Reinkarnasi Putri Bar Bar

Reinkarnasi Putri Bar Bar
Part. 28


__ADS_3

"Bagaimana kamu bisa ada di sini?" ujar perempuan tersebut yang ternyata adalah Selir Mei Ran.


"Kenapa, bingung aku ada di sini? Atau takut rencana busuk mu terbongkar?"


Putri Xiao Lin Mei melangkahkan kaki jenjangnya menghampiri Selir Mei Ran dan juga Putri Xiao Yue Shi yang tergagap. Iya tersenyum sinis melihat ketakutan mereka Raja Zhang Jiang Wu yang sedari tadi di sampingnya hanya terdiam menunggu apa yang akan dilakukan oleh calon istrinya.


Langkah kakinya semakin mendekat tatapannya tajam seakan-akan bisa menguliti tubuh orang dihadapannya. Dia mendekati belati yang tergeletak di tanah lalu mengambilnya.


"Mau kau apakan belati itu?"


"Menunjukkan kekejaman yang sesungguhnya."


Putri Xiao Lin Mei berjalan menuju ketua pembunuh bayaran yang hampir saja merenggut nyawa serta kebahagiaannya. Dia melihat bekas luka yang ada ditubuhnya, gegenya pasti yang melakukannya. Luka itu ada yang hampir mengering namun ada juga yang seperti baru.


Sang ketua itu berkeringat dingin terlebih lagi melihat tatapan mata Putri Xiao Lin Mei yang mengerikan dengan belati ditangannya apalagi saat ini sedang memutar belati itu seperti mainan.


"Sepertinya penyiksaan yang dilakukan Gege belum cukup untuk membuatmu membuka mulut," ujar Putri Xiao Lin Mei.


Pangeran Xiao Jinshi yang merasa namanya dipanggil keluar dari persembunyiannya, sepertinya akan ada yang menarik.


"Payah, sekarang lihat bagaimana caraku membuka mulutmu."


Putri Xiao Lin Mei akan memulai aksi balas dendam nya. Namun sebelum itu dia meminta Pangeran Xiao Jinshi dan Raja Zhang Jiang Wu mengikat Selir Mei Ran serta Putri Xiao Yue Shi. Mereka berdua memberontak tidak menerima perlakuan itu dan berteriak memaki-maki orang lain hingga membuat Putri Xiao Lin Mei geram dan menampar mereka hingga terdiam.


"Let's play revenge," gumamnya tersenyum miring.


Putri Xiao Lin Mei menarik paksa tangan laki-laki itu hingga terhuyung, terdengar suara ringisannya lalu melemparkannya hingga terduduk dengan posisi bersimpuh. Belum sampai disitu Putri Xiao Lin Mei dengan tanpa perasaan menginjak tangan ketua dengan kejam sampai terdengar bunyi retakan membuat semua orang meringis ngilu begitu pula dengan ketua itu yang menjerit kesakitan. Bukan hanya itu saja Putri Xiao Lin Mei menggoreskan belati dilengan satunya yang belum patah teriakan demi teriakan terdengar dari mulut laki-laki itu tapi hal itu tidak lantas membuat Putri Xiao Lin Mei berhenti, teriakan laki-laki itu seperti alunan melodi terindah yang pernah dia dengar hingga membuatnya semakin bersemangat untuk mengukir lebih banyak lagi di tubuh pria itu.


Di saat Putri Xiao Lin Mei bersenang-senang lain halnya dengan Pangeran Zhang Fei yang tengah menyelinap kediaman Selir Mei Ran atas perintah tuan putri tercinta, cukup mudah menemukan kediamannya karena pangeran Zhang Fei pernah berkeliling istana disaat kunjungan kerajaan bersama ayahnya.


Dia mengendap-endap kediaman yang tampak sepi itu, entah keberuntungan atau apa hal ini cukup menguntungkan bagi Pangeran Zhang Fei untuk menyelidiki hama itu, dia memasuki kamar Selir Mei Ran yang terlihat bersih dan rapi.


Dengan perlahan-lahan Pangeran Zhang Fei menggeledah semua tempat yang memungkinkan adanya benda yang mencurigakan. Mulai dari lemari, laci, dibawah bantal sampai kolong ranjang pun dia periksa namun tidak menemukan hal apapun yang mencurigakan.


Suara bising yang dihasilkan oleh Pangeran Zhang Fei itu tidak akan membuat orang lain terganggu bahkan prajurit yang seharusnya berjaga pun tidak terlihat sedari tadi. Hal ini cukup membuat Pangeran Zhang Fei heran bagaimana mungkin seorang anggota kerajaan bisa selonggar ini penjagaannya bahkan jika itu seorang selir pasti akan ada penjagaan didepan pintu. Tidak mau memikirkan hal itu Pangeran Zhang Fei terus berusaha mencari.


"Dimana selir itu menyembunyikan petunjuk itu," gumam Pangeran Zhang Fei.

__ADS_1


Pangeran Zhang Fei meneliti ke sana kemari untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan hingga saat dia mendongak ke atas dia melihat ada yang mencurigakan. Dengan segera dia mengambil kursi yang berada di dekat meja rias, lalu menaikinya agar bisa meraih kotak tersebut.


Dengan penasaran Pangeran Zhang Fei membuka kotak itu perlahan-lahan di dalam sana terdapat secarik kertas serta sebuah botol kaca yang sepertinya isinya sudah berkurang. Saat Pangeran Zhang Fei membuka tutupnya tercium aroma tidak asing dan kemudian membola sempurna saat mengingatnya.


"Racun Bunga Abadi? Bagaimana bisa ada di sini?" Gimana Pangeran Zhang Fei heran.


Racun Bunga Abadi biasanya tumbuh di pegunungan yang cukup sulit dijangkau, bahkan racun ini sudah sangat langka keberadaannya. Beruntungnya Pangeran Zhang Fei pernah mempelajari tentang jenis-jenis racun sebelumnya dan itupun karena tidak sengaja. Sedikit informasi orang yang terkena racun ini akan meninggal secara perlahan-lahan dan karena tidak memiliki bau serta sulit dideteksi membuatnya sulit menemukan penawar yang cocok.


"Sebaiknya aku cepat-cepat pergi dari sini sebelum perempuan itu kembali. Aku akan menanyakan hal ini kepada Putri Xiao Lin Mei semoga saja gadis itu mengetahuinya."


Pangeran Zhang Fei membereskan kekacauan yang dia buat sebelumnya lalu membawa kotak itu pergi bersamanya.


...****************...


Kembali lagi ke sisi Putri Xiao Lin Mei.


Raja Zhang Jiang Wu memandang kagum calon istrinya dia tidak menyangka jika Putri Xiao Lin Mei memi lain yang kejam. Dia melirik Pangeran Xiao Jinshi yang terlihat terkejut, sepertinya sahabatnya itu tidak menyangka juga seperti dirinya.


"Pstt Jinshi. Bagaimana bisa adik mu bisa menjadi menyeramkan seperti ini?" bisik Raja Zhang Jiang Wu.


"Mana aku tahu. Baru kali ini dia mengamuk seperti ini," balasnya.


"Bagus sekali, apakah kita perlu turun tangan untuk menambah ketakutan mereka?"


"Menarik."


Raja Zhang Jiang Wu mendekati Putri Xiao Lin Mei yang masih fokus menghajar ketua pembunuh itu yang masih enggan membuka mulut. Tanpa permisi dia mencuri ciuman dari Putri Xiao Lin Mei tepat di pipinya hingga membuat sang empunya terkejut dan menatap kesal Raja Zhang Jiang Wu. Perbuatan itu sukses membuat ketiga penonton ah ralat ke empat penonton itu membulat sempurna terutama Putri Xiao Yue Shi menggeram marah.


"Ada apa dengan wajahku wahai adikku Putri Xiao Yue Shi?" tanya Putri Xiao Lin Mei.


"Apakah kamu iri denganku yang bisa mendapatkan pria sebaik dan setampan Raja Zhang Jiang Wu."


Putri Xiao Lin Mei berkata dengan membelai wajah taman Raja Zhang Jiang Wu yang langsung ditangkap tangannya hingga membuat pergerakannya terhenti. Pria itu langsung mengecup tangan Putri Xiao Lin Mei.


Cup


"Cincin yang cantik untuk orang yang cantik dan manis," puji Raja Zhang Jiang Wu.

__ADS_1


"Cincin di jari mu juga cantik cocok sekali dengan yang aku kenakan saat ini," timpal Putri Xiao Lin Mei.


Mereka tanpa sungkan menunjukkan kemesraan mereka didepan ular-ular itu dan di depan Pangeran Xiao Jinshi yang memandangnya dengan bosan. Lain halnya dengan Putri Xiao Yue Shi yang melotot tajam saat melihat sepasang cincin yang melingkar dijari mereka, tidak bisa dibiarkan seharusnya dia yang memiliki nya.


"Beraninya dia," geram Putri Xiao Yue Shi.


"Hei *******! Cepat serahkan cincin itu. Kamu tidak pantas memakainya. Jika tidak aku akan menghabisi mu sekarang juga."


"Apa yang kamu bicarakan itu Xiao Yue Shi," ujar Selir Mei Ran mengingatkan.


"Aku tidak perduli, Ibunda. Jika pelayan bodoh itu tidak bisa menghabisi nyawa ******* itu lebih baik aku sendiri yang bertindak. Bahkan rencana ibunda semuanya gagal total."


Putri Xiao Yue Shi berteriak marah, dia tidak menyadari situasi. Kemarahan dalam hatinya membuat dirinya lupa jika saat ini mereka tidak sendiri.


Binggo


Akhirnya ular kadut keluar dari sarangnya dan menunjukkan taringnya. Putri Xiao Lin Mei tersenyum mendengarnya.


"Apakah kamu mendengar sendiri, Ayah."


Deg


Selir Mei Ran dan Putri Xiao Yue Shi terpaku mendengar perkataan ******* kecil itu. Wajahnya memucat keringat dingin mengalir deras, jantung mereka terpacu tatkala mendengar suara langkah kaki mendekat. Putri Xiao Lin Mei, Pangeran Xiao Jinshi serta Raja Zhang Jiang Wu tersenyum melihat ketakutan mereka.


Putri Xiao Lin Mei dan Raja Zhang Jiang Wu ber tos ria sesaat melihat Raja Xiao Ren muncul dengan raut menahan amarah.


"Tamatlah riwayat kalian saat ini," ucap Pangeran Xiao Jinshi tersenyum miring.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2