
Selama perjalanan menuju paviliun anggrek tak henti-hentinya Raja Zhang Jiang Wu menatap khawatir tubuh Putri Xiao Lin Mei. Dia bisa merasakan tubuhnya yang tadi demam tinggi sekarang menjadi dingin. Pikirannya menjadi kacau, dia tidak mau gadis ini pergi meninggalkannya.
Pria itu mempercepat jalannya agar cepat sampai di kediaman dan memastikan keadaannya.
Sesampainya di kediaman Raja Zhang Jiang Wu langsung meletakkan tubuh Putri Xiao Lin Mei di ranjangnya pelan-pelan.
Tak lama kemudian tabib pun datang lalu memeriksa keadaan tubuh Putri Xiao Lin Mei. Dengan segera dia memerintahkan tabib itu untuk memeriksa tubuhnya sementara dia keluar menemui Pangeran Xiao Jinshi serta Raja Xiao Ren yang menunggu di luar dengan cemas.
"Bagaimana?" Pangeran Xiao Jinshi terlebih dahulu menodong Raja Zhang Jiang Wu yang baru saja keluar dari kamar adiknya.
"Entahlah, tabib sedang memeriksanya."
"Aku takut sekali, tubuhnya dingin. Padahal tadi pagi tubuhnya cenderung panas," ujarnya mengeluarkan kekhawatirannya.
Ucapan Raja Zhang Jiang Wu membuat ke dua orang tersebut semakin khawatir.
Beberapa saat kemudian.
Tabib pun keluar dari kamar Putri Xiao Lin Mei dengan wajah menunduk.
"Tabib, bagaimana keadaannya?"
"Mohon maaf yang mulia saat ini kondisi putri xiao lin mei cukup mengkhawatirkan, suhu tubuhnya tidak menentu serta denyut nadinya yang melemah membuatnya tidak sadarkan diri."
"Kamu boleh pergi sekarang," usir Raja Xiao Ren.
Merekapun berbondong-bondong memasuki kamar Putri Xiao Lin Mei. Mereka melihat tubuh Putri Xiao Lin Mei terbaring lemah.
Pangeran Xiao Jinshi mendekati ranjang adiknya. Perempuan yang dia kenal selalu ceria kini jatuh sakit dengan wajah pucat, meskipun sudah ditutupi dengan make-up.
"Apa yang membuatmu seperti ini, Lin Mei. Cepatlah sembuh, kami merindukanmu," ujarnya lalu mengecup kening adiknya sayang.
"Nak, ayah sangat berterimakasih atas pembelaan mu hari ini. Cepatlah sembuh, ayah sayang kepadamu," ujar Raja Xiao Ren pelan dia mengusap lembut kepala anaknya.
Raja Xiao Ren menatap Raja Zhang Jiang Wu yang terdiam.
"Jiang Wu, kami titip Xiao Lin Mei. Kami akan pergi dulu mengurus jasad-jasad mereka," pinta Raja Xiao Ren.
"Baik, aku akan menjaganya kalian bisa tenang," jawab Raja Zhang Jiang Wu.
"Maaf, merepotkan mu," timpal Pangeran Xiao Jinshi.
"Tidak apa-apa. Kalian pergilah aku akan menjaganya."
Mereka pun pergi dari kamar itu meninggalkan Raja Zhang Jiang Wu sendirian.
...****************...
Di alam bawah sadar.
Kembali lagi, ya Alya saat ini kembali lagi ke tempat pertama kali dia berjumpa dengan jiwa Putri Xiao Lin Mei yang asli tapi kali ini tidak ada siapapun yang menghampirinya dikarenakan saat ini dia yakin jika jiwa Putri Xiao Lin Mei serta Permaisuri Shi An Mei sudah pergi dengan tenang.
Dia berjalan memperhatikan tempat itu sekali lagi, meskipun pernah mendatangi tempat ini, namun Alya tidak pernah sekalipun tidak mengagumi tempat ini. Alya yang memang sangat menyukai keindahan selalu terpesona.
__ADS_1
Sebuah tepukan menyadarkannya dari kekaguman Alya dengan tempat itu, dia menoleh dan mendapati orang yang selama ini dia rindukan.
"Papa, Mama. Benarkah itu kalian?"
"Aku kangen kalian." Alya sontak memeluk ke dua orangtuanya di dunia asalnya.
Dia menangis di pelukan kedua orangtuanya.
"Alya, kamu baik-baik ya di sini. Mama sama papa mau pergi dulu," ujar sang mama.
"Kalian mau kembali ke dunia kita? Aku ikut kalian, aku ingin ke kampus lagi seperti dulu."
Mereka berdua hanya tersenyum mendengar celotehan putrinya. Merekapun akhirnya mengatakan yang sebenarnya.
"Alya, papa sama mama mau pergi ke tempat seharusnya. Dunia itu bukan tempat kita lagi, Nak."
Pikiran Alya menjadi kosong pergi? Tempat seharusnya. Jangan bilang.
"Pa, bilang ini bohong. Kalian masih hidup kan? Kalian belum meninggal 'kan?" Alya berteriak histeris.
Dia terus menggeleng mengenyahkan pikiran buruknya. Dia tidak ingin mempercayainya.
"Benar, kami sudah meninggal. Mobil papa mengalami kecelakaan setelah memakamkan mu, Al."
Alya berteriak histeris, papa dan mamanya meninggal setelah dari pemakamannya. Berarti secara tidak langsung dialah penyebab orangtuanya meninggal.
Kedua orangtuanya Alya memeluk putrinya erat, mereka sama-sama menangis.
"Al, maafkan kami sudah mengabaikan mu. Sekarang kembalilah, kami akan pergi sekarang," ujar sang mama.
"Al, lihatlah kebelakang mu."
Alya pun menoleh kebelakang di sana dia melihat seorang laki-laki yang selama ini telah mencuri hatinya. Pria itu berdiri dengan tersenyum menatapnya. Dia juga melihat bayangan bagaimana pria itu mengkhawatirkan dirinya yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.
"Al, kehidupan dan kebahagiaanmu adalah di zaman ini. Maafkan kami yang tidak bisa memberikan kasih sayang yang utuh kepadamu, kami merestui kalian, pria itu sangat mencintaimu, Nak. Mama yakin dia akan menjagamu sepenuh hati."
"Papa juga minta maaf karena sudah mendidik mu dengan keras, Al. Percayalah kami sayang kamu," ujar sang Papa.
Alya mengangguk, dia tidak pernah membenci orangtuanya atas semua yang dialaminya.
"Maafkan Alya juga. Ma, Pa Alya sayang kalian."
Merekapun berpelukan untuk yang terakhir kalinya. Karena setelah itu sebuah cahaya putih datang membawa kedu orangtuanya menghilang.
Alya berteriak histeris hingga sebuah pelukan dia rasakan lalu membawanya kembali ke dunianya.
...****************...
Alya terbangun dengan berteriak histeris membangunkan Raja Zhang Jiang Wu yang tertidur dikursi disamping ranjangnya.
Gadis itu terduduk, dia menangis memanggil ke dua orangtuanya.
"Mama papa kenapa kalian pergi," ujarnya sesenggukan.
__ADS_1
Raja Zhang Jiang Wu mengambilkan minum di nakas.
"Minum dulu, tanangkan dirimu."
Alya mengambil gelas yang diberikan oleh pria tersebut lalu meminumnya dengan rakus. Pria itu mengambil gelas ditangan Alya dan menaruhnya di nakas.
"Apa yang terjadi?"
"Jiang Wu, mama dan papa maksudku orangtua ku. Mereka meninggal," ucapnya sesenggukan.
"Shtttt tenang lah, aku ada di sini."
Raja Zhang Jiang Wu menenangkan Alya yang masih shock.
"Ceritanya nanti saja. Istirahatlah, jangan buat kami khawatir."
"Maafkan aku membuatmu khawatir," cicitnya.
"Tidak apa-apa? Sekarang kembalilah tidur, besok kalau kamu sudah sembuh aku akan membawamu ke suatu tempat."
Alya pun merebahkan tubuhnya kembali dan mencoba memejamkan matanya yang sulit terpejam. Sesaat kemudian terdengar dengkuran halus dari gadis itu.
Raja Zhang Jiang Wu merasa lega akhirnya gadis itu bisa tenang. Dia pun keluar dari kamar sebentar untuk menemui yang lain di depan paviliun.
"Bagaimana keadaannya?" cecar Pangeran Xiao Jinshi.
"Syukurlah dia sudah tertidur. Sepertinya kita harus menjaga Alya baik-baik saat ini dia sedang terpukul karena orangtuanya ternyata sudah meninggal."
Raja Xiao Ren dan Pangeran Xiao Jinshi tertegun mendengarnya, gadis itu sungguh malang.
Raja Zhang Jiang Wu pun menceritakan mimpinya kepada mereka, karena tanpa sepengetahuan Alya dia pun juga berada dalam mimpi yang sama. Dia mendengar dengan jelas bagaimana gadis itu histeris ketika orangtuanya memberitahu berita itu dan merengek ikut orangtuanya.
"Jika seperti itu, tolong jaga dia baik-baik. Gadis itu tidak punya siapa-siapa dan hanya memiliki mu yang sangat dia cintai," pinta Raja Xiao Ren.
"Bukan hanya aku saja, Paman. Tapi, kita. Kita akan menjaganya sama-sama agar dia tidak kesepian."
"Iya, kamu benar. Kamu benar, diantara kita jangan ada yang menyinggung soal kejadian ini biarkan dia sendiri yang bercerita syukur-syukur dia bisa melupakannya," tutur Raja Xiao Ren.
Mereka mengangguk setuju dengan penuturan Raja Xiao Ren.
"Kembali lah, gadis itu membutuhkanmu. Jika dia menanyakan ku dan kakaknya bilang saja sedang mengurus jasad mereka."
"Baiklah paman, aku masuk dulu."
Setelah Raja Zhang Jiang Wu pergi mereka pun membubarkan diri memberikan kesempatan Alya istirahat.
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ....