Reinkarnasi Putri Bar Bar

Reinkarnasi Putri Bar Bar
Part. 33


__ADS_3

Ke tiga orang yang sedang menangis haru itu sontak menoleh ke sumber suara, mereka terkejut melihat Pangeran Xiao Jinshi yang berdiri di ambang pintu dengan raut wajah terkejut.


"Gege," lirih Putri Xiao Lin Mei.


Kedatangan Pangeran Xiao Jinshi yang begitu tiba-tiba telah mengejutkan mereka bertiga. Dia sendiri juga terkejut melihat semua orang habis menangis. Pangeran Xiao Jinshi berjalan menghampiri mereka bertiga.


"Ayah, kenapa menangis?"


"Tidak apa-apa, ayah hanya terharu."


"Karena apa? Dan juga kenapa Lin Mei juga menangis."


Pangeran Xiao Jinshi semakin kebingungan dengan orang-orang yang berada dihadapannya ini. Bagaimana tidak dia awalnya ingin membicarakan sesuatu dengan sang ayah tiba-tiba saja melihat sang ayah menangis.


Pangeran Xiao Jinshi menatap mereka satu persatu, dia baru menyadari jika ada pelayan Zhang Yue diantara mereka.


"Zhang Yue, kenapa kamu ada di sini. Apakah ada masalah?" tanya Pangeran Xiao Jinshi.


"Tidak ada masalah apapun, Gege. Aku yang mengajaknya kesini," tutur Putri Xiao Lin Mei mendahului Zhang Yue yang ingin membuka mulut.


Zhang Yue kembali menunduk, tidak berani menatap wajah Pangeran Xiao Jinshi. Putri Xiao Lin Mei mengerti pasti saat ini pelayan ah ralat saudarinya itu tengah ketakutan dengan Gege nya.


"Gege," panggil Putri Xiao Lin Mei.


"Ada apa, Lin Mei."


"Aku ingin Zhang Yue menjadi bagian dari kita."


"Apa maksudmu bukankah memang sudah menjadi bagian kita selama ini?" ujar Pangeran Xiao Jinshi menyela.


"Ck dengarkan dulu aku belum selesai," Putri Xiao Lin Mei menggerutu sebal.


"Aku menginginkan Zhang Yue menjadi bagian keluarga kita, keluarga inti kerajaan."


Mendengarkan penuturan adiknya Pangeran Xiao Jinshi menatap Zhang Yue yang sedari tadi menunduk. Dia meneliti setiap jengkal gadis itu dengan teliti, pikirannya menerawang menimbang baik dan buruknya.


Ditatap seperti itu oleh sang pangeran Zhang Yue semakin menunduk dalam, gadis itu berpikiran jika akan dimarahi habis-habisan oleh Pangeran Xiao Jinshi karena sudah berani melampaui batasnya. Bagaimanapun juga dia masih sadar diri, tidak mungkin pelayan sepertinya itu akan menjadi seorang putri di tempatnya mengabdi.


Pangeran Xiao Jinshi berpikiran tidak ada salahnya jika mengangkatnya sebagai adik. Kerja kerasnya serta kesetiaan gadis itu sudah cukup layak untuk bersanding dengan keluarga inti. Pangeran Xiao Jinshi juga tidak mempermasalahkan status Zhang Yue sebenarnya.


"Tidak ada salahnya mengabulkan permintaan Mei mei ku yang cantik ini."


"Jadi?"


"Iya, Gege menyetujuinya," putus Pangeran Xiao Jinshi.


"Yey kau yang terbaik."


Putri Xiao Lin Mei mengangkat jempolnya ke arah pangeran dengan sebagai bentuk pujian.


"Welcome to Xiao's family," teriak Putri Xiao Lin Mei.


Karena saking gembiranya Putri Xiao Lin Mei sampai tidak sadar mengucapkan kalimat di dunianya dulu. Namun, sesaat dia tersadar setelah melihat wajah wajah kebingungan keluarganya dengan senyumannya dia menatap mereka dan berkata.

__ADS_1


"Hehe maaf Lin Mei terlalu bahagia."


"Aduh nih mulut lak Nat banget sih. Bisa-bisanya keceplosan," batinnya merutuki kebodohan yang baru saja dia lakukan.


"Zhang Yue tinggal lama dengan Lin Mei pasti sudah hafal dengan tingkah ajaibnya 'kan? Jadi, tidak perlu kaget jika nanti melakukan hal ajaib lagi," ucap Pangeran Xiao Jinshi.


"Apa sih, Gege." Putri Xiao Lin Mei bersedekap.


"Kita 'kan sudah lama tinggal bersama. Mungkin Zhang Yue harus terbiasa dengan tingkah menyebalkan kalian."


Putri Xiao Lin Mei berkata seperti itu bukan tanpa sebab pasalnya setiap bertemu dengan orang lain mereka akan menampilkan raut wajah datar seperti tembok berjalan lain halnya jika kepadanya mereka akan lembut seperti permen kapas terutama Pangeran Xiao Jinshi yang suka sekali menggoda Putri Xiao Jinshi.


"Apa kita seperti itu, Yah? Menurutku kita selalu ramah terhadap orang lain."


"Ramah gundul mu. Bagaimana bisa menyebut dirimu ramah sedangkan orang lain takut menatap mu." Putri Xiao Lin Mei memutar matanya sebal.


Putri Xiao Lin Mei dan Pangeran Xiao Jinshi terus berdebat tidak mau mengalah, baik Zhang Yue serta Raja Xiao Ren hanya menatap mereka berdua tanpa berniat memisahkan kedua kakak beradik yang 'sangat rukun' itu.


"Di sini sepertinya hanya aku saja yang waras," gumam Raja Xiao Ren.


"Zhang Yue, nanti kamu jangan seperti mereka. Seperti anak kecil," ucap Raja Xiao Ren.


Zhang Yue hanya menanggapinya dengan tersenyum.


Mereka berdua duduk sambil menonton perdebatan tidak berujung yang dilakukan oleh pangeran dan adiknya Putri Xiao Lin Mei. Seakan menikmati pemandangan didepannya Raja Xiao Ren menuangkan teh nya tanpa terganggu sama sekali.


Setelah lelah berdebat merekapun terdiam lalu mengambil tempat duduk di sisi Raja Xiao Ren.


"Sudah selesai debatnya?"


"Hm bagus."


"Jinshi, bagaimana perkembangan mereka?"


"Menurut perhitungan ku dalam waktu dekat ini mereka akan melakukan pergerakannya. Jadi, kita secepat mungkin harus menyiapkan diri demi mengurangi resiko besar."


Putri Xiao Lin Mei kebingungan dengan arah pembicaraan mereka hanya duduk diam sambil memperhatikan. Dahinya mengernyit saat mendengarkan pergerakan, sebenarnya ada apa ini.


"Persiapan, pergerakan? Apa yang kalian bicarakan."


"Kerajaan kita akan mengalami perang besar dan menurut ayah ada dugaan besar jika ini merupakan rencana mereka, pembunuh ibunda kalian."


Deg


Perang, jadi mereka benar-benar ingin mengambil alih kerajaan ini? Tapi kenapa harus berperang. Apakah ini ada hubungannya dengan kematian mereka atau ada pihak lain yang mengambil kesempatan.


Banyak pertanyaan di benak Putri Xiao Lin Mei tentang semua ini. Bagaimana kalau semuanya berakhir dan kerajaan ini berhasil ditaklukan oleh mereka.


"Lin Mei," panggil Pangeran Xiao Jinshi.


Panggilan serta tepukan dipundaknya itu sukses membuat Putri Xiao Lin Mei kembali ke dunianya. Dia menatap mereka linglung.


"Ayah bagaimana mungkin. Apakah ini karena mereka sudah mengetahui kalau aku memberitahu semuanya."

__ADS_1


"Ayah tidak mengetahuinya yang jelas sekarang kita harus berjaga-jaga dari kemungkinan terburuk dari perang ini."


"Zhang Yue," panggil Raja Xiao Ren.


"Nanti, saat perang berlangsung kamu bawa Putri Xiao Lin Mei ke tempat yang aman. Ayah percayakan semuanya padamu."


"Baik, Yah."


Zhang Yue berjanji akan melindungi Putri Xiao Lin Mei seperti dahulu.


Raja Xiao Ren tersenyum mendengar kesanggupan Zhang Yue setelah itu dia melirik Pangeran Xiao Jinshi.


"Jinshi, setelah ini kamu persiapkan diri dan pasukan. Latih mereka dengan keras, buktikan jika kamu layak dan mampu memegang gelar putra mahkota."


"Siap, laksanakan."


Pangeran Xiao Jinshi menjawab dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun, dia ingin membuktikan jika dirinya layak sebagai calon pewaris tahta selanjutnya dan tidak ingin mengecewakan ayahnya.


"Sekarang kalian bisa kembali."


"Tidak, ayah bagaimana mungkin aku bisa berdiam diri sementara kalian sedang berjuang mempertahankan kerajaan ini. Aku akan ikut," Putri Xiao Lin Mei memprotes.


"Putri Xiao Lin Mei, jangan membangkang. Keputusan ayah sudah bulat, tidak akan mengizinkan mu turun ke medan perang."


"Tapi...."


"Cukup, ayah tidak mau mendengar bantahan."


Pangeran Xiao Jinshi mendekati adiknya dia meraih tangan sang adik lalu menatap lembut manik mata jernih milik Putri Xiao Lin Mei.


"Lin Mei, dengarkan. Bukannya kami ingin mengekang dengan melarang mu ikut turun. Tapi, mengertilah kami tidak ingin membuatmu terluka cukup biarkan kami yang berperang berjuang membela kerajaan ini. Do'akan kami pulang membawa kemenangan untuk kerajaan ini."


"Maafkan ayah. Benar kata Gege mu ayah tidak mau kehilangan putri ayah, kamu adalah permata hati ayah setelah ibunda mu pergi. Tolong, menurut lah."


Putri Xiao Lin Mei mengangguk pasrah dia tidak ingin membuat ayahnya dan Gege nya bersedih. Raja Xiao Ren memeluk putrinya mengucapkan terimakasih karena sudah mau mengerti begitupula dengan Pangeran Xiao Jinshi yang ikut masuk ke dalam pelukan mereka.


Raja Xiao Ren melihat Zhang Yue terdiam menarik tangannya masuk kedalam pelukannya.


"Tolong jaga diri kalian baik-baik. Terutama kamu, Zhang Yue tolong bantu adik mu jangan segan-segan untuk memarahinya kalau bandel."


"Baiklah, Ayah. Kalian jaga diri baik-baik pastikan kemenangan ada di pihak kita," sahut Zhang Yue.


"Akan kami usahakan," sahut Pangeran Xiao Jinshi.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2