
Tanpa mempedulikan pria itu dia memeriksa luka tersebut lalu dengan telaten Putri Xiao Lin Mei membersihkan luka tersebut secara perlahan. Perempuan berhanfu biru itu meneguk ludahnya paksa, dia tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya.
Raja Zhang Jiang Wu menikmati perlakuan istrinya, pandangannya tidak lepas dari wajah cantik yang saat ini sedang pucat.
"Hei, kenapa wajahmu pucat. Sudah, biarkan tabib yang membersihkannya," pinta Raja Zhang Jiang Wu.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit lelah saja. Sebentar lagi ini selesai," ujarnya.
Raja Zhang Jiang Wu pun pasrah dengan keinginan istrinya. Dia tidak tega jika melihat wajah pucat Putri Xiao Lin Mei itu bekerja keras.
Sedangkan Putri Xiao Lin Mei tidak menghiraukan suaminya dan terus membersihkan lukanya, sekarang tinggal yang sebelah kanan baru saja Putri Xiao Lin Mei ingin meraih tangan kanan suaminya matanya seperti berkunang-kunang, dia memejamkan matanya sejenak untuk mengusir rasa pusing tiba-tiba itu.
"Al, sudah. Jangan keras kepala nanti kamu sakit sebentar lagi tabib juga datang."
Akhirnya Putri Xiao Lin Mei menyerah karena kepalanya mendadak pusing, padahal tadi baik-baik saja. Dia pun menyandarkan kepalanya di bahu sang suami dan memejamkan matanya.
"Jiang Wu, boleh aku minta sesuatu?" tanya Putri Xiao Lin Mei.
"Apapun itu asalkan bukan menceraikan mu aku sanggup," ujarnya sungguh-sungguh.
"Bukan, aku hanya ingin apapun yang kamu rasakan cerita lah padaku. Jangan disembunyikan seperti ini," ucap Putri Xiao Lin Mei.
"Aku akan merasa dihargai jika kamu membagi keluh kesah mu padaku, meskipun aku tidak bisa membantu setidaknya bisa mengurangi beban pikiran mu," tutur Putri Xiao Lin Mei.
Putri Xiao Lin Mei berkata dengan mata yang masih terpejam. Raja Zhang Jiang Wu menatap sang istri dengan perasaan bersalah, saat ini mungkin istrinya itu merasa ada yang berubah dari dirinya terlebih lagi sering pulang larut malam.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyembunyikan sesuatu darimu, aku tidak ingin menyakitimu dengan permasalahan ini," ujarnya pelan.
"Percayalah, mereka biar menjadi urusanku. Kamu cukup duduk manis saja di sini," tuturnya.
Putri Xiao Lin Mei mengangguk mengerti, prianya tidak mungkin melakukan hal seperti ini tanpa alasan yang jelas, pasti sudah dipikirkan baik buruknya sebelum mengambil keputusan untuk menyembunyikan hal ini. Dia pasrah terhadap keputusan pria itu nantinya, jika ingin mengangkat selir dia hanya perlu mempersiapkan hatinya saja.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya terdengar suara penjaga melaporkan kedatangan tabib istana, Putri Xiao Lin Mei pun mempersilahkan tabib tersebut masuk.
"Salam Yang Mulia, mohon maaf sedikit terlambat," ucap tabib tersebut menunduk.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Tabib. Sekarang mohon bantuannya," pinta Putri Xiao Lin Mei.
Putri Xiao Lin Mei pun menyingkir memberikan ruang kepada tabib tersebut untuk mengobati suaminya.
Tabib itu melihat luka di tangan Raja Zhang Jiang Wu lalu membersihkannya dengan hati-hati, setelah itu menumbuk beberapa tanaman herbal untuk ditempelkan di atas luka tersebut sebelum nanti di balut dengan kain bersih.
Raja Zhang Jiang Wu tidak bersuara sesekali wajahnya mengerut saat sensasi perih terasa di tangannya. Putri Xiao Lin Mei mengusap pundak sang suami dia bisa melihat kerutan di dahinya.
"Sakit, Ya? Tahanlah, sebentar lagi akan selesai," ujar Putri Xiao Lin menenangkan.
"Bagaimana lukanya, Tabib?" Tanya Putri Xiao Lin Mei setelah melihat tabib tersebut selesai dengan perawatannya.
"Lukanya tidak terlalu parah, Yang Mulia. Hanya saja nanti mohon untuk dibersihkan secara rutin serta kain nya diganti dengan yang baru supaya tidak menimbulkan luka baru. Hamba akan memberikan herbal yang digunakan tadi sebagai obat tambahan supaya cepat mengering," jelasnya.
"Baiklah, terimakasih atas bantuannya."
"Sudah menjadi tugas hamba, Yang Mulia. Berhubung sudah selesai hamba mohon undur diri," pamit tabib tersebut.
"Tabib, tunggu."
Putri Xiao Lin Mei pun beranjak menuju lacinya lalu mengambil beberapa koin dari tempat tersebut lantas dia berjalan menghampiri tabib yang masih berdiri di ambang pintu. Raja Zhang Jiang Wu melirik istrinya yang pergi mendekati tabib istana.
"Ini, untukmu sebagai rasa terimakasih ku." Sambil memberikan beberapa koin tersebut.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Hamba tidak bisa menerimanya, bayaran dari istana sudah cukup jadi tidak perlu seperti ini."
Tabib itu merasa tidak enak jika harus menerima seperti ini, karena benar jika istana sudah menggajinya penuh untuk dirinya.
"Terima saja, hitung-hitung itu sebagai imbalanmu karena sudah mengabdi kepada kerajaan," sahut Raja Zhang Jiang Wu tiba-tiba.
"Ba baik Yang Mulia. Hamba akan menerimanya, sebelumnya terimakasih atas kebaikannya, semoga dengan ini bisa membuka rejeki yang mulia sebelumnya dan semua keinginan yang mulia terkabul," ujar tabib tersebut tulus.
"Amin, terimakasih do'a nya. Semoga tabib selalu sehat," ujar Putri Xiao Lin Mei tulus.
Tabib itu pun berpamitan kepada Raja Zhang Jiang Wu serta Putri Xiao Lin Mei setelah sebelumnya kembali mengingatkan soal luka yang diterima Raja Zhang Jiang Wu.
__ADS_1
Putri Xiao Lin Mei memandang kepergian tabib itu sejenak setelah itu kembali ke dalam untuk melihat luka suaminya. Dia melihat jika pria itu sudah tertidur di ranjang mereka Putri Xiao Lin Mei hanya menggeleng melihat suaminya, sepertinya terlalu lelah hingga mudah terlelap.
Putri Xiao Lin Mei pun ikut merebahkan tubuhnya di samping sang suami yang sudah terlelap duluan. Dia berbalik menghadap suaminya, dia memperhatikan wajah tampan Raja Zhang Jiang Wu yang terlihat damai dengan tidurnya.
"Cepat sembuh, Suamiku. Aku mencintaimu," gumamnya.
Putri Xiao Lin Mei mengecup kening Raja Zhang Jiang Wu pelan, setelah itu memeluknya dengan hati-hati lalu tak lama kemudian ikut memejamkan matanya.
Beberapa saat setelah Putri Xiao Lin Mei terpejam Raja Zhang Jiang Wu membuka matanya, sebenarnya dia tidak benar-benar tertidur hanya memejamkan matanya saja mengusir rasa lelah karena seharian disibukkan dengan urusan kerajaan. Tapi, siapa sangka dia dibuat tersentuh dengan perbuatan istrinya tadi.
Pria itu tersenyum, lalu mengeratkan pelukannya dia menghadapkan wajah cantik istrinya tepat di dadanya tidak perduli jika lukanya akan terbuka kembali.
"Terimakasih sudah mencintaiku, aku berjanji akan menyelesaikan ini secepatnya agar kita bisa menjadi keluarga yang bahagia secara utuh tanpa ada tekanan pihak lain.
Bersabarlah sayang, sebentar lagi semuanya akan selesai. Aku juga mencintaimu, Istriku," gumamnya pelan.
"Tuhan, jika memang ini takdir yang harus kami jalani aku ikhlas. Tolong tabahkan hatinya untuk menerima takdir-Mu sungguh sakit sekali saat melihat Alya bersedih seperti ini," batinnya.
Raja Zhang Jiang Wu tahu sekali apa yang dipikirkan oleh istrinya saat ini, satu tahun bukanlah waktu yang singkat dia tahu jika belum hadirnya anak diantara mereka cukup membuatnya bersedih. Sebagai suami dia juga ikut merasakan apa yang dirasakan olehnya, namun semua sudah ada garisnya masing-masing.
Sekarang yang perlu mereka lakukan adalah pasrah serta berusaha, semoga ada keajaiban diantara mereka.
"Sayang, jangan bersedih lagi ya. Semoga saja tidak lama lagi ada janin yang tumbuh di sini," gumamnya. Pria itu mengelus perut rata istrinya seolah-olah istrinya sedang hamil.
Raja Zhang Jiang Wu meneteskan air matanya, membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Pria itu mengecup kening istrinya menyalurkan sesak yang selama ini dia pendam seorang diri. Tidak mungkin dia menceritakan hal ini kepada istrinya dia tidak ingin membuatnya semakin bersedih.
Setelah meluapkan perasaannya akhirnya pria itu menyusul istrinya yang sudah terlebih dahulu tenggelam dalam mimpi.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1