Reinkarnasi Putri Bar Bar

Reinkarnasi Putri Bar Bar
Part. 30


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Setelah pencarian bukti sudah dikumpulkan dan merasa sudah lengkap hari ini Putri Xiao Lin Mei mengajak Pangeran Xiao Jinshi menyerahkan semuanya kepada Raja Xiao Ren.


Setelah sampai di depan ruang kerja sang ayah, dengan sopan Putri Xiao Lin Mei meminta izin masuk, "Permisi, Ayah."


Raja Xiao Ren yang sedang mengerjakan berkas menoleh ke sumber suara dan terkejut dengan kedatangan ke dua anaknya yang membawa beberapa barang, entah apa itu.


"Masuklah, apa yang kalian bawa itu?" tanya Raja Xiao Ren penasaran.


"Lebih baik ayah sendiri yang membukanya," ujar Pangeran Xiao Jinshi.


Raja Xiao Ren pun beranjak dari tempat duduknya lalu melihat semua barang-barang itu satu persatu, di sana ada beberapa gulungan kertas, sebuah botol kaca, buku harian dan lain sebagainya.


Awalnya Raja Xiao Ren kebingungan dengan ini semua, namun sesaat memastikannya bola mata Raja Xiao Ren membola sempurna dia kecewa sekaligus marah besar.


Pada saat membaca secarik kertas serta sebuah buku yang dii sana tertulis lengkap bagaimana rencana besar Selir Mei Ran yang menginginkan kekuasaan dengan menyingkirkan putra putrinya satu persatu, dia menatap wajah putra dan putrinya satu persatu.


"Nak, bagaimana kalian bisa menemukan hal sebesar ini dalam waktu singkat?"


"Kami tidak sengaja menemukannya, Yah. Semua berawal ketika Mei Mei meminta kita menggeledah setiap kediaman ibu selir," tutur Pangeran Xiao Jinshi.


"Apakah ayah tahu? Ternyata kita salah menduga selama ini," sambungnya.


"Apa maksudmu?"


Pangeran Xiao Jinshi menatap adiknya yang tengah menunduk menahan air mata.


"Lin Mei selama ini mengurung diri bukan karena bersedih tentang ibunda. Tapi, ada masalah lain yang menyebabkan hal itu," jelas Pangeran Xiao Jinshi.


Melihat pangeran Xiao Jinshi yang tidak sanggup melanjutkan ceritanya putri Xiao Lin Mei pun menceritakan kembali persis seperti apa yang dia ceritakan beberapa hari yang lalu, tanpa ada yang terlewati.


Dia kembali sesak saat mengulangnya perasaan sakit hati yang dialami pemilik tubuh ini sungguh besar hingga bisa membuat Aliya yang sejatinya hanya meminjam tubuh ini ikut menangis merasakan penderitaannya


"Maafkan Lin Mei yang menyembunyikan semua ini dari kalian. Lin Mei tidak ingin menjadi penyebab kehancuran kerajaan ini jika mereka berhasil dengan rencananya."


Raja Xiao Ren terpaku ditempatnya dengan segera dia merengkuh tubuh putrinya. Hatinya merasa bersalah karena telat menyadari hal itu.


Raja Xiao Ren meminta maaf kepada putrinya karena telah lalai menjaganya hingga mendapatkan siksaan kejam seperti itu. Bukan hanya sang ayah Pangeran Xiao Jinshi pun juga turut meminta maaf kepada sang adik karena merasa gagal dalam menjalankan amanah dari ibunda mereka.


Putri Xiao Lin Mei tidak menyalahkan mereka, ini semua bukan salahnya. Jika Aliya yang mengalami sendiri belum tentu dia bisa setengah pemilik tubuhnya saat ini, mungkin dia lebih baik mati bunuh diri daripada tersiksa seperti itu.


Setelah drama keluarga selesai Raja Xiao Ren menatap wajah putra putrinya.

__ADS_1


"Sekarang kalian istirahat lah, biar sisanya ayah yang mengurusnya."


"Baiklah, terimakasih akhirnya bisa tidur nyenyak tanpa gangguan hama itu," ujar Putri Xiao Lin Mei girang.


"Seharusnya ayah yang berterima kasih kepada kalian," ujarnya lembut.


"Kalau ayah ingin berterimakasih. Aku punya satu permintaan."


"Apa itu?" tanya Raja Xiao Ren.


"Aku ingin mengunjungi makam ibunda, sudah lama tidak mengunjunginya," pinta Putri Xiao Lin Mei.


"Baiklah, ayah akan izinkan. Dan sebagai hadiahnya ayah akan mempercepat pernikahan kalian."


Perkataan Raja Xiao Ren sontak membuat Putri Xiao Lin Mei memerah bak kepiting rebus. Dia belum memikirkan hal ini.


Gestur tubuh malu-malu itu terbaca dengan jelas oleh Pangeran Xiao Jinshi. Dengan jahilnya dia meledek sang adik.


"Apa yang harus malu, bukankah kalian sudah pernah satu kamar."


Uhukkk


"Gege!"


Raja Xiao Ren yang sudah hapal perilaku putranya yang senang menjahili adiknya pun hanya menggeleng kepala.


"Jinshi, sudah cukup. Jangan menggoda adik mu terus."


"Iya, Ayah."


"Ayah, sebelum mulut bocor Gege ku yang tampan ini semakin melebar lebih baik kami pergi dulu."


Putri Xiao Lin Mei keluar dengan menjewer telinga Pangeran Xiao Jinshi. Tidak peduli teriakan kesakitan nya dia melakukan itu untuk membalas perbuatan gegenya.


Raja Xiao Ren memandang kepergian anak anaknya dengan perasaan yang susah dijelaskan antara bangga sedih bercampur menjadi satu. Bangga karena anak-anaknya bisa bekerjasama mengungkap kejahatan besar, namun sedih karena harus melihat mereka saling menguatkan ketika sedang merindukan sosok ibundanya.


"Shi An Mei, lihatlah. Anak-anak mu sudah tumbuh begitu cepat," gumamnya.


...****************...


Putri Xiao Lin Mei masih setia menarik telinga kakaknya. Sepanjang jalan Pangeran Xiao Jinshi mengadu kesakitan, mungkin sebentar lagi akan putus jika tidak segera dilepaskan. Pangeran Xiao Jinshi pun memikirkan cara agar bisa terlepas dari jeratan maut jari lentik adiknya.


"Ekhem Lin Mei ku yang cantik, apakah masih tidak ingin keliling pasar?"

__ADS_1


"Sudah tidak, Jiang Wu mengajak ku waktu itu." Putri Xiao Lin Mei menjawab ketus sambil menarik telinga Pangeran Xiao Jinshi.


"Ayolah, kali ini Gege yang membayar. Kamu bisa belanja sepuasnya."


Mendengarkan hal itu Putri Xiao Lin Mei berbinar, "Benar, Sepuasnya?" tanya nya memastikan.


"Iya, Gege tidak berbohong. Tapi, lepaskan dulu ini."


"Baiklah, nanti malam aku tunggu Gege di paviliun."


Putri Xiao Lin Mei melepaskan jeweran nya dan berlari meninggalkan Pangeran Xiao Jinshi yang meratapi nasib kantongnya yang akan jebol oleh adiknya.


...****************...


Malam hari.


Sang Surya telah tenggelam tergantikan dengan sinar rembulan yang terpancar diantara ribuan bintang-bintang dilangit. Angin sepoi-sepoi berhembus dengan kecepatan sedang membuat suasana tampak begitu damai.


Di paviliun anggrek Putri Xiao Lin Mei sudah siap dengan hanfu berwarna merah dengan campuran emas tak lupa juga dengan hiasan kecil di kepala. Perempuan itu tidak pernah mengenakan aksesoris yang berlebihan seperti kebanyakan perempuan lain di zaman ini yang lebih terlihat seperti badut berjalan.


Sekali lagi Putri Xiao Lin Mei memastikan tidak ada yang terlewat di depan cermin. Setelah tidak ada yang terlewat dia pun melangkahkan kakinya keluar paviliun.


Jika waktu itu yang menunggunya adalah Raja Zhang Jiang Wu maka saat ini adalah Gege nya. Pangeran tampan itu sudah menunggu di depan paviliun dengan memakai hanfu berwarna putih bersih.


Putri Xiao Lin Mei berdiri di depan Gege nya yang terpaku melihatnya. Entah apa yang dia pikirkan Putri Xiao Lin Mei pun menjentikkan jarinya tepat di wajah sang kakak membuatnya tersentak kaget.


"Ekhem cincinnya kesayangan tidak pernah lepas," ledek Pangeran Xiao Jinshi.


"Gege, berhenti lah mengejekku."


Putri Xiao Lin Mei menggembungkan pipinya membuat Pangeran Xiao Jinshi gemas ingin mencubitnya, namun dia tahan karena tidak ingin membuat singa betina mengamuk.


"Baiklah-baiklah sekarang kita berangkat."


Pangeran Xiao Jinshi pun menuntun adiknya menaiki kereta kuda.


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2