
Saat ini Putri Xiao Lin Mei berjalan menuju bangunan utama di istana kegelapan bernama kediaman Phoenix, berdasarkan informasi dari ingatan sebelumnya tempat tersebut merupakan kediaman turun temurun para Raja Kegelapan sebelumnya.
Saat ini kediaman Phoenix ditempati oleh Raja Zhang Jiang Wu setelah sebelumnya merupakan kediaman mendiang Raja Zhang Shuichi suami dari Ratu Ming Xia.
Bangunan itu terletak tidak jauh dari tempat Putri Xiao Lin Mei tadi hanya dengan berjalan kaki sebentar sudah sampai di tempat tersebut.
Istana Kegelapan sendiri memiliki beberapa bangunan di antaranya yakni kediaman Lotus tempat tinggal Ratu Ming Xia yang didominasi warna putih dan hijau, Kediaman Phoenix yang merupakan tempat tinggal Raja Zhang Jiang Wu serta aula yang sangat luas di tempat itulah biasanya Raja Zhang Jiang Wu mengadakan pertemuan dengan kerajaan yang lainnya atau sekedar berpesta dengan para pejabatnya.
Jika kalian bertanya dimanakah letak harem Raja maka kalian tidak akan pernah menemukannya, karena leluhur kerajaan kegelapan melarang keras seluruh keturunannya untuk mengangkat selir di halaman belakang rumahnya.
Kembali ke sisi Putri Xiao Lin Mei
Hal yang pertama kali dia lihat ketika menginjak kan kaki di tempat itu adalah sebuah ukiran-ukiran kuno yang terletak di pintu serta sebuah patung di sisi kanan dan kirinya.
Untuk sejenak Putri Xiao Lin Mei terpaku menatap kemewahannya.
"Wah cantik sekali, baru di depan pintu saja sudah begini cantiknya apalagi kalau masuk kedalamnya pasti lebih mewah," batinnya.
Putri Xiao Lin Mei melupakan kekagumannya sejenak dan beralih menatap kearah dua orang prajurit yang sedang bertugas di depan pintu kediaman.
Melihat kedatangan Putri Xiao Lin Mei salah satu diantara mereka pergi melaporkan kedatangannya kepada Raja Zhang Jiang Wu, setelah mendapat ijin dari sang tuan rumah prajurit tersebut mempersilahkan Putri Xiao Lin Mei masuk.
Putri Xiao Lin Mei mengucapkan terimakasih kepada prajurit tersebut dan melangkahkan kakinya menuju ke dalam.
Pertama kali yang terlihat ketika membuka pintu adalah sebuah ruangan yang didominasi oleh warna emas dan hitam. Netranya menatap kesegala arah dan melihat seorang pria memakai hanfu berwarna hitam dengan posisi tangan kanan di dagu serta tangan yang lain nya berada di atas meja. Pria tersebut seolah-olah tengah sibuk memikirkan sesuatu.
"Jiang Wu!" serunya membuyarkan lamunan pria jangkung itu.
Raja Zhang Jiang Wu terkesiap kala mendengarkan suara lembutnya. Dia pun menyambut kedatangan Putri Xiao Lin Mei dengan senyumnya yang manis bak gula.
"Sudah datang? kemarilah." Sambil menepuk kursi di sampingnya.
Putri Xiao Lin Mei melangkahkan kakinya menghampiri Raja Zhang Jiang Wu perlahan tapi pasti.
Putri Xiao Lin Mei menatap kearah orang tersebut dengan heran, pasalnya setiap kali bertemu dia selalu tersenyum sangat manis. Alya sempat berpikir jika semua orang-orang di zaman kerajaan itu selalu dingin dan arogan kepada orang yang ditemuinya.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" ujarnya aneh.
"Tidak kenapa-kenapa. Lagipula aku hanya akan bersikap lembut kepada orang tertentu saja," jawabnya.
"Mustahil sekali," ujar Putri Xiao Lin Mei tidak percaya.
Putri Xiao Lin Mei tidak percaya dengan perkataan pria tampan dihadapannya ini dan semakin merasa aneh dengan tingkah Raja Zhang Jiang Wu. Dia pun berjalan menghampiri pria itu lalu menyentuh keningnya untuk memastikan sesuatu.
"Sepertinya benar dugaan ku kalau pria ini kerasukan arwah gentayangan," gumamnya.
Dengan pergerakan tiba-tiba Putri Xiao Lin Mei berteriak.
__ADS_1
"Saha anjeun? Keluar tina awak ieu!"
(Siapa kamu? Cepat keluar dari tubuh ini!)
Raja Zhang Jiang Wu terkejut bukan kepalang melihat tingkah laku Putri Xiao Lin Mei yang menurutnya sangatlah tidak masuk akal.
Gadis tersebut menyentuh kening Raja Zhang Jiang Wu sambil sesekali mulutnya komat-kamit dan berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti.
"Ada apa denganmu?" sambil berusaha menyingkirkan telapak tangan Putri Xiao Lin Mei dari keningnya.
Raja Zhang Jiang Wu menggeleng-gelengkan kepala melihatnya merasa lucu dengan tingkah laku gadis dihadapannya ini.
Putri Xiao Lin Mei semakin yakin jika didalam tubuh Raja Zhang Jiang Wu ada makhluk halus yang bersemayam di tubuhnya.
"O dedemit anu cicing, anjeun kaluar tina awakna. Ulah ngaganggu kami."
(wahai dedemit yang bersemayam, keluar lah kau dari tubuhnya. Jangan ganggu kami.)
Tangan Putri Xiao Lin Mei bergerak seolah-olah sedang mengusir sesuatu layaknya seorang dukun yang mengobati pasiennya. Dia mengetahui hal tersebut dari acara tv yang selalu ditontonnya setiap malam minggu, jika orang lain ketika malam minggu semua pergi berkencan dengan pasangannya tidak untuk Alya setiap hari sabtu malam dirinya sudah duduk manis dihadapan televisi untuk menonton acara mistis kesukaannya.
Saat ini tangannya menyentuh kening Raja Zhang Jiang Wu sambil komat-kamit seperti merapalkan sebuah mantra mempraktikkan apa yang dia tonton.
Saat sedang konsentrasi membaca mantra Putri Xiao Lin Mei dibuat terkejut oleh pergerakan tiba-tiba dari Raja Zhang Jiang Wu yang menangkap tangannya dan membungkam mulutnya dengan ciuman tiba-tiba.
CUP
Putri Xiao Lin Mei akui dia begitu terpesona dengan netra pria tersebut hingga suara berat nan menawan mampu mengembalikan kesadarannya.
"Sepertinya tuan putri sudah tidak sabar menikah denganku," ujar Raja Zhang Jiang Wu terkekeh geli.
Begitu mengucapkan hal tersebut Raja Zhang Jiang Wu berlari menghindari kemungkinan amukan yang akan dia terima dari pujaannya. Dan benar saja gadisnya berteriak marah.
"Kamu ya! Sini kamu."
Mereka berdua berlarian mengejar satu sama lain dengan raut wajah yang gembira
seolah-olah mereka melupakan peristiwa mengerikan tempo hari. Sebuah kejadian yang hampir saja merenggut nyawa mereka.
Suara suara kegembiraan tersebut tidak luput dari pendengaran beberapa orang yang bertugas di depan pintu kediaman. Dalam hati mereka bersyukur karena pemimpin negeri itu telah kembali dari ambang kematian dan berdoa semoga mereka dijauhkan dari marabahaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kerajaan Bintang.
"Suamiku bagaimana kelanjutan pertunangan putri kita dengan pemuda itu?" tanya seorang perempuan.
Mengetahui arah pembicaraan tersebut pria itu marah besar.
__ADS_1
"Jangan pernah coba-coba kamu menyinggung pemuda itu jika kamu tidak ingin kerajaan kita rata dengan tanah," peringat Raja Zhao Yun.
Lelaki tersebut menjawab dengan nada dingin dan menatap tak suka istrinya itu. Selama ini dia cukup tau bahwa istrinya itu begitu berambisi untuk memasukkan putri mereka Putri Zhao Yunlei kedalam istana kegelapan demi keinginannya.
Setelah memperingatkan istrinya Raja Zhao Yun pergi dari tempat tersebut meninggalkan sang istri yang terdiam.
Mendapat jawaban ketus dari Raja Zhao Yun perempuan tersebut menggeram marah dalam hati dia bertekad akan menaklukkan kerajaan tersebut apapun yang terjadi.
"Persetan dengan kerajaan tua bangka itu, yang penting aku bisa menikmati hidup enak di kerajaan kegelapan itu," batinnya.
Perempuan itu tersenyum memikirkan kehidupan nya di istana kegelapan kelak setelah berhasil membuat hubungan dengan raja dari kerajaan kegelapan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kediaman Phoenix
Putri Xiao Lin Mei mendadak berhenti dia teringat kejadian tempo hari yang membuat pria tersebut berada diambang kematian. Putri Xiao Lin Mei memanggil Raja Zhang Jiang Wu lirih keceriaannya lenyap seketika berganti menjadi sendu.
"Jiang Wu," panggilnya.
Raja Zhang Jiang Wu menghentikan langkahnya mendengar panggilan sendu nya. Dia menatap netra gadisnya yang tampak seperti tengah menahan air matanya. Dia tahu apa yang membuatnya menangis seperti itu, menurut ibu Ratu Ming Xia gadis tersebut menjadi sensitif semenjak kejadian mengerikan itu.
Raja Zhang Jiang Wu melangkah mendekati Putri Xiao Lin Mei yang tengah menunduk, diangkatnya wajah gadis itu sehingga pandangan mata mereka bertemu dapat dilihat dengan jelas jika manik mata Putri Xiao Lin Mei tengah berkaca-kaca.
"Aku tidak kenapa-kenapa," ujarnya menenangkan.
"Terimakasih sudah menyelamatkan ku. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kamu tidak melindungi mungkin aku sudah...."
"Stttt."
Raja Zhang Jiang Wu meletakkan telunjuknya di bibirnya menghentikan ucapan Putri Xiao Lin Mei.
"Dengarkan aku," ujarnya pelan.
Raja Zhang Jiang Wu memegang pundak Putri Xiao Lin Mei.
"Aku melakukannya karena aku bertanggung jawab atas keselamatanmu selain karena janjiku kepada ayahanda serta ibumu aku tidak ingin seseorang yang berarti dalam hidupku terluka dan terancam jiwanya."
"Terimakasih sudah bersikap baik kepadaku, tolong jangan pernah berubah," pintanya.
"Percayalah Lin Mei aku tidak akan pernah berubah sampai kapanpun." Sambil memeluk tubuh Putri Xiao Lin Mei.
Pelukan yang begitu hangat dirasakan oleh Putri Xiao Lin Mei dia memejamkan matanya untuk merasakan kehangatan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Tiba-tiba suara dorongan pintu mengagetkan mereka. Sesaat Raja Zhang Jiang Wu merasa geram saat kesenangannya diganggu, namun disaat melihat siapa pelakunya dia dibuat terkejut.
Bersambung....
__ADS_1