
Sore hari.
Sesuai janjinya Pangeran Xiao Jinshi menuju paviliun anggrek, tempat tinggal sang adik Putri Xiao Lin Mei. Dia sudah memutuskan hal apa yang akan dia lakukan terhadap mereka, dan dia harap adiknya akan setuju dan membantunya.
Beruntung sekali karena Putri Xiao Lin Mei juga sedang berada di kediamannya bersama Zhang Yue.
"Lin Mei," panggil Pangeran Xiao Jinshi.
"Hai, Gege. Duduklah, bagaimana? Apakah sudah memutuskan?" Tanya Putri Xiao Lin Mei.
Pangeran Xiao Jinshi pun duduk di hadapan adiknya.
"Kita lakukan malam ini," putus Pangeran Xiao Jinshi.
Putri Xiao Lin Mei yang mendengar keputusan sang kakak pun tersenyum senang, sesuai keinginannya dia akan memberikan mereka pelajaran berharga terlebih Selir Mei Ran karena sudah berani mengganggu keluarga mereka.
"Baiklah, nanti malam kita akan berikan mereka kejutan yang tidak akan pernah dilupakan," ujar Putri Xiao Lin Mei tersenyum miring.
...****************...
Suasana di tahanan saat ini begitu mencekam, terdengar suara rantai yang bergesekan dengan lantai ditambah lagi dengan pencahayaan yang minim. Maklum saja zaman ini belum ada lampu seperti dunia modern hanya ada obor yang menjadi sumber penerangan satu-satunya.
Terdengar suara langkah kaki mendekati sel tahanan. Langkahnya terdengar tidak terburu-buru lebih terkesan santai.
"Gege, mari kita tuntaskan malam ini," ujar Putri Xiao Lin Mei.
"Baiklah," jawab Pangeran Xiao Jinshi.
Hari ini mereka berdua akan memberikan pelajaran kepada sang pengacau keluarganya.
Perlahan tapi pasti merekapun sampai di sel Selir Mei Ran, terlihat jika keadaannya jauh dari kata baik. Rambutnya acak-acakan, bajunya kusut, jangan tanyakan riasan karena semenjak di sini mereka tidak bisa lagi menyentuh peralatan makeup nya. Selir Mei Ran yang dahulu selalu berpenampilan menor itu sekarang tidak ubahnya seperti rakyat biasa.
Putri Xiao Lin Mei dan Pangeran Xiao Jinshi melihat pemandangan didepannya dengan sinis, terbayang bagaimana wajah lugunya itu ketika menjebak ayah mereka.
"Bagaimana kabarmu, Mei Ran? Sepertinya sangat akrab sekali dengan sel ini sampai tidur pun harus menc ium nya."
Suara Putri Xiao Lin Mei terdengar lembut, namun mengandung sarkas. Dia mengejek Selir Mei Ran yang selalu sombong itu, padahal posisi yang dia tempati pun hasil merampok suami orang, cih pelakor.
Tak jauh berbeda dengan adiknya Pangeran Xiao Jinshi pun menatap tubuh Selir Mei Ran dengan penghinaan.
"Sudah jangan berbaik hati kepada pencuri ini, lebih baik kita bersenang-senang. Sudah bawa barangnya?" Tanya Pangeran Xiao Jinshi.
"Jangan khawatir aku selalu membawanya."
Putri Xiao Lin Mei pun mengeluarkan dua buah belati yang cantik dan memberikan satu kepada Gege nya. Pangeran Xiao Jinshi menerima belati itu dengan senang hati.
Mendengar suara tidak asing itu Selir Mei Ran membuka matanya, dia terkejut melihat anak-anak itu di hadapannya.
"Kenapa kalian di sini hah! Belum puas melihat ku menderita?"
"Kami tidak akan pernah puas sebelum kau membayar semua perbuatanmu kepada ibunda."
__ADS_1
"Dia memang pantas mati, dengan begitu aku bisa menguasai kerajaan dan menjadi satu-satunya istri Raja Xiao Ren."
"Dasar pelakor, jika bukan karena anak mu. Ibunda tidak akan sudi meminta ayah menikahi jal* Ng sepertimu!"
"Sudah, jangan hiraukan perkataannya. Lebih baik kita bermain-main dengannya," ujar Pangeran Xiao Jinshi.
"Baiklah."
Putri Xiao Lin Mei pun berjalan mendekati Selir Mei Ran yang dibelenggu. Gadis itu memutar mutar belatinya seperti maiman, dia menatap Pangeran Xiao Jinshi dan memberi kode.
"Permainan dimulai," ujar Putri Xiao Lin Mei.
"A apa yang kalian lakukan, jangan sakiti aku."
"Memberikan pelajaran sebagai kenangan," ujar Pangeran Xiao Jinshi enteng.
Dengan tenang pria itu menggores panjang wajah Selir Mei Ran membuatnya berteriak kesakitan. Tidak hanya disitu Putri Xiao Lin Mei pun ikut ambil bagian dalam menggambar ditubuh wanita itu.
Teriakan demi teriakan menggema di ruangan ini, namun tidak membuat sang pelaku menghentikan aksinya malah semakin membuat mereka bersemangat menciptakan karya seni.
"Sepertinya kalian bersenang-senang tanpa aku."
Sontak dua orang itu menoleh ke sumber suara, mereka mengelus dada terkejut melihat kedatangan tamu tak diundang.
"Ah, Jiang Wu. Kamu mengejutkanku, kukira tadi ayah yang datang," ujar Putri Xiao Lin Mei.
Raja Zhang Jiang Wu menghampiri sel tempat Selir Mei Ran berada, dia bisa melihat keadaan wanita itu jauh dari kata baik-baik saja. Tapi, apakah dia peduli? Tidak, justru pria itu menambah derita wanita itu membuatnya kesakitan sekali lagi.
"Bunuh saja aku! Kenapa tidak langsung membunuhku." Selir Mei Ran berteriak frustasi ingin melarikan diri tapi tidak bisa.
"Membunuhmu?"
"Cuih, bahkan kematian terlalu mudah untuk pelakor tidak tahu diuntung sepertimu." Putri Xiao Lin Mei berucap dengan nada marah.
"Nikmatilah sebelum kematian sebenarnya mendatangimu."
Putri Xiao Lin Mei keluar terlebih dahulu meninggalkan kedua pria itu, dia tidak mau lepas kendali hingga membunuh wanita itu.
"Kejarlah dia, biar ini urusanku," ucap Pangeran Xiao Jinshi kepada Raja Zhang Jiang Wu.
Raja Zhang Jiang Wu bergegas menyusul Putri Xiao Lin Mei ke kediamannya.
Melihat kepergian pria itu Pangeran Xiao Jinshi kembali menatap ke arah Selir Mei Ran yang dipenuhi luka ditubuhnya. Seakan belum puas pangeran menambahkan lagi, siksaan demi siksaan diberikan oleh Pangeran Xiao Jinshi.
Karena tidak kuat dengan siksaan yang dialami secara terus-menerus akhirnya Selir Mei Ran pun jatuh tidak sadarkan diri. Melihat hal itu Pangeran meninggalkan sel tersebut begitu saja tanpa berniat membantunya.
...****************...
Raja Zhang Jiang Wu bergegas menuju paviliun anggrek, dia takut Putri Xiao Lin Mei kenapa-kenapa terlebih lagi tadi dia pergi dalam keadaan marah.
"Semoga saja gadis itu ada di paviliun nya," gumam Raja Zhang Jiang Wu.
__ADS_1
Pria itu mempercepat jalannya mencari jejak Putri Xiao Lin Mei yang menghilang.
Di sisi Putri Xiao Lin Mei.
Saat ini Putri Xiao Lin Mei sedang merenung di taman istana, dia memikirkan banyak hal tentang kehidupan yang dijalaninya saat ini. Dia menengadahkan kepalanya menatap langit malam yang bertabur bintang-bintang.
Putri Xiao Lin Mei membayangkan diatas sana ada mendiang permaisuri serta Putri Xiao Lin Mei yang asli.
"Putri, permaisuri apakah kalian melihatnya? Aku sudah menjalankan tugasku, semoga kalian tenang di atas sana," gumamnya.
"Putri, maafkan aku menggunakan tubuh dan identitasmu," ujarnya pelan.
Putri Xiao Lin Mei atau Alya berbicara seolah-olah mereka benar-benar ada didepannya.
Sebuah tepukan membuatnya tersadar dari lamunannya, dia menoleh dan mendapati Raja Zhang Jiang Wu. Pria itu lalu duduk di sampingnya.
"Kenapa di sini? Sudah larut malam, ayo aku antar ke paviliun mu." Pria itu menarik pelan tangan gadisnya, namun ditahan oleh Putri Xiao Lin Mei.
"Sebentar lagi, aku masih ingin di sini."
"Baiklah."
Putri Xiao Lin Mei kembali memandang langit malam mengabaikan pria disampingnya.
"Jiang Wu," panggil Putri Xiao Lin Mei.
"Iya."
"Apakah kamu tidak marah denganku? Aku sudah membohongimu sebelumnya dan mengambil tubuh sahabatmu." Putri Xiao Lin Mei menoleh ke arah pria itu.
Terdiam.
Laki-laki itu tidak menjawab samasekali pertanyaan gadis dihadapannya.
Diam nya Raja Zhang Jiang Wu itu sudah cukup baginya, sepertinya dia benar-benar mencintai pemilik tubuh asli. Dia menyadari jika dirinya terlalu egois menginginkan semua yang dimiliki tubuhnya termasuk pria dihadapannya ini.
"Diam mu itu sudah menunjukkan satu hal padaku. Pergilah, sepertinya aku harus menyerah denganmu lagipula di sini aku hanya jiwa yang tersesat dan kebetulan menumpang ditubuh ini."
Belum sempat Raja Zhang Jiang Wu bereaksi tiba-tiba saja ada sebuah cahaya terang diantara mereka. Baik Putri Xiao Lin Mei atau Raja Zhang Jiang Wu menutup matanya menghalau sinar tersebut.
Cahaya putih itu perlahan-lahan redup lalu tergantikan dengan kemunculan sosok yang selama ini mereka rindukan terutama oleh Raja Zhang Jiang Wu.
*
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1