Reinkarnasi Putri Bar Bar

Reinkarnasi Putri Bar Bar
Part 53. Bonus (1)


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Tidak selamanya semua hal yang kita rencanakan itu berjalan dengan mulus, pasti tidak luput dari yang namanya lika-liku kehidupan.


Begitulah yang dirasakan oleh pasangan Putri Xiao Lin Mei serta sang suami Raja Zhang Jiang Wu kebahagiaan yang mereka rasakan tidak berselang lama karena adanya pihak-pihak luar yang terus merongrong di antara mereka.


Sudah satu tahun usia rumah tangga mereka, namun sepertinya tuhan masih belum puas mempermainkan kehidupan Putri Xiao Lin Mei beserta sang suami, belum adanya tanda-tanda kehamilan pada diri sang istri menjadikan bencana bagi kerajaan Kegelapan. Banyak pejabat yang terus mendesak rajanya agar mengangkat selir untuk memperoleh keturunan, bahkan diantara mereka ada yang mengajukan lamaran secara terang-terangan.


Putri Xiao Lin Mei pun mengetahui permasalahan tersebut meskipun sang suami berusaha menutupinya, namun seperti kata pepatah jika tembok memiliki telinga Putri Xiao Lin Mei mendengar berita itu bukan dari suaminya melainkan dari pelayan-pelayan yang membicarakannya.


Seperti saat ini Putri Xiao Lin Mei sedang melintasi dapur istana dan dia tidak sengaja mendengar bisikan pelayan di dapur istana yang menceritakan tentang kejadian di istana. Karena penasaran nama suaminya disebut-sebut Putri Xiao Lin Mei pun menguping.


"Eh kamu dengar, gak kalau saat ini istana sedang tidak baik-baik saja?" ujar pelayan satu.


"Tidak baik bagaimana? Bukankah selama ini kerajaan makmur dibawa pimpinan raja dan permaisuri?" timpal pelayan dua.


"Dengar-dengar pejabat istana tidak puas dengan yang mulia," bisik pelayan satu.


"Iya, aku juga mendengarnya. Pejabat istana menuntut yang mulia untuk mengangkat selir karena permaisuri tidak kunjung hamil," timpal pelayan tiga yang sedari tadi terdiam.


Mereka tidak mengetahui jika pembicaraan mereka saat ini didengar oleh permaisuri yang mereka bicarakan tadi.


Putri Xiao Lin Mei meremas dadanya kuat, air matanya mengalir sekarang hatinya benar-benar kacau antara marah, kecewa, sakit semuanya menjadi satu. Dengan segera dia berlari meninggalkan dapur tersebut tanpa mendengarkan kelanjutan obrolan para pelayan tadi.


Putri Xiao Lin Mei berlari menuju kediamannya tanpa peduli bagaimana penampilannya saat ini, dia bahkan melupakan etikanya. Saat ini dia hanya perlu menenangkan diri, dia yakin pasti suaminya memiliki alasan yang jelas kenapa menyembunyikan hal ini.


Putri Xiao Lin Mei masuk ke kamar dan menangis tersedu-sedu di sana, seandainya saja dia bisa memberikan anak pasti tidak akan seperti ini kejadiannya.


"Tuhan, apakah masih belum cukup semua yang aku alami. Kenapa harus rumah tangga ku diuji seperti ini," gumamnya.


Putri Xiao Lin Mei tidak bisa menahan rasa sesaknya, lalu memukul dadanya untuk meredakan sesak dihatinya.


Dia benar-benar merasa dipermainkan oleh takdirnya sendiri, setelah menikmati kebahagiaan namun semuanya terenggut kembali dengan kenyataan pahit.


...****************...


Sedangkan di sisi lain.


Saat ini Raja Zhang Jiang Wu tengah dipusingkan dengan pejabat-pejabat yang setiap hari selalu mengganggunya dengan alasan rapat. Padahal dia tahu jika tujuannya adalah untuk menekannya agar bersedia menerima gadis gadis yang mereka ajukan.


"Mohon maaf Yang Mulia. Tolong pikirkan permintaan kami ini semua demi kerajaan kita," ujar menteri Jun menteri keuangan.

__ADS_1


"Demi kerajaan? Apakah kalian kira aku tidak mengetahui rencana kalian, hah!"


Brakkkk


Raja Zhang Jiang Wu menggebrak meja dengan keras. Para pejabat yang hadir di sana berjingkat kaget lalu menunduk tanpa suara, mereka merutuki menteri Jun yang memprovokasi Raja Zhang Jiang Wu.


Raja Zhang Jiang Wu menatap tajam pejabat-pejabat nya, dia tahu pasti ada yang ingin bermain-main dengannya.


"Aku ingatkan kalian sekali lagi. Jangan pernah bermacam-macam dibelakang ku, jika tidak ingin mendapatkan akibatnya." Raja Zhang Jiang Wu berkata dengan penuh penekanan serta emosi yang kentara dalam setiap kalimatnya.


"Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak akan mengangkat selir sampai kapanpun itu."


Setelah berkata seperti itu Raja Zhang Jiang Wu pun pergi meninggalkan pejabat-pejabat nya yang menunduk ketakutan.


Pria itu pergi ke suatu tempat terlebih dahulu untuk menenangkan diri, dia tidak mau jika kembali dalam keadaan emosi dan akan menyakiti istrinya.


Pria itu meluapkan emosinya dengan memukuli pohon sampai tangannya berdarah, namun karena amarahnya membuat tidak merasakan sakit sama sekali pria itu berteriak meluapkan kemarahannya beruntung situasi saat ini sedang sepi sehingga tidak akan ada satu orangpun yang melihatnya seperti ini.


Setelah merasa reda dia pun memutuskan untuk kembali ke kediaman dan menemui istrinya yang kemungkinan saat ini sedang khawatir dengannya.


Pria itu sampai di kediamannya dan melihat sang istri sedang menunduk, dia dapat mendengar isakan lirih dari mulutnya. Raja Zhang Jiang Wu menepuk pundak sang istri melupakan lukanya.


"Al," panggilnya pelan.


"Eh, kamu sudah kembali. Bagaimana hari ini?" ujarnya dengan suara pelan.


"Cukup, buruk."


"Al, mata kamu?"


"Ah tidak apa-apa, hanya ingat mama dan papa aja." Sambil menghapus sisa air matanya.


Perempuan itu tidak mau membuat suaminya khawatir dengan keadaannya, dia berusaha tersenyum menanggapinya.


Raja Zhang Jiang Wu membawa istrinya kedalam pelukannya, mencoba memberi ketenangan untuknya.


Dekapan suaminya ini terasa sangat nyaman bagi Putri Xiao Lin Mei, hingga tanpa sadar meneteskan air matanya.


"Tuhan, apakah aku akan sanggup jika dia pergi dari sisiku," batinnya.


Pikirannya berkelana, bagaimana kehidupannya setelah pernikahan itu benar-benar terjadi, apakah masih bisa seperti ini dengan pria yang menjadi suaminya sekarang, bagaimana jika suaminya berubah mencintai perempuan itu dan beralih melupakannya atau bahkan membencinya.

__ADS_1


Sungguh demi apapun Putri Xiao Lin Mei tidak ingin itu semua terjadi dan membuat prianya berpaling ke perempuan lain yang lebih sempurna dengannya.


"Istirahatlah, do'akan mereka supaya tenang di atas sana." Pria itu melepaskan rengkuhannya dan menatap mata jernih sang istri.


"Tunggu dulu," ujar Putri Xiao Lin Mei menyadari sesuatu.


Perempuan itu memeriksa tangan suaminya dan terkejut melihat luka serta darah yang mengalir.


"Jiang Wu! Astaga, apa yang kamu lakukan." Putri Xiao Lin Mei memekik keras melihat itu semua.


"Tenang saja ini hanya luka kecil," ujarnya menutupi.


"Luka kecil bagaimana? Ini lumayan besar, astaga. Kamu tunggu di sini biar aku panggilkan tabib untukmu."


Setelah itu Putri Xiao Lin Mei pun bergegas keluar kamar memerintahkan prajurit untuk memanggilkan tabib sementara dia pergi ke dapur untuk mengambil air hangat untuk membersihkan luka tersebut.


Tak lama kemudian Putri Xiao Lin Mei datang dengan membawa satu baskom air dengan kain yang bersih. Dia pun duduk di sebelah Raja Zhang Jiang Wu yang sedari tadi terdiam mengamati kehebohan istrinya.


"Kemarikan tangan mu," ujarnya.


"Mau apa?" Tanya Raja Zhang Jiang Wu pura-pura tidak tahu.


"Ck Jiang Wu! Cepat kemarikan tangan mu," ucap Putri Xiao Lin Mei dengan raut wajah kesal.


"Panggil 'suami' dulu baru aku mau," ujarnya kekeuh.


Pria itu bahkan memasang tampang menyebalkan tidak mengetahui jika sang istri sedang berada di puncak emosi kali ini. Putri Xiao Lin Mei ingin sekali menonjok wajah tampan suaminya itu yang terus saja menggodanya, kemarahan yang dirasakan olehnya itu membuatnya lupa dengan kesedihannya tadi.


"Wahai suamiku yang tampan sejagat raya, boleh pinjam tangannya? Izinkan istri cantik jelita mu ini mengobati mu," ujarnya malas.


"Baiklah-baiklah, terimakasih istriku yang cantik."


Laki-laki itu membalas tak kalah manis, membuat Putri Xiao Lin Mei tertegun sejenak mendengar ucapan Raja Zhang Jiang Wu.


"Sepertinya salah minum obat anak ini," batinnya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2