
Ratu Ming Xia sedikit tersentuh dengan perhatian calon menantunya itu dapat dirasakan betapa khawatirnya Putri Xiao Lin Mei kepadanya dengan sabar pula Ratu Ming Xia menjelaskan satu persatu pertanyaannya.
"Syukurlah jika bibi baik-baik saja," ujar Putri Xiao Lin Mei lega.
"Terimakasih, sekarang giliran bibi yang bertanya kepadamu."
"Tentang apa bibi?"
"Hubungan kalian."
Perkataan Ratu Ming Xia membuat Putri Xiao Lin Mei menunduk malu jangan lupakan dengan pipinya yang sudah seperti kepiting rebus itu. Dan itu tidak luput dari penglihatan Ratu Ming Xia membuatnya terkekeh geli.
Pelayan Fei Xia merasa tidak seharusnya berada di tempat itu segera pamit undur diri dengan alasan masih ada pekerjaan yang lainnya. Namun, sebelum itu Ratu Ming Xia memerintahkan Fei Xia untuk melayani Putri Xiao Lin Mei selama di sini tanpa ragu pelayan itu mengangguk setuju.
*******
Setelah kepergian pelayan baru itu, Ratu Ming Xia membawa Putri Xiao Lin Mei ke taman istana berniat mengajaknya berbincang-bincang.
"Bagaimana hubungan kalian saat ini?" tanya Ratu Ming Xia sesaat setelah sampai di taman.
"Sejauh ini baik baik saja, Bibi. Kesalahpahaman kemarin sudah diluruskan."
Ratu Ming Xia mengangguk, dipandanginya wajah cantik perempuan dihadapannya ini. Wajahnya yang putih halus serta mata yang jernih mengingatkannya kepada mendiang permaisuri kerajaan Awan, Shi An Mei. Tidak banyak perbedaan diantara mereka membuat Ratu Ming Xia seperti kembali melihat wajah sahabatnya.
Dengan perlahan tangan ratu menyentuh tangan halus Putri Xiao Lin Mei. Diambilnya sapu tangan hasil sulamannya beberapa waktu yang lalu lantas menaruhnya ditangan Putri Xiao Lin Mei membuat sang putri kebingungan sekaligus takjub.
Putri Xiao Lin Mei memeriksanya terlihat sebuah sulaman berbentuk bunga teratai berwarna merah muda membuatnya kagum karena baru kali ini dia melihat sulaman seindah ini. Pada saat dihukum ayah nya dulu hasil sulamannya tidak pernah sebagus ini.
"Nak, terimalah benda ini. Mungkin harganya tidak seberapa bagimu. Tapi, bibi akan merasa tenang jika kamu mau menerimanya," ujar Ratu Ming Xia.
"Terimakasih banyak. Lin Mei akan menyimpannya dan menjaganya sebaik mungkin," sahut Putri Xiao Lin Mei.
"Lin Mei juga meminta maaf dengan bibi karena keegoisan Lin Mei mengurung diri membuat Jiang Wu menderita." Sambil menunduk tidak berani menatap wajah teduh sang ratu.
Ratu Ming Xia menatap wajah murung gadis itu dia tidak bisa marah dengannya. Dia cukup mengetahui bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayangi.
Dengan lembut dia mengangkat wajah Putri Xiao Lin Mei.
"Bibi tidak pernah marah denganmu, Nak. Bibi mengerti perasaanmu."
"Terimakasih. Aku menyayangimu," ujarnya. Lantas memeluk Ratu Ming Xia dengan sayang.
"Bibi juga sangat menyayangimu dan menganggapmu seperti putriku sendiri."
__ADS_1
Merekapun saling berpelukan seperti pasangan ibu dan anak. Pemandangan itu tidak lepas dari Zhang Jiang Wu, dia merasakan hatinya hangat melihat pemandangan ibu dan kekasihnya berpelukan seperti itu rasanya dia semakin tidak sabar untuk menikahinya.
Dengan langkah pelan dia mendekati mereka dan memeluknya hingga membuat Putri Xiao Lin Mei dan Ratu Ming Xia berjingkat kaget karena terkejut dengan serangan tak terduga.
"Jiang Wu kamu membuat ibu terkejut." Omelnya dengan memukul pelan tangan sang anak.
Ratu Ming Xia menatap sebal sang pelaku sedangkan sang putra hanya menunjukkan raut wajah tak berdosa.
"Maaf maaf. Kalian sedang membicarakan apa sampai tidak sadar sudah hampir petang?"
Seakan tersadar Ratu Ming Xia menepuk keningnya pelan begitupula dengan Putri Xiao Lin Mei.
"Astaga, ibu baru sadar."
"Begitulah perempuan kalau sudah duduk bersama pasti lupa waktu," gumamnya.
Laki-laki itu duduk disamping Putri Xiao Lin Mei namun tangannya tidak bisa diam dengan jahilnya mencolek dagu membuat sang gadis menjadi kesal dan berakhir dengan memukul tangannya agar diam.
"Jiang Wu hentikan tanganmu," desisnya melotot tajam.
Bukannya diam malah semakin menjadi-jadi bahkan dengan gampangnya pria itu mencium pipinya tanpa malu. Putri Xiao Lin Mei ingin tenggelam saja rasanya, kenapa pria ini begitu tidak tahu malu kemana hilangnya aura dingin mencekam yang selalu dia tampakkan itu.
Ratu Ming Xia hanya bisa menahan senyum melihat keakraban putranya dengan gadis pujaannya. Setelah sekian lama akhirnya sang ratu bisa melihat putranya tersenyum bahagia.
Pertanyaan yang lolos dari bibir Ratu Ming Xia sontak membuat dua sejoli yang sedang 'bermesraan' itu menoleh terkejut. Putri Xiao Lin Mei menatap laki-laki di sebelahnya dengan bingung.
"Nak, bibi sudah mengirimkan surat kepada ayah mu dan berniat menjodohkan kalian."
Perkataan tersebut membuat Putri Xiao Lin Mei tercengang sekaligus bahagia. Namun, dia berpikir jika saat ini bukan waktu yang tepat untuk melaksanakan pernikahan terlebih lagi masih ada masalah yang harus segera diselesaikan.
Raja Zhang Jiang Wu melihat keraguan di mata gadisnya pun mengerti.
"Masalah pernikahan aku belum memikirkannya masih banyak masalah di kerajaan Awan dan itu tidak baik untuk kami. Setelah semuanya usai pasti aku akan menikahi Lin Mei," tuturnya.
"Baiklah, aku tidak akan memaksakan kalian," tukas Ratu Ming Xia.
"Waktu sudah gelap sebaiknya kita kembali ke tempat masing-masing," tuturnya.
"Oh iya aku lupa."
Ratu Ming Xia mengeluarkan sapu tangan yang sama dengan milik Xiao Lin Mei tadi lalu menyerahkan kepada putranya. Dia berpesan kepada mereka untuk menjaga benda itu sebaik mungkin yang jawab dengan anggukan oleh mereka setelah itu Ratu Ming Xia pamit.
Putri Xiao Lin Mei berdiri berniat pergi dari tempat itu namun tangannya dicekal oleh Raja Zhang Jiang Wu. Pria itu menahannya dan meminta di sini sebentar dan berkata ingin menikmati waktu bersama, Putri Xiao Lin Mei menurut.
__ADS_1
"Jiang Wu," panggil Putri Xiao Lin Mei.
"Iya."
"Apakah kamu mengenal putri Zhao Yunlei?"
Mendengar nama itu disebut membuat suasana hati Raja Zhang Jiang Wu tidak baik-baik saja.
"Gadis itu. Apakah dia mengganggumu?" tanya nya serius.
"Tidak ada yang berarti," jawabnya menutupi. Dia tidak mau laki-laki itu tahu apa yang dilakukan olehnya.
"Kamu tidak pandai berbohong. Katakan, apa yang dia lakukan kepadamu?" tuntutnya.
"Sungguh tidak ada apa apa," ujarnya sungguh-sungguh.
Raja Zhang Jiang Wu hanya diam tidak menanggapinya lagi. Dia hanya perlu menunggu gadisnya akan berbicara sendiri namun sepertinya itu akan susah mengingat bagaimana sifatnya yang agak sensitif belakangan ini.
Suasananya menjadi hening, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Angin malam berhembus hingga membuat Putri Xiao Lin Mei beberapa kali menggosok tangannya kedinginan. Bintang bintang di langit menemani keheningan di taman tersebut.
Raja Zhang Jiang Wu melepas jubahnya lalu dia pakaikan ke tubuh Putri Xiao Lin Mei.
"Pakailah, cuacanya dingin," ujarnya.
"Kamu juga kedinginan." Ingin melepaskan jubah itu namun ditahan oleh Zhang Jiang Wu.
"Aku laki-laki angin malam tidak akan membuatku tumbang."
"Tapi tubuhmu masih lemah," ujarnya.
"Tidak apa apa," sahutnya.
Putri Xiao Lin Mei menyerah dirapatkan jubah itu ke tubuhnya agar semakin hangat. Raja Zhang Jiang Wu memeluknya dari samping sambil memandangi langit malam. Diperlakukan seperti itu Putri Xiao Lin Mei tidak memberontak bahkan dia merasakan nyaman berada di pelukan pria itu.
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ….