
Prok prok prok
"Wah wah tidak menyangka ternyata seorang tuan putri dari kerajaan ternama bergabung mengemis suami orang lain. Bukankah hidupmu menjadi tidak tahu malu, Putri Zhao Yunlei?"
"Xiao Lin Mei! Jaga mulutmu."
Gadis itu berteriak ingin menyerang wajah cantik Putri Xiao Lin Mei, namun ditahan oleh prajurit di sana.
Putri Xiao Lin Mei menghampiri Putri Zhao Yunlei yang masih memberontak dari cekalan prajuritnya.
"Oh iya aku ingat, dulu tuan putri pernah berusaha membunuhku di tempat ini karena tidak terima jika kekasih ah ralat pujaan hati mu lebih memilih ku daripada dirimu. Sepertinya aku terlalu baik hati padamu."
"Jiang Wu, sekarang lakukanlah apa yang harus kamu lakukan selama ini. Aku tidak akan menahanmu lagi," ucap Putri Xiao Lin Mei.
"Kamu sungguh-sungguh?" Tanya Raja Zhang Jiang Wu memastikan.
"Iya, mengampuni mereka tidak ada gunanya. Jika dibiarkan terus menerus hanya akan menimbulkan masalah baru yang tidak ada habisnya," terang Putri Xiao Lin Mei.
Putri Xiao Lin Mei mengetahui penyerangan waktu itu dilakukan oleh Putri Zhao Yunlei serta ibunya yang memiliki dendam dengannya serta serakah pada kekuasaan suaminya. Sudah sejak lama suaminya itu ingin bertindak menghentikan mereka, namun dihalangi oleh Putri Xiao Lin Mei yang tidak ingin melihat kematian seseorang lagi karena dirinya. Tapi, setelah hari ini dia tidak mau lagi melindungi mereka, perbuatan mereka sudah keterlaluan dan tidak bisa ditolerir lagi.
"Sudah terbukti jika menteri Jun serta menteri Shen berkomplot dengan Putri Zhao Yunlei, mereka ingin menguasai kerajaan ini melalui Putri Zhao Yunlei."
"Liu Yaoshan, Jiazen. Kalian urus mereka, habisi keluarga mereka tanpa tersisa jika perlu ratakan kerajaannya dengan tanah," perintah Raja Zhang Jiang Wu mutlak.
Semua orang menunduk diam tidak ada yang berani melawan perintah rajanya, bahkan pejabat-pejabat yang berkoar koar tadi seakan kehilangan keberaniannya setelah mendengar hukuman yang diturunkan oleh Raja Zhang Jiang Wu.
Liu Yaoshan dan Jiazen memerintahkan prajurit untuk memasukkan mereka ke penjara bawah tanah dan memastikan jika mereka tidak akan kabur.
Raja Zhang Jiang Wu menatap kepergian mereka dengan dingin, orang yang sudah mengusiknya tidak pantas untuk hidup. Lalu pandangannya beralih ke warga yang terhasut tadi, dia menatap semuanya satu persatu.
"Sekali lagi saya tegaskan. Saya tidak akan pernah mengambil selir sampai kapanpun, jika masih ada yang berani membicarakan hal ini kedepannya jangan salahkan jika keluarga kalian juga akan tinggal nama seperti mereka," ucap Raja Zhang Jiang Wu lantang.
"Hari ini saya, permaisuri kerajaan kegelapan mengatakan tidak akan pernah mengijinkan suami saya yang tak lain adalah Raja Zhang Jiang Wu mengambil selir dan membuat ikatan dengan wanita lain, tidak peduli dari kalangan apapun itu," ucap Putri Xiao Lin Mei tak kalah lantang.
Setelah berkata seperti itu mereka berdua pun meninggalkan rakyat yang sebelumnya berdemo.
...****************...
Setelah menyelesaikan urusan dengan para pendemo itu Raja Zhang Jiang Wu mengajak istrinya pergi terlebih dahulu menuju ruang kerjanya, awalnya dia ingin mengantarnya kembali ke kediaman mengingat tubuh Putri Xiao Lin Mei sedang tidak sehat, namun istrinya itu bersikeras ingin ikut ke ruang kerjanya.
"Jiang Wu." Terdengar suara lirih dari perempuan yang dicintainya.
Pria itu mengalihkan tatapannya beralih ke sang istri yang terus menunduk. Tapi, sepertinya ada yang salah di sini istrinya itu tampak lebih pendiam dari biasanya. Dengan segera pria itu beranjak dari kursinya lalu menghampiri Putri Xiao Lin Mei.
__ADS_1
"Alya sayang, kamu kenapa?" ujarnya khawatir gadis itu menggeleng lemah.
"Aku hanya ingin dipeluk olehmu," cicitnya.
"Ada apa? Tidak biasanya kamu seperti ini."
Sumpah demi apapun pria itu terheran-heran dengan sikap istrinya. Meskipun begitu dia tetap mengikuti kemauan istrinya.
Beberapa hari terakhir juga tingkah istrinya itu berubah-ubah kadang bahagia, marah tidak jelas dan sekarang istrinya begitu manja dengan dirinya.
"Tidak tahu, aku hanya merasa tenang jika berada dipelukan mu."
Putri Xiao Lin Mei pun dibuat bingung dengan sikapnya sendiri, dia ingin menyangkal pun tidak bisa karena memang ini kenyataannya.
"Kemarilah," ujar pria itu.
Raja Zhang Jiang Wu mengajak Putri Xiao Lin Mei masuk ke dalam, sementara dia kembali berkutat dengan berkas di mejanya.
Putri Xiao Lin Mei duduk manis melihat suaminya bekerja tidak ingin mengganggu pekerjaannya, namun tiba-tiba dia mengingat sesuatu mengenai suaminya.
"Jiang Wu, bagaimana dengan mereka?"
"Kamu tenang saja, mereka sudah di urus oleh orang-orang ku. Seperti yang aku katakan sebelumnya aku tidak akan pernah mengikuti permintaan mereka," ucapnya.
Jujur saja dia tidak rela jika suaminya menikah lagi, namun kerajaan membutuhkan penerus jika dibiarkan seperti ini terus kerajaan ini akan hancur tanpa penerus.
Setelah kejadian tadi Putri Xiao Lin Mei masih khawatir dengan keadaan rakyat kelak.
Raja Zhang Jiang Wu meletakkan pena ditangannya, dia menatap istrinya yang sedang menunduk lalu menghampirinya dengan berjongkok di depannya lalu memegang tangan lembut istrinya.
"Alya, dengarkan aku," ujarnya lembut.
"Iya," sahutnya.
"Kamu tahu dengan benar bagaimana aku sebelumnya tidak mungkin bagiku untuk mengkhianati mu. Aku tidak keberatan jika kita ditakdirkan hidup berdua terus, masih ada Jiazen dan Liu Yaoshan yang akan membantuku."
"Sayang, percayalah mungkin Tuhan sedang mempersiapkan rencana yang luar biasa untuk kita, jika sudah saatnya tiba dan Tuhan melihat kita mampu mendidik anak-anak kita pasti akan mempercayakan janin itu tumbuh di rahim mu ini," ucapnya.
Pria itu menyentuh lembut perut istrinya, dalam hati dia terus berdoa dan memohon agar ada keajaiban. Ia tidak tahan jika melihat istrinya bersedih terus menerus.
Putri Xiao Lin Mei meneteskan air matanya saat suaminya menyentuh perutnya dia bisa tahu bagaimana perasaan Raja Zhang Jiang Wu saat ini yang juga menginginkan hal yang sama dengannya akan tetapi suaminya itu bisa menutupinya dengan baik.
Memang benar jika selama ini Putri Xiao Lin Mei cukup pesimis dengan takdir Tuhan, seharusnya dia tidak seperti ini. Karena rasa bersalah serta ketakutan jika suaminya berpaling membuatnya lupa jika kuasa tuhan itu ada dan dia telah mengingkarinya.
__ADS_1
"Tuhan maafkan aku sudah mengingkari ketetapan Mu," batinnya.
Raja Zhang Jiang Wu berdiri dan mendekap istrinya, dia mengelus surai panjangnya lalu menciumi pucuk kepala Putri Xiao Lin Mei. Matanya terpejam menahan air mata yang hendak menetes dia harus kuat menghadapi ini semua, jika dia rapuh siapa yang akan menguatkan istrinya nanti.
"Sayang, bersabarlah sedikit lagi. Percayalah jika keajaiban akan menghampiri keluarga kecil kita," ujarnya dengan suara serak.
"Iya, aku akan bersabar menantinya. Terimakasih sudah mengingatkan ku," ucapnya sesenggukan.
Merekapun berpelukan saling menguatkan satu sama lain. Tak henti-hentinya batin mereka berdoa untuk kebahagiaan keluarga kecil mereka.
Tiba-tiba saja Putri Xiao Lin Mei merasakan mual, dengan segara dia melepaskan diri dari suaminya lalu berlari ke luar memuntahkan semua isi perutnya.
"Jiang Wu, sebentar." Berlari meninggalkan sang suami yang kebingungan dengannya.
Hoek hoek.
Raja Zhang Jiang Wu terkejut melihat istrinya muntah-muntah diapun berlari menghampiri istrinya lalu memijat tengkuknya.
"Bagaimana sekarang?" tanya pria itu khawatir.
"Sud—"
Hoek hoek.
Putri Xiao Lin Mei kembali memuntahkan isi perutnya. Raja Zhang Jiang Wu menatap istrinya khawatir, bahkan saat ini wajahnya pucat pasi tidak seperti tadi.
Putri Xiao Lin Mei saat ini merasa tenaganya terkuras habis, pandangannya terasa berputar-putar.
"Jiang Wu, kepala ku pusing," lirihnya.
"Istirahatlah, aku akan memanggil tabib."
Pria itu ingin menuntun istrinya kembali ke kediaman, namun belum sempat melangkahkan kaki tubuh Putri Xiao Lin Mei ambruk.
Raja Zhang Jiang Wu terkejut saat tubuh istrinya ambruk, dengan segera dia menggendongnya menuju kediaman mereka dan menyuruh Liu Yaoshan untuk memanggil tabib, kebetulan pria itu baru saja selesai mengurus perusuh tadi.
*
*
*
Bersambung....
__ADS_1