
Di sebuah tempat yang cukup sepi ada beberapa orang yang tengah merencanakan sesuatu. Mereka semua memakai pakaian serba hitam tak lupa dengan senjata tajam yang selalu dia bawa setiap mendapatkan tugas yang amat penting.
Dua orang diantara mereka ada yang berpakaian lebih mencolok dengan cadar yang menutupi wajah mereka dan memberi instruksi kepada anggota yang lain.
"Kalian ingat baik baik saya ingin 'dia' lenyap hari ini juga dan jangan sampai gagal! Kalau sampai gagal kalian akan menerima akibatnya." ucapnya.
"Baik kami akan melaksanakan tugas ini dengan baik dan memastikan 'dia' lenyap." tegas sang ketua.
"Baiklah aku tunggu kabar baiknya. Pergilah dan ambil ini nanti kalau tugas sudah selesai aku akan kasih bonus buat kalian," ujarnya sambil melempar kain yang berisi koin emas.
Mereka menerima uang itu dengan senang hati dan pergi dari tempat itu.
****
Suasana pagi hari di desa begitu ramai penduduk yang berlalu lalang, cuaca yang cerah serta udara yang bersih tanpa polusi membuat Putri Xiao Lin Mei gembira.
Kini Putri Xiao Lin Mei bersama Pangeran Xiao Jinshi sedang berada di sebuah desa yang letaknya tidak jauh dari pusat kota kerajaan, desa itu bernama desa Tianjin. Desa itu berdekatan dengan tempat yang akan mereka tuju.
Putri Xiao Lin Mei tidak mengetahui dirinya akan dibawa kemana oleh Pangeran Xiao Jinshi dia hanya mengikuti kemana arah kereta kuda itu akan membawanya. Setelah sekian lama berperang dengan pikirannya sendiri akhirnya Putri Xiao Lin Mei menyerah dan memutuskan untuk bertanya kepada Pangeran Xiao Jinshi mengenai tujuan mereka sebenarnya.
"Gege sebenarnya ingin mengajakku kemana?" Tanya Putri Xiao Lin Mei.
"Nanti mei mei akan mengetahuinya sekarang lebih baik mei mei duduk dengan tenang, percayakan kepada gege. Gege akan membawamu ke suatu tempat dijamin mei mei pasti akan menyukainya." Jawab Pangeran Xiao Jinshi.
Sebenarnya Putri Xiao Lin Mei tidak puas dengan jawaban Pangeran Xiao Jinshi akan tetapi dia lebih memilih diam daripada berdebat dengan gege nya. Akhirnya Putri Xiao Lin Mei pasrah dan memilih untuk melihat-lihat pemandangan yang mereka lewati di sepanjang jalan.
****
Pagi pagi sekali Pangeran Xiao Jinshi sudah datang menemui ayahandanya. Pangeran Xiao Jinshi ingin meminta sesuatu kepada Raja Xiao Ren.
Saat ini mereka sudah duduk di sebuah ruangan Pangeran Xiao Jinshi mengatakan ingin mengajak Putri Xiao Lin Mei keluar istana seperti janjinya dahulu. Awalnya Raja Xiao Ren menolak untuk memberikan izin dengan alasan Putri Xiao Lin Meo harus menjalani hukuman yang telah Raja Xiao Ren berikan.
Akan tetapi Pangeran Xiao Jinshi tidak menyerah begitu saja dengan keputusan Raja Xiao Ren berbagai cara dia lakukan untuk membujuk ayahnya sampai akhirnya Raja Xiao Ren Pun mengizinkannya.
Pangeran Xiao Jinshi mengatakan ingin membawa Putri Xiao Lin Mei ke suatu tempat yang sangat dia sukai. Pangeran Xiao Jinshi berharap bahwa dengan membawa adiknya ke tempat itu adiknya bisa sembuh dan mengingat semuanya.
*****
__ADS_1
"Gege gege!! Kenapa melamun," Putri Xiao Lin Mei mengguncang tubuh Pangeran Xiao Jinshi.
"Ah ... iya, kenapa?"
Pangeran Xiao Jinshi terkejut mendengar teriakan Putri Xiao Lin Mei.
"Gege sedang memikirkan apa? Kenapa melamun." Tanya Putri Xiao Lin Mei.
"Tidak kenapa-napa gege hanya sedikit lelah." Jawabnya.
"Kalau begitu kita kembali saja gege istirahat, besok saja kita perginya."
Pangeran Xiao Jinshi menoleh kearah Putri Xiao Lin Mei yang kini tengah menatapnya. Dia tatap bola mata jernih yang menyejukkan milik Putri Xiao Lin Mei.
"Tidak apa apa gege terlanjur berjanji untuk membawamu ke tempat itu."
Putri Xiao Lin Mei mengangguk dan kembali fokus ke depan. Sebenarnya dia cukup penasaran kemana Pangeran Xiao Jinshi akan mengajaknya pasalnya sedari tadi belum sampai juga, daripada penasaran akhirnya Putri Xiao Lin Mei memutuskan untuk bertanya sekali lagi.
"Gege ... tolong jawab dengan jujur sebenarnya gege ingin mengajak ku kemana? Jangan buat aku penasaran." tanya Putri Xiao Lin Mei.
"Gege ingin mengajak mu untuk bertemu dengan teman masa kecilmu. Dulu kalian begitu akrab dan tidak terpisahkan hingga kematian ibunda, kamu mengurung diri dan menjauh darinya. Kita akan mengunjunginya di kerajaan tetangga." terang Pangeran Xiao Jinshi.
"Aaaa ... sakit sekali kepala ku." teriak Putri Xiao Lin Mei.
Pangeran Xiao Jinshi terkejut mendengar teriakan Putri Xiao Lin Mei. Dia menoleh kesamping dan melihat Putri Xiao Lin Mei memegangi kepalanya karena takut terjadi apa-apa Pangeran Xiao Jinshi bertanya.
"Mei mei kamu kenapa?"
Rasa sakit yang teramat sangat saat ini tengah dirasakan oleh Putri Xiao Lin Mei membuatnya tidak mendengar dengan jelas pertanyaan yang dilontarkan oleh gegenya. Putri Xiao Lin Mei tidak kuat dengan rasa sakit itu dan tidak sadarkan diri.
Pangeran Xiao Jinshi sangat panik dan menangkap tubuh Putri Xiao Lin Mei agar tidak terjatuh, dia mengguncang tubuh Putri Xiao Lin Mei berharap bisa membangunkannya. Akan tetapi semuanya sia-sia karena Putri Xiao Lin Mei tidak sadarkan diri.
Dia meminta kusir di depan untuk mencari penginapan dan menyuruh prajurit yang saat itu sedang mengawal perjalanan mereka untuk mencari tabib disekitar desa itu. Awalnya prajurit itu ingin menolak tapi melihat situasinya sedang darurat akhirnya dia mau mencari tabib di sekitar tempat ini.
Kusir itupun mempercepat laju kereta kudanya mencari penginapan sekitar desa itu.
****
__ADS_1
Saat ini Raja Zhang Jiang Wu tengah berada disebuah desa, dirinya keluar istana sejenak untuk menenangkan pikirannya akibat pertanyaan ibundanya yang selalu memojokkannya agar segera menikah dan berniat untuk menjodohkannya dengan putri kerajaan tetangga.
Dirinya tidak ingin menikah dengan putri dari kerajaan manapun karena, dia sudah memiliki seseorang yang telah mampu membuatnya tertarik dengannya. Seorang yang selama ini tengah dia tunggu kedatangannya dan selalu datang di setiap mimpinya.
Ratu Ming Xia tidak mengetahui tentang ini semua karena Raja Zhang Jiang Wu tidak pernah menunjukkan sikap ketertarikan kepada gadis manapun termasuk kepada dia. Raja Zhang Jiang Wu tidak menunjukkan perasaannya karena dia mengetahui dengan benar bahwa itu akan menjadi kelemahan terbesarnya dan akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri dan orang yang dia sayangi.
Raja Zhang Jiang Wu tidak ingin orang-orang yang dia sayangi berada dalam bahaya, karena pasti banyak orang yang berusaha untuk menyakiti orang tersayangnya dan menggunakan mereka sebagai senjata untuk menjatuhkannya.
Raja Zhang Jiang Wu saat ini sedang melewati jalan yang begitu sepi tanpa ada satupun penduduk yang berlalu lalang membuat jalan itu menjadi sarang perampok dan seringkali menjarah penduduk ataupun orang yang kebetulan sedang melewati jalan tersebut.
Dengan penuh kewaspadaan Raja Zhang Jiang Wu melewati jalan itu. Suasana tampak sepi karena warga sekitar tidak ada yang berani melewati jalan tersebut. Kebanyakan warga sekitar lebih memilih untuk memutar daripada harus mewati jalan yang rawan tersebut.
****
Saat ini rombongan Pangeran Xiao Jinshi melewati jalan yang sama dengan jalan dilewati oleh Raja Zhang Jiang Wu dengan satu prajurit yang mengawal mereka karena prajurit yang satunya sedang mencari tabib untuk memeriksa keadaan Putri Xiao Lin Mei yang saat ini masih tidak sadarkan diri.
Di dalam kereta saat ini Pangeran Xiao Jinshi masih berusaha untuk menyadarkan adiknya dan tidak ada perubahan sama sekali membuatnya semakin frustasi.
"Mei mei bangunlah jangan membuat gege semakin khawatir." lirihnya.
Kusir yang didepan hanya bisa melihat keadaan Putri Xiao Lin Mei tanpa bisa membantu dalam hati dia berharap semoga putri bisa lekas sadar dan membaik seperti sedia kala.
****
Di lain tempat ada sekelompok orang yang memiliki niat jahat. Mereka mengawasi kereta Pangeran Xiao Jinshi dari kejauhan, kereta itu kebetulan sekali penjagaannya longgar membuat mereka tersenyum kemenangan.
Sambil menunjuk kereta itu dia berkata, "kalian lihat kereta itu?" Tanya sang ketua.
Pandangan para anak buahnya mengikuti arah telunjuk sang ketua. Mereka mengangguk membenarkan ucapan ketua mereka.
"Didalam kereta itu ada target kita, pelanggan suah membayar kita banyam supaya kita menghabisinya." Ucap ketua.
"Maaf ketua, bukankah kita hanya disuruh untuk menghabisi yang perempuan saja?" tanya seorang yang memiliki postur kekar.
"Jika kita hanya menghabisi salah satu diantara mereka bukankah itu akan berbahaya buat kita? Jadi, lebih baik kita habisi dua-duanya bila perlu kita habisi semua rombongannya dan kita jarah barang berharga mereka," jelas ketua sambil tersenyum mengerikan.
Melihat kereta kuda rombongan Pangeran Xiao Jinshi mendekat ke tempat persembunyian mereka sang ketua tersenyum dan memerintahkan anak buahnya menyerang rombongan itu.
__ADS_1
Bersambung....
Thanks sudah mampir di karya author semoga sehat selalu. Author tidak pernah bosen buat ngingetin kalian semua untuk meninggalkan jejak biar makin semangat up nya.