya.
Glek
__ADS_1
Putri Xiao Lin Mei menelan ludah paksa dirinya tidak salah dengar 'kan. Kenapa dia bisa jatuh cinta kepada orang yang mengerikan seperti Raja Zhang Jiang Wu habislah dia, sepertinya dia tidak akan melepaskannya.
Dia me*remas ujung hanfu yang dipakainya merasa tidak berdaya menatap wajah laki-laki itu. Putri Xiao Lin Mei seperti kehilangan keberaniannya.
"Lihatlah Zhang Fei kamu menakutinya." Sambil menarik lengan Putri Xiao Lin Mei.
Putri Xiao Lin Mei tidak siap dengan pergerakan tiba-tiba tersebut hingga menubruk dada bidang Raja Zhang Jiang Wu.
"Tenanglah aku tidak akan menyakitimu. Kecuali...."
Laki-laki tersebut menggantung perkataannya untuk memberikan jarak kepada Putri Xiao Lin Mei. Lalu dia kembali mendekat dan membisikkan sesuatu.
"Kecuali, setelah pernikahan kita dan menjamin kamu akan menyukainya aku akan melakukan dengan perlahan meskipun tidak menutup kemungkinan akan ada rasa sakit itu." Laki-laki tersebut menggigit kecil telinga Putri Xiao Lin Mei sehingga membuat sang empunya meremang.
Kemudian tanpa berdosa dia menggeret Pangeran Zhang Fei yang masih melongo dengan kelakuannya dan mengajaknya pergi meninggalkan Putri Xiao Lin Mei.
Otak Putri Xiao Lin Mei mendadak nge blank memikirkan maksud perkataannya. Namun, seolah kesadarannya kembali dia berteriak memaki orang yang sudah terlebih dahulu pergi itu.
"Hiyakkk Jiang Wu mes*m!"
"Hahahaha."
Tawa Zhang Jiang Wu pecah saat membayangkan wajah Putri Xiao Lin Mei yang memerah menurutnya itu sangat menggemaskan.
"Ck Jiang Wu apakah kamu akan terus membawaku seperti ini," ujar Pangeran Zhang Fei jengah.
Pasalnya dia dibawa dengan tidak elitnya bagaimana tidak Pangeran Zhang Fei diperlakukan layaknya anak kucing yang selalu menganggu majikannya.
" Eh, iya maaf."
"Sejak kapan kamu minta maaf. Biasanya 'kan kamu selalu menampilkan wajah tanpa dosa," ejek Pangeran Zhang Fei.
"Oh iya aku tahu. Apakah itu karena perempuan tadi siapa namanya tadi?" Menjentikkan jarinya sambil berusaha mengingat-ingat.
"Ah iya Putri Xiao Lin Mei sekarang katakan bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan perempuan secantik dia. Aku yakin dia sudah berusaha keras untuk merubah sikap dingin mu itu."
Pangeran Zhang Fei berbicara panjang lebar dan jangan lupakan tampang berbinar nya seolah-olah itu merupakan hal luar biasa yang patut untuk diberitakan kepada orang lain.
__ADS_1
Raja Zhang Jiang Wu memandangnya dengan datar tanpa berniat menimpali pertanyaan-pertanyaan bodoh dari pria itu. Bagaimana bisa dirinya betah berteman dengan Pangeran Zhang Fei yang cerewetnya melebihi perempuan.
Raja Zhang Jiang Wu memijat pelipisnya pusing.
"Bisakah kamu berhenti. Mendengar ocehan mu itu membuatku semakin pusing," kesalnya.
"Baiklah-baiklah aku minta maaf."
"Aku heran denganmu kenapa berisik sekali seperti perempuan. Aku kasihan nanti yang menjadi pendamping mu pasti dia akan pusing menghadapi ocehan mu itu."
Pangeran Zhang Fei menatap kesal sahabatnya itu. Salahkan dirinya yang terlaku antusias dengan perkembangan sahabatnya itu.
Pangeran Zhang Fei memang orang yang ramah berbeda sekali dengan Raja Zhang Jiang Wu yang ketus dengan orang yang tidak dikenalnya namun itu berbeda jika bersama dengan orang yang dianggapnya spesial.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di istana angin Pangeran Xiao Jinshi berjalan menuju penjara bawah tanah demi mengungkap siapa dalang penyerangan beberapa waktu lalu. Sudah beberapa kali pangeran menginterogasi mereka namun mereka hanya bungkam.
"Cepat katakan siapa yang menyuruhmu."
"Lebih baik anda bunuh aku saja karena semua yang anda lakukan sia-sia saja. Kami sudah disumpah untuk tidak pernah membocorkan pelanggan kami," jawabannya tanpa rasa takut.
"Baiklah aku hargai kesetiaan mu nikmatilah buah dari kesetiaan mu itu dengan membusuk dipenjara ini."
"Prajurit siksa terus mereka sampai mau mengakuinya jangan biarkan mereka mati dengan mudah," perintahnya.
"Baik Pangeran." Sambil menunduk hormat.
Pangeran Xiao Jinshi meninggalkan tempat itu meninggalkan prajurit-prajurit tersebut menyiksa mereka.
Sepeninggal Pangeran Xiao Jinshi prajurit itu menyiksa mereka tanpa ampun terdengar teriakan mereka tapi prajurit itu tidak berniat berhenti sama sekali.
Setiap hari penjara itu tidak pernah sepi dari teriakan kesakitan dan itu semua karena mereka tetap kekeuh dengan pendiriannya yang tidak bersedia memberitahu pelaku tersebut.
Pangeran Xiao Jinshi sendiri cukup terkesan dengan kesetiaan mereka. Namun, sayangnya mereka berada dalam jalur yang salah seandainya saja mereka berada di pihaknya mungkin dia akan dengan senang hati mempekerjakan mereka di istana karena kerajaan membutuhkan orang yang setia seperti mereka.
Bersambung....
__ADS_1