
"Ibu, apakah rencana ini akan berhasil? Dengan mengirimkan hadiah tersebut bukankah ini seperti penghinaan?"
"Tenang saja putriku. Bahkan jika itu sebuah penghinaan dia tidak bisa begitu saja menolaknya, jika berani itu sama saja mengibarkan bendera perang."
"Benar juga. Ibu yang terbaik."
Zhao Yunlei memeluk ibunya senang sedangkan Wei Yuan hanya tersenyum dingin. Sebentar lagi dia akan menguasai istana itu dan menjadi Ratu kerajaan Kegelapan.
Zhao Yunlei tidak tahu jika dirinya hanya dijadikan alat oleh ibunya sendiri yang dia ketahui hanyalah ibunya itu selalu mendukungnya, berbeda dengan sang ayah yang selalu bertentangan dengan dirinya.
...****************...
Kembali ke Putri Xiao Lin Mei.
Putri Xiao Lin Mei mengerjap saat sebuah suara membangunkannya dari tidurnya yang nyenyak.
"Lin Mei, bangunlah kita sudah sampai."
"Hoam benarkah?" ujarnya sambil mengucek matanya yang masih berat untuk membuka.
"Iya, sekarang turunlah. Pelan pelan saja jangan sampai terbentur."
"Gendong, aku masih mengantuk. Hoamm ...."
Raja Zhang Jiang Wu merasa gemas dengan tingkah Putri Xiao Lin Mei yang malas bangun. Dengan sabar dia mengangkat tubuh Putri Xiao Lin Mei membawanya keluar dari kereta lalu berjalan menuju paviliun anggrek. Dalam gendongannya Putri Xiao Lin Mei menggeliat mencari kenyamanan lalu terlelap kembali saking lelahnya.
Kedatangan Raja Zhang Jiang Wu membuat gempar terlebih lagi dengan menggendong Putri Xiao Lin Mei yang terlelap, namun itu disalah artikan oleh orang lain.
Pangeran Xiao Jinshi melihat kedatangan sahabatnya dengan menggendong adiknya mencecarnya dengan beberapa pertanyaan yang cukup membuat kepalanya pusing.
"Jiang Wu, ada apa dengannya? Kenapa dia kamu gendong, apakah dia terluka?"
"Tenanglah dia baik-baik saja, hanya lelah setelah perjalanan panjang sampai di tertidur. Tadinya sudah aku bangunkan tapi dia malas bangun dan memintaku menggendongnya."
Pangeran Xiao Jinshi bernafas lega mendengar perkataan sahabatnya. Dia khawatir terjadi apa-apa dengan-nya setelah apa yang terjadi belakangan ini.
"Baringkan saja dia di ranjangnya. Setelah itu keluarlah ada yang ingin aku tanyakan kepadamu."
"Baiklah," jawabnya.
Raja Zhang Jiang Wu pun masuk ke dalam paviliun dan membaringkan tubuh Putri Xiao Lin Mei. Setelah menyelimutinya dia keluar menemui sahabatnya.
...****************...
"Ada apa?" tanya Raja Zhang Jiang Wu setelah sampai di kediaman Pangeran Xiao Jinshi.
__ADS_1
"Mengenai Xiao Lin Mei. Apakah kamu yang mengirim surat perjodohan itu?" tanya Pangeran Xiao Jinshi serius.
"Bukan, itu inisiatif ibunda aku sama sekali tidak mengirimnya. Tapi, kamu tenang saja Xiao Lin Mei sudah menyetujuinya."
"Benarkah?"
"Iya, bahkan yang menyatakan terlebih dahulu adalah adikmu sendiri."
Pangeran Xiao Jinshi tersedak ludahnya sendiri. Adiknya yang berkata duluan? Sumpah demi apapun dia benar-benar tidak menyangka jika adiknya punya keberanian yang begitu hebat. Awalnya dia cukup khawatir kalau adiknya akan menolak perjodohan ini namun diluar dugaan adiknya bukan hanya menerima namun sudah selangkah lebih maju.
Di saat mereka berbincang-bincang tiba-tiba ada suara yang sangat menjengkelkan bagi Raja Zhang Jiang Wu apalagi jika bukan suara cempreng Pangeran Zhang Fei. Pria itu datang tanpa pemberitahuan sebelumnya dan langsung berteriak-teriak seperti orang g*la yang lepas dari tempatnya.
"Jinshi oh Jinshi, sahabat tampan mu ini datang!" teriaknya.
Sekali lagi Pangeran Xiao Jinshi tersedak, "Anak ini selalu buat keributan."
"Oh ayolah, aku bukan setan jadi jangan terkejut seperti itu," ujar Pangeran Zhang Fei tanpa dosa.
"Jiang Wu kamu bertemu dia bagaimana? Kenapa jadi begini tingkahnya semakin hari semakin gak waras," ujarnya sambil memijat pelipisnya yang pusing.
"Entahlah, Jinshi. Aku sudah lupa, kalau tidak salah ingat dulu aku menemukannya di depan pasar sedang mencari-cari sesuatu ditempat sampah," jawabnya asal.
Pangeran Xiao Jinshi tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban ringan tanpa beban yang dilontarkan oleh Raja Zhang Jiang Wu. Sedangkan Pangeran Zhang Fei hanya bisa mendengus kesal.
"Si*lan kalian yah. Aku adukan kalian ke paman Xiao Ren," sungut Pangeran Zhang Fei.
"Dan aku calon menantu kesayangannya. Posisimu tidak lebih baik dari aku, coba saja kalau mau mengadu," timpal Raja Zhang Jiang Wu.
Merasa tidak akan menang Pangeran Zhang Fei hanya bisa memendam kekesalannya pada sahabat lak natnya. Mereka berdua puas mengerjai Pangeran Zhang Fei akhirnya tawanya lepas juga melihat wajah kusut sahabatnya.
"Hahahaha."
"Hahahaha."
"Lanjutkan saja tawa kalian. Tapi, jangan salahkan aku jika anak ular itu mengganggu kesayangan kalian xiao lin mei."
Mendengar perkataan Pangeran Zhang Fei sontak mereka menghentikan tawanya dan menatapnya serius bahkan Pangeran Xiao Jinshi yang tidak tahu apa-apa mendadak serius jika menyangkut tentang adiknya.
"Apa lagi yang dilakukan anak itu?" tanya Pangeran Xiao Jinshi serius.
"Dia, mempengaruhi orang-orang kedai dengan menyebarkan rumor buruk," jawab Raja Zhang Jiang Wu.
Setelah itu Raja Zhang Jiang Wu menceritakan dengan detail apa saja yang gadis itu lakukan dari awal hingga akhir, termasuk juga ketika mencoba menghasutnya dengan membawa Pangeran Zhang Fei.
"Apa! Kurang ajar, sepertinya peringatan ku dianggap angin lalu olehnya. Jangan salahkan aku jika mengadukan masalah ini ke ayahanda."
__ADS_1
Pangeran Xiao Jinshi tidak terima dengan ini semua, dia ingin pergi menghadap ke ayahnya dan melaporkan semua kebusukan mereka berdua. Namun, belum sempat pergi Putri Xiao Lin Mei datang dan mencegahnya. Mau tidak mau dia mengurungkan niatnya.
Putri Xiao Lin Mei lebih penasaran dengan perampok kemarin daripada ular sawah itu, maka dari itu dia mencegah Gege nya untuk melaporkan hal ini ke Raja Xiao Ren. Lagipula ini hanya masalah kecil tidak perlu dibesar-besarkan.
"Gege oh Gege kenapa wajahmu masam?" tanya Putri Xiao Lin Mei.
"Tidak apa-apa. Bagaimana keadaanmu?"
"Tidak buruk. Meskipun ada yang mengganjal sedikit," jawabnya sambil melirik ke arah Raja Zhang Jiang Wu.
Sedangkan yang dilirik hanya menampilkan wajah datarnya. Mereka mulai menerka apa yang terjadi selama di kerajaan Kegelapan terutama Pangeran Xiao Jinshi yang belum mengetahui insiden penyerangan di sana.
"Bagaimana dengan mereka? Apakah ayah sudah mengetahui?" tanya Putri Xiao Lin Mei mengalihkan.
"Sudah, namun mereka susah sekali diajak berbicara. Mereka terlalu setia dengan ular itu," jawab Pangeran Xiao Jinshi lelah.
Sudah beberapa kali dia mengintrogasi mereka bahkan siksaan demi siksaan telah pasukannya berikan kepada mereka namun tidak ada yang bersuara dan mereka memilih bungkam.
Seperti dugaan Putri Xiao Lin Mei sebelumnya. Mereka pasti menutup rapat-rapat identitas orang yang menyuruhnya.
"Zhang Fei, apa yang kamu lakukan dengan ular itu?"
"Gampang saja, aku hanya menggertak dia akan melakukan hal yang sama seperti tuduhannya kepadamu dengan menambahkan bumbu sedikit," ujarnya.
Sebelumnya sesaat setelah Raja Zhang Jiang Wu pergi Pangeran Zhang Fei yang ditugaskan membereskan kekacauan ini langsung menyeret Putri Xiao Yue Shi dengan kejam tanpa mendengarkan teriakan mereka.
"Lepaskan aku!" teriak Putri Xiao Yue Shi.
"Kamu jangan macam-macam denganku atau aku adukan kau ke ayahanda Raja Xiao Ren agar dia menghukum mu karena keberanian mu menyakiti anggota kerajaan," teriaknya.
Pangeran Zhang Fei berhenti, dia menatap gadis itu tajam yang dibalas juga dengan tatapan angkuh gadis itu. Putri Xiao Yue Shi menatap angkuh pria ini, dia merasa jika perkataannya itu bisa membuatnya berubah pikiran.
"Apakah nona pikir Raja Xiao Ren akan membelamu? Cih, jangan mimpi. Bahkan jika kamu mengadu domba sekalipun aku yakin 'paman' akan lebih mendukung aku daripada putri tidak tahu diri seperti mu," jawabnya sarkas.
Dengan menekankan kata 'paman' agar gadis itu mengerti jika perbuatannya itu akan menjadi sia-sia.
Merasa kalah Putri Xiao Yue Shi hanya bisa menggeram marah.
"Kurang ajar! Tunggulah pembalasanku," geram Putri Xiao Yue Shi.
*
*
*
__ADS_1
*
Bersambung ….