
"Akhirnya perang ini usai. Ayah, ibu lihatlah anak mu ini berhasil mempertahankan kerajaan kita," batinnya.
Hari ini akhirnya kebenaran yang memenangkan pertarungan. Di tempat ini banyak nyawa orang-orang tak bersalah menjadi korban angkara murka, ambisi besar sudah berhasil dipatahkan, genangan darah para pahlawan kerajaan menjadi saksi sejarah pertempuran kali ini.
Tempat ini akan menjadi kenangan tak terhingga bagi mereka yang dengan berbesar hati mengorbankan nyawa mereka demi negri tercinta.
Pangeran Xiao Jinshi menatap genangan darah dihadapannya, dia merasa bangga sekaligus bersedih melihatnya. Bangga dengan mereka serta sedih harus melihat begitu banyaknya ribuan nyawa menghilang mempertahankan kerajaannya.
"Beristirahatlah dengan tenang para pahlawan negri ku, kerajaan akan selalu mengenang jasa kalian," gumam Pangeran Xiao Jinshi.
Setelah berkata seperti itu dia berlari meninggalkan tempat bersejarah tersebut menyusul rombongan yang sudah lebih dulu pergi.
...****************...
Sorak Sorai atas kemenangan kerajaan Awan menghiasi perjalanan mereka disepanjang jalan para rakyat berhamburan keluar menatap rombongan pasukan dengan perasaan haru, dan juga senang. Mereka semua meluapkan kegembiraannya dengan berteriak lantang memanggil nama junjungan mereka.
Pangeran Xiao Jinshi menatap mereka dengan haru, perjuangannya tidak sia-sia. Dia tidak menyesal mengikuti sang ayah. Kegembiraan yang mereka tunjukkan merupakan sumber kebahagiaan tersendiri baginya.
"Ibunda, lihatlah mereka begitu bahagia dan bangga dengan kerja keras kita."
Pangeran Xiao Jinshi mengusap air matanya yang hampir menetes, dia selalu merasa bahwa permaisuri Shi An Mei selalu berada di sisinya dan selalu mengawasi mereka.
...****************...
Kabar kemenangan kerajaan Awan dengan cepat tersebar dengan luas layaknya angin yang berhembus. Semua rakyat merasakan kegembiraan bahkan ada yang menangis haru, karena bahagia kerajaan tidak jadi jatuh kepada orang yang salah.
Kabar itupun juga sudah tersiar hingga ke kerajaan Kegelapan, rakyat kerajaan Kegelapan juga ikut merasa bahagia dengan berita ini mengingat hubungan baik kedua kerajaan.
Demikian juga yang dirasakan oleh Putri Xiao Lin Mei, saat ini gadis itu berlari kencang mencari keberadaan Ratu Ming Xia.
"Bibi ...bibi!"
Putri Xiao Lin Mei berteriak memanggil Ratu Ming Xia yang saat ini sedang berada di kediamannya. Mendengar kegaduhan yang disebabkan oleh calon menantunya itu dengan sigap Ratu Ming Xia menghampirinya. Sesaat setelah menemukan sang ratu, putri pun langsung memeluknya dengan isakan tangisan bahagia.
"Ada apa, Nak. Kenapa berlarian seperti ini?"
"Bibi, sudah dengar sesuatu? Kerajaan Awan, mereka ... Mereka."
"Mereka kenapa, Nak? Bicara yang jelas jangan buat bibi khawatir."
"Mereka berhasil bibi, kerajaan Awan berhasil memenangkan peperangan."
Putri Xiao Lin Mei menangis bahagia begitupun dengan Ratu Ming Xia, dia membalas pelukan Putri Xiao Lin Mei dengan erat tak lupa tangisan bahagianya. Kini kedua orang itu sama-sama menangis dan berpelukan menyalurkan perasaan mereka.
"Bibi turut bahagia, selamat untukmu."
__ADS_1
"Terimakasih, Bibi."
Putri Xiao Lin Mei akhirnya bisa tersenyum kembali, batu besar yang selama ini mengganjalnya akhirnya terangkat dia tidak sabar ingin segera bertemu mereka.
...****************...
Rombongan pasukan kerajaan sudah sampai di istana awan. Sekali lagi sorak sorai mereka terdengar menggema di halaman istana megah itu. Pangeran Xiao Jinshi mewakili sang ayah mengucapkan terimakasih atas kerja keras pasukannya lalu memerintahkan untuk menjebloskan pasukan yang tersisa ke penjara bawah tanah dan menggantung kepala Xiao Han Shi di alun-alun sebagai peringatan sekaligus perayaan kemenangan.
Pangeran Xiao Jinshi pun bisa bernafas lega untuk sementara ini. Masih ada beberapa masalah yang harus dia ungkap setelah ini dan itu harus menunggu persetujuan dari ayahnya.
Saat ini dia berada di kediaman sang ayah, dia memandangi tubuh ayah yang terbaring lemas di ranjangnya. Bibirnya tampak pucat karena kehabisan darah.
"Ayah, bangunlah. Apakah ayah tidak ingin mendengar cerita kemenangan kita," ujar Pangeran Xiao Jinshi lirih.
Laki-laki itu menggenggam tangan sang ayah lalu mengusapnya secara perlahan. Tangisannya pecah saat melihat tubuh ayahnya yang selalu terlihat gagah itu terbaring lemah.
Pemandangan itu tidak luput dari perhatian dua sahabatnya siapa lagi kalau bukan Pangeran Zhang Fei serta Raja Zhang Jiang Wu.
"Kasihan anak itu, seharusnya hari ini berbahagia. Tapi, dengan keadaan paman seperti ini bagaimana mungkin dia bisa tersenyum senang," ujar Raja Zhang Jiang Wu lirih.
"Zhang Fei, jemputlah Lin Mei ke mari dan jangan katakan apapun tentang ayahnya."
"Baiklah, aku berangkat sekarang."
Pangeran Zhang Fei pun meninggalkan ruangan itu melaksanakan perintah sahabatnya, sebelum pergi Raja Zhang Jiang Wu juga meminta dirinya untuk membawa Liu Yaoshan serta beberapa pengawal bersamanya untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
"Jinshi, istirahatlah. Kamu pasti lelah," tutur Raja Zhang Jiang Wu.
Pangeran Xiao Jinshi menggeleng, "Tidak, aku ingin menjaga ayah."
"Hmm baiklah aku akan menemanimu."
Raja Zhang Jiang Wu menatap sahabatnya sedih, tidak pernah dia melihatnya terpuruk seperti ini. Xiao Jinshi yang dia kenal tidak akan pernah menunjukkan kesedihannya dihadapan siapapun termasuk orang terdekatnya sekalipun dan saat ini dia melihat pancaran putus asa dari sahabatnya.
"Jinshi, percayalah paman akan baik-baik saja. Aku tahu paman bukan orang yang lemah," tuturnya menenangkan.
"Aku takut, Jiang Wu. Setelah kepergian ibunda aku tidak mau ayah juga akan pergi, bagaimana aku bisa menjelaskan ini kepada Lin Mei dia pasti akan sangat sedih, jika mengetahui ayahnya dalam keadaan seperti ini."
"Tenanglah tidak akan terjadi apapun. Aku sudah meminta zhang fei menjemput adik mu ke sini, mungkin tidak lama lagi akan datang dia harus tahu keadaan ayahnya."
Pangeran Xiao Jinshi mengangguk, dia tidak mungkin menyembunyikan kebenaran ini dari sang adik dan tidak ingin Putri Xiao Lin Mei kecewa dengannya.
Raja Zhang Jiang Wu merangkul pundak sahabatnya itu untuk memberikan kekuatan dia paham bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai dia dulu juga seperti ini saat ayahnya gugur dimedan perang. Raja Zhang Jiang Wu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sang ayah ditikam oleh musuh tepat dihadapannya sendiri.
...****************...
__ADS_1
Saat ini Putri Xiao Lin Mei sedang berada diatas kereta kuda bersama dengan Pangeran Zhang Fei dan juga Ratu Ming Xia yang bersikeras ikut ke kerajaan serta beberapa pengawal disekeliling mereka tujuan mereka saat ini adalah pulang ke kerajaannya putri Xiao Lin Mei tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di istana.
"Zhang Fei, kabar itu benar adanya bukan?" Tanya Putri Xiao Lin Mei menatap Pangeran Zhang Fei yang berada tepat dihadapannya.
"Semua sesuai dengan keinginan dan rencana kita, Putri."
"Bagaimana keadaan mereka? Baik-baik saja bukan tidak ada yang berkurang satupun."
Kali ini Pangeran Zhang Fei menegang mendengar serentetan pertanyaan yang sudah diwanti-wanti oleh sahabatnya. Dia menghela nafas menetralkan kegugupannya.
"Kamu akan tahu nanti setelah sampai," jawab Pangeran Zhang Fei ragu dengan ucapannya sendiri.
Dan benar saja Putri Xiao Lin Mei meragukan ucapan Pangeran Zhang Fei dan ingin menanyakan hal lain namun ditahan oleh Ratu Ming Xia yang menenangkannya.
Putri Xiao Lin Mei menghela nafas lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah luar menikmati angin malam yang berhembus untuk mengurangi kegundahan hatinya.
"Kalian istirahatlah, perjalanan masih panjang biar aku yang berjaga," ujar Pangeran Zhang Fei.
Mereka pun menurut, baik Ratu Ming Xia dan Putri Xiao Lin Mei mereka tertidur dengan saling memeluk satu sama lain.
"Maafkan aku Lin Mei. Aku terpaksa berbohong padamu," batinnya.
Pangeran Zhang Fei menatap gadis mungil itu dengan perasaan bersalah.
...****************...
Setelah perjalanan ditempuh selama beberapa dupa akhirnya kereta yang membawa Putri Xiao Lin Mei serta Ratu Ming Xia sampai di pintu gerbang istana, penjaga yang mengetahui kedatangannya langsung membuka kan pintu gerbang dan mempersilahkan mereka masuk.
Kereta kuda yang ditumpangi oleh Putri Xiao Lin Mei bergegas langsung menuju paviliun anggrek tempat tinggalnya selama ini.
Dengan perlahan Pangeran Zhang Fei menepuk pelan pundak Putri Xiao Lin Mei serta Ratu Ming Xia dan memberitahukan jika sudah sampai.
"Lin Mei, bangunlah. Ratu, bangunlah kita sudah sampai."
Mereka yang terganggu dengan suara Pangeran Zhang Fei pun menggeliat dan menatapnya dengan mata yang masih mengantuk.
Pangeran Zhang Fei meminta mereka langsung istirahat saja, awalnya Putri Xiao Lin Mei ingin menolak, namun karena rasa kantuk yang menyerangnya dia mengalah dan memasuki kediamannya dan pangeran juga meminta ratu untuk istirahat ditempat yang sudah dia sediakan.
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ....